Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 9. Keluar Dari Hutan



Hujan di luar sana mulai reda ketika,


"Argghh ...!"


Jaga Saksena melenguh menahan sakit kala memupuhkan ramuan obat luka pada lubang pantatnya yang robek.


'Untung saja tongkat yang digunakan tidak terlalu besar, jika tidak ... aku tidak akan pernah memaafkan lelaki tua itu!'


Usai mengikat kencang pada bagian yang perlu diikat agar ramuan tidak jatuh, Jaga Saksena kembali dari belakang.


"Terimakasih atas ramuan yang kalian berikan!" Jaga Saksena berkata sembari menggerakkan tangannya. Tampak pergelangan dua tangan Jaga juga diperban akibat luka gesekan dengan tali.


Kepala Suku Smito, Seti dan Peko mengangguk. Mereka tidak berani menatap Jaga Saksena sebab perintah dari Sang Baghala sebelum pergi sangat jelas. Yakni untuk mengobati luka Jaga Saksena, memberikan makanan dan juga melayani apa pun yang diinginkannya.


Umbi-umbian yang direbus juga daging telah disuguhkan. Tetapi Jaga Saksena hanya memandangnya.


'Aku tidak boleh makan lagi sebelum luka di pantatku mengering. Akan berbahaya jika tiba-tiba perutku mules.'


Hari berganti, Jaga Saksena harus tinggal guna menungu lukanya sembuh. Dan selama itu pula, bocah itu puasa.


Puasa telah diajarkan oleh Byung sejak dirinya berusia 5 tahun sehingga Jaga sudah terbiasa. Tiap mengajak Jaga Saksena berpuasa, Byung selalu berkata, "Puasa adalah ajaran turun temurun dari leluhur kita, Ngger. Siapa saja yang ingin kuasa maka harus berani lapar dalam puasa!"


*


Berhari-hari Jaga tidak makan, ini membuat Kepala Suku Smito bingung. Tetapi lelaki separuh baya itu tidak berani bertanya. Lagi bahasa si bocah tidak bisa dipahaminya.


Meski begitu, Kepala Suku Smito selalu menyuruh istri atau anaknya untuk menyuguhkan makanan.


Beberapa hari tinggal di rumah kepala suku, tahulah Jaga bahwa wanita muda yang menyuguhi makanan pula pernah menyuapinya adalah anak kepala suku. Adik dari Peko.


Lima hari berlalu, selama itu pula Jaga menahan lapar dan juga menahan agar tidak buang air besar.


Rasa mulas mulai Jaga rasakan ketika memasuki hari ke enam.


'Luka luar mungkin sudah sembuh, tetapi bagaimana dengan luka bagian dalam? Sebaiknya aku menahan diri hingga sekuat mungkin!' putus Jaga Saksena.


Di hari ke delapan, rasa lemas lapar akibat puasa kalah oleh rasa sakit perut. Jaga pun tidak lagi bisa menahan mulas perutnya hingga meneteskan air mata.


Akhirnya Jaga Saksena bergegas mencari tempat sepi. Menggali tanah untuk mengebumikan setoran warna emasnya.


Berdebar! Baru kali ini Jaga Saksena serasa tak rela melepas sesuatu yang biasanya akan sangat melegakan ketika ia buang.


'Duh ....' khawatir hati Jaga.


Akan tetapi ketika dirinya memberanikan diri mengeluarkan.


"Akh .... sungguh bahagia itu sederhana ...!"


Jaga Saksena tersenyum senang, sebab tidak ada rasa sakit di bagian dalam anusnya seperti yang ia khawatirkan.


Usai membersihkan diri, Jaga Saksena segera kembali.


Tujuh hari tidak makan membuat si bocah benar-benar merindukan makanan. Maka, makanan yang dihidangkan ia sikat habis. Tentu hanya umbi-umbiannya saja, daging tak berani sedikit pun Jaga sentuh. Sebab Jaga Saksena sudah tahu mereka suku pemakan daging manusia.


Bergaul selama berhari-hari dengan anak kepala suku dan juga warga lain membuat Jaga sedikit tahu kehidupan suku Smito.


Jaga pun mengambil kesimpulan, suku Smito bukanlah manusia yang diceritakan oleh Byung. Sebab tidak ada nasi di peradaban suku ini.


Usai makan, Jaga Saksena memutuskan untuk melanjutkan perjalanan guna menemukan manusia. Manusia yang pernah dikisahkan oleh sang Byung.


