Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 124. Tarung Berhari-hari



Tarung jarak dekat telah melewati ratusan pertukaran serangan. Semua orang menjauh karena pertarungan terus bergeser.


Pukulan tapak dan tinju serta tendangan Jaga Saksena yang dilambari ajian Rasaning Rasa beberapa kali berhasil mengenai tubuh Kama Kumara. Tetapi ternyata Kama Kumara memang telah menjelma menjadi sosok belis yang kebal. Alih-alih kesakitan tiap terkena serangan, Kama Kumara malah tersenyum menyeringai.


Tak jarang pula, tinju, tapak, lengan dan kaki keduanya saling beradu menimbulkan suara khas beradunya benda keras.


Satu yang menguntungkan Jaga Saksena, kecepatan gerak Kama Kumara baginya masih bisa diatasi. Ini membuat Jaga Saksena berpikir akan mencoba mengadu daya tahan kekuatan. Jaga Saksena menduga Kama Kumara tidak akan mampu bertahan selamanya, mengobarkan dua tinju dan kaki tentu menguras energi.


Malam terus merambat, dini hari datang dan akhirnya sayup-sayup terdengar kokok ayam. Tak terasa matahari mulai terbit di ufuk timur.


Sembari terus berkelit dan menyerang, Jaga Saksena harus terus beristighfar dalam hati karena tidak bisa menunaikan ritual sembahyang subuh.


Ketika suasana telah terang, orang-orang yang menonton pertarungan dari jauh semakin banyak. Bahkan tampak para remaja dari keluarga punggawa kerajaan ikut menonton. Tentu saja mereka para lelaki. Karena Kama Kumara telan-jang, maka para wanita dilarang menyaksikan pertarungan.


"Lihat betapa penting kanuragan! Kalian harus giat berlatih agar seperti Pangeran Jaga Saksena!"


Mereka para orang-orang tua mulai memberi nasihat pada para remaja.


Di sisi lain, sebagian orang malah mulai bertaruh keping perak dan emas. Rata-rata mereka menjagokan Jaga Saksena karena telah terbukti mampu bertarung sangat lama ketika menghadapi Sundara Watu. Tetapi banyak juga yang mengunggulkan sang raja, mereka terpesona dengan tubuh bara raja dan dua tinju serta dua kaki yang berkobar api.


Meski demikian masih banyak yang waras sehingga memberi peringatan,


"Ini pertarungan hidup dan mati bukan untuk berjudi!"


"Jika kau tidak mau bertaruh, diamlah!" sengit mereka yang telah terbiasa berjudi dalam segala hal.


Awalnya mereka bersemangat dalam taruhan, tetapi tidak setelah matahari meninggi dan bertengger di puncak, gelora jiwa mereka mulai melemah. Itu dikarenakan pertarungan belum ada tanda akan berakhir.


Sementara itu, tepat ketika matahari di atas kepala, Putri Anesha Sari membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah kakangdanya, Trengginas. Pemuda itu sedikit tersenyum.


"Kakangda, kau sudah kembali?!"


"Belum adikku, tapi aku dan kau yang di bawa ke sini," jawab Trengginas membuat Anesha Sari segera memutar kepala.


"Patih Sepuh ...?" sapa Anesha Sari mendapati dirinya masih diberi aliran hawa hangat oleh sang patih.


"Alhamdulillah ...!" Patih Sepuh Labda Lawana menarik tangannya dari punggung Anesha Sari lalu melakukan gerakan singkat sebelum menarik napas dalam-dalam.


Anesha memandang keadaan sekitar, selain Patih Sepuh Labda Lawana, ada Perwira Sadajiwa, Perwira Bentar Buana, Senopati Sundul Mega, Tumenggung Wiryateja dan dua senopati baru pengganti Senopati Asta Brajadaka dan Pradana Nararya. Mereka semua duduk bersila lesehan di lantai ruangan mengelilingi.


"Di mana ini?!" tanya Anesha Sari.


"Kita di ruang rahasia cadangan, Putri," jawab Tumenggung Wiryateja.


Sebelumnya, Tumenggung Wiryateja yang menemukan Anesha Sari sedang diberi hawa sakti oleh Patih Sepuh Labda Lawana segera menyarankan untuk berpindah ke ruang rahasia bawah tanah milik Tumenggung Wiryateja. Ruangan rahasia yang bahkan sang raja tidak tahu karena dibuat khusus oleh Tumenggung jika menghadapi masalah seperti ini, pertikaian antar keluarga.


Selain membawa Anesha Sari, Tumenggung Wiryateja juga mencari keberadaan Trengginas karena dia adalah kandidat putra mahkota selanjutnya.


"Kenapa kita di ruang rahasia, Tumenggung?! Bukankah Kama Kumara sudah tewas?!"


"Maaf, Tuan Putri. Raja Kama Kumara masih hidup—"


"A ... Apa?!"


