Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 22. Masuk Kotaraja



"Menengo jiangkrik kabeh! Ambeamu ancuk tenan! (Diam kalian semua!)"


Sang penjaga itu membentak kawan-kawannya lalu mendekatkan muka ke wajah Jaga Saksena berkata,


"Lihat mataku! Lihat wajahku! Apa ada di sana tanda aku mengajakmu bercanda, Bocah Kecil?!"


Orang berbicara tepat di depan mukanya membuat Jaga Saksena harus menahan napas. Bukan tanpa sebab, bau mulut sang penjaga serasa habis makan bangkai!


"Tidak, Paman!" jawab Jaga Saksena.


"Lalu kenapa kau men-can-da-i-kuuuu, haaah!!!"


Diteriaki, Jaga Saksena terpundur dua langkah.


"Maaf, Paman. Aku tidak bercanda. Bukankah kau tadi yang memintaku begini?" Jaga Saksena kembali menggerakkan ujung jempol yang dipertemukan dengan ujung jari.


"Bocah Biadab! Sini kau, maju! Cepaaat!!"


Jaga Saksena menurut, bocah itu maju dua langkah.


"Maksudku," bisik sang penjaga, "jika kau mau masuk, kau harus memberi kami keping emas!"


Kaget demi mendengar bisikan orang, Jaga Saksena kembali tersurut dua langkah.


"Keping emas, Paman?! Aku tidak punya, Paman."


"Jika begitu baliklah sana! Sebelum aku kehilangan kesabaran dan menghajarmu!"


Penjaga itu meremas tombak berujung bilah tajam menghitam, lalu menggerak-gerakkannya sebagai tanda, "Aku bisa saja menusukmu!"


Jaga Saksena memang tidak memiliki bekal keping perak apalagi emas. Bahkan dirinya belum pernah menyentuh dua benda padat tersebut. Meski begitu ia tahu itu adalah alat pembayaran.


Memutar otak cepat, Jaga Saksena mendekat, lalu menyuruh sang penjaga merendahkan kepalanya.


"Paman, bagaimana jika kuberikan kuda itu padamu sebagai gantinya ijinkan aku masuk ke kerajaan. Tolong, Paman." Jaga Saksena berkata lirih di dekat telinga sang penjaga, tetapi cukup bisa didengar bahkan oleh penjaga lain.


Menegakkan badan kembali, sang penjaga memandang kawan-kawannya.


Tak ada jawaban dari mereka kecuali anggukan tanda setuju.


"Ini atas kerelaanmu sendiri, Bocah Kecil?!" tanya sang penjaga.


"Iya, Paman!"


"Tidak ada paksaan dariku, bukan?"


"Tidak ada, Paman!"


"Nanti jika ada yang bertanya di kemanakan kudamu kau jawab apa?!"


"Jawab apa, Paman?" Jaga balik bertanya dengan polos, tidak tahu.


"Kuberikan sukarela ke penjaga di gerbang!" Sang penjaga mengajari.


"Kuberikan sukarela ke penjaga di gerbang!" ulang Jaga Saksena dengan cepat dan lancar.


"Bocah pinterrr! Sana cepat masuk. Ingat! Jangan buat onar jika tidak ingin...!" Sang penjaga kembali menunjukkan tombaknya yang ia gerakkan menghentak tanah.


"Baik, Paman!"


Jaga Saksena mengambil kantok loreng berisi dua ikan pepes sebelum melangkah pergi dengan senyum terkembang.


Sepeninggal Jaga Saksena.


"Ha ha ha ha!"


Para penjaga menertawakan kebodohan Jaga Saksena. Bagaimana tidak! Dengan sekeping emas harusnya Jaga Saksena sudah bisa masuk. Tetapi malah memberikan kuda yang harganya lebih dari dua puluh lima keping emas.


"Andai ada sepuluh orang bodoh sepertinya, kita akan kaya, Kawan-kawan!"


"Ha ha ha ha!"


"Kau lihat tadi di pinggangnya?!"


"Apa?!" tanya yang tidak memperhatikan perinci.


"Dia membawa kapak batu!"


"Manusia zaman batu!"


Gelak tawa mereka kembali pecah menertawakan kebodohan si bocah.


***


Memasuki gerbang kerajaan ternyata tidak membuat Jaga Saksena langsung tiba di pemukiman.


Jaga harus menelusuri jalan lebar yang kiri kanannya masih berupa pepohonan. Hingga matahari tenggelam barulah Jaga Saksena sampai di ujung jalan yang bertemu dengan jalan besar melintang ke nanan dan ke kiri. Jalan besar yang sangat ramai orang berlalu lalang. Setidaknya menurut Jaga Saksena.


