
Tepat tengah malam, di alun-alun Kerajaan Saindara Gumilang.
"Berhenti!"
Patih Sepuh Labda Lawana terpaksa harus menghentikan pertarungan antara Graskot dan Lupija. Sebab keduanya sama-sama kuat.
Berkali-kali Graskot dan Lupija mengadu kekuatan tetapi keduanya sama-sama terlempar jatuh ke luar panggung, sehingga dinyatakan belum ada yang kalah atau pun menang. Sehingga pertarungan harus dihentikan sebab waktu telah habis.
"Yaaah ...!" Orang-orang berseru kecewa, hanya itu yang bisa orang-orang lalukan karena sudah menjadi ketentuan bahwa tengah malam pertarungan akan dihentikan.
"Sebab Graskot dan Lupija imbang, maka besok pertarungan akan dilanjutkan peserta lain!" lanjut Patih Selamarya.
"Tapi, Ki Patih, aku hampir menang!" Graskot mencoba menawar.
"Tidak ada tapi-tapian. Kau bisa bertarung dengan pendekar lain setelah istirahat. Dan, keputusanku tidak bisa diganggu gugat!" sergah Patih Sepuh Labda Lawana lalu berseru ke khalayak ramai. "Sekarang kalian semua bubar! Sayembara dilanjutkan besok tepat tengah hari!"
Mau tak mau, semua orang mulai membubarkan diri. Sebagian besar menuju rumah untuk beristirahat, mereka ini kebanyakan para warga yang menonton sayembara bersama istri atau pun bersama anak. Tetapi bagi yang menonton sendirian, mereka tidak langsung pulang, sebagian menuju kedai malam untuk bermabuk-mabukan, sebagian mencari hiburan penghangat ranjang.
Saat semua orang akan menuju tujuan masing-masing itulah kegegeran terjadi, mereka dikagetkan oleh sebuah lembaran berisi woro-woro yang ditempel di tempat-tempat ramai dan terang; persimpangan jalan, kedai-kedai besar, tempat hiburan dan lain-lain.
"Apa?! Dua ribu keping emas untuk seorang bocah dalit?!"
"Ini terlalu besar!"
"Dua ribu keping emas!!"
Tercengang orang-orang hingga menganggap itu hanya sebuah gurauan. Akan tetapi ketika membaca siapa yang akan membayar, yakni Raden Bakintal, semua orang langsung percaya.
"Raden Bakintal tidak pernah bercanda. Dua ribu keping emas baginya bukan jumlah yang besar!"
Demikian ucap orang-orang.
"Dua ribu keping emas terlalu banyak untuk membunuh bocah dalit. Berikan seratus keping emas padaku, dengan sukarela aku akan memburunya!" ucap seorang berpenampilan pendekar.
"Cepat kita cari bocah dalit ini! Sebelum ditemukan oleh orang lain!"
"Kita bentuk kelompok pemburu!"
"Siapa yang akan ikut denganku?!"
Para pendekar segera bergerak cepat, membuat regu untuk memburu si dalit yang gambarnya tertera dalam lembaran woro-woro.
**⁰0⁰**
Di sebuah kedai yang sangat ramai tak jauh dari alun-alun.
"Kakang Rawal! Lihatlah orang-orang sedang mengerumuni apa itu?!"
"Mari kita lihat!"
Rawal dan Balkhi SuPekok yang hendak mengisi perut mendekat ke pusat keramaian di depan kedai. Ada sebuah lembaran yang di tempel di sana yang sedang menjadi pusat perhatian semua orang.
Dari belakang kerumunan, Rawal membaca dengan seksama.
"I-itu!" Rawal tergagap, ada gurat rasa senang tetapi seketika berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
"Apa yang tertulis di lembaran itu, Kakang Rawal?!" Balkhi SuPekok yang tidak bisa membaca hanya bisa berusaha menguping orang-orang. Sayang mereka membaca dalam hati saja lalu ramai berkomentar sehingga dirinya terpaksa bertanya untuk memperjelas.
"Cepat, ikut aku!"
Alih-alih menjawab, Rawal membawa Balkhi SuPekok menjauh ke tengah alun-alun yang kini telah sepi, padahal sedianya mereka datang ke kedai untuk makan malam.
