Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 91. Pendekar Peniup Bledeg



"Apa yang dia lakukan?!"


"Bukankah itu Jaga Saksena yang telah mengalahkan gembong pemberontak?!"


"Benar itu Jaga Saksena!"


Para perwira dan prajurit yang tengah siap siaga menghadapi bencana banjir dikejutkan oleh sesosok pemuda yang melesat ke atas atap bangunan tertinggi. Dugaan mereka benar, itu adalah Jaga Saksena.


Berdiri di puncak tertinggi joglo pendopo utama istana raja, Jaga Saksena mulai komat-kamit membaca rangkaian hizib. Lidah petir yang terus menggelegar di angkasa dan sesekali turun menyambar puncak pohon atau pun atap bangunan tinggi tak membuat Jaga Saksena gentar sedikit pun.


Berbanding terbalik, orang-orang yang melihat Jaga Saksena malah merasakan kekhawatiran mendalam. Karena menurut mereka, petir adalah kekuatan alam bukan kekuatan manusia.


Di keputren, Aswangga yang melihat Jaga Saksena di atas atap joglo pendopo utama segera memberitahu Putri Anesha Sari.


"Apa?" kaget Anesha Sari lalu keluar ke halaman.


"Sepertinya ia berusaha menghentikan hujan petir angin ini, Putri." Aswangga tak pedulikan hujan, ia mengikuti sang putri berdiri di halaman turut mengamati apa yang hendak Jaga Saksena perbuat.


"Tapi dia bisa—"


Glarr!


Belum selesai ucapan Anesha Sari, petir dasyat menyambar tubuh Jaga Saksena.


Anesha Sari menutup matanya, tak ingin melihat pemuda yang telah menawan hatinya itu terluka.


Saat yang sama, Aswangga malah membeliak mata. Tak berkedip meski hujan deras membasahi kelopak matanya.


"Pangeran Jaga kebal!!"


Seruan Aswangga membuat Anesha Sari membuka sedikit jari jemari lentiknya untuk mengintip keberadaan Jaga Saksena. Segera senyumannya merekah,


"Aku percaya padanya!" bisik Anesha Sari pada dirinya sendiri.


Saat sambaran petir dasyat itu menghajar tubuh Jaga Saksena semua prajurit dan perwira menjerit tertahan. Menyayangkan perbuatan konyol si pemuda yang harus mati oleh sambaran petir.


Namun, ketika Jaga masih berdiri tegak di atas sana, orang-orang pun beraneka ragam dalam bicara.


"Pemuda yang dikaruniai kehebatan luar biasa!"


"Bledeg itu mungkin hanya ia tiup saja sudah padam kekuatannya!"


"Pendekar Peniup Bledeg!"


"Pahlawan Saindara Gumilang ternyata memang punya kemampuan!"


Di emper halaman istana raja, Raja Basukamba yang menyaksikan peristiwa tersambarnya Jaga Saksena bersama Patih Sepuh Labda Lawana hanya bisa terdiam. Hati sang raja mau tak mau harus mengakui kehebatan Jaga Saksena. Maka makin mantaplah sang raja untuk menjadikan pemuda itu sebagai menantunya.


'Kerajaan ini akan semakin kuat, kelak Kama Kumara akan sangat terbantu dengan keberadaannya. Hehehe!' Raja Basukamba terkekeh dalam hati.


Di atas puncak atap joglo. Tak seindah penglihatan orang-orang, Jaga Saksena yang tersambar petir, selain berpasrah diri pada Sang Maha Kuasa, ia juga kerahkan seluruh kekuatannya sebagai bentuk usaha. Meski begitu, tetap saja tubuh Jaga Saksena terasa disengat aliran panas luar biasa yang menghentak-hentak seluruh peredaran darahnya seakan hendak meledakkan tubuh dari dalam.


Jaga Saksena alirkan tenaga dalam ke seluruh peredaran darah, menenangkan gejolak di sana dengan berusaha menyerap hentakan-hentakan itu sebagai tenaga dalam. Tetapi itu bukan perkara yang mudah, sangat berbeda dari menghisap energi ruhaniah yang beterbaran di alam raya.


"Duh Gusti, bantulah hambamu ini ... sesungguhnya tanpa pertolonganMu aku hanyalah manusia lemah tak berarti ...."


Jaga Saksena yang merasa kesulitan panjatkan doa pada Yang Maha Pencipta. Dan benar saja, tetiba Jaga seperti mendapat pencerahan untuk mengurai hentakan-hentakan di dalam tubuhnya menjadi bagian-bagian kecil lalu perlahan ia menyedot masuk ke dalam penyimpanan tenaga dalam.


