
"Ada apa, Kakangda? Kenapa kau diam? Dan tatapanmu itu, apakah kau mencurigai kami?!" tanya Tama Wijaya kala melihat Kama Kumara diam dengan sorot mata mengkilat, "Sungguh, kami masih berkabung dan tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti itu, Kakangda. Kita saudara kandungmu, se-ramanda dan se-byungda!"
"Betul, Kakangda Raja." Taha Tusta ikut meyakinkan.
"Dan perbuatan keji itu hanya akan memperparah kesedihan kami." Trengginas ikut bicara.
"Demi kekuasaan, apa pun bisa dilakukan. Jangankan saudara kandung. Orang tua pun bisa dibunuhnya!" Kama Kumara menanggapi perkataan tiga adik lelakinya dengan sinis.
"Kakangda Raja, sepertinya kau masih kerasukan!" Tama Wijaya terlihat khawatir. "Adik Trengginas! Suruh Aki Songgobumi untuk cepat!"
Trengginas segera melangkah menuju pintu. Namun ketika ia hendak keluar,
"Tidak perlu!" bentak Kama Kumara sambil bangkit berdiri, "Karena yang perlu datang adalah para juru pengebumian!"
Wuuts!
Krakk!
Sangat cepat Kama Kumara tebaskan telapak tangan ke leher Tama Wijaya. Tak ayal, leher pemuda itu patah berderak.
"Kk-kakangda!" Taha Tusta kaget bukan main. Namun belum pun ia menyadari apa yang terjadi, tangan Kama Kumara kembali berkelebat.
Wuts!
Krekk!
Kama Kumara kembali membabatkan telapak tangan, mematahkan leher Taha Tusta hingga leher pemuda itu bagai tangkai daun talas terbakar api, lunglai!
Melihat kedua kakangdanya tewas di depan mata kepalanya, Trengginas _seperti arti namanya_ segera mengambil tindakan cepat, lari tunggang-langgang sambil berteriak sekuat tenaga,
"Toloooong ...!"
Melihat adiknya berteriak lari terbirit-birit, Kama Kumara hanya tersenyum sinis dan tak berniat mengejarnya, "Kau kira akan bisa sembunyi dariku, Trengginas? Lari hanyalah mempersilahkan ketakutan untuk menyergapmu! Ha ha ha!"
Kama Kumara tertawa lalu memandangi tubuhnya sendiri. 'Aku kebal racun! Tak ada lagi yang kutakutkan! Setelah para senopati siap, aku akan melakukan penaklukan ke seantero dunia! Akulah ... Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!'
Kabur dan berteriaknya Trengginas membuat para prajurit lingkar istana yang tengah berpatroli di depan sempat kebingungan. Mereka segera bergegas menuju arah dari mana Pangeran Trengginas lari, yakni kamar raja.
Para prajurit tiba di depan kamar raja _yang pintunya terbuka_ bersamaan dengan beberapa abdi dalem yang membawa minuman dan tuak serta makanan ringan.
Dan betapa kaget mereka hingga tak mampu berkata-kata ketika mendapati dua pangeran terkapar di atas lantai dengan kondisi kepala terkulai ke samping.
"Kalian cepat singkirkan dua mayat pengkhianat ini! Dan letakkan minuman itu di atas meja!" bentak Kama Kumara mengagetkan para prajurit.
Sambil kebingungan tetapi tak berani bertanya, mereka menggotong mayat dua pangeran. Saat mereka baru keluar dari kamar raja,
"A-apa yang terjadi?!" Aki Songgobumi memapasi mereka dan bertanya.
"Tidak tahu, Aki," jawab salah satu prajurit singkat sambil terus berlalu.
Aki Songgobumi tertegun di tempatnya, anggai buruk yang ia rasakan kini mengejawantah menjadi kenyataan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
Beberapa saat terdiam dan bingung hendak putar balik atau lanjut ke kamar raja, Aki Songgobumi dikejutkan oleh suara panggilan.
"Aki Songgobumi! Kemarilah!"
"S-sendiko dawuh, Yang Mulia Maha Raja!"
Terpaksa, Aki Songgobumi masuk ke dalam kamar raja, tentu dengan alirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang bakal menimpa.
"Kau tidak perlu tegang seperti itu, Aki. Aku hanya minta ramuanmu saja. Letakkan di atas meja dan pulanglah! Kau sudah tua, harus banyak istirahat!"
Aki Songgobumi menarik napas lega, meletakkan ramuan yang ia bawa lalu pamit. Hatinya mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang merasuk ke dalam tubuh Kama Kumara. 'Apakah dia memakai perewangan? Tapi kapan dia melakukan pertapaan? Lalu jika perewangan mengapa dia gila sehingga membunuh dua adiknya. Jangan-jangan ....'
