
"Di luar sana, Ki ... Bukan manusia tetapi banaspati!" Lembayung memberi tahu dengan wajah menyirat rasa takut.
Glubrak!
Spontan, Ki Mertayuda bangkit, hingga rusban (kursi panjang memiliki sandaran_pen) yang didudukinya terjengkang.
'Tua bangka ini mengagetkanku saja!' maki hati Lembayung.
Tanpa ba-bi-bu Ki Mertayuda, lelaki berudeng kepala itu mencelat. Membuka pintu dan,
Tap!
Terdengar deru salto di udara kala Ki Mertayuda melontarkan diri ke halaman.
Benar saja, ketika Ki Mertayuda mendarat ringan di tengah halaman, sesosok manusia api berwarna merah kekuningan tengah terbang pelan memasuki halaman kedai.
"Hihihihihi! Hihihihi! Wuehherr-wuehhherr ...!"
Kuda-kuda yang ditambatkan meringkik gaduh, terusik hawa panas yang menyebar.
"Makhluk dari alam lain, berani sekali kau mencari masalah dengan kami!" Membuka percakapan, Ki Mertayuda telah mengalirkan tenaga dalam ke dua tangannya bersiap melepas ajian Lebur Guntur.
"Ha-ha-ha-ha!"
Suara tawa itu terdengar jauh tetapi jelas, dan bisa dipastikan keluar dari sosok api. Demikian pula ketika terdengar ucapan,
"Ini adalah daerah kekuasaanku! Aku bebas melakukan apa saja! Termasuk membawa gadis aduhai di dalam sana!"
"Aduhai ndassmu!!" Ki Mertayuda membentak keras.
"Manusia sombong! Kau kira dengan ajian lemahmu itu akan mampu menghalangiku untuk mengambil gadis itu?!"
'Rupanya dia bisa merasakan ajian yang kupersiapkan. Lebih baik kumulai saja!'
Ki Mertayuda mengalirkan kembali sejumlah tenaga dalam untuk menambah kekuatan ajiannya.
"Kita buktikan!" senyum Ki Mertayuda sebelum menyerukan ajiannya. "Lebuur Guntur!"
Mertayuda melepas satu pukulan sembari mencelat ke samping guna mempersiapkan serangan susulan.
Energi bening berbentuk tinju melesat secepat kilat. Namun,
Debbb ...!
Banaspati, sosok berbentuk seperti manusia api itu membuat semacam tabir melengkung yang mampu menahan energi Lebur Guntur.
"Ha-ha-ha-ha! Manusia lema—" ejekan banaspati sebab mampu menahan pukulan terpotong sebab,
Wuusss!
Kembali serangan datang dari samping di mana tabir yang ia buat tidak melindungi.
Desss ...! Blarrt ...!
Banaspati memapak serangan dengan bola api merah yang menyambar.
Tumbukan dua energi menimbulkan ledakan di udara. Pecahan api kecil-kecil bersemburatan ke segala arah menciptakan pemandangan indah. Tetapi siapa yang akan menikmati pemandangan itu, sebab yang ada adalah kengerian.
Gagal dalam dua serangan, tidak membuat Mertayuda patah semangat.
'Dia selalu membendung seranganku, artinya aku hanya perlu menyarangkan ajianku pada tubuhnya!'
Berpikir demikian Pendekar Lebur Guntur bergerak cepat memutar, mencari kelengahan lawan.
Desss! Blarrt!
Desss! Blarrt!
Ledakan terus terjadi. Gerakan Ki Mertayuda tidak terlalu cepat untuk bisa memasukkan serangannya ke tubuh lawan.
Saat yang sama, di dalam kedai bagian depan,
"Bagaimana ini, Kakang Rawal? Apakah kita hanya menonton saja?"
"Sepertinya bantuan kita juga akan sia-sia, Adi Pekok! Kita lihat dulu, apakah Ki Mertayuda akan membutuhkan bantuan."
Di dalam kedai di mana sebelumnya Ki Mertayuda makan, putri Lembayung Adiningrum tengah mengintip pertarungan dari balik jendela.
Lembayung Adiningrum, seorang putri yang sangat urakan dan kasar tetapi sejak kecil dirinya sering ditakut-takuti oleh para byung emban (pelayan yang mengurus dan merawat seorang putri raja_pen).
"Sudah malam, tidurlah Gusti Putri. Jika tidak mau tidur, nanti dimakan belis!"
"Jangan main sampai malam Gusti Putri, nanti diculik medi (hantu_pen)!"
