Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 98. Nyai Kinasih Bergerak



Pagi-pagi benar, Jakala melaporkan keberadaan Jaga Saksena. Bukan hanya itu, Jakala juga melaporkan bahwa Jaga Saksena telah menjadi pahlawan Kerajaan Saindara Gumilang sekaligus calon menantu Yang Mulia Raja Basukamba.


"Apa?!" Bakintal melotot, tak menyangka musuh yang ia incar akan menjadi keluarga raja.


"Benar, Ndoro. Hamba sudah bertanya pada salah satu perwira bahkan keluarga raja!"


"Keparat! Jika begini aku tidak bisa ikut bergerak langsung! Kau bawa Nyai Kinasih dan tunjukkan padanya di mana keberadaan dalit hina itu!"


"Sendiko dawuh, Ndoro!"


***


Pagi hari ini adalah hari ke tiga bagi Jaga Saksena, Anesha Sari dan Sungsang yang bertugas mengantarkan para wanita untuk bekerja.


Karena ternyata tidak mudah mencarikan mereka pekerjaan yang sesuai dengan kemauan mereka.


Belum lagi sambutan para pemilik usaha yang berusaha menahan Putri Anesha Sari agar berlama-lama di tempat mereka, ditambah pula jalan para wanita muda yang lambat. Maka dalam sehari Jaga Saksena hanya bisa mengantar sepuluh wanita.


Akibat dua hari menyusuri jalanan kerajaan, di hari ketiga ini banyak orang _terutama para pemuda_ yang sengaja duduk di pinggir jalan. Mereka menanti Putri Andara Anesha Sari kembali lewat.


"Hassss ... Semoga ini yang terakhir!" gumam Jaga Saksena jengah sebab seperti dua hari sebelumnya, ia harus hilang dari pandangan orang-orang akibat semua terpana pada sang putri.


Sebenarnya bagi Jaga Saksena, tidak dianggap tidaklah menyakitkan hati. Hati Jaga baik-baik saja. Akan tetapi terasa aneh saja baginya jika ada banyak orang tidak ia sapa. Dan ketika menyapa malah tambah aneh, karena dirinya menurut Sungsang seperti orang gila. Mengingat hal ini, Jaga Saksena tersenyum lucu sekaligus kecut.


Berbeda dari Jaga Saksena yang jengah, Sungsang Gumilang malah tersenyum-senyum sendiri. Senyuman senang nan bahagia. Seribu keping emas pemberian dari Senopati Ragnala Raksa _yang baru kembali tadi malam_ membuat Sungsang merasa sebagai orang paling kaya di dunia.


Sungsang tak peduli orang di pinggir jalan tidak menganggapnya, karena bagi Sungsang, "Jangankan dagangan kalian, rumah kalian pun bisa kubeli! Jadi gelandanganlah kalian! Ha ha ha ha!"


Padahal, tidak semua orang di pinggir jalan berdagang atau pun berjualan. Sepertinya kaya mendadak memang bisa membuat orang gila.


Berjalan lama akibat sepuluh wanita tidak bisa melaju cepat, akhirnya rombongan kecil Putri Anesha Sari tiba di sebuah kedai makanan.


Rencananya dua orang wanita akan bekerja di sini.


Melihat kedatangan rombongan sang putri yang menarik perhatian semua pengunjung, pemilik kedai _seorang lelaki berusia 60 an_ tergopoh keluar menyambut,


"Terimakasih atas kunjungan Tuan Putri. Sungguh sebuah kehormatan tak terkira bagi hamba dan keluarga. Silahkan Tuan Putri ...."


Meja dan kursi khusus telah disiapkan oleh pemilik kedai makan. Bahkan tanpa diminta, menu makanan andalan kedai pun lekas disajikan.


Perlakuan khusus ini pula yang membuat Sungsang senang mengikuti Jaga Saksena dan Anesha Sari sejak hari pertama.


Meski Sungsang tak dianggap ada oleh pemilik kedai serta keluarganya, dan juga hanya jadi pengusir nyamuk karena Anesha Sari selalu saja hanya ingin dekat dan menarik perhatian Jaga Saksena, akan tetapi Sungsang selalu mendapat sajian makanan melimpah. Dan makanan-makanan yang disajikan tersebut semuanya enak-enak sampai Sungsang bingung mau makan yang mana.


