Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 72. Lamar



Jaga Saksena masih terdiam bertasbih dalam hati, karena sejujurnya ia merasa tidak tahu harus memulai perkataan dari mana. Untung saja, sebuah suara renyah terdengar dan itu tidak asing di telinga Jaga Saksena.


"Tujuh tahun telah berlalu, apakah kau masih meniru perbuatan ular?"


Jaga Saksena terkesiap, masih jelas dalam ingatannya ketika dahulu di tepi telaga ini ia ditegur oleh seorang bocah seusianya atau mungkin lebih muda sedikit.


"Kau ...? Medi itu?" tanya Jaga Saksena ingin menepis keraguannya.


"Iya, akulah medi temanmu!" Menjawab, Putri Andara Anesha Sari membalik badan.


Aroma wangi yang menenangkan menerpa lebih kencang ketika gadis itu bergerak.


Untuk sesaat Jaga Saksena terpana demi melihat kecantikan sang putri. Tetapi itu tidak lama, Jaga Saksena segera mengalihkan pandangan matanya dengan menghadapkan tubuh ke samping.


"Apakah kau sekarang juga terharu?" tanya Putri Andara Anesha Sari, sebab dahulu Jaga menyatakan terharu berteman dengan medi.


"Namaku Jaga Saksena."


"Aku sudah tahu, tapi kau belum menjawab pertanyaanku."


"Dari mana kau tahu?"


"Bukankah kau terkenal di seluruh kerajaan ini?!"


"Eghemm!" Jaga Saksena terbatuk, tak menyangka sosok putri yang ia kira hantu itu tahu masa lalunya. "Tentu saja, dan aku minta maaf telah salah mengenalimu sebagai medi. Satu kecerobohan dari banyak kecerobohan yang kulakukan."


"Hihihi!" Putri Andara Anesha Sari tertawa kecil. "Kau tidak takut padaku?"


"Ya, sedikit. Seorang putri lebih menakutkan dari sesosok medi."


Mendapat jawaban itu, Putri Andara Anesha Sari kembali tertawa kecil.


Sementara Jaga Saksena hanya bisa tersenyum canggung. Sebab sejatinya ia lebih takut akan fitnah berduaan dengan seorang gadis daripada ketakutan yang lain.


Usai puas tertawa, Putri Andara Anesha melangkah mendekat. Membuat Jaga Saksena hendak bergeser menjauh, akan tetapi dirinya telah di ujung rakit. Jaga bergeming.


"Apakah kau benar-benar menganggapku sebagai seorang teman, Jaga?"


'Tentu saja." Jaga Saksena menjawab, matanya memandang langit di ujung sana.


"Seorang teman harus mau membantu teman, apalagi jika diminta. Bukankah begitu, Jaga?"


"Tentu saja." Cepat Jaga kembali menjawab dengan ucapan yang sama, karena hanya kata itu yang ada di dalam pikirannya.


"Jika begitu, ikutlah denganku."


"Maksudmu?"


"Iya, aku memintamu menemaniku."


"Ke mana?"


"Ikuti aku."


Tak terlihat menggenjot kaki, tubuh Putri Andara Anesha Sari tetiba melesat bagai laju angin di atas air.


'Dia benar-benar bisa melaju seperti angin!' batin Jaga Saksena menyusul mensejajarkan diri di samping sang putri.


Di tepi telaga, Sungsang yang memperhatikan dari jauh itu segera bertanya pada Aswangga,


"Perwira Aswangga, mereka mau ke mana?!"


"Aku tidak tahu, Perwira. Tetapi aku akan mengikuti putri dari jarak tertentu karena itu adalah tugasku!"


"Oh ..." Sungsang teringat, "Sama! Aku juga harus mengikuti Pangeran!"


Keduanya pun berkelebat pergi untuk mengikuti.


Bergerak cepat, rupanya Putri Andara Anesha Sari mengajak Jaga Saksena untuk masuk ke dalam keraton.


Memasuki lingkungan istana, Putri Andara Anesha Sari memperlambat lajunya, lalu berjalan sebagaimana manusia biasa.


Para prajurit jaga, perwira, adbi dalem dan semua yang berpapasan memberikan hormat pada sang putri. Sekaligus melirik aneh pada Jaga Saksena.


Sungguh sebuah situasi yang tidak mengenakkan bagi Jaga Saksena. Terlebih ini baru kali pertama dirinya memasuki lingkungan istana. Meski begitu, pemuda itu tetap berusaha tenang.


Raja Basukamba dan Permaisuri Mahiswari serta tiga pangeran dan dua putri tengah berada di ruang makan keluarga ketika Putri Andara Anesha Sari meminta menghadap.


Sebenarnya saudara lelaki Putri Andara ada empat, dan saudara perempuan juga ada empat. Tetapi mereka telah dewasa dan memiliki urusan masing-masing sehingga tidak semua berada di ruangan makan. Demikian juga tiga selir dan putra-putrinya, sebab mereka memiliki ruangan makan tersendiri.


Dipersilahkan, sang putri memasuki ruangan dengan menyembah. Tidak dengan Jaga Saksena, pemuda itu hanya menunduk sedikit sebagai penghormatan dan tetap berdiri.


