Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 117. Diracuni



Kendati telah memiliki kekuatan berlimpah, Kama Kumara tetap harus memenuhi hak tubuhnya yakni makanan. Maka ia menuju ruang makan di mana di sana ada sebuah meja bundar kokoh dan beberapa kursi yang mengelilingi.


"Ah ... kesukaanku!" gumam Kama Kumara ketika melihat lima ayam hutan panggang bertabur sambal hijau yang masih terlihat mengepulkan asap tipis.


Di sampingnya, lima nasi yang dibentuk seperti kukusan (kerucut) tampak seperti lima gunung kecil.


Duduk, Kama Kumara segera disibukkan untuk menghancurkan semua makanan di hadapannya. Dan tidak butuh waktu lama baginya untuk melakukan itu.


"Benar-benar enak! Setelah ini aku akan berpesta bersama mereka lagi. Ha ha ha ha tidak kuduga tujuh hari sengsara membawaku masuk ke dalam surga abadi selama-lamanya!"


Baru saja Kama Kumara selesai berkata. Tiba-tiba,


"Uakhhh ... Apa ini?!"


Kama Kumara merasakan tubuhnya tiba-tiba bergejolak panas.


Hawa panas yang dirasakan Kama Kumara terus berlanjut hingga menjadi sakit yang tak tertahankan lagi. Akhirnya raja itu berteriak-teriak sambil bergulingan di lantai hingga mahkotanya lepas menggelinding ke sudut ruangan.


Mendengar teriakan Kama Kumara, Para abdi dalem segera berhamburan menuju ruang makan raja.


"Apa yang terjadi?!" Mereka hanya bisa kebingungan.


"Cepat lapor pada Pangeran!" seru seorang lelaki tua, dia adalah kepala abdi dalem istana raja.


Tak lama kemudian, Pangeran Tama Wijaya, Pangeran Taha Tusta dan Pangeran Trengginas tiba. Sebab mereka sudah mendengar ada teriakan sehingga langsung berlari ketika abdi dalem memberi laporan.


"Kakangda Raja! Kau kenapa?!" Tama Wijaya berusaha menangkap tubuh Kama Kumara untuk menenangkannya. Namun,


Brugh!


Kaki Tama Wijaya malah tertabrak oleh badan Kama Kumara yang bergulingan sehingga Tama Wijaya harus susah payah seimbangkan diri meski gagal dan akhirnya malah jatuh melabrak kursi serta meja makan. Sementara kedua adiknya hanya menonton tidak tahu harus berbuat apa.


"Cepat panggil tabib istana raja!" teriak Tama Wijaya.


"Sendiko dawuh, Pangeran!" seorang abdi dalem muda berseru lalu berlari keluar.


Baru saja abdi dalem itu keluar, masuk seorang lelaki tua berpenampilan serba putih, jenggotnya yang panjang serta kumisnya juga berwarna putih. Dialah Aki Songgobumi, tabib istana raja. Ternyata sudah ada abdi dalem yang berinisiatif memanggil Aki Songgobumi sebelum diperintah oleh pangeran.


"Kebeneran Aki, cepat kau tolong Kakangda Raja!" perintah Tama Wijaya, ada kekhawatiran di wajahnya.


"Baik, Pangeran!"


Aki Songgobumi bergerak mantap, ia sangat tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi pasien seperti ini.


Stakk! Stakk! Stakk! Stakk!


Songgobumi menotok dua kaki lalu dua tangan Kama Kumara. Namun,


"Arghhh ...!"


Kama Kumara masih bergulingan bahkan kini makin menjadi-jadi sampai menabrak apa pun yang ada di dalam ruangan memaksa tiga adiknya dan para abdi dalem menyingkir keluar.


"D-dia bukan lagi Pangeran Kama Kumara yang kukenal!" ucap pelan Aki Songgobumi berdiri di tepi ruangan dengan wajah sedikit pucat.


Aki Songgobumi mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada keluarga raja. Siapa pun rajanya maka Aki Songgobumi akan menjadi tabibnya, karena gelar tabib istana raja sudah diberikan sejak kakek buyutnya dan terus diwariskan secara turun temurun sampai kepada dirinya. Maka dari itu, Aki Songgobumi sangat mengenal tubuh Kama Kumara sejak kecil.


Tak mampu menenangkan tubuh Kama Kumara dengan totokan, Aki Songgobumi komat-kamit membaca mantra.


Seorang tabib istana raja tidak hanya dibekali kekuatan kanuragan tetapi juga kebatinan.


Kebatinan biasanya dipelajari oleh sebagian pendekar aliran netral dan hitam. Meski ada juga pendekar aliran putih yang mempelajari. Maka sejatinya kebatinan ini tidak mengenal aliran.


