Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 95. Jalan Keluar Terbaik



Sore hari yang cerah.


Jaga Saksena menghempaskan diri di kursi kayu jati di emper rumahnya. Ia baru saja kembali dari mengelilingi kerajaan untuk mencari peluang usaha tetapi belum ada satu pun yang menurutnya pas.


"Assalamualaikum!"


Begawan Teja Surendra memberi salam lalu mengambil tempat duduk di kursi seberang meja.


"Wa'alakumussalam Warohmatulloh. Bagaimana semalam, Begawan?"


"Luar biasa! Aku merasakan ketenangan dan kebahagian yang belum pernah kuarasakan sebelumnya."


"Istiqomah lebih baik daripada seribu karomah. Semoga Begawan istiqomah dalam menjalankan ibadah malam."


"Amin," sahut Begawan Teja Surendra lalu bertanya, "Sepertinya ada sesuatu hal penting sehingga Sanak Jaga dipinta menghadap raja?!"


"Benar, Begawan. Raja ...."


Jaga Saksena menceritakan semua tanpa menutupi, hingga pencarian peluang usaha bersama Perwira Sadajiwa pun diceritakannya.


"Apakah Sanak Jaga sudah menemukan peluang usaha yang sekira bagus dan pas untuk mereka?" tanya Begawan Teja Surendra setelah Jaga Saksena rampung bercerita.


"Belum, Begawan. Paling ada beberapa pemilik kedai yang siap menerima dan memperkerjakan mereka. Yang lain belum ada yang menurutku pas, seperti usaha kerajinan. Penjualannya sangat lesu, hanya cocok untuk sampingan. Sedangkan usaha lainnya, terlalu berat bagi para wanita."


"Jika aku boleh memberi masukan,"


"Tentu Begawan, aku akan sangat senang. Bagaimana menurut Begawan?"


"Begini ...."


Begawan Teja Surendra memberi usulan, dari lima puluh perempuan ditanya dulu siapa yang ingin tetap tinggal di kerajaan Saindara Gumilang dan siapa yang ingin kembali ke kampung halaman.


Wanita yang ingin tetap tinggal bisa disalurkan untuk bekerja ke usaha-usaha yang sudah ada. Jadi Jaha Saksena tidak pusing memikirkan modal dan usaha apa yang akan dibuka.


Kemudian bagi yang ingin pulang, tidak perlu menyewa pendekar untuk mengantar mereka. Begawan Teja Surendra siap membantu mengawal mereka asal bersama Jaga Saksena.


Mendengar penuturan Begawan Teja Surendra yang sangat terperinci, mata Jaga Saksena berbinar.


"Kau memang dikaruniai pemikiran yang luar biasa Begawan. Terimakasih, Begawan. Tapi bagaimana dengan biaya pengantaran? Bukankah kita butuh gerobak kuda juga perbekalan?"


"Sanak Jaga tidak perlu khawatir, aku punya simpanan keping emas. Kurasa sangat cukup untuk membeli lima gerobak. Tinggal perbekalan, itu mudah. Aku sudah tahu akan meminta ke siapa." Begawan Teja Surendra tersenyum penuh arti.


"Alhamdulillah, terimakasih Begawan. Bagaimana dengan tempat penampungan sementara bagi yang akan dipulangkan?"


"Kita bisa minta tempat pada Patih Sepuh Labda Lawana."


"Jika begitu, besok pagi kita menghadap raja!"


***


Pagi harinya. Jaga Saksena, Begawan Teja Surendra dan Sungsang Gumilang telah berada di ruang pasowan agung, meminta menghadap Raja Basukamba.


Sungsang Gumilang rupanya dengan senang hati bersedia ikut mengantarkan para wanita yang akan dibebaskan. Apalagi jika Senopati Ragnala Raksa telah kembali, pastinya seribu keping emas bisa digunakan untuk membantu.


"Sayang, Senopati Ragnala Raksa konyol itu belum kembali juga." Demikian gerutu Sungsang hampir semalaman.


Cukup lama menunggu, Raja Basukamba memasuki ruangan yang segera disambut hormat oleh Jaga, Begawan dan Sungsang.


"Kuterima hormat kalian. Sungguh senang Begawan Teja Surendra akhirnya mau tinggal di kerajaanku ini. Sebuah kehormatan pula Begawan menghadap. Ada apa gerangan Begawan?!"


"Perkenankan bicara, Yang Mulia Raja ...."


Begawan Teja Surendra menyampaikan maksud mereka bertiga dengan singkat padat dan terang yakni meminta para budak dibebaskan karena telah menemukan jalan keluar terbaik.


Begawan Teja Surendra juga menyampaikan rencana yang telah disusun bersama Jaga Saksena.


Terdiam beberapa saat Raja Basukamba akhirnya mengabulkan permintaan untuk membebaskan para budak.


