Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 127. Puncak Pertarungan



"Siapa sebenarnya kakek itu? Kemana dia pergi? Den Jaga mampu melukai Kama Kumara!? Dan ... Apa itu? Api biru?! Oh ... Kecepatan yang luar biasa!" Berkata sendiri Senopati Ragnala Raksa di setiap kejadian yang terlihat mata.


Namun kini, senopati itu mulai kesulitan mengikuti gerakan Kama Kumara dan Jaga Saksena.


Di mata Ragnala Raksa, yang ada sekarang hanyalah kelebatan-kelebatan dua bayangan yang terkadang malah hilang. Berbanding terbalik dengan suara teriakan pertarungan. Lengkingan, bentakan dan gemboran makin jelas terdengar.


"Huwasss!"


Kama Kumara terus menghindar tak lagi berani beradu dengan senjata di tangan Jaga Saksena. Demikian juga Jaga Saksena, ia berusaha tak lagi terkena serangan karena tahu lawan telah meningkatkan kekuatan.


Ketika matahari tepat di atas kepala, dan para perwira berdatangan untuk melihat pertarungan yang semakin dasyat saja.


"Waktunya mengakhiri semua ini!" teriak Kama Kumara meluncur terbang tinggi ke langit sebelum berhenti untuk kemudian menukik,


"Penghancur Bumi!"


Rupanya Kama Kumara yang telah dikendalikan sepenuhnya oleh makhluk api di dalam tubuhnya telah memutuskan untuk mengakhiri pertarungan dengan mengeluarkan ajian pamungkas. Ajian Penghancur Bumi bukan hanya akan memakan korban pihak lawan tetapi juga memakan tubuhnya sendiri. Lebih tepat disebut sebagai peledakan diri sendiri.


Dan, tubuh Kama Kumara yang kini tengah menukik bagai lintang jatuh sepenuhnya telah berubah menjadi api biru berekor.


Melihat itu, Jaga Saksena tak mau mengambil resiko untuk menerima serangan di permukaan bumi.


"Hiaaa ...!"


Gunakan seluruh tenaga dalam dan kekuatan petir, tubuh Jaga Saksena melejit ke angkasa dengan kecepatan luar biasa.


"Mampuslah kau!!" Kama Kumara menyeringai demi melihat lawan malah menyongsong dirinya. Ia tak lagi peduli lawan yang mengayunkan kapak di tangan.


Dan ...


Slash!


Jaga Saksena berhasil menebas leher Kama Kumara hingga terpotong dua. Namun,


BOOOOOOOOOOOMMMMMM ...!


Tubuh api biru Kama Kumara meledak luar biasa dasyat. Dentumannya terdengar hingga ke seantero Jawadwipa.


Sebaran ledakan api biru bahkan masih mampu memberangus pepohonan di bawah sana hingga radius seribu tombak. Membuat dua senopati dan para perwira yang berada di dekat sana harus pontang-panting selamatkan diri masing-masing.


Untung saja ledakan terjadi di angkasa tinggi, andai di permukaan bumi, tak terbayang kerusakan yang bakal terjadi.


"Den Jaga?! Di mana dia!" teriak Senopati Ragnala Raksa setelah merasa aman.


"Kami tidak melihatnya, Senopati!" jawab para perwira.


Tentu saja mereka tak melihat, sebab ketika ledakan terjadi dan api berkobar ke segala arah, mereka langsung berlari menjauh untuk menyelamat diri. Demikian pula yang dilakukan Senopati Ragnala Raksa di selatan dan Senopati Sundul Mega di sebelah utara. Mereka berdua tidak berlari ke sungai sebab tahu airnya terlalu dangkal untuk berlindung.


Ragnala Raksa memandang ke angkasa, dari ledakan api biru yang kini telah padam muncul rintik-rintik abu hitam. Entah mengapa tiba-tiba mata Ragnala Raksa berkaca-kaca sembari berucap,


"Den Jaga ... Kami akan selalu mengenangmu sepanjang waktu ...."


Semua perwira terdiam tak berani bertanya maksud perkataan Ragnala Raksa. Akan tetapi melihat banyaknya abu yang turun, mereka bisa menduga, setidaknya abu sebanyak itu adalah dari dua jasad manusia.


***


Trengginas mentah-mentah menolak menjadi raja dengan mengatakan ingin jadi pertapa saja. Ia ingin berguru pada Begawan Teja Surendra jika cendekiawan itu telah kembali nanti.


