Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 112. Sumpah Sang Putri



Jaga Saksena memeriksa nadi Raden Bakintal.


"Alhamdulillah, akhirnya tewas juga kau. Sungguh tak kusangka malah senjata usang ini yang mengantarkanmu menemui malaikat pencabutnya nyawa!"


Jaga Saksena mengamati bilah kapak batu yang ternoda darah. Ada gompal (ada sedikit yang hilang_pen) di tepi bilah tajam kapak akibat digunakan untuk membabat leher Raden Bakintal.


Jaga Saksena menggeleng kepala, "Kuat sekali manusia satu itu. Mampu menahan gempuran ajian. Tetapi kapak batu ini ... Oh apa ini?"


Jaga terkejut. Bagian yang gompal di kapaknya menunjukkan lapisan batu dan di dalamnya ada logam.


"Ma sya Alloh ...." Jaga Saksena takjub akan kuasa Sang Maha Pencipta.


Pada mulanya, saat kecil Jaga Saksena menemukan batu tersebut di pinggir sungai di pulau kecil tempat tinggalnya. Karena bentuknya pipih tajam di depan dan tumpul mengecil di belakang, Jaga Saksena membuatkan gagang dari kayu untuk pegangan, lalu memperkuatnya dengan ikatan dari kulit kayu khusus. Jaga sama sekali tidak mengira bahwa di dalam batu ada benda lain yang jauh lebih keras.


Jaga Saksena mengubur jasad Raden Bakintal dengan menimbunkan tanah lalu pergi mencari tempat yang teduh sebab harus menjamak lima waktu sholat, dan masih ditambah sholat dhuhur.


Selepas menunaikan kewajibanya,


"Alhamdulillah ...."


Jaga Saksena bersyukur masih diberi rizqi untuk bersujud kepadaNya. Bersyukur masih diberi kesempatan untuk menyembahNya.


Kini mata Jaga Saksena tertuju pada kapak batu yang sengaja ia letakkan cukup jauh sebab masih berlumur darah yang najis. Karena sembahyang tidak boleh membawa barang najis.


"Aku akan menghancurkan batu yang menyelimuti benda di dalamnya."


Jaga Saksena mendirikan kapak dengan cara menancapkan gagang pada tanah lalu mengalirkan kekuatan ruh ke dalam dua telapak tangan, dan


Prakkk!


Bagai menepuk nyamuk, Jaga Saksena memecah remuk batu kapak sekaligus gagangnya.


"Subhanallaah ...."


Jaga Saksena bergumam takjub ketika melihat sebuah logam tergeletak di antara serpihan pecahan batu kapak yang ia hancurkan.


"Luar biasa, jika Gusti Alloh berkehendak maka hanya Kun Fayakun," gumam Jaga Saksena mengambil kapak hitam kecil tak bergagang untuk mengamatinya.


"Ini benar-benar kapak, bahkan bilahnya masih sangat bagus dan tampak tajam, hanya saja belum bergagang," simpul Jaga Saksena karena mendapati ada lubang di pangkal yang tembus ke atas.


Jaga Saksena melenting ke atas pohon. Bertengger di salah satu cabang lalu gunakan kapak untuk membabat dahan tanpa menggunakan aliran kekuatan ruh.


Crass!


Seperti penilaian Jaga, kapak benar-benar masih sangat tajam meski terlihat semua permukaannya hitam legam.


Jaga Saksena mengambil batang tersebut, lalu membuang bagian lunaknya sementara bagian keras ia gunakan untuk membuat gagang kapak.


'Ini hanya untuk sementara, nanti jika ada waktu aku akan mencari seorang empu pandai besi guna membuat gagang yang jauh lebih baik.'


Jaga berpikir akan membuatkan gagang permanen dari bahan besi baja terbaik ketika nanti tiba di Kerajaan Saindara Gumilang.


"Sekarang aku harus menyusul Putri Anesha Sari!"


Bangkit, Jaga Saksena kembali menggantungkan kapak di pinggang kanannya.


Sesaat kemudian Jaga Saksena tampak seperti anak panah lepas dari busur, berlari melesat di pucuk dedauanan pepohonan hutan menuju ke arah Kerajaan Saindara Gumilang.


***


Putri Anesha Sari tiba di gerbang istana Raja tepat ketika ritual penobatan Kama Kumara sebagai Maha Raja tengah berlangsung di pendopo utama. Tampak seorang lelaki sepuh tengah memasangkan mahkota ke kepala Kama Kumara.