Jelas saja sikap Jaga Saksena mengundang perhatian semua anggota keluarga yang hadir. Ada tatapan tidak suka dari mereka.


Berbeda dengan Permaisuri Mahiswari, perempuan yang masih tampak ayu seperti tak lekang waktu itu memandang Jaga Saksena dengan senang. Sedang Raja Basukamba, sebagai seorang yang memiliki wawasan luas tersenyum penuh wibawa sebelum mempersilahkan duduk satu meja.


"Silahkan duduk Putriku Andara Anesha Sari, silahkan duduk anak muda, perkenalkan siapa dirimu!"


Sedikit canggung sebab tak pernah duduk satu meja dengan seorang raja apalagi di ruang makan keluarga, Jaga Saksena berusaha dukuk dengan sikap tenang sebelum memperkenalkan namanya.


"Namaku Jaga Saksena, Yang Mulia Raja!"


"Sejak kapan kau mengenal putriku, Jaga Saksena?" Alih-alih bertanya asal-usul, Raja Basukamba bertanya hal lain yang justru membuat Jaga Saksena sedikit mengernyit dahi.


"Sebenarnya, kami mengenal sejak tujuh tahun yang lalu, Yang Mulia. Hanya saja—"


"Ah ha ha ha!" Suara tawa Raja Basukamba meledak, membuat Jaga Saksena tidak melanjutkan ucapannya.


"Kapan kau akan melamar putriku, Jaga Saksena?!" lanjut Raja Basukamba tanpa tedeng aling-aling membuat Permaisuri Mahiswari tersenyum. Satu sifat yang disukai oleh Permaisuri Maheswari dari suaminya itu adalah keblak-blakannya, langsung menjurus pada pokok permasalahan. Makjleb!


Saat yang sama, ketika Permaisuri Mahiswari tersenyum, semua saudara kandung Putri Andara Anesha Sari malah terkejut. Bahkan Sang Putra Mahkota Kama Kumara tampak menatap Jaga Saksena dengan pandangan menyelidik serta tidak suka.


Bersamaan dengan selesainya pertanyaan Raja Basukamba, Jaga Saksena hampir terjengkang saking kagetnya. Tak menyangka jika arti kata "menemaniku" dari sang putri ternyata begitu rumit dan tak pernah ia duga sebelumnya.


Untung saja, Jaga mampu menguasai diri dengan cepat. Pun pikirannya, bekerja kilat.


'Salah satu strategi dakwah yang disarankan oleh Guru. Rengkuh kepalanya maka rakyat akan mengekor.'


Berpikir demikian, Jaga Saksena kembali duduk dengan tenang lalu berkata mantap,


"Bagaimana mungkin diri ini berani melamar jika tidak tahu apakah akan diterima atau tidak, Yang Mulia Raja."


"Hahahaha!" Kembali suara tawa sang raja pecah, suara tawa gembira.


Memandang Putri Andara Anesha Sari yang tersipu malu hingga wajahnya memerah sejak tadi, Sang Raja Basukamba bertanya,


"Putriku, apa yang ingin kau katakan?!"


Terdiam sesaat untuk memilih jawaban, Andara Anesha Sari akhirnya menjawab,


"Seorang yang menerima keadaanku apa adanya sebagai teman, maka akan kujadikan dia teman dalam hidup dan matiku, Ramanda."


"Tunggu! Tunggu!" Putra mahkota Kama Kumara tiba-tiba angkat bicara. "Ijin bicara, Ramanda. Kita belum tahu siapa Jaga Saksena ini. Keluarganya, latar belakangnya, jika dia penyusup atau bahkan mata-mata bagaimana?!"


Menghela napas, Raja Basukamba menatap lekat pada Jaga Saksena yang tampak tenang-tenang saja. "Apa jawabanmu, Jaga Saksena?"


"Yang Mulia Raja ...."


Jaga Saksena menerangkan apa adanya bahwa dirinya sebatang kara, tidak memiliki harta kekayaan, dan hanya seorang pengembara tetapi bukan seorang mata-mata.


Sontak saja, jawaban Jaga Saksena membuat semua putra putri Raja Basukamba bagai disambar petir di siang bolong. Putra Mahkota Kama Kumara langsung berdiri, telunjuk kanannya menuding tepat ke arah wajah Jaga Saksena seraya membentak keras,


"Kau seorang dalit! Berani-beraninya mendekati adikku?! Enyah sekarang juga dari sini!"


"Putraku ...," Permaisuri Mahiswari berkata lembut, "duduklah kembali, bicarakan ini dengan baik-baik."


"Tidak Byungda! Masih banyak para pangeran yang ingin dan bisa mempersunting Anesha Sari! Bukan dalit ini!"


Tak menurunkan suaranya, Kama Kumara menolak mentah-mentah perkataan Permaisuri Mahiswari. Tentu saja, hal ini membuat Putri Andara Anesha Sari tidak suka.


Rgrgrgrgrg!


Meja makan besar nan berat yang penuh berisi hidangan lezat tiba-tiba bergetar hebat, seakan ada gempa bumi. Demikian juga kursi-kursi yang mereka duduki.


Pisau-pisau yang tergeletak di samping nampan sebagai pengiris daging mulai terangkat perlahan, diikuti barang-barang lain yang berada di atas meja mulai melayang.


Seketika, suasana berubah mencekam.