Ketika semua telah selesai menikmati hidangan,


"Siapa namamu, Paman?" tanya Putri Anesha Sari membuat gembira hati pemilik kedai dan istrinya yang kini berdiri menunduk penuh penghormatan bahkan sebelumnya hendak bersimpuh di lantai hanya saja dicegah oleh Anesha Sari.


"Hamba Ki Darma dan ini istriku Ni Pratiyem, Tuan Putri."


"Ki Darma dan Ni Pratiyem, kudengar kalian ada lowongan untuk membantu di kedai ini."


"Betul, Tuan Putri. Kami butuh dua orang wanita, Tuan Putri."


"Aku akan menitipkan dua kawanku di sini, kuharap kau menjaga dan membimbing mereka selayaknya anakmu sendiri."


"Sendiko Dawuh, Putri. Kami sudah diijinkan membuka usaha dikerajaan ini saja telah sangat berterimakasih dan berhutang budi pada Yang Mulia Raja, titah Putri sama dengan titah Yang Mulia Raja. Kami akan menjalankan dengan sepenuh hati."


***


Ketika sore hari tiba, sepuluh wanita telah di antarkan ke pemilik usaha.


Jaga Saksena, Anesha Sari dan Sungsang tak menyadari dua orang telah mengikuti mereka sejak siang hari. Mereka berdua mengikuti dari jauh, menunggu saat dan tempat yang tepat untuk mencegat.


"Nyai Kinasih, sesaat lagi mereka akan memasuki ruas jalan sepi. Aku hanya mengantarmu sampai di sini."


"Huh! Sebenarnya dari mula kau tak perlu mengantarku!" dengus Kinasih sebab tidak nyaman pada bau keringat ketek lelaki bertelanjang dada di sampingnya, Jakala.


"Baiklah, Nyai. Kau memang yang terbaik. Silahkan Nyai."


Tak menjawab, Nyai Kinasih mencelat ke udara melesat ke atas pohon lalu melompat ke pohon lainnya. Dan ketika telah berada di atas Jaga Saksena, Nyai Kinasih lepas serangan,


Wess!Wess!


Sembilan jarum sebesar lidi kecil melesat mengarah sembilan titik kematian Jaga Saksena.


"Awass!"


Anesha Sari yang memiliki kepekaan lebih berseru sembari secepat kilat menarik tangan Jaga Saksena hingga pemuda itu masuk ke dalam dekapannya dalam posisi memunggungi.


Sembilan jarum amblas menghantam tanah.


Sungsang Gumilang sontak berhenti, lalu melotot ke sejoli yang berdekapan di hadapannya. Mereka memang tengah berjalan santai demi mengikuti kemauan Anesha Sari yang ingin menghirup udara segar tepi hutan kecil, padahal gadis itu sebenarnya hanya ingin berlama-lama dengan Jaga Saksena.


"Ka-kalian belum menjadi suami-istr—"


"Awass!!"


Kembali berseru Anesha Sari mencelat membawa Jaga Saksena menjauh.


Jaga merasa terbang melayang. Bukan hanya sebab dibawa mencelat oleh Putri Anesha Sari tapi juga karena berada dalam pelukannya. Bagaimanapun juga, Jaga Saksena seorang manusia biasa yang normal.


Sembilan jarum serangan kedua kembali hanya mengenai tanah kosong dan terus amblas masuk hingga dalam.


Sungsang yang sadar mereka berdua sedang tidak bercinta tetapi menghindari serangan segera mencari sumber serangan.


"Di atas!"


Swes! Swes!


Dua pisau terbang melejit dari tangan Sungsang Gumilang.


Tas!Tas!


Beberapa ranting di jalur lesatan putus terserempet bilah tajam pisau terbang.


Nyai Kinasih tak hiraukan serangan pisau terbang, sebab dengan sekadar luncurkan tubuh ke depan dua pisau hanya mengenai udara kosong.


Tep!


Mendarat di tanah tujuh tombak dari Jaga Saksena, Nyai Kinasih langsung komat-kamit cepat dan lakukan gerakan mantra tangan. Hanya tiga detik saja, energi bagai riak air bening membentuk kepala ular sebesar tong muncul di atas kepalanya.


***⁰0⁰***