
Ki Lurah Badrapala yang terluka dalam parah terduduk lunglai memegangi dada dengan tangan kiri, sementara tangan kanan menyangga tubuh dengan masih memegang keris pusakanya.
Sungsang Gumilang mendekat, berhenti dua tombak di depan Badrapala dan berkata datar,
"Aku bisa saja membunuhmu, tetapi itu tidak kulakukan. Kecuali jika kau tidak mau menjawab pertanyaanku!"
"Ukhuk!"
"Apa tujuanmu mengikuti anak kecil itu?"
"Dia telah mengganggu urusanku!" jawab Badrapala sembari meringis menahan nyeri di dada.
"Jadi manusia itu yang penting tidak mengganggu orang lain. Dan tidak merasa terganggu jika diganggu orang lain. Apakah kau paham ucapanku?"
Badrapala terdiam, jelas saja ia tidak setuju ungkapan pemuda di hadapannya. Akan tetapi situasi tidak berpihak padanya.
"Katakan padaku, urusanmu yang mana yang telah diganggu oleh anak itu?" Kembali Sungsang Gumilang bertanya.
Ditanya orang, bukannya menjawab Lurah Badrapala malah menatap ke khalayak ramai yang masih berkerumun tidak jauh darinya.
Mengumpulkan tenaga dalam untuk menahan nyeri Badrapala tiba-tiba berseru,
"Kalian bubar! Taruhan sudah selesai! Kami ingin bicara penting!"
Orang-orang pun membalik badan dan pergi, akan tetapi dengan mengumpat,
"Hayyah! Kujago-jagokan malah kalah!"
"Hilanglah hartaku! Lurah Payah!"
"Lurah tidak berguna kenapa dia tidak mati saja?!"
Umpatan yang benar-benar pedass.
Sepeninggal orang-orang, Badrapala mulai bicara pada Sungsang Gumilang,
"Harap Pendekar Serba Merah—"
"Cukup Pendekar Merah saja, anuku tetap normal tidak berwarna merah. Kau mau lihat?!" Sungsang Gumilang hendak copot kain yang ia gunakan sebagai sabuk pengikat perut untuk pelorotkan celananya.
"Baik! Baik! Tidak perlu, Pendekar Merah. Aku percaya. Tentang pertanyaanmu, aku akan menjawabnya tetapi harap kau mau merahasiakannya."
"Aku tidak janji!" ketus Sungsang Gumilang, "Tetapi aku seorang yang memenuhi ucapan!" lanjutnya menegaskan tak akan segan membunuh Badrapala jika tidak mau menjawab pertanyaan.
"Sebenarnya aku seorang Lurah yang ingin menjadi seorang ...."
Badrapala bercerita, masih dengan menekan rasa perih di dada. Bahwa ia bercita-cita menjadi Demang. Demi itulah, ia membuat mayat seorang maling hidup kembali dengan tujuan untuk meneror warga.
Kemudian, pada waktunya Ki Lurah Badrapala berencana akan tampil untuk menyelesaikan masalah mayat hidup tersebut.
Jadi intinya, ciptakan masalah lalu tampil'lah menjadi pahlawan. Maka namamu akan dielu-elukan oleh masyarakat dungu.
"Dengan begitu citraku bakal sangat baik di mata rakyat dan itu akan memuluskan cita-citaku. Nahas ..., masalah yang kuciptakan malah dibereskan bocah itu! Aku hanya sedikit ingin memberinya pelajaran agar tahu anggah-ungguh tata krama!" tutup Ki Lurah Badrapala.
"Ha ha ha ha!" Sungsang Gumilang tertawa terbahak-bahak. Sementara itu, Badrapala hanya bisa tertunduk.
"Sungguh lucu! Mulai sekarang jadilah dirimu sendiri. Berbuat baiklah dengan tulus maka orang-orang akan menyukaimu dan kau akan diangkat menjadi demang."
"Akan kuingat pelajaran berharga ini, Pendekar Merah."
"Terserah, akan kau ingat sebagai pelajaran baik atau buruk. Tetapi aku Pendekar Merah siap menunggu belas dendammu. Ha ha ha ha!"
Tak lagi pedulikan Ki Lurah Badrapala, Sungsang Gumilang melangkah pergi begitu saja sambil bersiul tidak jelas.
Tetapi sebenarnya, pemuda itu tengah bersendung,
"Bukan patung-patung, bukan pula belis merkayangan.
Tetapi napsu, napsu yang kau jadikan sesembahan.
Napsu menjadikanmu budak tahta.
