Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 45. Tarung



Berbincang cukup lama dengan Sunsang Gumilang akhirnya Jaga saksena berkata,


"Baiklah, Pendekar Merah. Sudah waktunya untuk berpisah. Akan kupegang kata-katamu. Saat aku kembali untuk membasmi mereka, kau harus ada untuk membantuku!"


"Asal tidak kau pegang belalaiku saja, ha ha ha ha!"


Jaga Saksena tidak tahu apa maksud ucapan Sungsang Gumilang. Yang jelas untuk sekarang Jaga ingin segera pulang guna berlatih keras agar secepatnya menjadi seorang pendekar sakti.


Jaga Saksena berjalan cepat agar segera bisa keluar dari pasar.


Saat yang sama, lelaki berbadan kekar berjalan membuntuti.


Cukup lama mengikuti Jaga Saksena dan telah bisa memastikan arah kepergiannya, lelaki bertubuh kekar itu bergegas menuju ke rumah penitipan kuda.


Mengambil kudanya, lelaki bertubuh kekar lekas menggebrak kuda. Namun, baru saja sampai di halaman, seorang pemuda berpakaian serba merah telah berdiri di depan sana menghadangnya.


"Kenapa terburu-buru, Ki Sanak?!" sapa si pemuda yang tak lain adalah Sungsang Gumilang.


"Minggir! Kau menghalangi jalanku!" bentak lelaki bertubuh kekar.


"Sejak kapan halaman penitipan kuda ini menjadi milikmu? Ha ha ha ha. Tingkah manusia sungguh lucu. Suka mengaku-aku yang bukan miliknya!"


"Bedebah!"


Lelaki bertubuh kekar gebrak kudanya, tak lagi peduli meski harus menabrak orang.


"Kau mau menabrakku? Tak semudah itu, Kawan!"


Wuutt!


Sungsang Gumilang hantamkan tinju ke depan, menyambut kedatangan kuda yang hendak menabrak dirinya.


Tidak mau kudanya adu banteng dengan bogem Pendekar Merah, lelaki bertubuh kekar hentak keras tali kekang, membuat kuda hitam itu meloncat dengan dua kaki depan lurus menerjang.


"Bagus!"


Sungsang Gumilang tarik serangan tinju untuk merendahkan badan.


Saat tubuh kuda tepat di atas kepalanya, Sungsang Gumilang tinggikan tubuh seraya dorongkan dua telapak tangan.


Wuuung!


Kuda dan penunggangnya terlempar membalik ke tengah halaman sebelum menghempas tanah dalam posisi rebah.


Brugh!


"Hihik-hihik-hihik!"


Terdengar suara bergedebam disusul ringkik kuda hitam.


Kuda itu berusaha bangkit. Sementara penunggangnya telah berdiri dengan muka mengelam marah. Rupanya sang penunggang telah mencelat lebih dulu saat kuda hendak menghempas tanah.


Saat yang sama, orang ramai yang berlalu lalang berhenti dan mulai menjadi penonton sembari bertaruh,


"Satu keping perak! Aku pegang pendekar serba merah!"


"Lima bumbung tuak untuk kemenangan penunggang kuda!"


"Aku pegang pendekar merah itu, kau tiduri istriku nanti malam jika aku kalah!"


Berbagai benda dipertaruhkan bahkan istri.


Bersamaan dengan itu, orang-orang rumah penitipan kuda bukannya melerai pertarungan sebab akan terjadi di halaman rumah penitipan kuda, mereka malah ikut meramaikan taruhan.


Judi benar-benar telah mengakar kuat di jiwa setiap masyarakat.


Merasa dipermalukan di depan orang banyak, Ki Badrapala berkata geram,


"Sebenarnya aku tidak ingin berurusan denganmu, tetapi kau yang mencari gara-gara terlebih dahulu. Apa boleh buat, bersiaplah pecat nyawamu!"


Sret!


Lelaki kekar mencabut keris dari pinggang. Keris yang cukup mudah dikenali sebab hanya memiliki tiga luk dengan ukiran ular di sepanjang bilahnya.


"Bukankah itu Ki Lurah Badrapala dengan Keris Upas Sewunya?!" seru salah satu orang mengenali sosok berbadan kekar bersenjata keris luk tiga.


"Iya benar! Itu Ki Lurah Badrapala!"


"Ini akan seru!"


Menggenggam keris di tangan kanan, lelaki bertubuh kekar yang sememang adalah Ki Lurah Badrapala adanya berlari memperpendek jarak dengan langkah rapat.


"Tusuk Delapan Kematian!"