"Mari ikut denganku!"


Raja Basukamba bangkit. Diikuti Jaga dan dua lainnya, raja itu bergegas menuju bangunan di mana para wanita muda cantik ditempatkan.


***


Sebuah rumah panggung besar di bagian belakang istana raja itu tampak lengang. Hanya ada dua perwira bertampang sangar bersenjata golok besar. Keduanya berjaga di depan sambil duduk santai.


Ke rumah panggung besar inilah Raja Basukamba mengajak Begawan Teja Surendra, Jaga Saksena dan Pendekar Merah.


Dua orang perwira yang berjaga segera bangkit lalu memberi hormat ketika rombongan kecil raja tiba.


"Buka!" perintah Raja Basukamba.


Salah satu perwira membuka pintu besar rumah panggung dengan cara menggeser ke samping, menimbulkan suara berderit.


Ketika pintu terbuka, tampaklah bahwa rumah panggung besar ini tidak memiliki sekat atau pun kamar. Para wanita muda yang tak kurang dari lima puluh orang di tempatkan di sini menjadi satu. Tak ada ranjang tak pula alas tidur, kecuali bantal dari buntalan pakaian masing-masing yang mereka bawa dari Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung.


Melihat pintu terbuka, lima puluh wanita muda bangkit berdiri lalu mundur dengan posisi badan menghadap ke arah pintu.


Tak ada yang bersuara, yang ada hanyalah wajah-wajah ketakutan akibat pengalaman buruk sebelumnya.


"Kalian semua tidak perlu takut!" seru Raja Basukamba melangkahkan kaki masuk. "Aku, Yang Mulia Raja Basukamba Penguasa Kerajaan Saindara Gumilang menyatakan kalian semua bebas, kalian merdeka!"


Seketika para wanita muda saling berpandangan lalu meluapkan suka cita dengan saling berpelukan juga meneteskan air mata bahagia.


Sesaat kemudian,


"Untuk urusan selanjutnya, apakah kalian ingin pulang atau mencari penghidupan di kerajaanku ini, kuserahkan semuanya kepada calon menantuku ini." Raja Basukamba memberi isyarat agar Jaga Saksena maju lalu menepuk bahunya, memperlihatkan kedekatan.


"Namanya Jaga Saksena," lanjut sang raja. Beberapa wanita tampak menatap Jaga Saksena dengan seksama, merasa pernah melihatnya.


"Jaga Saksena akan dibantu oleh Begawan Teja Surendra dan Pendekar Merah! Silahkan Begawan, Pendekar. Aku pergi dulu!" pungkas Raja Basukamba lalu melangkah keluar, pergi meninggalkan rumah panggung besar.


Sepeninggal raja, para wanita muda langsung merasa kebebasan. Ada yang berjingkrak ada pula yang menangis keras.


"Biarkan mereka melampiaskan kegembiran, setelah itu baru kita bicara," cegah Begawan Teja Surendra ketika Sungsang hendak berseru minta perhatian.


"Tentu, Begawan."


Sungsang patuh lalu hanya memperhatikan keadaan setiap wanita muda yang bisa dibilang semuanya berparas rupawan. Kulit mereka bersih dengan hidung tidak mancung tetapi tidak pula pesek. Tubuh mereka juga langsing berisi tidak kegemukan meski beberapa ada yang kurus. Pakaian mereka juga tergolong bagus.


Bisa dipahami, sebab mereka adalah para wanita pilihan yang sengaja ditahan oleh para Anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung untuk mereka gunakan sendiri.


Tak berapa lama dibiarkan, beberapa wanita muda tampak berbincang serius di antara mereka lalu kemudian menghampiri Jaga Saksena yang tengah berdiri tenang di samping Begawan Teja Surendra.


Salah satu wanita muda berambut ikal panjang beralis tebal mewakili bicara. Dengan sopan ia bertanya,


"Den Jaga, sepertinya aku dan beberapa lainnya pernah melihat Den Jaga. Apakah Den Jaga yang menyerang Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung?"


"Aku dan Pendekar Merah," jawab Jaga Saksena sembari menunjuk Sungsang dengan jempol jarinya. "Hanya saja waktu itu kami belum bisa membebaskan kalian karena akan sangat beresiko sebab kami belum menyiapkan rencana kelanjutan."


"Artinya ini rencana lanjutan yang Den Jaga maksud?"


Wanita muda berambut ikal panjang sepertinya menjadi pemimpin mereka, sebab selain cantik juga cepat memahami persoalan.


"Betul. Berkat bantuan Begawan Teja Surendra, kalian bisa bebas dengan cepat."


Mendapat jawaban itu, para wanita muda itu mengucapkan terimakasih berulang-ulang baik pada Jaga, Sungsang maupun Begawan Teja Surendra.