Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 93. Raja Basukamba Jalankan Siasatnya



Keesokan harinya, Raja Basukamba mengutus seorang perwira untuk memanggil Jaga Saksena menghadap ke ruang pribadinya.


Tentu saja si perwira terheran-heran, banyak yang telah berjasa pada kerajaan, banyak yang telah mengadu nyawa untuk kerajaan, akan tetapi diundang menghadap raja di ruang pribadi hanyalah mimpi. Karena, ini menunjukkan kedekatan luar biasa dengan sang raja.


'Sungguh beruntung Den Jaga Saksena!' batin si perwira bergegas ke rumah tamu kediaman sang pemuda.


Sambutan ramah dan ucapan penuh keakraban dari Jaga Saksena membuat si perwira merasa tidak ada jarak. Padahal tadinya ia sangat sungkan karena si pemuda telah begitu dekat dengan sang raja.


Bukan hanya itu ramah dan penuh keakraban. Sepanjang perjalanan menuju ruang pribadi raja, Jaga Saksena meminta si perwira berjalan di sampingnya, sejajar tanpa mau diiringi.


Jaga Saksena juga mengajak si perwira mengobrol ringan sebagaimana seorang teman,


"Perwira Sadajiwa, jika kau senggang, berkunjunglah. Kami biasanya menikmati wedang hangat bersama kala pagi."


"Seperti tadi, bersama dengan Begawan Teja Surendra, Den Jaga?!" kaget si perwira.


Tadi, ketika Perwira Sadajiwa mendatangi kediaman Jaga Saksena memang pemuda itu tengah berbincang dengan Begawan Teja Surendra dan Pendekar Merah.


"Iya, sesekali datanglah," jawab Jaga ringan.


"Terus terang, Den Jaga. Aku bukan seorang perwira yang pandai. Aku bisa menjadi seorang perwira karena kegigihan dan kesetiaan. Bagaimana nantinya jika aku bercakap-cakap dengan Den Jaga dan Begawan Teja Surendra yang seorang cendekiawan?" Sadajiwa mencurahkan isi hatinya membuat Jaga Saksena tiba-tiba berhenti.


Seketika itu pula Sadajiwa ikut berhenti.


Jaga Saksena berkata dengan lembut,


"Manusia punya hati nurani. Gunakan hatimu maka itu sudah cukup dan semoga kau mendapat kebaikan."


"Terimakasih, Den Jaga. Aku sungguh senang bisa mengenalmu lebih dekat."


"Sama-sama, mari."


Keduanya melanjutkan perjalanan melewati pendopo utama yang tengah diperbaiki oleh rakyan pembangunan dan para tukang bawahannya. Rakyan pembangunan tampak berdiri di atas atap yang telah rusak memerintahkan beberapa bagian untuk dicopot sekalian agar bisa diganti sepenuhnya.


Ketika berpapasan dengan para tukang yang berada di bagian bawah, Jaga Saksena tersenyum ramah dan menyapa,


"Semangat, Paman!"


"Eh Den Jaga, Pendekar Peniup Bledeg. Akhirnya, bisa melihat Den Jaga dari dekat!" seru salah seorang tukang yang mengenali Jaga Saksena.


"Betul Paman, aku Jaga Saksena. Tapi Pendekar Peniup Bledeg, siapa itu paman?!" Jaga Saksena berhenti untuk sekedar beramah tamah.


"Orang-orang menjuluki Den Jaga dengan gelar Pendekar Peniup Bledeg. Begitu, Den."


"Oh, he he he. Bisa saja orang-orang itu. Silahkan lanjutkan pekerjaan, Paman Semua. Permisi ...."


Hanya sekedar sapaan ringan tetapi membuat mereka senang, menanamkan citarasa di hati para tukang bahwa Jaga Saksena adalah seorang yang ramah dan membaur, tidak merasa jumawa meski telah menjadi pahlawan Kerajaan Saindara Gumilang.


Perwira Sadajiwa yang mengamati sikap Jaga Saksena pada para tukang merasa sedikit malu, sebab dirinya kadang selalu menerapkan tingkah perbawa pada orang-orang yang pangkatnya lebih rendah apalagi pada rakyat biasa.


'Den Jaga yang begitu dekat dengan raja saja begini ramah, tetapi aku ... sepertinya aku harus berubah!' batin Sadajiwa ikut mengangguk kala meninggalkan para tukang.


Sepeninggal Jaga Saksena dan Perwira Sadajiwa, para tukang pun memberi komentar,


"Sakti tetapi tidak tinggi hati!"


"Masih muda dan memiliki kedudukan, tetapi tidak jumawa!"


"Kalian sedang memuji siapa?!" tanya salah satu tukang.


"Siapa lagi kalau bukan Den Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg, Tirtaaa!"