Aki Songgobumi kembali ke kediamannya dengan membawa sejuta tanya dan duga.
Seorang diri di dalam kamar, Kama Kumara baru sadar jika mahkotanya sudah tidak lagi bertengger di kepala.
"Keparat gara-gara para pemberontak itu!" maki Kama Kumara mencari mahkotanya yang ternyata ada di sudut ruangan.
Memakai mahkotanya kembali, Kama Kumara tiba-tiba mendapat bisikan. Bisikan yang berbeda dari yang dulu memberinya kekuatan. Ini adalah bisikan nafsu cinta kekuasaan.
"Jika kau ingin amankan mahkota kekuasaanmu dari para pemberontak, maka singkirkan semua yang orang yang boleh jadi menginginkan kedudukanmu!"
***
Kediaman Selir Saraswati.
"Apa?!" kaget Saraswati menerima laporan salah satu abdi dalem yang ia suruh untuk mengawasi perkembangan.
Sebelumnya Saraswati sendiri yang memasukkan racun ke dalam makanan raja. Dengan berdalih ingin memastikan masakan untuk makan malam raja apakah sudah sesuai, diam-diam Saraswati menabur racun.
"Kau boleh pergi!" perintah Saraswati pada abdi dalem tersebut.
'Bagaimana bisa Kama Kumara selamat dari racunku? Apa sebenarnya yang ... Sebaiknya aku berkemas. Cepat atau lambat dia pasti mencurigaiku!'
Berpikir demikian, Saraswati segera ke kamar pribadinya untuk berkemas. Semua perhiasan kecuali yang ia pakai, dan keping emas simpanannya ia masukkan ke dalam peti kayu jati. Sementara pakaian-pakaian bagus ia sendirikan di peti lain.
'Aku juga harus memberitahu putraku untuk berkemas.'
Saraswati bergegas ke kamar putranya.
Thok! Thok!
"Yoga Mandala Putraku! Buka pintu, sangat penting!"
"Ada apa, Byungda?!" Yoga Mandala muncul dari balik daun pintu yang terbuka.
"Cepat kemasi barang-barangmu!"
"Beberapa waktu yang lalu Byungda menyuruhku bersiap menjadi raja, tapi sekarang?!"
"Sudah cepat! Jangan membantah Byungda!"
"B-baiklah!" Meski tak mengerti, Yoga Mandala seorang yang patuh.
Namun, belum pun Yoga Mandala kembali ke dalam kamar, seorang abdi dalem menghadap.
"Lapor Ndoro, Yang Mulia Raja Kama Kumara menunggu di depan meminta Pangeran Yoga Mandala untuk menemuinya."
"Celaka! Tidak ada waktu lagi! Warsi, kau simpan dua peti yang ada di kamarku. Satu saat nanti aku akan mengambilnya!" Saraswati memerintah abdi dalem bernama Warsi. Lalu,
"Cepat Yoga!"
Saraswati menarik tangan putranya, membawa pergi keluar lewat pintu belakang menuju ke rumah kediaman salah satu perwira kepercayaan mereka.
"Byungda, sebenarnya ada apa?!" Yoga Mandala bertanya dalam perjalan.
"Sudah kau diam saja, Byungda akan memberi tahumu setelah kita keluar dari kerajaan.
Sementara itu, di ruang depan, Kama Kumara masih duduk menunggu. Ia berpikir hendak bermain halus tetapi mengejutkan di akhir, sehingga memutuskan tak memaksa masuk. Tetapi tidak ketika Kama Kumara merasa dirinya sudah menunggu terlalu lama.
Bangkit, Kama Kumara menuju pintu ruang tengah dan,
Jebredd!
Tak pedulikan ada daun pintu kokoh, Kama Kumara menabraknya begitu saja, membuat dua daun pintu terpental membuka.
Berhenti di kamar Yoga Mandala, Kama Kumara hantamkan kakinya.
Jdart! Daun pintu jebol. Dan,
"Bajingan!"
Kama Kumara memaki ketika mendapati kamar Yoga Mandala telah kosong. Makian berubah menjadi kemarahan ketika Kama Kumara pergi ke kamar selir Saraswati yang juga sama, kosong!
"Bedebah! Akan kucincang tubuh kalian!" seru Kama Kumara lalu genjot kaki melesat menembus langit-langit.
Brall!
Bertengger di atas atap sirap, Kama Kumara edarkan pandangan mencari pergerakan mencurigakan.
'Mereka pasti belum jauh!'