Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 99. Kejutan Dari Anesha Sari



Nyai Kinasih tak hiraukan serangan pisau terbang, sebab dengan sekadar luncurkan tubuh ke depan dua pisau hanya mengenai udara kosong.


Tep!


Mendarat di tanah tujuh tombak dari Jaga Saksena, Nyai Kinasih langsung komat-kamit cepat dan lakukan gerakan mantra tangan. Hanya tiga detik saja, energi bagai riak air bening membentuk kepala ular sebesar tong muncul di atas kepalanya.


"Semburan Cinta Gila!"


Dua tangan Nyai Kinasih mendorong ke depan, bersamaan dengan itu energi riak air bening membentuk kepala ular meluncur cepat.


Jaga Saksena yang tahu lawan akan lancarkan serangan ajian segera melepas dekapan Putri Anesha Sari untuk bersiap. Maka ketika Nyai Kinasih dorongkan dua tangan ke depan, Jaga juga hantamkan pukulan.


"Rasaning Rasa!"


Cahaya terang membentuk tinju melesat.


Slesb!


"Inna lillahi! Awas!"


Sungguh tak Jaga Saksena duga, ajian yang ia lepas malah bablas menembus energi serangan lawan. Mau tak mau ia menyambar Putri Anesha Sari untuk selamatkan diri.


Tak ketinggalan, Sunggsang yang berada di belakang juga kocar-kacir.


Hal yang sama dilakukan Nyai Kinasih, ia harus berkelabat selamatkan diri, tak berani gegabah menerima serangan lawan.


Swoong ...!


Energi bening dari ajian Semburan Cinta Gila memberangus apa pun yang dilaluinya. Tidak menghancurkannya akan tetapi membuat pepohonan layu, mati membiru seketika.


Saat yang sama, tinju energi Rasaning Rasa meledakkan sebuah pohon hingga hancur berkeping sebelum tumbang.


Duarrt!!


Jaga Saksena yang berhasil selamatkan dirinya dan juga Anesha Sari harus terkejut oleh efek serangan lawan yang mengenai pepohonan.


"Ajian beracun!" desis Jaga Saksena. "Putri, kau menyingkirkah terlebih dahulu aku tidak mau kau terkena racun!" lanjutnya.


Tak menunggu jawaban dari Putri Andara Anesha Sari, Jaga Saksena melesat ke depan.


'Ternyata begini rasanya di dekap seorang kekasih ....' batin Anesha Sari bergeming, membatu. Entah mengapa dirinya merasa lebih berdebar kala didekap dari pada mendekap.


"Kita menjauh dulu, Putri. Biarkan Jaga Saksena hadapi nenek penyihir itu!" Sungsang yang telah berada di samping Anesha Sari cukup mengejutkan.


"Tidak, kita harus bantu Jaga di waktu yang tepat!"


"Di waktu yang tepat?"


"Kita tunggu saja sambil tetap waspada!" jawab Anesha Sari, ada senyum tipis menyimpan arti di wajahnya.


Nyai Kinasih yang telah gagal dengan dua macam serangan jarak jauh menyongsong Jaga Saksena yang hendak bertarung jarak dekat. Wanita itu penasaran ingin menjajal kemampuan si pemuda.


Maka pertarungan jarak dekat pun tak terelakkan.


"Sanca Hitam Menyambar Kumbang! Ciaaat!"


Dua telapak tangan Nyai Kinasih seakan berubah menjadi dua kepala ular ganas yang berkelebatan ke sana ke mari menyerang mangsa dengan sangat cepat. Dipadu dengan kelenturan tubuh dan gerak kaki yang lincah. Lengkap sudah.


Namun, yang dihadapi Nyai Kinasih bukanlah pendekar biasa. Meski hanya mainkan jurus Kayuku Kayumu, Jaga Saksena mampu mengimbangi jurus Sanca Menyambar Kumbang. Bahkan tatkala pertukaran serangan telah melebihi tiga ratus, Jaga mulai menguasai pertarungan.


Merasa terdesak, Nyai Kinasih tingkatkan jurus dan tenaga dalamnya,


"Sanca Hitam Memangsa Matahari!"


Dua telapak tangan Nyai Kinasih yang semula mematuk bagai kepala ular kini seperti cakar tetapi lebih rapat, tepatnya selaik mulut ular yang hendak menerkam. Selain itu, gerakannya juga lebih cepat dan lebih kaya.


"Ha ha ha! Sepertinya wanita itu berjuluk Pendekar Seribu Bualan! Bagaimana bisa tangan imutnya hendak memangsa matahari?!"


