Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 47. Rasaning Rasa



"Jurus ini kunamai, Rasaning Rasa. Sebab, yang utama di medan laga adalah insting, naluri, bukan urutan gerakan dalam jurus."


Sang guru mau tak mau menamai jurus yang ia ajarkan sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh Jaga Saksena.


"Sekarang kau coba ulangi apa yang telah kuperagakan!" lanjut sang guru memberi perintah.


"Siap, Guru!"


Gerakan yang cukup rumit belum lagi harus menyatukan antara gerak, pikiran dan hati dalam rasa.


"Untuk gerakan, kuakui kau seorang murid cemerlang, Jaga. Akan tetapi ini bukan sekedar gerakan. Teruslah berlatih untuk menyatukan gerak, pikiran dan hati. Tanda kau berhasil adalah ketika kau mampu menghancurkan batu itu tanpa menyentuhnya."


"Murid mendengar dan patuh, Guru!"


Sang guru mengangguk sebelum membalik badan masuk ke dalam gua.


*


Tak terasa sebulan berlalu begitu cepat, tetapi tanda keberhasilan Jaga Saksena belum juga tampak.


Meski begitu, Jaga tak pernah patah arang. Di setiap kesempatan, Jaga terus berlatih dan berdoa agar dimudahkan untuk menguasai jurus Rasaning Rasa.


Di hari ke empat puluh, pukulan tapak dan tinju Jaga mulai membelah udara sehingga menimbulkan suara khas.


Meski baru menimbulkan suara, Jaga Saksena sujud syukur. Sesuai ayat yang dihapalnya,


"La-in syakartum la-azidannakum, sungguh jika kalian bersyukur maka pasti kami tambahi."


Jaga Saksena tersenyum, ada kepuasan yang ia rasakan.


Di satu kesempatan, Jaga Saksena bertanya pada sang guru,


"Guru, jika boleh tahu berapa lama Guru menguasai jurus Rasaning Rasa?"


Sang guru tersenyum hingga barisan gigi putihnya tampak, ia menjawab,


"Kuasailah, setelah itu guru akan memberi tahu berapa lama guru memerlukan waktu untuk menguasainya. Yang jelas dibutuhkan ketekunan dan keuletan dalam istiqomah."


Jaga Saksena mengangguk, mengambil intisari dari wejangan sang guru yakni istiqomah. Sebagaimana yang pernah guru katakan bahwa istiqomah lebih baik daripada seribu karomah.


*


Dua tahun berlalu, meski terus berlatih dan berlatih, Jaga Saksena belum berhasil menguasai Jurus Rasaning Rasa. Kini remaja itu pasrah.


'Mungkin aku tidak bakat dalam olah kanuragan segingga tidak akan pernah menguasai jurus ini. Kuserahkan semua ini pada Engkau duhai Gusti kang murbeng waseso jagat ...."


Kendati telah sumeleh (pasrah sepenuhnya), Jaga tetap berlatih. Seperti pagi ini, Jaga terus melakukan gerakan jurus-jurus di halaman gua.


Dari dalam gua, sang guru yang mengawasi Jaga tersenyum membatin,


'Jika kukatakan aku menguasai jurus itu dalam waktu tujuh tahun padanya, aku khawatir ia akan putus asa. Sungguh Jaga dianugerahi bakat yang luar biasa!'


*


Di pagi hari, tepat tiga tahun setelah melatih jurus Rasaning Rasa. Ketika Jaga Saksena benar-benar telah total menyerahkan kehendak pada Gusti Alloh Ta'ala, apakah akan diberi keberhasilan atau tidak.


Blard! Blard!


Batu besar di sebelah sana hancur berkeping-keping oleh serangan tapak Jaga Saksena.


Untuk sesaat remaja itu menghentikan latihannya, mengamati rasa yang melingkupi seluruh kesadaran diri.


"Akhirnya ...."


Jaga tersenyum lalu bersujud syukur cukup lama.


Sekarang Jaga mendapat pencerahan. Ternyata penyatuan gerak, pikiran dan hati dalam satu rasa adalah rasa yang menghilangkan ke-aku-an diri.


"Hehehe! Murid pintar!" puji sang guru.


"Sungguh segala puji hanya untuk Gusti Alloh Ta'ala, Guru. Seribu enam puluh dua hari, Guru!"


"Itu semua dari fadholnya Gusti Alloh, Muridku. Sekarang akan kuberitahu berapa lama guru menguasai jurus itu."


"Tidak perlu, Guru. Murid bisa malu sebab terlalu lama untuk menguasainya."


"Kau tahu, Muridku? Guru membutuhkan hampir dua ribu lima ratus hari!"


Membeliak mata Jaga Saksena sembari membagi angka itu dengan jumlah hari tahun qomariyah yaitu 354.


"Tujuh tahun, Guru?"


