
Kini dua mata Ki Berut Tunggul benar-benar berwarna merah. Dan saat lelaki itu mengangkat kakinya untuk melangkah,
Demmbb ...!
Bumi di mana pasar berada seakan bergetar.
Wuuut!
Ketika Ki Berut Tunggul ayunkan tangan, tampak bayangan gelap berupa tangan raksasa menghantam ke arah Jaga Saksena.
Sedetik lagi bayangan tapak hitam menghantam tubuhnya, Jaga hentak kaki kanan untuk melesat ke depan.
BLASSSH ...!
Tanah lapang di mana tadinya Jaga Saksena berada amblas sangat dalam dan lebar.
'Luar biasa!' seru hati Jaga ketika sudut matanya masih sempat melihat efek hantaman lawan.
Saat yang sama, Ki Berut Tunggul dorongkan tangan kiri.
Wusss!
Kembali bayangan gelap membentuk tapak tangan raksasa melejit melabrak laju Jaga Saksena.
'Serangan susulan yang hebat!'
Tap!
Dalam lajunya Jaga genjot tanah. Tubuh pemuda itu melenting pesat ke udara tinggi.
Bayangan hitam tapak tangan raksasa lewat beberapa jengkal di bawah kaki Jaga Saksena dan terus bablas melaju ke arah lapak-lapak di pasar.
Kerusakan besar pun tak bisa dihindari. Pasar porak poranda.
Belum pun Jaga menjejakkan kaki di tanah, kembali serangan bayangan hitam melaju kencang ke arahnya.
"Rasaning Rasa!"
Jaga Saksena dorongkan dua tapak tangan ke depan untuk menyongsong serangan.
DEMMMMM ...!
Ledakan dasyat pun terjadi akibat tumbukan dua energi. Tanah pasar Beringkiwa dan sekitarnya bergetar hebat.
Rumput serta tanah bersemburatan ke angkasa. Keadaan berubah pekat oleh hamburan benda-benda ringan dan debu yang beterbangan.
Jaga Saksena yang tidak memiliki pijakan harus terhentak jauh _bagai terbang_ oleh daya kejut ledakan dua energi hingga ke luar pasar. Sedangkan Ki Berut Tunggul terdorong belasan tombak melabrak hancur panggung lelang dan masih bablas. Kakinya yang kokoh berusaha bertahan meninggalkan guratan dalam di tanah.
Tep!
Mendarat di utara pasar dalam posisi berlutut satu kaki, Jaga Saksena menyeringai.
"Lawan yang tangguh! Membuat semangat tempurku terbangkitkan! Yaaasssh!"
Jaga Saksena melesat ke atas atap lapak sambil berteriak kerahkan tenaga dalam,
"Cepat tinggalkan pasaaaar!!"
Itu Jaga lakukan sebab masih melihat beberapa orang yang mengemasi barang belanjaan mereka atau mungkin dagangan mereka.
Namun, belum pun hilang suara teriakan Jaga Saksena, serangan bayangan hitam kembali datang dari awang-awang.
Wessstt!
Ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang telah ia kuasai membuat Jaga tak kesulitan menghindar.
BLASSSH!
BLASSSH!
BLASSSH!
Kemana pun Jaga Saksena menghindar, ke sanalah serangan mengarah. Pasar benar-benar hancur lebur berganti menjadi lubang-lubang menganga lebar nan dalam.
Orang-orang yang tersibukkan oleh hartanya harus tewas amblas masuk ke dalam bumi akibat terkena hantaman serangan Ki Berut Tunggul.
Di antara warga yang selamat karena telah berlari jauh dari pasar hanya bisa memandang pasar sembari bergumam penuh rasa kehilangan,
***
Di sebuah kedai di pojok Kerajaan Saindara Gumilang, seorang pemuda matang, berpakaian serba merah tengah duduk sendirian di pojok ruangan. Tak banyak pengunjung lain karena waktu masih nanggung, menjelang sore.
'Telah tujuh tahun Jaga Saksena pergi, apakah ia sekarang sudah turun gunung? Jika belum, sungguh keterlaluan. Seharusnya ia mengasah kemampuan sambil berjalan. Kelompok Pemburu Bu dak Gunung makin menjadi-jadi, tetapi aku sendiri tidak berani gegabah. Ah ... belum lagi perang antar kerajaan yang sebentar lagi pecah ....'
