Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 81. Kedigdayaan Sundara Watu



Tewasnya Raja Draleka membuat Suku Lembah Kenabala kabur dengan tanpa lagi pedulikan kawan. Mereka berlarian pontang-panting, bahkan satu pemimpin perang yang masih hidup yaitu Sakriwa ikut kabur tanpa pedulikan lagi anggota sukunya yang tersisa.


Perburuan pun dilakukan oleh pasukan kerajaan.


Ketika hiruk-pikuk pengejaran dilakukan, di sisi utara medan perang, pertarungan Jaga Saksena melawan Sundara Watu masih tampak seimbang. Itu disebabkan tubuh kebal Sundara Watu.


Beberapa kali Jaga Saksena berhasil menyarangkan serangan ke tubuh Sundara Watu, akan tetapi lelaki bertubuh keras itu hanya terdorong beberapa tombak ke belakang.


Memasuki pertukaran serangan ke seribu, area pertarungan telah porak poranda. Pohon-pohon bertumbangan, lubang maupun sirip di tanah bermunculan.


Duarrt!


Satu ketika, Jaga kembali berhasil memasukkan serangan tapak ke dada Sundara. Hal yang sama berulang, lelaki itu terpental ke belakang bagai melayang beberapa tombak.


Tapi kali ini, Jaga Saksena tak sia-siakan kesempatan. Pemuda itu lesatkan tubuh ke atas depan untuk lepaskan pukulan jarak jauh bertubi-tubi.


"Rasaning Rasa! Heaaa ya ya ya ya ya ya!"


Entah berapa kali Jaga menembakkan energi beruntun.


Tubuh Sundara Watu amblas menghempas bumi, akan tetapi Jaga Saksena makin menggila dengan terus menghujani serangan beruntun.


Tep!


"Host! Host! Host!"


Mendarat, Jaga terengah-engah, lebih dari seratus serangan telah ia luncurkan. Tempat di mana Sundara terhempas tak lagi terlihat akibat pekatnya kepulan tanah yang bermuncratan ke udara.


Serangan bertubi-tubi Jaga membuat kaget semua orang yang tidak ikut mengejar pasukan Suku Lembah Kenabala. Sebab menderita luka atau harus menolong kawan-kawan yang terluka, mereka tidak ikut mengejar musuh yang kabur.


"Siapa pemuda itu, luar biasa!"


"Gila! Lebih dasyat dari yang tadi!"


Mereka membandingkan dengan ledakan kala Sungsang beradu ajian dengan Raja Draleka. Bisa dikata ledakan kali ini lebih dasyat sebab Jaga Saksena menyerang secara beruntun sehingga dentuman terus terjadi berturut-turut.


Bersamaan dengan luruhnya tanah kembali ke bumi, lamat-lamat terlihat seorang yang berjalan keluar dari kepulan debu dan tanah.


Itu adalah Sundara Watu, pakaiannya hanya tinggal sesobek kain yang menutupi ********.


"Hanya itu kemampuanmu, Sudra?! Cuihh!" Sundara Watu meludahkan air mulutnya yang berasa kotor oleh debu.


Jaga Saksena mengernyit dahi, mengatur napas lalu menimpali,


"Oh, kau masih mampu bertahan rupanya."


"Serangan yang hanya mampu mengusir lalat, bagaimana bisa melukaiku?!" Sundara Watu memasang wajah jumawa dengan dada sedikit membusung.


'Pantas Sungsang tidak berani bertindak, ketua Kelompok Pemburu Budak Gunung ini sungguh sangat tangguh!' batin Jaga Saksena tak menimpali ucapan sombong Sundara Watu.


Melihat lawan terdiam, Sundara Watu menyusuli perkataan,


"Sebaiknya kau bergabung saja denganku, Sudra. Kau akan kuangkat menjadi kesatria. Kau masih begitu muda, masa depanmu akan cerah jika mau menjadi pengikutku! Aku Sundara Watu tidak pelit seperti manusia lemah itu!"


Sundara Watu menunjuk ke arah di mana Raja Basukamba tengah duduk memulihkan diri.


"Dia, Basukamba, manusia lemah tak berguna seorang yang pelit berbagi. Harta ia kungkungi, wanita ia nikmati sendiri! Bersamaku milikku adalah milikmu!" lantang Sundara Watu berkata, jelas ia bermaksud agar Raja Basukamba mendengar.


"Pelit adalah sifat tercela, tetapi berbagi wanita adalah sesuatu yang sangat keji. Itu adalah perbuatan yang dilarang!" Jaga Saksena berusaha memberi pemahaman.


