
Usai membayar makanan, Jaga Saksena bergegas pergi.
Dari yang ia dengar di kedai, akan ada pelelangan budak di area terbuka sisi selatan pasar. Ke sanalah Jaga Saksena melangkahkan kaki.
"Bocil!"
Tetiba ada suara di belakang Jaga Saksena sehingga ia berhenti untuk menoleh.
"Pendekar Merah, kau mengikutiku? Jangan-jangan kau—"
"Hussst! Jadi manusia itu yang penting tidak mengganggu orang lain. Dan tidak merasa terganggu jika diganggu orang lain."
"Jadi?"
"Aku hanya ingin melihat lelang."
"Oh!" Jaga mengangguk lalu kembali berjalan sembari melempar tanya. "Apakah kau punya ingatan yang baik?"
"Ha ha ha ha!" Berjalan di samping Jaga, pemuda berpakaian serba merah tertawa keras. Tidak hirau pada orang-orang yang lalu lalang. "Kau tahu?"
"Tidak!" jawab Jaga cepat.
"Tahan dulu, aku belum selesai. Kau tahu? Sejak kecil, bahkan lebih kecil darimu, aku telah terkenal sangat pandai. Hapalanku sangat kuat!"
"Lalu, bagaimana bisa kau tidak dapat menghapal namaku?" tanya Jaga Saksena yang telah menyebutkan namanya pada pemuda berpakaian serba merah ketika hendak pergi dari kedai. Saat itu si pemuda memperkenalkan diri dengan gelar saja; Pendekar Merah.
"Hahahaha! Baiklah-baiklah ...! Aku akan memanggilmu Jaga! Oh ya, aku akan memberitahukanmu satu rahasia."
Jaga Saksena tidak peduli, ia tetap berjalan. Baginya tidak ada untungnya mengetahui satu rahasia. Tidak setelah Pendekar Merah berkata,
"Ini rahasia, namaku sebenarnya Sungsang Gumilang!" bisik Pendekar Merah.
"Hiks! Hiks! Hiks!" Jaga tertawa cekikikan tak menduga sama sekali rahasia yang dimaksud ternyata nama si pemuda.
"Jaga! Kenapa kau tertawa seperti medi perempuan beranak di atas pohon?!"
"Kenapa namamu kau rahasiakan?"
"Banyak alasan ...."
Sambil terus berjalan, Pendekar Merah menceritakan bahwa di daerahnya berasal seseorang bisa membunuh dengan hanya berbekal nama. Mereka menyebut ajian pembunuh itu dengan; santet!
Jaga Saksena tentu saja tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia perlu menampung ucapan Sungsang Gumilang.
"Jika kau percaya itu, mengapa kau beberkan rahasia pada orang?!" tanya sengak Jaga Saksena.
"Aku melihat kau seorang yang bisa dipercaya!"
"Semoga penglihatanmu tidak buram!"
Keduanya terus berjalan hingga suara seorang lelaki pelelang budak terdengar,
"Seorang gadis perawan dari pegunungan Mengkawah! Kulitnya bening nan halus sehalus mutiara! Kami buka dengan harga dua puluh keping emas!"
"Acaranya sudah dimulai!" Sungsang Gumilang mempercepat langkah menerobos keramaian, sementara Jaga Saksena mengikuti di belakangnya persis.
Mereka berdua berhenti ketika telah menemukan tempat berdiri yang tepat meski tidak cukup dekat. Karena pada dasarnya mereka hanya akan melihat-lihat.
Kendati tidak cukup dekat, Jaga Saksena bisa menyaksikan dengan jelas siapa yang tengah di lelang, sebab pelelangan di lakukan di atas panggung.
"Dua puluh lima keping emas!"
"Tiga puluh keping emas!"
Lelang terus berlanjut.
"Lima puluh!"
"Tujuh puluh!"
"Seratus!"
"Seratus keping emas! Ada yang berani lebih tinggi?!" teriak juru lelang.
Mata Jaga Saksena nanar sekaligus berkaca-kaca. Cepat ia menghitung para tukang pukul penyelenggara lelang. Otaknya segera mempertimbangkan jika dirinya menyerang mereka.
Saat yang sama, juru lelang telah memulai pelelangan kembali. Kali ini seorang anak lelaki seusia Jaga Saksena yang dibuka dengan harga murah. Hanya lima keping emas.