Cukup lama Aki Songgobumi berkomat-kamit akan tetapi tidak ada hasil. Kama Kumara masih tetap berteriak dan bergulingan.


Hingga akhirnya,


Aki Songgobumi muntah darah.


"Aki!" seru Tama Wijaya hendak masuk mendekat tetapi segera dicegah oleh Aki Songgobumi dengan melangkah keluar.


"Bagaimana Aki kau baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi?!"


"Aki baik-baik saja, Pangeran. Ada kekuatan besar yang mengendalikan tubuh Raja Kama Kumara. Aki sudah berusaha mengusirnya tetapi dia terlalu kuat!"


"Apa yang harus kita lakukan?" panik Tama Wijaya.


"Beri Aki waktu untuk berpikir sesaat, Pangeran!"


Belum Aki Songgobumi menemukan cara untuk menenangkan Kama Kumara, tiba-tiba jerit kesakitan Kama Kumara mereda dan akhirnya benar-benar berhenti.


Lega, Tama Wijaya segera masuk bersama dua adiknya untuk segera menolong Kama Kumara yang tergeletak pingsan di lantai ruangan.


"Angkat ke kamarnya!"


Tama Wijaya memimpin dua adik lelakinya, mengangkat tubuh Kama Kumara. Rasa sayang mereka pada sang kakangda membuat mereka melakukan pengangkatan sendiri tanpa menyuruh para abdi dalem untuk melakukannya.


Setelah Kama Kumara direbahkan di atas pembaringan empuk, Aki Songgobumi yang mengikuti ke kamar raja segera memeriksa nadinya.


"Bagaimana, Aki?!"


"Raja sudah baikan, Pangeran! Hanya saja—" jawab Aki Songgobumi tidak melanjutkan kecuali hanya di hati, 'Aku merasakan anggai buruk. Akan tetapi semuanya purata!'


"Hanya saja apa, Aki?" desak Taha Tusta.


"Aki akan membuatkan ramuan untuk Raja. Permisi dulu, Pangeran."


"Silahkan, Aki." Tama Wijaya mempersilahkan lalu memaling tubuh ke arah para badi dalem untuk berkata,


"Raja sudah baik-baik saja, kalian bereskan ruang makan yang berantakan dan bawakan kami teh gula aren, tuak serta makanan ringan!"


"Sendiko dawuh, Pangeran!"


Para Abdi dalem yang sedari tadi menunggu di depan pintu berlalu pergi.


Kini hanya ada Tama Wijaya, Taha Tusta dan Trengginas yang menunggui Kama Kumara. Perintah Tama Wijaya untuk membuatkan teh gula aren dan tuak sepertinya tanda bahwa mereka akan bergadang sambil menunggu Kama Kumara sadar.


"Kalian ingin melakukan perayaan apakah sehingga memesan tuak?!" tanya Kama Kumara yang tiba-tiba bangun dan duduk di tepi pembaringan.


"Oh, Kakangda, kau sudah siuman?!" Saking senangnya, alih-alih menjawab, Tama Wijaya mendekati Kama Kumara, "Kakangda aku sungguh khawatir, bagaimana keadaanmu?!"


"Huh! Ada yang ingin membunuhku. Makanan itu diberi racun ganas!"


"A-apa?!" Kaget luar biasa tiga adik lelaki Kama Kumara.


'Kekagetan kalian sungguh sebuah kepura-puraan!' Kama Kumara membatin sambil melirik ke arah tiga adiknya, jelas ia curiga pada ketiganya.


Sebelumnya, dalam ketidak sadarannya, Kama Kumara ditemui sosok api terbang yang mengatakan bahwa rasa panas serta sakit yang diderita adalah akibat pertarungan energi panas melawan racun ganas. Racun ganas yang dimakan oleh Kama Kumara barusan terlalu banyak sehingga berbanding lurus dengan rasa sakit yang diderita akibat proses pembakarannya.


Kama Kumara berpikir cepat, hanya orang dalamlah yang bisa meracuni makanan raja. Dan yang pasti orang itu akan mendapat keuntungan dari kematiannya. Siapa lagi kalau bukan adik-adik lelakinya sendiri.


"Sore tadi kalian ke mana saja?!" tanya Kama Kumara tak menjawab kekagetan tiga adiknya.


"K-kami masih berkabung, Kakangda. Sehingga kami tidak keluar istana barang sejenak pun."


Yang menjawab adalah Tama Wijaya.


'Sudah bisa kupastikan! Merekalah pelakunya!' simpul Kama Kumara dalam hati sembari alirkan hawa panas ke tangan kanan.


***