"Dilarang oleh siapa, hah?! Hahahaha! Akulah yang berhak melarang! Akulah yang membuat peraturan!"


"Gusti Alloh Ta'ala!" jawab Jaga Saksena.


"Gusti Alloh lagi. Hahahaha! Mana? Mana? Apakah dia menolongmu mengalahkanku?! Lihat aku baik-baik saja, bukan? Lihat! Lihat!"


Sundara Watu memamirkan tubuhnya yang ngotak, baik di perut, dada, paha maupun tangan. Memang tak ada luka sedikit pun di sana.


Yang dimaksud penceramah ndobol oleh Sundara Watu adalah para resi dan biksu.


"Bersama Gusti Alloh adalah surga! Aku tidak memerlukan semua yang kau imingkan!" Jaga Saksena kembali memberi jawaban sekaligus bersiap menyerang.


Di dekat Raja Basukamba yang tengah duduk bersila, Putri Andara Anesha Sari diam-diam menajamkan pendengaran. Hatinya bertanya-tanya siapa sebenarnya Gusti Alloh yang beberapa kali disebutkan. Putri rupawan itu bisa mendengarkan dengan baik karena tidak lagi harus menyerang pasukan musuh. Sebab pasukan musuh telah kocar-kacir melarikan diri.


"Kau menolak tawaranku?!" desak Sundara Watu menyeringai penuh ancaman.


"Meski seluruh dunia dan isinya kau berikan kepadaku!"


"Bedebah Sudra Hina! Mampuslah kau! Amukan Batu Neraka! Heaaas!"


Wuuushhh ...!


Tiba-tiba tubuh Sundara Watu menggulung bagai batu bulat sebelum meluncur dengan kecepatan mengagumkan mengarah tubuh Jaga Saksena.


Seketika udara di sekitar jalur luncur tubuh Sundara Watu memanas bagai terbakar.


Ajian Amukan Batu Neraka memang bukan sekedar mengandalkan kekerasan tubuh tetapi juga panas. Lawan bukan hanya akan remuk hancur tetepi juga leleh oleh serangan pemilik ajian ini.


Deb!Deb! Lakukan gerakan tangan cepat, Jaga Saksena dorongkan dua tapak tangan untuk menyambut serangan.


Dua tapak bercahaya setinggi tiga jengkal melesat ke depan.


BUMMMMM ...!


Ledakan akibat tumbukan dua energi terdengar memekakkan telingi. Ada kepulan asap bersama benturan tersebut.


Tubuh Sundara Watu terpental jauh bagai bola batu dilempar oleh katapel. Namun, itu hanya sesaat, kejap selanjutnya ia kembali menderu ke arah Jaga Saksena yang juga terdorong mundur.


"Gusti—"


Bughhh! Srengg!


Tubuh Jaga Saksena terhantam telak. Untung saja, ia telah membuat pertahanan tenaga dalam sesaat sebelum terjadi benturan. Meski begitu, pakaian di bagian dada dan perut Jaga terbakar meninggalkan bekas hitam di kulit.


Tubuh Jaga Saksena terdorong dasyat hingga menghempas sebuah pohon besar di sana. Pohon itu tumbang menimbulkan suara derak bergemuruh disusul gedebam keras.


Belum pun Jaga Saksena bangkit, Sundara Watu kembali datang menyambar sebelum mencelat ke udara.


Swesh!


Datang dari atas tubuh Sundara Watu yang membentuk bulatan laksana bola menghunjam dasyat!


Masih berbaring, Jaga hantamkan dua tangan ke atas.


Wusssh!


BUMMMMM!!


Tubuh Jaga Saksena harus menerima daya kejut tumbukan hingga amblas ke dalam bumi. Tanah di sekeliling Jaga Saksena ikut tercerabut berhamburan sehingga kini pemuda itu seperti berada di bawah kawah kering yang kepulkan asap panas.


Swesss!


Asap masih mengepul ketika bola batu tubuh Sundara Watu kembali datang. Namun,


Glaarrrdh!


Sebuah batang pohon besar menghantam dari kiri. Rupanya, Anesha Sari menggunakan kekuatannya untuk membantu meski jelas tidak berpengaruh sama sekali sebab malah batang pohon yang hancur berkeping-keping. Sedang tubuh batu Sundara Watu tetap meluncur.


Blashhh!


Menghunjam bumi, tubuh Sundara Watu amblas masuk kedalam tanah. Ternyata Jaga Saksena menggunakan kesempatan sekejap tadi _ketika serangan Anesha Sari menghantam Sundara Watu_ untuk melesat pergi.


.