Namun baru saja Jaga berhasil menemukan jalan penyerapan energi petir,


JDUARTTT!


Ujung lidah petir kembali menyambar Jaga Saksena, dan kali ini lebih kuat dari sebelumnya.


Bergetar tubuh Jaga Saksena, kekuatan dasyat menyeruak memaksa masuk mengacaukan kosentrasinya yang tengah menyerap energi petir dengan perlahan.


Dalam keadaan sekuat hati menahan sengatan panas luar biasa itu tiba-tiba petir kembali menyambar.


GLARRTT!


"Duh Gusti hanya kepadaMu aku menyembah, dan hanya kepadaMu'lah aku meminta pertolongan. Maka tolong hambaMu ini ... La haula walaa quwwata illa billlaaah ... Huaaaaaaaaa ....!"


Jaga Saksena tak lagi kuat menahan beban, refleks pemuda itu mendongak kepala sembari berteriak keras melepas suara sekaligus energi yang hendak meledakkan tubuhnya dari dalam.


Glart! Glart! Glart!


Ledakan-ledakan susul menyusul terdengar di angkasa. Gelombang kejutnya memporak porandakan atap-atap bangunan dalam radius lima puluh tombak.


Terdengar pula teriakan dan jeritan para abdi dalem wanita. Sehingga membuat para perwira harus mengungsikan para keluarga raja dan juga para abdi dalem ke tempat yang dirasa lebih aman.


Teriakan Jaga Saksena yang disertai oleh ledakan berturut ternyata terdengar ke seluruh Kerajaan Saindara Gumilang. Para warga _yang sejak air hujan mulai menggenang banjir berjaga-jaga di emper_ segera mendongak mencari sumber suara.


"Sang Hyang Murbeng Wasesa Jagat tengah marah kepada kita!" seru salah satu warga.


"Bukan, itu teriakan manusia, blog!" sahut tetangganya.


"Mana mungkin sekeras itu?! Dan disertai ledakan!" timpal yang lain lagi.


Demikianlah, perbincangan tentang suara di angkasa ini segera menguasai topik obrolan di seluruh kerajaan Saindara Gumilang.


Di puncak atap joglo pendopo utama, selepas berteriak sangat keras Jaga Saksena berkali-kali mengucapkan hamdalah. Teriakan yang baru saja ia lakukan ternyata bukan hanya melepas energi yang hendak meledakkan tubuh, tetapi juga memperbesar daya serap pusat tenaga dalamnya.


Tersenyum Jaga Saksena berteriak,


"Sambar aku lagi!"


GLARTT!


Meski tetap merasakan sakitnya sengatan dan panas, Jaga Saksena berhasil menyerap energi petir dengan lebih cepat.


GLARRTT!


Ketika sambaran petir kembali mengenai tubuhnya, Jaga Saksena telah berhasil menyerap separuh energi sambaran pertama.


Dan tatkala sekali lagi petir menyambar, Jaga Saksena yang tak lagi kuat menahan gejolak dan ledakan energi dalam tubuh melepaskannya dengan berteriak keras. Maka kembali ledakan beruntun menghancurkan area sekitar meski tidak separah teriakan yang pertama.


Kejadian sambaran dan teriakan pun terjadi berulang-ulang kali. Alih-alih menghentikan badai petir, Jaga Saksena malah menantangnya.


Kejadian ini membuat beberapa warga yang penasaran dan memiliki kemampuan kanuragan akhirnya memberanikan diri mencari sumber suara. Ketika mereka tahu itu berasal dari atap joglo pendopo utama dan yang melakukannya adalah Jaga Saksena, mereka mulai menjuluki sang pemuda itu dengan bermacam gelar,


"Pendekar Peneriak Bledeg!"


"Pendekar Peredam Bledeg!"


"Pendekar Peniup Bledeg!"


***


Di depan kamar, Kama Kumara yang mendengar teriakan menggelegar di angkasa segera berlari mencari tempat untuk bisa melihat sumber suara.


Betapa terkejut Kama Kumara kala samar-samar matanya mengenali orang yang berdiri di atap tertinggi joglo pendopo utama.


"Jaga Saksena?!"


Bergemeretak gigi geraham Kama Kumara, hatinya makin panas membara tidak suka melihat kedigdayaan orang lain yang ia anggap hina dina, dalit.