"Benar Tuan Putri, bahkan bertambah kuat."


Mendengar jawaban Tumenggung Wiryateja, wajah Anesha Sari yang mulai berwarna kembali memucat.


Anesha Sari masih sulit menerima keterangan Tumenggung Wiryateja. Sebab bagaimana mungkin Kama Kumara mampu menahan serangan pamungkasnya. Sebuah serangan yang menguras seluruh energi gaib yang ia miliki. Sebuah serangan luar biasa dasyat sebab memanfaatkan batu luar angkasa. Anesha sari menarik satu batu besar dari luar angkasa untuk dihantamkan ke tubuh Kama Kumara dengan terlebih dahulu menjatuhkan tubuh Kama Kumara dari angkasa tinggi.


"L-lalu di mana belis itu dan kenapa kalian di sini?!" tanya Anesha Sari mencoba menerima kenyataan.


"Raja Kama Kumara masih bertarung dengan Den Jaga Saksena, Tuan Putri. Den Jaga pula yang memerintahkan kami untuk menjaga Tuan Putri."


"J-jaga Saksena? Kapan ia tiba?" Wajah Anesha Sari sedikit semringah.


"Semalam, Tuan Putri."


"Semalam?" kaget Anesha Sari. "Patih Sepuh, berapa lama aku pingsan?"


Berada di ruangan rahasia ini akan sulit membedakan siang dan malam karena tidak ada cahaya matahari yang masuk.


"Jika tidak salah ini siang hari, Putri. Jadi Putri hanya pingsan sebentar."


"Hampir semalam dan setengah hari ...." ucap lirih Anesha Sari lalu bangkit, "Aku harus membantu Jaga Saksena."


"Tahan Putri." Patih Sepuh Labda ikut berdiri. "Tubuh Putri masih lemah, sebaiknya pulihkan diri terlebih dahulu. Jika tidak, maka Putri hanya akan menjadi beban bagi Den Jaga."


"Huufhhhhh ...! Kau benar Patih Sepuh. Aku akan memulihkan diri. Dan di sini telah aman, jadi tolong di antara kalian pergilah untuk bersiap menolong Jaga Saksena sekira dia membutuhkan bantun."


"Para Senopati, kalian pergilah mengawasi jalannya pertarungan. Lakukan apa yang perlu dilakukan!" Patih Sepuh Labda Lawana memerintah.


"Laksanakan, Patih Sepuh!" jawab serempak tiga senopati lalu undur diri meninggalkan ruangan.


Anesha Sari kembali duduk bermaksud hendak bermeditasi, tetapi tiba-tiba ia teringat sesuatu,


"Tumenggung, bagaimana dengan keluarga raja lainnya?"


"Mereka telah mengungsi, Tuan Putri."


"Baiklah, apakah ada makanan di sini? Dan di mana Perwira Aswangga?" Mengingat makanan, Anesha Sari jadi teringat Perwira Aswangga yang setia mengawalnya hingga pun mencarikan makanan.


Wiryateja memanggil bawahannya yang berjaga di depan ruangan untuk mengambil makanan lalu menceritakan keadaan Aswangga yang harus dibawa oleh Senopati Ragnala Raksa ke kediaman tabib istana akibat lukanya.


"Semoga ia baik-baik saja ...."


***


Di jalan masuk sebuah desa terpencil setengah hari perjalanan kaki dari Kerajaan Saindara Gumilang. Tampak dua pria dan satu wanita berjalan dengan cukup tergesa.


"Hosssh ... Akhirnya kita sampai!" Si wanita mengucap lega.


"Jika Byungda lebih cepat, seharusnya sudah dari semalam," timpal pemuda tampan yang berjalan di samping si wanita.


"Aku wanita, Yoga. Jangan samakan dengan dirimu apalagi dengan Perwira Anggar!"


Mereka bertiga adalah Yoga Mandala dan Byungdanya _Selir Saraswati_ yang dikawal oleh perwira kepercayaan sang selir, Anggar. Jika Saraswati bisa berjalan cepat dan tidak berkali-kali istirahat seharusnya memang dini hari mereka sudah sampai.


Mereka sengaja kabur dengan jalan kaki tanpa menaiki kuda agar bisa memilih jalur tikus demi menghindari pengejaran.


Meski termasuk lamban dalam perjalanan, keberuntungan masih berpihak pada mereka. Sebab para prajurit yang diperintahkan oleh Kama Kumara untuk membunuh Saraswati dan Yoga Mandala tidak mencari mereka lebih jauh.


Para prajurit bimbang dikarenakan terjadi pertarungan antara Raja Kama Kumara dan Anesha Sari. Sehingga para prajurit memutuskan untuk menunggu hasil pertarungan. Jika Kama Kumara yang menang, maka pencarian akan dilanjutkan, jika sebaliknya maka tentu kebijakan akan berbeda.