Situasi Kerajaan Saindara Gumilang memang sedang tidak baik-baik saja.
Selain adanya kabar rahasia bahwa akan terjadi pemberontakan dari dalam, di barat kerajaan ini, ada Kerajaan Gumara yang berambisi mendirikan Gumara Raya.
Kerajaan Gumara tidak hanya menguasai wilayah sebatas tembok kerajaan saja, tetapi telah meluaskan kekuasaan hingga keluar tembok.
Dalam lima tahun terakhir, Kerajaan Gumara telah menguasai banyak desa-desa di luar tembok kerajaan.
Dari sumber daya manusia desa-desa inilah dibentuk kesatuan prajurit bersenjata untuk memperkuat pasukan kerajaan.
Bisa dilihat ke depan dengan kasat mata, ambisi Kerajaan Gumara untuk mendirikan Gumara Raya pastinya bakal menimbulkan gesekan antar kerajaan. Maka tinggal tunggu waktu untuk terjadi perang antar kerajaan.
"Den Merah, apakah perlu kusediakan makanan penutup?" Wanita pelayan yang masih muda itu berdiri di samping meja, menawarkan makanan penutup dengan senyuman menggoda, membuyarkan pikiran si pemuda.
"Ah, ya. Tentu saja, boleh!"
"Baik, Den. Ditunggu yaa ...."
Tak berapa lama, wanita muda itu kembali membawa sepiring pisang matang. Matang di tandan sehingga rasanya lebih legit.
"Silahkan, Den ...!"
Saat yang sama, empat orang lelaki memasuki kedai.
Menghampiri satu meja kosong lalu duduk, salah satu dari mereka menggebrak meja kemudian membentak,
"Sediakan kami makanan terrrrr enak!"
Lelaki penggebrak meja itu bermuka lebar, dengan berewok tebal. Kedua lengannya memakai akar bahar menambah kesan tangan yang penuh kekuatan nan sangar.
Dari sabuk lebar mereka yang seragam _terbuat dari kulit kerbau hitam_ bisa diketahui mereka adalah para anggota gerombolan Pemburu Bu dak Gunung.
Pemuda matang berpakaian serba merah yang tengah menikmati pisang di tangan melirik sesaat pada empat lelaki tersebut, menghela napas panjang membatin,
'Begundal-begundal Pemburu Bu dak Gunung lagi! Mereka benar-benar sering terlihat di kerajaan ini!'
"Rencana telah mencapai lima bagian dari sepuluh. Ketua sungguh sangat cerdik pandai!" Si berewok berkata lepas, tidak menahannya sama sekali sehingga terdengar jelas.
"Husst ...! Kawita! Harap jaga mulutmu! Ini tempat untuk semua orang. Banyak telinga di mana-mana!"
Kawita, lelaki bermuka lebar berewokan tampak tidak senang ditegur. Ia mencibir sebelum berucap,
"Kau tak perlu risau, Gujerat! Mereka bukan siapa-siapa, seperti dungu merah itu! Sampah tak berguna yang pekerjaannya tongkrong di kedai! Dia pasti makan dan minum secara ngutang. Ha ha ha ha!"
"Ha ha ha ha!"
Empat orang itu tertawa bergelak.
Disindir begitu keras, pemuda matang berpakaian serba merah tak tampak ambil peduli. Pikirannya justru menelaah sesuatu,
'Lima dari sepuluh bagian rencana? Ketua yang cerdik pandai? Apa yang sedang mereka rencanakan? Apakah ada hubungannya dengan desas-desus pemberontakan dari dalam?'
Perebutan kekuasaan antar orang dalam memang bukan hal baru dalam sejarah suatu kerajaan. Selama tidak menimbulkan banyak korban pada rakyat, itu dianggap hal biasa.
Maka sebab itulah, seorang raja dituntut sakti luar dalam. Jika tidak, maka bisa dipastikan kekuasaannya tidak akan lama. Raja tersebut akan mati sebab dibunuh secara halus (ghaib_pen), secara diam-diam oleh persekongkolan jahat (konspirasi_pen) atau bahkan terang-terangan lewat kudeta berdarah.
Kekuasaan memang membutakan, tak kenal saudara bahkan orang tua sendiri pun bisa disingkirkan.
***⁰0⁰***
To be continued
Nb:
Dibantu like share dan subcribnya ya sobat semua, agar penulis dapet pemasukan he he he he.
Terimakasih semuanya, semoga menghibur ...