*


Di awal menaikkan tingkat jurus dan kecepatan, Nyai Kinasih mampu mendesak lawan. Tetapi tidak ketika Jaga Saksena ikut meningkatkan permainan jurus dan kecepatannya.


Sepuluh tarikan napas berlalu ketika Nyai Kinasih harus merasakan gedoran tinju menghantam perutnya.


Duosshh!


"Ughh!!"


Tubuh wanita itu terlontar jauh ke belakang hingga menghempas tumbang sebuah pohon. Kendati perut Nyai Kinasih serasa diaduk-aduk, tetapi tadi ia belum telat untuk melindungi diri dengan tabir tenaga dalam sehingga pukulan lawan tak membuatnya cedera organ dalam.


"Bedebah!"


Bangkit Nyai Kinasih memasang kuda-kuda sempurna, mulut komat-kamit sembari melakukan gerakan tangan rumit.


Kejap selanjutnya, cahaya energi muncul di atas kepala Nyai Kinasih dalam bentuk kepala ular bermahkota. Ular hitam yang lebih besar dari ajian Semburan Cinta Gila.


"Ajikuuuu Ratu Sancaaaaaa!!! Hyaaaasss ...!"


Nyai Kinasih dorongkan dua tangan ke depan. Cahaya energi di atas kepalanya pun melejit menerjang dengan mulut menganga menunjukkan taring panjang nan runcing.


Saat yang sama ketika Nyai Kinasih merapal mantra, Jaga Saksena menyiapkan ajian Rasaning Rasa dengan kekuatan ruh. Tak tanggung-tanggung, separuh kekuatan ruh ia kerahkan.


Tak hanya itu, Jaga juga alirkan tenaga dalam ke kaki siap melontarkan diri. Pengalaman adalah guru yang lumayan berharga, dan pengalaman pertama telah menunjukkan betapa ajian wanita itu mampu terus bablas tak bisa dibendung.


Saat Nyai Kinasih dorongkan dua tangan, Jaga Saksena hantamkan tinjunya, menembakkan cahaya terang energi pukulan Rasaning Rasa songsong serangan lawan.


Nyai Kinasih melotot mata, tak menyangka lawan mampu keluarkan energi terang bahkan mengalahkan terang energi ajian miliknya.


'Celaka!' batin Nyai Kinasih cepat, akan tetapi terlambat.


BUMMMMM!!


Tumbukan dua energi menimbulkan dentuman dasyat hingga terdengar ke seantero kerajaan Saindara Gumilang.


Baik Jaga maupun Nyai Kinasih sama-sama terdorong oleh daya kejut ledakan. Tubuh keduanya terhempas jauh hingga seratus tombak lebih. Dan yang tidak di duga Nyai Kinasih, saat dirinya diterbangkan oleh daya kejut dentuman, sebuah pisau terbang melesat cepat menembus lehernya.


Csraak!


Darah bermuncratan seiring pisau yang terus saja melaju membobol leher jagoan Padepokan Sanca Hitam.


Melotot mata Nyai Kinasih, wajahnya mengerut menyiratkan kesakitan meregang nyawa.


Bagi Nyai Kinasih, waktu seakan berhenti menjebak kesadarannya dalam lautan derita kesakitan sekarat kematian.


*


Sebelumnya, Anesha Sari yang telah bisa membaca situasi pertarungan bahwa Jaga dan lawannya akan kembali mengadu ajian segera melesat menjauh sembari bersiap melakukan serangan gelap.


Saat ledakan terjadi, Anesha Sari kebutkan tangan. Sebuah pisau mendesing lurus sebelum membelok menuju leher sasaran dengan kecepatan mengagumkan.


Rupanya di balik lengan baju sang putri yang lebar, tersimpan sebuah pisau. Pisau yang ringan tetapi sangat tajam yang ia pesan ke pandai besi istana. Pemberontakan Sundara Watu telah merubah pandangan Anesha Sari. Dulu ia mengira dunia ini akan baik-baik saja, tetapi ternyata bahaya kapan saja bisa mengancam maka dirinya perlu dan butuh pada senjata.


Selain Anesha Sari kini membekali diri dengan senjata di lengan kanan dan kiri, putri itu juga lebih dewasa. Perwira Aswangga yang selalu menjaganya setiap saat kini disuruh beristirahat, purnakarya.


Raja Basukamba pun tak bisa berbuat banyak karena pada kenyataannya, saat perang, Putri Anesha Sari bukan hanya bisa menjaga diri sendiri tetapi juga mampu menjaga raja sekaligus membunuhi para musuh.


***⁰0⁰***