Yang bernama Tirta nyengir menunjukkan giginya yang menguning lalu berkata,


"Bukankah anakmu baru satu dan perempuan, Tirrrrr?!" sergah kawan di sebelah kanan.


"Oh iya ya ... jika begitu aku akan membuat lagi biar lahir anak lelaki!"


"Membuat, membuat ... gundulmu!" gojlok kawan di kiri.


"Hahahaha!" Mereka tertawa bersama lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti akibat kedatangan Jaga Saksena.


***


Tiba di ruang pribadi raja, ternyata Raja Basukamba telah menunggu. Ini makin membuat Perwira Sadajiwa terheran-heran.


'Gila! Ini gila, Den Jaga Saksena ditunggu oleh Yang Mulia Raja Basukamba!! Aku harus berkunjung menemui Den Jaga jika ada kesempatan!' pekik hati Perwira Sadajiwa sebelum mundur teratur menutup pintu lalu meninggalkan ruangan pribadi raja.


Setahu Sadajiwa, belum pernah ada seseorang yang ditunggu oleh Raja Basukamba. Yang sudah-sudah, orang yang dipanggil menghadap akan menunggu terlebih dahulu baru raja akan memasuki ruangan untuk menemuinya.


Sepeninggal Perwira Sadajiwa, Raja Basukamba mempersilahkan Jaga Saksena duduk lalu mulai membuka percakapan.


"Jaga Saksena, tempo hari kau ingin menjadikan putriku Anesha Sari sebagai seorang istri bukan?! Aku merestuimu!"


Mata Jaga Saksena sedikit melebar, tak menyangka Raja Basukamba akan langsung ke pokok permasalahan.


Andai Jaga Saksena tahu, apa yang barusan dikatakan Raja Basukamba ternyata bukanlah pokok karena masih ada yang lebih penting. Setidaknya lebih penting menurut sang raja.


"Tapi kau harus tahu kebiasaan di kerajaan ini," lanjut sang raja tersenyum lalu berdiam diri menunggu tanggapan Jaga Saksena.


"Terimakasih Yang Mulia Raja atas restu Yang Mulia. Akan tetapi mohon maaf, kebiasaan apakah yang dimaksud Yang Mulia?!" tanya Jaga Saksena tak mengerti.


Pertanyaan yang membuat Raja Basukamba tersenyum penuh kemenangan.


"Begini ...."


Raja Basukamba menerangkan adat istiadat di Kerajaan Saindara Gumilang bahwa seorang lelaki yang ingin mempersunting seorang gadis harus membayar pitukon (mahar_pen) yang ditetapkan oleh ramanda atau orang tua si gadis.


"Kau tahu bukan, Anesha Sari itu seorang putri raja?!"


"Tahu, Yang Mulia Raja."


"Penentuan pitukon ini berdasarkan pangkat kedudukan seorang gadis. Makin tinggi pangkatnya makin mahal. Apakah kau sanggup, Jaga Saksena?!"


Jaga Saksena tersenyum, berpikir masih memiliki empat puluh ribu keping emas pada sang raja. Dan ini bisa ia gunakan sebagai pitukon.


"Siap, Yang Mulia Raja!"


'Kena kau!' seru hati Raja Basukamba dengan senyuman mengembang penuh kemenangan lalu berkata,


"Karena kutahu kau seorang yang sebatangkara lagi tunawisma, kau cukup memberi pitukon seratus ribu keping emas."


Mendengar ucapan sang raja, Jaga Saksena hampir terjengkang bersama kursi yang ia duduki, saking kagetnya. Betapa tidak! Pertama Raja Basukamba sudah tahu dirinya seorang batangkara dan tidak punya rumah. Tapi itu tidak seberapa kaget dibanding hal kedua. Yakni, sudah tahu dirinya sebatangkara dan tunawisma, malah meminta pitukon seratus ribu keping emas.


Melihat Jaga Saksena kaget sampai-sampai hampir terjengkang bersama kursinya, Raja Basukamba makin merasa menang, terbang di atas angin.


Masih tersenyum, Raja Basukamba mendekatkan tubuh dengan mencondongkan diri ke depan untuk berucap dengan suara bijaksana,


"Tenang Jaga Saksena, kau tidak perlu khawatir. Hadiahmu masih padaku, dan itu sebagai pembayaran awal, kekurangannya menyusul!"


Jaga Saksena menarik napas panjang sebelum menghembuskan dengan irit.


"Kau tidak bisa mundur, Jaga Saksena. Seorang lelaki dipegang dari ucapannya. Pantang menjilat ludah sendiri!" Raja Basukamba menekan dengan ucapan berwibawa, sebab khawatir Jaga Saksena akan mundur teratur akibat tak mampu membayar. Itu terlihat dari gelagat Jaga yang menarik napas panjang dan menghembuskannya sangat pelan sekali seolah tidak ingin terdengar oleh siapa pun.


***