
GLLLAAAARRDDD ...!!
Debu mengepul tebal, menyebar ke segala arah menutupi pemandangan. Dalam pekatnya kepulan debu, tampak tubuh Sungsang masih berdiri sedikit bergetar kaki. Ada lelehan darah di sudut bibirnya yang membuat pemuda matang itu harus segera duduk memulihkan diri.
Bertolak belakang dengan Gandara. Lelaki itu telah tumbang, tewas dengan tubuh gosong. Kekuatan ajian yang ia kerahkan tidak cukup kuat untuk menahan laju ajian lawan.
Ledakan dasyat yang mengguncang halaman istana raja tersebut membuat perang yang tengah berkecamuk terhenti sesaat.
Menggunakan kesempatan ini, Jaga Saksena kerahkan tenaga dalam untuk memberikan seruan,
"Menyerahkah! Senopati kalian telah tumbang. Demikian juga orang-orang hebat kalian! Kembalilah dan bantu pasukan kerajaan di tembok barat!"
Namun dari sisi lain, terdengar suara keras,
"Tidak ada jalan kembali! Berjuang sampai tetes darah penghabisan! Kemuliaan telah di depan mata!"
Rupanya, Senopati Asta Brajadaka tak kalah kuat berteriak membakar semangat sebelum kembali lancarkan serangan ke Tumenggung Wiryateja dengan jurus keris tingkat tingginya,
"Petaka Dua Dunia!"
Keris di tangan Asta Brajadaka kepulkan asap tipis, ada hawa panas terpancar dari bilahnya. Jelas Asta Brajadaka tidak lagi ingin memberi kesempatan lebih lama pada lawan.
Tak mau kalah, Tumenggung Wiryateja pompa tenaga dalam ke dalam keris di tangan, keluarkan jurus ajian keris,
"Rajut Atma!"
Pertarungan sengit dua punggawa kerajaan Saindara Gumilang kembali dimulai.
Berbarengan dengan teriakan Senopati Asta Brajadaka, tentara kesenopatian di bawah komandonya kembali bergerak sembari gemborkan yel-yel semangat,
"Rawe-rawe rantas! Malang-malang putung!"
"Hassshhh ... kalian yang malang-malang tidak jelas! Hiaaa!" Jaga Saksena ikut berteriak sambut serangan yang datang.
Perang pun berkobar kembali! Dan lagi-lagi Jaga Saksena menjadi orang paling depan yang mendobrak serangan-serangan para tentara kesenopatian Asta Brajadaka dan Pradana Nararya.
"Ikuti pemuda itu!" perintah salah satu prajurit lingkar istana yang tampak telah berumur. Sepertinya dia salah satu perwira di bawah Tumenggung Wiryateja.
Serangan-serangan Jaga Saksena yang terbukti mangkus nan sangkil (efektif nan efisien_pen)melumpuhkan lawan-lawannya mengundang kekaguman tersendiri, sehingga pemuda itu dijadikan ujung tombak yang diikuti oleh prajurit lingkar istana.
Meski begitu, serangannya yang hanya membuat lawan tertotok atau hanya pingsan menjadi catatan tersendiri dalam hati para prajurit yang mengikuti di belakangnya. Andai ini bukan dalam situasi perang, sudah pasti mereka akan bertanya, "mengapa?"
*
Di dalam istana, Putri Andara Anesha Sari yang telah menghabisi semua musuhnya mulai bosan menunggu.
Sebenarnya _sesuai rencana_ Putri Anesha Sari harus menjaga pintu rahasia yang ada di lantai di belakangnya agar tidak di masuki oleh para pemberontak. Sedangkan Aswangga dan beberapa perwira khusus menyertai permaisuri dan keluarga raja bersembunyi di bawah tanah.
Namun, terbakar oleh jemu menunggu, akhirnya gadis berpakaian panjang kelebihan bahan itu bergerak keluar istana.
"Pantas saja, para pemberontak ditahan oleh Jaga Saksena!" gerutu lirih Anesha Sari ketika melihat pemuda yang telah menambat hatinya itu tengah dikeroyok begitu banyak orang.
Wsss!
Bagai tiupan angin, Sang Putri berkelebat menuju medan perang. Bersamaan dengan lajunya, senjata yang berceceran di dekat mayat-mayat tiba-tiba terangkat melayang sebelum ikut melesat.
Ketika gadis berambut panjang tergerai itu angkat dua tangan kanan kirinya, puluhan atau mungkin ratusan senjata yang mengikutinya melejit ke angkasa.
Wuss!Wuss!
"Awasss minggiiiiir ...!" tiba-tiba Anesha Sari berteriak sembari hentakkan tangan ke bawah.
"Alloh Ya Kariim!" kaget, Jaga Saksena yang menyadari ada hujan senjata dari angkasa mencelat mundur. Demikian pula para prajurit lingkar istana dan tentara kesenopatian.