Blegh!


Anesha Sari terjatuh pada lututnya. Perasaannya seketika hancur, air matanya meleleh panas membasahi pipi halus beningnya yang tak bercela.


Seorang byungmban menghampiri Putri Anesha Sari, duduk bersimpuh di sampingnya lalu berkata lirih,


"Tabahlah, Tuan Putri."


"Byungmbaaan ...!" Anesha Sari memeluk byungmban tersebut, memanfaatkan bahunya untuk bersandar.


"Tabah, Tuan Putri. Ini sudah menjadi ketetapan Sang Hyang Widi Wasa."


Meski ditenangkan sedemikian rupa, Anesha Sari terus sesengukan tak mampu menahan kepedihan yang mendera hatinya. Hati terasa berlubang menganga sehingga sangat sakit. Sakit yang melukai perasaan.


"Andai aku tahu ...." Di sela sesenggukannya, Anesha Sari menyesali diri telah pergi.


"Ini bukan salah Tuan Putri ...."


Sementara itu, Kama Kumara duduk di singgasananya dengan sikap perbawa. Di kepalanya kini telah bertengger sebuah mahkota dari emas. Matanya melihat ke luar pendopo di mana Anesha Sari tengah terduduk bertumpu pada lutut dan memeluk byungmban. Tetapi Kama Kumara tidak terbersit untuk menyapanya. Karena baginya, masalah Anesha Sari dan Jaga Saksena adalah perkara kecil mungil semudah membuang upil yang bisa diurus nanti.


"Semuanya!" Kama Kumara mulai bertitah, "Mulai sekarang akulah Maha Raja kalian. Kuperintahkan kalian para senopati untuk merekrut prajurit-prajurit baru sebanyak mungkin. Dan kalian para rakyan empu, buatlah senjata sebanyak mungkin! Aku akan membawa kerajaan ini untuk berjaya dan menjadi Kerajaan Saindara Gumilang Raya!"


Semua yang hadir menunduk, ada berbagai macam pemikiran di benak yang berkecamuk.


***


Hari telah kembali malam ketika Putri Anesha Sari tengah bersimpuh di tempat pengebumian Raja Basukamba dan Permaisuri Mahiswari. Di belakangnya ada byungmban dan dua perwira, Aswangga dan Bentar Buana. Kedua perwira baru saja tiba di istana dan langsung menyusul ke persemayaman terakhir raja dan permaisuri.


Sebenarnya Aswangga dan Bentar Buana bertanya-tanya dalam hati, ke mana Pangeran Jaga Saksena. Akan tetapi situasi yang tidak mendukung membuat keduanya hanya menyimpan pertanyaan dalam hati.


"Ramanda, Byungda!" Berlinang air mata, Anesha Sari mengangkat satu tangannya ke atas, "Aku bersumpah akan membongkar persekongkolan biadab ini! Tenanglah di sana dan tunggulah, aku pasti akan membunuh mereka semua!"


Usai bersumpah, Anesha Sari menghapus air matanya lalu berkata tanpa menoleh,


"Byungmban, ceritakan padaku apa yang kau dengar!"


Byungmban itu pun menceritakan semua yang ia dengar dari para prajurit dengan runut.


"Kakangda Kama Kumara dan Perwira Sadajiwa," gumam Anesha Sari menemukan dua orang yang patut dicurigai.


Anesha Sari mengesampingkan Tumenggung Wiryateja sebab tumenggung itu datang belakangan.


"Perwira Aswangga, Perwira Bentar. Apakah kalian berdua bersedia di belakangku apa pun yang terjadi?!"


Pertanyaan yang tiba-tiba, cukup membuat Aswangga dan Bentar Buana terhenyak. Karena mereka tahu, perang baru akan dimulai. Akan tetapi mereka cukup tegas untuk menyatakan kesetiaan mereka.


"Aku Aswangga menyatakan sumpah setia pada Tuan Putri!"


"Aku Bentar Buana juga menyatakan sumpah setia pada Tuan Putri!"


Usai mengangkat sumpah setia dua perwira, Anesha Sari segera menyusun rencana bersama mereka bersua untuk mengusut siapa dalang di balik pembunuhan Raja Basukamba dan permaisurinya.


Pengusutan akan dimulai dari Perwira Sadajiwa.


***


Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg sudah hampir tamat, terimakasih atas dukungan kalian semua.