Rupanya pembunuhan dua saudara Trengginas di depan mata kepalanya dan masih ditambah fakta yang terbongkar bahwa orang tuanya juga dibunuh oleh Kama Kumara membuat Trengginas muak pada kekuasaan. Bagi Trengginas kekuasaan sangat kotor sehingga bisa meracuni hati dan pikiran.


Rembug pembesar istana akhirnya memutuskan untuk mengangkat Putri Anesha Sari sebagai ratu penguasa Saindara Gumilang, hanya saja ternyata sang putri tengah bersedih hati. Jangankan untuk dinobatkan, ditemui saja ia tidak berkenan.


Pada akhirnya rembug menghasilkan kesepakatan bulat, bahwa tampuk kekuasaan sementara dipegang oleh Patih Sepuh Labda Lawana sampai bila Putri Anesha Sari mau ditemui dan dinobatkan menjadi ratu.


"Den Jaga ... Seandainya kau ada di sini mungkin beban ini sedikit terobati. Masih banyak yang harus kupelajari darimu, tapi sungguh tak kusangka kau akan pergi secepat ini meninggalkan si tua renta dalam sepi ...." Patih Sepuh Labda Lawana berkata seorang diri ketika semua pembesar telah undur diri.


Di jalan menuju kediamannya, Tumenggung Wiryateja berhenti sesaat untuk melihat orang-orang yang sibuk bekerja. Entah mengapa tiba-tiba untuk kesekian kalinya ia mengingat Jaga Saksena,


'Aku tak kan bisa membayangkan apa jadinya jika Den Jaga Saksena tidak mengorbankan diri. Kehancuran ini akan berkali-kali lipat bahkan aku tak sanggup untuk sekedar membayangkannya. Terimakasih Den Jaga ... Terimakasih ... Kau akan kuingat selamanya di dalam hati ini. Dan kudengar kau mengajarkan sesuatu yang baru pada Patih Sepuh. Setelah semua perbaikan ini selesai aku pasti akan mengikuti ajaranmu melalui Patih Sepuh. Selamat tinggal wahai Pemuda yang tak lagi diragukan kebaikan dan keberanianmu. Hiduplah bahagia di alam sana!'


Tak hanya Patih Sepuh Labda Lawana dan Tumenggung Wiryateja, para senopati dan perwira juga merasa kehilangan terutama Perwira Aswangga yang masih dalam masa penyembuhan.


Ditemani oleh Perwira Sadajiwa, Aswangga berkali-kali berkata, “Seharusnya aku belajar pada Pangeran Jaga, aku sungguh tidak tahu jika semua akan berakhir seperti ini ….”


“Penyesalan selalu datang belakangan, Perwira. Penyesalan yang sama kurasakan ….” balas Sadajiwa.


*


Lembayung Adiningrum yang mendengar kabar kematian suaminya sekaligus Jaga Saksena mengurung diri. Baginya tidak ada lagi yang menahan dirinya untuk tetap berada di Saindara Gumilang. Akhirnya di hari ke 7 ini, Lembayung memutuskan untuk pulang ke keluarganya sekaligus menyampaikan berita pada ramandanya.


Saat yang sama di atas telaga kecil, Putri Anesha Sari yang telah pulih sepenuhnya terdiam mematung seorang diri. Tak lagi ada perwira menjaganya sebab semua orang sudah tahu kesaktian sang putri yang mampu menarik meteor untuk menghantam bumi.


"Haffffh ..." Anesha Sari menghembus napas panjang, berusaha meringankan sesak hati akibat Jaga Saksena yang belum juga kembali.


Sebelumnya, Putri Anesha Sari telah ikut mencari Jaga Saksena selama tiga hari berturut-turut. Karena ia tidak percaya jika Jaga Saksena telah tiada. Tetapi, kenyataan bahwa Jaga Saksena tidak ditemukan harus membuatnya kembali pulang dan menyendiri.


Memandang ke angkasa, Anesha Sari bergumam lirih,


"Langit itu terasa telah tiada


Aku mengambang di kehampaan udara


Serasa tak mampu bernapas sesakkan dada


Oh ... Kembalilah calon suamiku Jaga Saksena ....


Duhai siapa pun Engkau penguasa jagat raya


Pandanglah relung hati ini yang merana


Mohon ... Dengarkanlah jiwa ini yang bersenandung nestapa


Berbisik padaMu akan harapanku


Dalam tiap hembusan napasku ...."


Perlahan air mata Anesha Sari meleleh hangat membasahi pipi.