Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 68. Penyiksaan Sungsang



Menduga kabut mengandung racun, lelaki bercadar hentakkan kaki melenting ke atas belakang sembari babatkan pedang.


"Kidung Pedang Pencabut Nyawa!"


Sebuah energi tebasan jarak jauh melejit membentuk cakram besar setengah lingkaran.


"Tapak Matahari Merah!"


Dari dalam kabut, energi berwarna merah membentuk tapak cukup besar mencuat menyongsong serangan tebasan pedang lelaki bercadar. Itu adalah ajian yang dilepas oleh Sungsang.


Dalam beberapa tahun ini Sungsang telah berusaha keras berlatih untuk menyempurnakan ajian pukulannya. Dan tidak sia-sia, daya pukulannya sekarang jauh lebih kuat dibanding tujuh tahun yang lalu.


Tumbukan dua energi pun terjadi.


BLAMMMM ...!


Tanah bergoncang, dedaunan bergoyang bagai diterpa badai. Tanah berumput ambyar terhempas ke segala arah.


Seketika kabut merah tersingkir, menyisakan sosok Sungsang yang berdiri kokoh meski jelas tampak guratan dalam di tanah akibat kakinya yang menahan daya lontar ledakan.


Di ujung lain, lelaki bercadar mendarat cukup jauh akibat terhempas oleh daya dorong dentuman. Mendarat dalam posisi terjengkang, lelaki itu muntahkan darah segar. Seluruh pakaian bagian depan menjadi abu, kulitnya gosong.


Untuk beberapa saat tubuh itu berkelojot sebelum diam selamanya.


"Cepat kita tinggalkan tempat ini sebelum pihak kerajaan datang!" seru Jaga Saksena telah memanggul musuhnya yang tak lagi berdaya.


Tap! Wessf!


Jaga Saksena diikuti Sungsang melesat pergi menjauh.


Tak lama setelah kepergian keduanya, orang-orang mulai berdatangan. Sebenarnya orang-orang ini sudah tahu ada pertarungan sejak awal, akan tetapi mereka enggan mendekat. Mengingat dua hari belakangan banyak terjadi pembunuhan, mereka tak mau terlibat.


Namun ketika pertarungan telah berakhir, mereka ingin tahu siapa yang menjadi korban.


"Apa kau mengenalinya, Kakang Kawah?"


"Tidak Adi, wajahnya terlalu gosong!"


"Lihat senjatanya!"


Mereka mulai mencari tahu siapa korban tewas hingga akhirnya salah satu di antara mereka memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut pada aparat.


***


Jaga Saksena berhenti di sebuah tempat sepi. Area dekat tembok kerajaan yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar.


Jaga letakkan tubuh yang ia panggul di bawah salah satu pohon besar.


"Apa yang akan kita lakukan pada lelaki bercadar ini, Jaga?" tanya Sungsang yang telah berdiri di samping Jaga Saksena.


"Menurutmu?!"


"Jika kita ingin mengorek keterangan darinya, daerah ini tidaklah aman. Dia bisa berteriak. Hutan ini terlalu kecil."


"Lalu?"


"Kita bawa ke luar kerajaan!"


Menjawab demikian, Sungsang lalu mamanggul tubuh lelaki bercadar sebelum melesat pergi.


Keduanya melompati tembok kerajaan yang tidak dijaga oleh para prajurit kemudian terus melesat menjauh.


Di dalam sebuah hutan lebat di mana suara teriakan meski disertai tenaga dalam tidak akan terdengar hingga kerajaan, Sungsang membanting tubuh di atas pundaknya ke tanah begitu saja.


Gedebug!


"Di sini aman, Jaga!" ucap Sungsang.


Jaga tidak menjawab, pemuda itu mendekati lelaki bercadar lalu menyandarkannya pada pohon besar terdekat.


Stakk! Stakk!


Membebaskan totokan utama, Jaga Saksena mengganti dengan totokan tubuh saja.


"Siapa namamu?!" tanya Jaga Saksena tanpa melepas cadar penutup muka si lelaki.


Srat!


Sungsang menyebrak penutup wajah si lelaki. Kini tampaklah rupa di balik cadar. Meski begitu, Sungsang maupun Jaga Saksena tidak tahu siapa dia.


Sepi. Tak ada jawaban walau hanya sepatah kata.


"Whoiii! Kau bisu?!" teriak Sungsang.


"Sepertinya dia seorang yang sangat patuh pada kelompok atau majikannya," ujar Jaga Saksena tak tahu cara mengorek keterangan dengan jitu.


