
Malam kembali datang, pertarungan Jaga Saksena melawan Kama Kumara telah bergeser semakin jauh memasuki komplek istana kerakyanan. Akibatnya, beberapa bangunan kediaman rakyan harus roboh.
Robohnya bangunan bukan oleh ajian tapi lebih disebabkan oleh tubuh Jaga Saksena maupun Kama Kumara yang terlontar hingga menghempas dinding dan tiang.
Peningkatan penggunaan kekuatan --yang pada awalnya ketika adu tinju hanya terdorong dua langkah-- sekarang ketika adu tinju terjadi, masing-masing mereka terdorong sepuluh tombak.
Demikian pula ketika tubuh Jaga Saksena terkena serangan. Awalnya, Jaga merasakan sakit luar biasa dan terpental hingga belasan tombak. Tapi kini tubuh Jaga Saksena mampu bertahan dari pukulan Kama Kumara meski tetap terlontar jauh sampai menabrak jebol bangunan-bangunan. Rupanya perlindungan kekuatan ruh pada raga Jaga semakin meningkat seiring dzikir dan kesakitan yang dirasakan olehnya.
Brangggg ...!
Tubuh Jaga Saksena kembali terkena tendangan telak hingga terlontar jauh menghempas roboh dinding sebuah rumah.
Kama Kumara memburu, ia tak mau memberi kesempatan lawan untuk istirahat meski hanya sejenak.
Pertarungan pun beralih di dalam rumah, memporak porandakan perabotan, hingga
Wuuts!
Brakk!
Tebasan tapak Kama Kumara mengenai salah satu dari empat saka guru (tiang utama rumah) mengakibatkan rumah ambruk meski tidak sepenuhnya. Tetapi tidak setelah satu saka guru kembali terkena tebasan.
Brungggg ...!
Rumah itu benar-benar ambruk seluruhnya. Untung, sejak pagi semua anggota keluarga para rakyan di sekitar pertarungan telah diungsikan ke tempat aman sehingga tidak ada jatuh korban.
"Hiaaaaaah!"
Tertimbun runtuhan rumah, Jaga Saksena dan Kama Kumara melompat menjebolnya,
Bruall!
Pertarungan kembali dilanjutkan di atas puing.
'Jika terus begini, semua bangunan bisa hancur!'
Berpikir demikian Jaga Saksena mulai menggeser pertarungan ke luar istana menuju ke arah timur.
"Senopati! Ungsikan semua warga dari timur keraton!" teriak Jaga Saksena pada senopati Sundul Mega yang mengawasi pertarungan dari arah timur.
Jaga Saksena mengambil arah timur karena paling dekat untuk keluar dari komplek istana.
Mendapat seruan, Sundul Mega segera memimpin para perwira bawahannya untuk menggerakkan para prajurit guna mengungsikan warga.
Hiruk-pikuk di timur keraton pun pecah. Dan para prajurit bergerak cepat merambat ke timur untuk mengevakuasi seluruh warga di sisi timur sana.
"Bawa barang-barang penting saja! Cepaaaat!"
Tergesa, para warga hanya membawa harta berupa keping emas dan pakaian. Selebihnya mereka tinggalkan.
Pertarungan terus bergeser ke timur sesuai rencana Jaga Saksena hingga ketika tengah malam pertarungan sudah tiba di tembok keraton timur. Tembok pemisah komplek keraton dan pemukiman warga kerajaan.
Tak butuh lama, tembok keraton yang tidak setebal tembok kerajaan itu pun jebol.
"Malam yang panjang ...!" gumam Senopati Sundul Mega belum melihat tanda pertarungan melemah malah semakin menjadi-jadi.
Meski mengawasi proses pengungsian warga, Senopati Sundul Mega tetap mencermati jalannya pertarungan demi memastikan tidak menyasar dan menelan korban rakyat biasa.
Kama Kumara yang mulai jenuh dan semakin marah karena belum mampu menumbangkan Jaga Saksena memaki kekuatan dalam tubuhnya. Serangannya pun mulai tidak lagi berpola. Ia mengamuk membabi buta tak lagi memikirkan pertahanan. Lagi pula untuk apa memikirkan pertahanan, sebab tubuhnya kebal. Ini menjadikan beberapa kali Kama Kumara harus menerima pukulan maupun tendangan secara telak sehingga terpental jauh. Akan tetapi Kama Kumara selalu kembali.