Penjualan budak anak-anak lelaki tidak terlalu banyak peminat. Terjual lima puluh keping emas saja sudah sangat bagus. Kecuali jika ada pendekar penganut ilmu hitam yang membutuhkan seorang anak lelaki sebagai sarana ritualnya. Tetapi, para pendekar ini biasanya akan mencari mangsa sendiri, sedikit sekali yang beli di pelelangan.
'Dua puluh orang pendekar! Jika hanya lima—'
Jaga Saksena telah menghitung semua tukang pukul. Setidaknya ada dua puluh tukang pukul yang harus ia kalahkan jika ingin membebaskan para budak. Ia berpikir mungkin jika hanya lima orang tukang pukul akan bisa mengatasi mereka, tetapi ini dua puluh. Bagaimana pun Jaga sadar diri.
"Jaga!"
Pikiran Jaga Saksena buyar oleh tepukan Sungsang Gumilang di pundaknya.
"Selain dua puluh pendekar yang tergabung dalam Kawanan Pemburu Budak Gunung, masih ada ketua dan juga keamanan pasar! Jangan berbuat konyol!" lanjut Sungsang Gumilang.
Diam-diam, sejak awal Sungsang Gumilang memperhatikan tingkah Jaga Saksena. Sebagai pendekar Sungsang bisa memahami bahasa tubuh Jaga.
"Tapi—"
"Sudah, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Mari ikut denganku. Akan kuberitahukan sesuatu padamu!"
Sungsang Gumilang mencekal pergelangan tangan Jaga Saksena lalu menariknya keluar dari keramaian.
Di tempat yang cukup sepi, Sungsang Gumilang menceritakan pada Jaga Saksena siapa Kawanan Pemburu Budak Gunung.
Kawanan Pemburu Budak Gunung diketuai oleh Sundara Watu. Seorang pendekar aliran hitam yang menguasai ilmu kebal. Tubuhnya sekuat batu, tahan akan pukulan benda tumpul juga tak mempan senjata tajam.
"Buruknya, mereka bukan hanya satu-satunya pemburu budak," tutup Sungsang Gumilang mengakhiri ceritanya.
"Maksudmu?"
Sungsang Gumilang kembali menjelaskan bahwa banyak sekali pemburu budak, baik perorangan maupun bergerombol.
"Mereka tidak bisa ditumpas bersih kecuali penguasa yang menumpasnya, atau ...."
Sungsang Gumilang berhenti berkata. Seolah enggan mengucapkannya karena cuma kesia-siaan.
"Atau apa, Pendekar Merah?"
Mendapat pertanyaan, Sungsang Gumilang terdiam sesaat sebelum menjawab,
"Atau, ada ajaran yang diterima luas, yang di dalam ajaran itu melarang memperbudak sesama."
Giliran Jaga Saksena yang terdiam.
"Apa ajaran yang ada selama ini tidak melarang perbudakan?"
"Tentu saja tidak! Mereka membagi tujuh jenis budak; orang yang ditangkap dalam pertempuran, mereka yang diperbudakan dengan imbalan makanan, mereka yang lahir di rumah tuannya, mereka yang dibeli dan diwariskan, mereka yang diberikan oleh orang tua mereka, dan mereka yang diperbudak karena tidak membayar denda hukuman."
Jaga Saksena mengingat penjelasan Sungsang Gumilang dengan baik sembari berucap dalam hati,
'Nanti akan kutanyakan pada guru. Apakah dalam islam perbudakan dilarang atau sama saja dengan ajaran lama.'
"Selain ajaran mereka mensahkan adanya perbudakan, keadaan makin parah dengan adanya pengkastaan," imbuh Sungsang Gumilang.
"Ya, aku pernah menjadi korbannya," timpal Jaga Saksena.
"Maka kau harus menjadi pendekar kuat! Agar bisa jadi penerang kegelapan."
"Tentu aku akan berlatih lebih giat lagi! Tunggulah kalian Kawanan Pemburu Budak Gunung! Jika para pendekar membiarkan kalian, tak berani pada kalian, tidak dengan aku!"
"Jangan hanya membual, Jaga! Dan aku akan siap membantumu jika masa itu datang!"
"Aku tidak membual, Guruku berkata pemuda dinilai berdasar tekad hatinya. Tekadku kuat dan sangat kuat! Aku akan menjadi pendekar sakti!"
Tak disadari, saat keduanya berbincang, seorang bertubuh kekar tengah memperhatikan mereka berdua dari jarak aman.
'Pendekar berpakaian serba merah itu sepertinya memiliki kemampuan. Sebaiknya aku cegat bocah kecil itu di tempat sepi saat dia seorang diri!'