Sleb!Sleb!
"Arghh!"
Para tentara kesenopatian yang telat menyelamatkan diri harus mati terhunjam senjata dari angkasa.
Jaga Saksena dan para prajurit lingkar istana yang mengekorinya selamat. Sebab Anesha Sari memang mengarahkan serangan ke depan menyasar pasukan tentara kesenopatian.
"Hadewhh ... ini anak, dia bisa membunuh kawan sendiri!"
Baru selesai Jaga berkata, Anesha Sari sudah berdiri di sampingnya, melontarkan sebuah pertanyaan dengan nada khawatir,
"Jaga, kau tidak apa-apa?"
"Seperti yang kau lihat!" jawab Jaga Saksena menatap ke depan.
Kini di hadapan Jaga dan pasukan tentara kesenopatian terpisah oleh ruang yang penuh tertancapi senjata tajam. Dari mulai golok, parang, pedang hingga tombak.
"Kita habisi mereka semua!" timpal Anesha Sari ikut menatap ke depan, memandang sengit pada pasukan musuh yang tampak ketar-ketir ngeri melihat kekuatan sang putri.
"Tawarkanlah perdamaian terlebih dahulu, kecuali jika mereka menolak." Jaga Saksena memberi saran.
"Bukankah kau sudah melakukannya?"
"Itu aku, bukan dirimu. Lakukanlah!"
Percakapan sang putri dan si pemuda yang tampak akrab membuat para prajurit lingkar istana di belakang mereka berdua merasa heran.
"Sepertinya mereka berdua sudah saling mengenal lama!" bisik prajurit lingkar istana pada kawan di sampingnya. Para prajurit lingkar istana itu masih siap sedia di belakang Jaga Saksena.
"Yang satu tampan dan satunya rupawan!"
"Juga sakti!" sahut yang lain.
"Kalian semua!" Putri Anesha Sari mulai berteriak, menuruti saran dari Jaga Saksena. "Kembalilah menjadi pejuang Kerajaan Saindara Gumilang. Ramanda Raja Basukamba memanggil kalian untuk berjuang di tembok barat! Siapa pun yang kembali, maka akan diampuni! Siapa pun yang tetap membangkang, maka akan dihukum mati!"
Seruan Anesha Sari cukup membuat para tentara kesenopatian bimbang. Mereka mulai gaduh sendiri mempertimbangkan keputusan apa yang akan mereka ambil.
Di saat itulah, Senopati Asta Brajadaka yang masih bertarung melawan Tumenggung Wiryateja meneriakkan seruan pembakar semangat,
"Kalian sudah bersumpah setia padaku! Tepati dan mari kita sambut kejayaan Saindara Gumilang Raya!"
Mendengar teriakan sang senopati, makin bimbanglah pasukan kesenopatian. Di saat inilah, Jaga Saksena berpikir cepat.
"Putri, kau tetap di sini. Sepertinya aku harus bantu membungkam mulut lelaki di sana itu!"
"Senopati Asta Brajadaka!? Tepat sekali, cepatlah Jaga. Dan hati-hatilah!"
Perhatian yang diberikan Putri Anesha Sari yang selama ini terkenal pendiam semakin menarik perhatian para prajurit lingkar istana. Mereka mulai menebak-nebak dalam hati, apa sebenarnya hubungan sang putri dan si pemuda.
Tak menyahuti lagi, Jaga Saksena berkelebat mendekati pertarungan Tumenggung Wiryateja dan Asta Brajadaka.
Jaga Saksena datang di saat yang tepat, di kala Tumenggung Wiryateja tengah terdesak hebat. Asap tipis yang keluar dari bilah keris Asta Brajadaka ternyata mengganggu jalan peredaran darah sang tumenggung sehingga ia tidak dapat mengalirkan tenaga dalam dengan penuh.
Melenting ke udara, Jaga Saksena hantamkan tapak beruntun,
"Rasaning Rasa!"
Merasakan energi tingkat tinggi menyambar ke arahnya, Senopati Asta Brajadaka urungkan serangan yang sedianya akan mengakhiri nyawa Tumenggung Wiryateja.
Asta Brajadaka babatkan keris membentuk perisai di depan dada.
Dartt!Dartt!Dartt!
Ledakan beruntun terdengar.
Asta Brajadaka terjajar mundur beberapa langkah. Tubuhnya terasa dihantam palu godam raksasa hingga dada sesak terasa.
Dan rupanya itu hanya serangan permulaan sebab ketika Jaga Saksena mendarat, ia malah makin mempercepat serangan dan memperbesar energinya.
Dartt!Dartt!Dartt!
Lamat-lamat terlihat rupa energi yang melesat keluar dari tapak yang Jaga hantamkan. Seperti cahaya bening yang lama-kelamaan makin terang.
Senopati Asta Brajadaka pun hanya mampu menyilangkan keris dan dua tangannya di depan untuk bertahan.