"Betul! Jika guru katakan itu dari awal, guru khawatir kau akan merasa berat. Maka kusembunyikan agar kau tetap bersemangat dalam istiqomah latihan."


"Terimakasih, Guru!"


Jaga kembali mencium tangan gurunya dengan penuh takdim (penghormatan_pen) lahir dan batin.


"Simpan kebahagiaanmu, Muridku. Karena kau masih harus berlatih mengendalikan kekuatan. Sungguh tidak lucu, jika setiap lawanmu kau perlakukan sama. Sebelum itu, guru akan memberitahu macam-macam kekuatan ...."


Sang guru mulai menjelaskan dengan panjang lebar tentang sebuah kekuatan.


Mendengarkan dengan seksama penuturan sang guru, Jaga Saksena bisa memahami bahwa di dunia persilatan ada beragam kekuatan.


Pertama, kekuatan yang bersumber dari iblis atas ijin Gusti Alloh Ta'ala. Dikuasai oleh para penyembah iblis dengan ritual-ritual sesat. Atau bersekutu dengan kaki tangan iblis yakni para jin merkayangan yang menguasai daerah tertentu seperti gunung, hutan dan lautan.


Selain kekuatan yang disebutkan tadi, ada pula kekuatan tenaga dalam yang diperoleh dengan olah napas dalam tapa. Tenaga dalam ini dalam prosesnya dibedakan menjadi dua. Tenaga dalam yang berasal dari dalam tubuh dan luar tubuh.


Tenaga dalam yang diperoleh dari dalam tubuh sangat terbatas. Tidak mampu mengeluarkan ajian yang mewujud. Misal seperti pukulan jarak jauh, maka energi pukulan tidak berwujud tetapi memiliki atsar (bekas, efek_pen) yakni bisa menyakiti sebagaimana pukulan tangan.


Adapun tenaga dalam dari luar, selain energinya mempunyai wujud maupun warna, kekuatannya jauh lebih besar. Untuk mendapatkan tenaga dalam dari luar tubuh ini, seseorang harus olah napas dan rasa guna menarik energi yang betebaran di alam raya, lalu menyimpannya di dalam pusar.


Energi-energi alam raya sebenarnya adalah makhluk ciptaan Gusti Alloh Ta'ala yang disebut ruhaniyah atau bangsa ruhani.


Hanya saja, dalam proses penarikan energi ini _jika tidak hati-hati dan tidak bisa membedakan_ maka akan berbahaya. Orang tersebut bisa menarik jin masuk ke dalam tubuhnya dan mengiranya sebagai energi tenaga dalam.


Perbedaan dari bangsa jin dan ruhaniyah adalah, bangsa jin memiliki nafsu dan cenderung mengajak ke perbuatan kemungkaran, kekejian dan kesemena-menaan. Sedangkan bangsa ruhaniyah bersifat netral, tak memiliki keinginan apalagi nafsu. Mereka hidup untuk mengemban dzikir dari Gusti Alloh Ta'ala. Beda lagi dengan para malaikat, mereka bukan hanya berdzikir tetapi mempunyai tugas khusus masing-masing.


"Karena kau akan berjuang di negeri yang marak akan tenaga dalam ini, maka guru juga akan mengajarkanmu cara memperoleh tenaga dalam, Muridku. Maka jadilah orang yang adil, bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya."


"Murid mendengar dan patuh, Guru."


"Selanjutnya ...."


Kembali sang guru menerangkan ragam kekuatan lain yang lebih kuat yakni kekuatan ruh sebagaimana yang telah dipelajari oleh Jaga Saksena.


Ruh sendiri jika telah sangat kuat, maka akan mempunyai akses ke perbendaharaan kekuatan para malaikat. Sehingga kekuatannya menjadi sangat dasyat seperti mengubah batu menjadi emas, membuat senjata-senjata dari kehampaan dan lain sebagainya.


Tetapi itu semua tidak sebanding dengan kekuatan Ilahiyah.


"Ketika seseorang telah mati sajeroning urip, lalu menapaki tangga fana hingga ke puncak singgasana sirna. Maka yang ada hanyalah Yang Maha Dhohir. Kekuatan _yang mewujud_ kala itu terjadi adalah kekuatan Gusti Alloh Ta'ala. Kun fayakun! Bahkan untuk meledakkan sebuah bintang, itu sangatlah mudah!" tutup sang guru mengakhiri penjelasannya.


"Sebenarnya kepala ini pening, Guru." Jaga Saksena memijit kepalanya membuat sang guru tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya.


Pelan, sang guru ulurkan tapak tangannya menyentuh dada Jaga Saksena,


"Gunakan hatimu, jangan hanya akal pikiranmu!"


"Sendiko dawuh, Guru."


"Sekarang akan guru ajarkan cara mengendalikan kekuatanmu. Setelah itu guru akan mengajarkanmu cara membangkitkan tenaga dalam dari tubuh dan cara menyerap energi ruhaniyah."