Bangunan berderet rapi di sepanjang jalan. Jalan yang lebar, diperkuat dengan batu-batu dengan permukaan rata, sehingga tampak jelas sengaja ditata dengan seksama.


Obor-obor dinyalakan di depan-depan bangunan dan juga di pinggir jalan.


Ketika Jaga memutuskan berbelok mengambil arah kanan, bocah itu melihat kedai-kedai di pinggir jalan begitu ramai pengunjung.


Kedai-kedai ini lebih dekat ke jalan, sementara tempat untuk menambatkan kuda berada di samping kedai.


'Siapa tahu, Paman Rawal dan Paman Balkhi Supekok ada di salah satu kedai!' pikir Jaga Saksena terus berjalan pelan sambil mengamati.


Ramainya jalan, hampir membuat Jaga Saksena tertabrak pengguna jalan lain. Sehingga bocah itu memutuskan mendekat ke salah satu kedai.


Kedai paling rame di antara semua yang dilihat oleh Jaga Saksena sebelumnya.


Mendekat, bocah itu berdiri mengamati sembari mencuri dengar pembicaraan di dalam kedai.


"Besok, sayembara dimulai! Bisa dipastikan akulah yang akan keluar menjadi pemenangnya!" seorang berbadan besar, perut gendut dengan kepala gundul berseru keras sembari memegang bumbung minuman lalu,


Glek! Glek! Glek!


Jenggot keriting awut-awutan si gundul basah oleh minuman yang tumpah dari mulutnya.


"Minum arak saja tidak becus mau jadi juara! Mimpi!" sinis seorang pemuda yang duduk di meja lain.


Pemuda itu berpakaian serba biru gelap dengan ikat kepala yang berwarna sama. Rambutnya tergerai rapi, serapi wajahnya yang tak memiliki kumis maupun jenggot juga tak memiliki codet atau bopeng lainnya.


"Tunggu besok di arena pertarungan, akan kupatahkan lehermu!" Meski tampaknya dalam pengaruh arak yang memabukkan, si gundul berbadan besar menyahuti dengan lantang.


"Kupecahkan batok kepala kosongmu itu besok!!" Kembali pemuda berwajah klimis menyahuti.


"Sudah kawan, biarkan mulut besarnya. Dia sedang mabuk," ucap seorang di samping pemuda klimis mendinginkan suasana.


"Sepertinya kejadian adu mulut seperti ini hal biasa. Orang-orang di sekitar tempat duduk mereka tidak peduli sama sekali," Jaga Saksena membatin dalam hati.


Ketika Jaga tengah mengamati dan mendengarkan dengan seksama, tiba-tiba sebuah bentakan mengagetkannya.


"Woi Bocah! Sedang apa kau di situ?! Pergi! Jangan mengemis di sini!"


Seorang pemuda yang di pundaknya tersampir kain lap menunjuk Jaga Saksena sembari menghardik.


Dihardik sedemikian rupa, Jaga melihat penampilannya sendiri mulai dari pakaian hingga alas kaki.


Penampilan Jaga Saksena sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Pakaianya tidak ada yang sobek, bahkan masih sangat bagus. Setidaknya, itu menurut Jaga Saksena.


"Setampan dan sebagus ini kau tuduh aku pengemis?!" Jaga menuding wajahnya sendiri lalu ke bawah. Ini membuat si pemuda mendekat dan berkata,


"Kalau kau bukan pengemis, kenapa dari tadi berdiri di situ?! Pergi! Pergi! Keberadaanmu bisa membuat para pengunjung kedai mual dan muntah!"


Si pemuda memutar tubuh Jaga Saksena menghadap ke jalan lalu mendorongnya.


"Berlebihan! Sedari tadi juga tak ada yang muntah. Baru jadi pelayan saja kemaki!" gerutu Jaga Saksena melangkah pergi.


Kluthak!


"Awwwhh!"


Jaga Saksena mengusap kepalanya yang terkena sambit kerikil.


"Itu hanya kerikil! Sekali lagi kau bicara, batu ini melayang!" Si pemuda yang masih jongkok usai mengambil kerikil mengacungkan batu sebesar kepalan tangan.


"Weeee ...!"


Jaga Saksena menjulurkan lidahnya lalu dengan cepat membalik badan sebelum berlari kencang.


"Bajingan Kecil!" dengus si pemuda tidak berani melempar dengan batu sebab banyak orang lalu lalang. Karena jika salah sasaran bisa-bisa malah dirinya yang celaka dikeroyok oleh orang.


***⁰0⁰***