"Ah, tunggu sebentar!"


Sungsang melejit ke atas batang pohon, mencari sesuatu.


Tak berapa lama pergi ke atas pohon, Sungsang kembali dengan sebuah ranting pohon di mana terdapat sarang semut rangrang yang cukup besar.


"Siapa namamu atau kubuat tubuhmu jadi pengganti sarang rangrang!" ujar Sungsang menyeringai penuh ancaman sambil mendekatkan sarang semut rangrang ke tubuh tawanan.


Tak ada jawaban, lelaki yang memakai penutup kepala sejenis belangkon tetapi memiliki dua ekor panjang itu tetap bungkam.


Pyakk!


Tak hanya mengancam, Sungsang ternyata benar-benar memukulkan sarang semut tepat ke wajah si lelaki.


Seketika semut rangrang berhamburan dan mengganas. Namun begitu, tetap saja si lelaki tawanan tak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia hanya menyeringai tipis.


"Katakan siapa yang menyuruhmu? Atau kuambilkan lebih banyak semut rangrang!" Sungsang kembali bertanya disertai ancaman.


"Sudah, Merah. Jika dia tidak mau memberi jawaban, sebaiknya kita lepas saja."


"Lho! Lho! Bagaimana bisa, Jaga?!"


"Ya, jika dia tetap tidak ingin bicara, maka kita hargai haknya tersebut." Jaga Saksena menjawab enteng lalu tersenyum penuh makna.


"Apa tidak kita coba siksa dulu dia dengan memotong tangan, kaki atau burungnya mungkin?"


"Tidak perlu, siapa tahu satu saat nanti dia ingin kembali ke jalan yang benar. Maka sungguh akan menyulitkan dirinya jika salah satu di antara anggota tubuhnya tersebut kau potong."


"Sungguh sangat mengecewakan." Sungsang terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "Tapi baiklah aku ikut saja. Lagi, bagianku sudah kubunuh, maka dia bagianmu."


Stakk!


Mendapat persetujuan, Jaga Saksena membebaskan totokannya.


"Kau bebas, silahkan pergi sesuka hatimu." Jaga Saksena mempersilahkan dengan ramah.


"Hehh! Kisanak Muda, kau akan menyesal melepaskanku!"


Berkata dengan sinis, lelaki itu menggoyang tubuhnya keras. Seketika semut-semut rangrang yang menggigit tubuhnya terpental.


"Kau telah diberi kesempatan kedua untuk hidup, maka gunakanlah dengan sebaik mungkin!" balas Jaga Saksena kendati tahu ucapan orang mengandung ancaman.


"Sudah pergi sana! Sebelum kami berubah pikiran!" bentak Sungsang sedikit kesal sebab melihat si lelaki masih berlagak di hadapan orang yang telah mengalahkannya.


"Kalian berdua akan menyesal!" teriak si lelaki sebelum melesat pergi.


"Kau yakin dengan rencanamu ini, Jaga?" tanya Sungsang seperti tahu senyuman Jaga kala ingin membebaskan si tawanan.


"Ya, aku yakin dia akan kembali ke majikannya. Cepat atau lambat. Ini lebih baik daripada kita tidak menemukan keterangan pasti tentang Sundara Watu."


"Kenapa tidak kita serahkan saja orang itu pada pihak istana?"


Jaga Saksena tidak menjawab pertanyaan Sungsang, entah kenapa hatinya tidak yakin untuk menyerahkan tawanannya tadi ke aparat. Mungkin ingatan akan budak wanita yang kini menjadi milik orang-orang dalam lingkaran istana yang membuat alam bawah sadar Jaga Saksena tidak bisa menaruh kepercayaan kepada pihak istana.


***


Lelaki memakai ikat kepala seperti belangkon itu tersenyum tipis dalam laju larinya,


'Bocah ingusan itu, dia memang sangat lihai dalam bertarung. Tetapi tak kusangka begitu bodoh. Apa dikira aku tidak tahu mereka berdua akan mengikutiku?! Bamantara, selamat jalan kawan. Aku pasti akan menuntut balas atas kematianmu!'


Lelaki yang tak lain adalah Gandara _kawan sekaligus rekan kerja Bamantara_ itu terus melesat dengan kecepatan tinggi. Ia sengaja tidak langsung menuju kerajaan tetapi memutar ke arah barat. Ada rencana licik yang tiba-tiba terlintas begitu saja di benaknya.