"Gambar dan tulisan tadi ...." Rawal mulai menerangkan seusai menengok kanan kiri belakang tidak ada orang lain, selain dirinya dan Balkhi Su Pekok.
"Apa? Apa kau tidak salah baca, Kakang Rawal?!" kaget Balkhi Su Pekok usai Rawal menerangkan.
"Tidak, Adi!"
"Bisa jadi Raden Bakintal salah orang! Pertama, seharusnya Jaga belum sampai di kerajaan ini. Kedua andai sudah sampai, bagaimana mungkin bocah itu tega membunuh anaknya Raden Bakintal? Jelas bukan Jaga yang kita kenal!"
"Lalu bagaimana, Kakang?!"
"Kita temukan Jaga sebelum orang lain menemukannya!"
"Kau berminat mendapatkan dua ribu keping emasnya, Kakang Rawal?!"
"Guoblokg! Bukan untuk menangkapnya lalu mengerahkan pada Raden Bakintal. Tapi ... kita selamatkan dia untuk keluar dari tembok kerajaan!"
"Setuju, Kakang!"
Rawal dan Pekok sepakat, keduanya hendak melangkah sebelum Rawal teringat sesuatu,
"Tapi kita cari ke mana, Adi Pekok?!" tanya Rawal bingung sendiri karena tidak tahu memulai dari mana.
"Kemana saja kaki membawa kita, Kakang!"
Plokk!
Rawal menepuk jidatnya sendiri, tidak mengerti dengan pemikiran adik seperguruannya itu.
Sesaat kemudian, "Osh ... aku tahu, Adi! Kita mulai dari mencari tahu kejadiannya di kediaman Raden Bakintal! Dari sana kita akan tahu kira-kira di mana Jaga berada!"
Saat yang sama, ketika kegemparan terjadi, seorang kepala prajurit keraton melapor pada Senopati Sundul Mega.
"Dua ribu?!"
"Benar, Senopati!"
"Banyak sekali. Sepertinya Raden Bakintal benar-benar merasa kehilangan anaknya. Dasar manusia tolol! Bukankah lebih baik dua ribu keping emas ia gunakan untuk mencari istri lain yang bisa memberi ia keturunan lagi? Dan untuk seorang dalit, seratus keping sudah cukup. Ini malah dua ribu!"
"Apakah tidak akan mengganggu kelancaran berjalannya sayembara, Senopati?"
"Tidak akan. Kurasa sebelum matahari terbit besok, perkara ini sudah selesai."
Dugaan Senopati Sundul Mega sangat masuk akal. Hadiah sebesar dua ribu keping emas untuk membunuh seorang bocah dalit. Semua orang akan bergerak, dan semua orang bisa membunuh seorang bocah dalit!
***
Di dalam sebuah rumah tua yang terbengkali, gelap dan tampak angker.
"Ada apa di luar?!"
Jaga Saksena yang berlatih silat sendirian hingga ketiduran di rumah kosong tetiba terbangun oleh keramaian di halaman.
"Kau, kau, dan kau ke sana! Kau, kau, kau dan ke sana! Kau dan kau masuk dari situ, dan kau ikut aku!" seru seorang berpakaian serba hitam yang membawa parang terhunus.
Sama halnya dengan orang-orang yang bersamanya, semua membawa obor serta senjata dari mulai pisau, golok, sabit, tombak hingga busur panah.
Rupanya, banyaknya jumlah hadiah yang dipersiapkan oleh Raden Bakintal membuat orang-orang _juga para pendekar_ memutuskan membentuk kelompok-kelompok pemburu. Dan nanti keping emas akan dibagi secara merata.
Satu kelompok terdiri dari sepuluh orang, dengan begitu masing-masing mereka akan menerima dua ratus keping emas.
'Jangan-jangan mereka mencariku!' Jaga Saksena lekas bangkit untuk mengintip dari lubang tembok.
'Mereka ke sini!' seru hati Jaga Saksena panik.
Spontan Jaga Saksena masuk ke dalam rumah lebih dalam. Meski rumah begitu gelap, Jaga tak peduli. Kedua tangan ia gunakan sebagai mata untuk meraba agar tidak menabrak.
Namun,
Glubrakkk!
Kaki Jaga Saksena menabrak sebuah perabotan usang sehingga menimbulkan suara berisik.
"Ada orang di dalam sana! Cepat!" Salah satu pemburu berteriak keras memberi tahu yang lain.