Dan banyak lagi kalimat-kalimat yang didengar oleh Lembayung Adiningrum kecil. Masuk ke dalam kuping lalu mengendap ke alam bawah sadarnya. Maka, tumbuhlah Lembayung Adiningrum menjadi seorang yang penakut kepada makhluk-makhluk halus.
Berbeda dengan Jaga Saksena, dari kecil bocah itu ditanamkan rasa berani oleh Byungnya. Bahwa manusia adalah makhluk yang lebih sempurna dan tidak semestinya takut pada makhluk yang lebih rendah derajatnya. Perasaan takut hanya boleh kepada Sang Maha Kuasa.
Maka, Jaga Saksena tumbuh menjadi anak pemberani, meski tidak menguasai ilmu kadigdayan sama sekali.
"Whoi kalian berdua!" Lembayung Adiningrum memanggil Rawal dan Pekok dengan menahan suaranya.
Rawal dan Pekok yang tengah menyaksikan pertarungan sembari berbincang serempak menoleh ke arah jendela.
"Ada apa, Putri?"
"Kenapa kalian diam saja?!
"Tidak, Putri. Sedari tadi kami berbincang," jawab Pekok.
Grrretekk!
Lembayung Adiningrum menggemeretak gigi geraham, lalu berkata dengan masih menahan suara,
"Guoblog! Maksudku kenapa kalian tidak membantu! Jika Ki Mertayuda kalah apa kalian kira akan selamat dari belis itu?!"
Meski jengkel setengah mati karena selalu dimaki oleh sang putri, Pekok dan Rawal saling pandang lalu mengangguk seakan berkata, "benar juga apa yang putri katakan!"
"Mari kita tumpas belis itu, Adi Pekok!"
"Kita padamkan saja, Kakang Rawal!"
"Padamkan?! Jika dipikir-pikir otakmu terkadang waras juga, Adi Pekok!"
"Siapa dulu ...? Pekok!"
Keduanya bergegas masuk.
"Whoi whoi! Disuruh membantu kenapa malah masuk ke dalam. Pertarungan ada di luar sana!" Lembayung Adiningrum membentak kendati dengan suara masih ditahan tahan.
Kembali dibentak orang, Pekok menoleh. Dengan tanpa memperlambat langkah cepatnya, ia menjawab keren,
"Ini urusan para lelaki pemberani, putri duduk manis saja di sana, dan makan yang banyak. Biar kami yang bereskan sosok terbakar itu!"
"Kau!" Hanya itu yang terucap dari mulut Lembayung.
Masuk ke dapur, Pekok dan Rawal mendapati Ki Pandu dan istrinya tengah saling berpelukan.
Mulut usil Pekok pun kambuh, "Cie-cie ... orang lain tengah berjuang di depan sana, kalian berdua malah saling pelukan!"
"Lah apa salahnya, Adi Pekok? Boleh-boleh saja wong mereka suami istri!"
"Oh iya juga ya, kalau meluk kambing yang jelas bukan istrinya, itu baru salah!"
Plakk!
Tamparan kecil Rawal mendarat di kepala bagian belakang Pekok.
"Kenapa kau pukul kepalaku, Kakang?!"
"Kenapa malah membahas kambing?!"
"Oh ya ya .... Ki Pandu!"
"Ah, kalian ini, udah selesai meledek kami?" Ki Pandu bertanya tanpa melepas pelukannya pada sang istri yang tampak gemetaran.
"Udah, Ki. Kami mau ambil air!"
"Air?! Buat apa?!"
"Nanti kau tahulah, Ki."
"Itu ada di pojokan!" Ki Pandu menunjuk sebuah gentong terbuat dari tanah liat tebal yang dibakar hingga berwarna merah kehitaman.
Gentong yang besar, garis tengahnya saja ada empat jengkal dengan tinggi seperut orang dewasa.
"Biar aku saja, urusan seperti ini bisa kacau jika kau yang bawa!" Rawal melangkah mendekati gentong besar.
Dengan sedikit mengerahkan tenaga dalam, mudah saja bagi rawal mengangkat gentong yang penuh terisi air tersebut lalu memanggulnya di atas pundak.
"Eh! Eh! Kenapa kau angkat?!" tanya Ki Pandu yang masih memeluk istrinya.
"Nanti kau tahu, Ki!" jawab Rawal singkat lalu menyuruh Pekok membuka pintu geser* dapur yang langsung menuju halaman samping.
Note:
*Pintu geser dapur, biasanya terbuat dari anyaman bambu. Pintu di apit dua bambu pada bagian atas dan bawah yang berfungsi sebagai rel.
Pintu ini biasa digunakan di dapur-dapur rumah jaman dahulu sebab lebih praktis dan lebar.