Wett! Wett!


Keris di tangan lelaki kekar itu berkelebat mencecar delapan titik kematian Sungsang Gumilang.


Menghindar beberapa kali, Sungsang Gumilang kebutkan tangan kanan,


Bushh!


Tetiba dari tangan Sungsang Gumilang mengepul serbuk sangat halus berwarna merah yang menyebar ke segala arah bagai kabut pekat. Saat itulah sosok Pendekar Merah lenyap menyatu dalam kepulan warna merah tersebut.


Tarung terus berlangsung dan Sungsang Gumilang mulai mendesak Ki Lurah Badrapala.


Kini tahulah orang-orang mengapa pemuda itu mengenakan pakaian serba merah.


"Ah siallll! Tiga banding satu untuk Pendekar Serba Merah!" seru penonton yang semula menjagokan Ki Lurah Badrapala.


Tetapi tak ada yang berani. Sebab sangat jelas terlihat Pendekar Merah berada di atas angin, menguasai pertarungan.


Sememang, bagi Ki Lurah Badrapala, kabut merah sangat mengganggu ia tak bisa melihat jelas keberadaan lawan.


Jurus Tusuk Delapan Kematian miliknya kini tumpul tak bertaji. Tusukan-tusukan hanya mengenai udara kosong.


Semakin terdesak, Ki Lurah Badrapala berseru dalam hati,


'Aku harus mundur!'


Badrapala memutuskan untuk mundur, keluar dari kabut merah. Namun,


Duosh!


Wuus!


Sebuah tendangan tapak kaki tiba-tiba menghajar punggung Badrapala dari belakang, membuat lelaki kekar itu terlontar ke depan beberapa tombak dan baru berhenti ketika menghempas pagar rumah penitipan kuda.


Bragk!


Pagar dari kayu itu pun patah pangkal hingga roboh.


Jika Sungsang Gumilang mau, bisa saja ia menyusuli serangan akan tetapi pemuda itu hanya berdiri menanti lawan bangkit kembali.


Perlahan, kabut merah menipis memperlihatkan sosok Sungsang Gumilang yang berdiri tanpa kuda-kuda di tengah halaman penitipan kuda.


Saat yang sama, Ki Lurah Badrapala telah kembali bangkit, meski jelas wajahnya menyiratkan rasa sakit.


"Masih ingin bermain-main denganku? Majulah biar kali ini kutendang pantatmu! He he he!" Sungsang Gumilang mengejek sekaligus memprovokasi.


'Aku harus cepat selesaikan ini!'


Berpikir demikian, Ki Lurah Badrapala menggenjot kaki. Melenting di udara dia lepaskan tembakan energi dari ujung keris. Energi pembawa upas alias racun ganas.


"Upas Pencabut Jiwa!"


Selarik sinar tipis berwarna hitam melesat ke arah Sungsang Gumilang.


Blast!


Namun hanya mengenai tanah kosong akibat Sungsang Gumilang telah lebih dulu mencelat menghindar, sinar itu amblas masuk ke dalam tanah. Hanya perlu waktu dua detik saja, semua rumput dalam radius satu tombak menghitam, mati.


'Serangan yang sangat berbahaya! Jika kubiarkan, bisa mencelakai orang lain!' seru hati Sungsang saat melihat efek buruk serangan lawan. Meski mampu menghindari serangan dengan mudah Sungsang Gumilang tetap khawatir.


Tak mau apa yang dikhawatirkan terjadi, Sungsang tangkupkan dua telapak tangan. Bibirnya pencang-pencong membaca mantra. Kesempatan ini digunakan oleh Ki Lurah Badrapala untuk kembali menembakkan energi.


Wuss!


Selarik sinar tipis berwarna hitam kembali melesat. Saat yang sama, tangan Sungsang Gumilang yang telah berubah berwarna merah mendorong ke depan.


"Tapak Matahari Merah!"


Sebuah energi berwarna merah membentuk tapak melaju ke depan menyongsong serangan Upas Pencabut Jiwa. Dan,


Blartd!


Ledakan akibat tumbukan dua energi terdengar memekakkan telinga.


Ki Lurah Badrapala terdorong mundur beberapa langkah sebelum terbatuk darah,


Huaks!


Tetapi tidak dengan Sungsang Gumilang, pemuda itu tetap berdiri kokoh.


Seruan kegirangan orang-orang yang menjagokan Pendekar Merah pun terdengar keras,


"Bayar taruhanmu!"


"Makan enak!"


"Mabok lagi!"


"Madang sakpole!"


"Madon!"


*