Bocah itu pamit kepada kepala suku dan juga warga dengan bahasa isyarat.


'Nenek berkalung tengkorak, kenapa dia tidak pernah muncul lagi?' tanya Jaga Saksena dalam hati karena tidak pernah lagi melihat si nenek sejak malam itu.


Nenek Seti memang tidak pernah lagi memunculkan batang hidungnya, sebab malu. Maka, Seti mengurung diri di dalam rumahnya berhari-hari. Berharap Sang Baghala akan muncul untuk menjawab apa sebenarnya yang telah terjadi.


Namun, Sang Baghala seolah tidak pernah ada. Dia menghilang. Meski dipanggil sepanjang malam, Sang Baghala tak pernah datang.


***


"Woro-woro!"


Dua orang berpakaian seragam dari atas kudanya meneriakkan sebuah pengumuman. Semua orang _yang tengah menawarkan atau menawar harga_ terdiam menunduk patuh untuk mendengarkan.


Bahkan orang yang tengah mengunyah makanan di kedai-kedai harus menghentikan gerakan mulutnya. Sebab woro-woro dari prajurit biasanya adalah sesuatu yang sangat penting.


"Yang mulia Raja Basukamba Penguasa Kerajaan Saindara Gumilang mengadakan sayembara. Dua pekan dari hari sekarang akan diadakan pertarungan terbuka di alun-alun utara. Siapa pun yang menjadi juara akan diangkat menjadi Senopati!"


Sontak, orang-orang menyambut dengan gegap gempita. Sebab;


Bagi rakyat biasa, pertarungan di ajang sayembara ini merupakan hiburan tersendiri.


Bagi para pendekar, sayembara ini bisa digunakan untuk unjuk kemampuan atau hanya sekedar menjajal kekuatan diri.


Untuk para penjudi, sayembara seperti ini adalah ajang bertaruh besar-besaran.


Sedang para pedagang akan menggunakan kesempatan ini untuk menjajakan dagangannya. Menjadikan pinggiran alun-alun yang luas itu sebagai pasar dadakan. Mereka akan menggelar lapak-lapak di sana, terutama lapak senjata.


Tak kalah, para murid padepokan akan turut serta meramaikan atau sekedar menonton untuk menambah pengalaman bertarung.


Maka, acara besar dari Sang Raja Basukamba bisa dipastikan sangat ramai. Orang-orang akan tumpek blek berkumpul di sana.


***


"Sungai!!"


Jaga Saksena berteriak sangat kegirangan. Bagaimana tidak? Telah lebih dari dua puluh lima hari sejak dirinya berenang keluar dari pulau kecil, baru kali ini ia menemukan sungai.


Byurrr!


Setelah memastikan tidak ada buaya, sesuai yang diajarkan Byung dengan melemparkan batu ke permukaan air, Jaga Saksena terjun bebas.


"Segaarrr!"


Jaga Saksena mencopot baju, mencucinya kemudian menggosok seluruh tubuh dengan batu agar daki luntur.


Tak lupa, Jaga Saksena juga membersihkan giginya dengan pasir sungai. Meski setiap hari membersihkan gigi dengan ranting yang ia kunyah, membersihkan gigi dengan pasir sungai memberikan kesegaran tersendiri.


Demikian pula dengan rambut Jaga yang gondrong,


"Akhirnya daun yang kubawa ini berguna!"


Jaga Saksena menemukan daun pembersih rambut saat di hutan. Daun yang sama yang biasa ia gunakan ketika di pulau kecil. Di perjalan menembus hutan, berharap akan menemukan sungai, bocah itu memetik beberapa lembar lalu menyimpan di kantong kulitnya.


Kantong kulit yang kuat, cukup besar pemberian Kepala Suku Smito kala dirinya pamitan. Terbuat dari kulit berwarna loreng.


Sangat senang menikmati segarnya air sungai, Jaga Saksena tidak menyadari ada dua pasang mata mengintai dari balik batu besar di seberang sungai.


"Pucuk dicinta, telur pecah, Adi!"


"Iya Kakang! Kita tangkap bocah itu, lalu kita jual!"


"Sekali menepuk dua lalat!"


"Bodoh! Yang benar sekali dayung dua pulau terlampaui!"


"Tapi kita tidak tengah di perahu, Kakang!"


Plakk!


"Aughh!"


Mendengar suara orang mengaduh, Jaga Saksena baru sadar jika ada orang lain di tempat ini,


"Siapa di sana?!"