Napsu menjadikanmu budak wanita.
Napsu menjadikanmu budak dunia ...."
***
Tak ada aral melintang berarti, setelah menempuh perjalanan dengan berlari selama sehari lebih, Jaga Saksena akhirnya tiba di gua tempat gurunya berada dengan selamat tanpa kurang satu apa
Mengucap salam, Jaga Saksena disambut dengan senyuman oleh sang guru.
"Wa'alakumussalam warahmatullah, bagaimana Jaga? Kau telah mendapat sesuatu?"
"Benar Guru! Aku harus banyak belajar lagi dan lagi. Berlatih dengan giat, lagi dan lagi!"
Mendengar jawaban Jaga Saksena, sang guru tersenyum hingga barisan gigi putihnya tampak.
"Bersihkan dirimu, jangan lupa juga sikat gigimu dengan siwak. Lalu ambil wudhu."
"Baik Guru!"
Tak berapa lama,
"Guru," Jaga Saksena yang telah duduk dengan khidmat nan takdim hendak bertanya. Namun, belum pun pertanyaan terajukan, sang guru telah berucap,
"Perbudakan, apakah dilarang dalam ajaran kasih sayang pada seluruh alam ini?"
"Itu yang hendak kutanyakan, Guru."
"Meski kemungkinan kau belum akan bisa memahami, guru akan menerangkan dengan singkat. Ayat dan hadis yang tersurat memang tidak melarang perbudakan, hanya mengaturnya. Akan tetapi apa yang tersirat dan rasa yang diberikan, perbudakan dalam islam itu dilarang. Itulah mengapa banyak sekali teks yang memuat keutamaan memerdekakan budak. Islam membuat syariat untuk memerdekakan budak, sebaliknya tidak mensyariatkan perbudakan."
Semakin banyak yang diucapkan sang guru semakin pusing Jaga Saksena. Meski begitu, Jaga menangkap satu titik pentingnya sebagaimana titik pada huruf ba', yakni semua dalil memberi rasa bahwa perbudakan adalah hal yang dilarang. Dan sebaliknya sangat dianjurkan untuk memerdekan budak. Maka Jaga bertekad untuk segera menjadi kuat agar bisa menjalankan apa yang ia pahami ini.
"Mohon ijin guru, bolehkah mulai saat ini latihan kanuraganku ditingkatkan?"
"Tentu saja, yang penting tiga jam khusus untuk menghapal atau mengulang hapalan jangan kau tinggalkan."
"Sami'na wa atho'na, murid mendengar dan murid patuh, Guru."
*
Hari berganti hari, Jaga Saksena terus berlatih siang malam. Tak ada hari tanpa berlatih.
Sesuai petunjuk sang guru, setiap gerakan harus disertai dzikir sebab bukan tenaga dalam yang diajarkan akan tetapi kekuatan ruh.
"Orang lemah disebabkan karena ruh mengikuti tubuh, ruh dibawa oleh tubuh, maka tubuh akan merasa berat. Sebaliknya, kau akan kuat jika tubuhmu dibawa oleh ruh, bahkan tubuhmu akan terasa sangat ringan, lebih ringan dari kapas!"
Demikianlah yang diajarkan oleh sang guru. Maka Jaga melakukan latihan dengan selaras, menguatkan badan juga menguatkan ruh.
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa enam bulan telah berlalu. Selama itu pula Jaga terus berlatih tanpa lagi mendapat tugas ke pasar.
Di pagi hari setelah menyelesaikan rutinitas hapalannya, Jaga dipanggil.
"Jaga, aku akan mengajarkan jurus lanjutan dari Kayuku Kayumu."
"Terimakasih, Guru. Murid siap menerima."
"Perhatikan baik-baik."
"Nerimo dawuh, Guru."
"Satukan rasamu dalam setiap gerakan!" seru sang guru sembari mengembangkan kedua tangan dengan kuda-kuda tinggi lalu melakukan gerakan rumit dengan pelan.
"Setiap seranganmu adalah penyatuan gerak, pikiran dan hati!"
Blart!
Sebuah batu besar hancur berantakan, padahal batu besar itu terletak satu tombak dari telapak tangan sang guru.
Kemudian,
Blart!
Ketika sang guru menendang, tebing di samping gunung tersambar udara serangan hingga runtuh, menjatuhkan batu-batu berguguran.
"Walau gerakanmu semakin cepat!"
Jdart! Jdart! Jdart!
Batu-batu yang tengah berguguran dari tebing itu hancur berantakan menjadi debu oleh serangan sang guru.
*