Berbeda dengan Kama Kumara yang mulai jenuh dan bosan, Jaga Saksena malah mulai berdamai dengan keadaan. Menerima ketentuan Ilahi harus bertarung berhari-hari. Sampai hingga untuk berganti pakaian saja Jaga tidaklah sempat. Padahal pakaian atas Jaga telah hilang sepenuhnya. Tinggal celana, itu saja telah compang-camping. Alas kakinya pun telah berlubang di bagian depan dan belakang.
'Tanpa pertolonganMu, hamba tidak mungkin bisa bertahan sejauh ini duhai Robbku Penguasa Alam Semesta.'
Jaga Saksena merasakan syukur dalam hatinya. Bagaimana tidak! Berhari-hari tidak makan minum dan terus bergerak dalam baku hantam, Jaga Saksena tidak merasakan lapar. Bahkan ia merasa tubuhnya makin kuat.
Seiring rasa syukur dalam hati membuncah, Jaga Saksena tiba-tiba merasakan kekuatan ruhnya menguat beberapa tingkat melebihi ketika dirinya hanya berdzikir dalam hati.
'Maha benar Gusti Alloh Ta'ala dalam kalam di kitab suci Al-Qur'an: La in syakartum la azidannakum (Sungguh jika kalian bersyukur nizcaya Aku pasti akan menambahi kalian).'
Dalam pertarungan, Jaga Saksena masih bisa mengingat betul ayat yang ia hapal dan mengambil hikmahnya.
Maka Jaga tersenyum ketika kembali harus mengadu tinju.
Blaark!
"Aku tidak suka dengan senyum burukmu, Dalit! Hiaaa ... Ya! Ya! Ya! Ya!" teriak Kama Kumara kembali dari terpentalnya lalu menyerang Jaga Saksena bertubi-tubi.
"Senyum adalah kebajikan, bukan begitu?!" jawab Jaga Saksena menghindari serangan hingga,
Blarrt!
Kembali keduanya terpental akibat adu tapak.
"Aku benar-benar muak padamuuuuu ...!" berteriak keras, Kama Kumara kembali berkelebat menyerang.
Waktu terus berjalan tak peduli apa yang terjadi di muka bumi. Hari berganti malam, malam berganti pagi, dan pagi berganti sore.
Di pagi hari ketika duel telah berlangsung tujuh hari tujuh malam, medan pertarungan telah bergeser sampai di tepi aliran sungai berbatu. Lebar airnya hanya lima tombak (10 meter_pen), dengan aliran air yang dangkal bergemericik.
Di sebelah selatan pertarungan, di pinggir sungai berbatu, tampak seorang lelaki tua berdiri menghadap ke timur, ia tengah menempa sesuatu di atas batu besar setinggi pusar. Dari suara yang dihasilkan bisa ditebak ia tengah menempa besi baja atau sejenisnya.
Dalam tarungnya, Jaga Saksena sekilas melihat si lelaki tua. Jarak pertarungan darinya hanya sekitar dua puluh tombak.
'Lelaki tua itu menempa di pinggir sungai? Yang benar saja? Padahal tidak ada api atau pun bara!' gumam hati Jaga Saksena takjub.
"Ki Sanak Penempa! Pergilah! Ini berbahaya!" seru Senopati Ragnala Raksa yang hari ini mendapat jatah mengawasi pertarungan dari arah selatan.
Empat senopati tidak terus-menerus mengawasi jalannya pertarungan, sejak duel bergeser keluar dari wilayah kerajaan, mereka bergantian dengan hanya mengawasi utara dan selatan, sehingga dua senopati bisa istirahat lalu menggantikan pengawasan esok harinya.
Seruan Senopati Ragnala Raksa tidak mendapat tanggapan. Maka senopati itu pun mendekatinya.
"Kakek!" Kembali Ragnala Raksa berseru, jarak antara dirinya dengan lelaki tua sekarang hanya dua tombak, seharusnya si lelaki tua mendengarnya. Akan tetapi lelaki tua itu terus saja menempa.
"Kakek! Pertarungan bisa saja menyambar ke sini, Kakek pergilah sebelum terlambat!" lanjut Ragnala Raksa kerahkan tenaga dalam demi menguatkan suaranya.
Namun, kakek tua itu masih saja sibuk, bahkan ia tetap tak berpaling dari pekerjaannya.
*
To be continued