
Di peristirahatan terakhir Raja Basukamba dan Permaisuri Maheswari, Anesha Sari sedang duduk terpekur berkata-kata pada pusara mereka berdua,
"Ramanda, Byungda ... Sumpahku telah terpenuhi oleh Jaga Saksena, semoga kalian tenang di sana. Dan dua hari lagi, aku akan diangkat menjadi ratu. Kuharap kalian merestuiku. Sebenarnya ...."
Anesha Sari mulai mencurahkan isi hatinya yang sebenarnya ia tidak ingin menjadi ratu.
"Akan tetapi aku tak bisa memaksa Kakangda Trengginas untuk menjadi raja, dan Kakangda Yoga Mandala juga entah ke mana. Andai saja Jaga Saksena masih hidup, aku akan serahkan semua ini padanya. Namun ...."
Entah mengapa setiap mengingat kenyataan bahwa Jaga Saksena telah tiada, Anesha Sari tak bisa menahan genangan air matanya.
Gadis cantik itu terdiam larut dalam kenangan indah dan sejuta harapan yang telah pupus sudah.
Byungmban yang menemani di belakang Anesha Sari ikut meneteskan air mata. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menghibur Anesha Sari, karena semua perbendaharaan kata telah ia keluarkan. Lagi, ini adalah tempat persemayaman terakhir raja dan permaisuri, byungmban harus menjaga sikap karena takut kualat jika salah ucap.
'Cinta memang deritanya tiada akhir.' Akhirnya byungmban hanya bisa berucap dalam hati sembari mengusap air mata juga ingus yang meler keluar dari hidungnya.
Syahdu ... Anesha terdiam lama demikian juga byungmban.
Cuitan burung-burung di puncak pohon barsiah berdendang diiringi hembusan angin siang.
Matahari tepat di atas kepala ketika Anesha Sari akhirnya bangkit berdiri. Tak lupa ia juga mengunjungi pusara dua kakangdanya _Tama Wijaya dan Taha Tusta_ yang tak jauh dari pusara utama.
Tak banyak yang diucapkan Anesha Sari, hanya mengatakan telah membalaskan kematian mereka berdua meski bukan dengan tangannya sendiri.
"Semoga kalian tenang di sana!" tutup Anesha Sari sebelum beranjak pergi.
Tempat peristirahatan terakhir raja dan permaisuri serta keluarga sengaja dibuat menyerupai bukit kecil, sehingga untuk menuju ke pusara diperlukan anak tangga batu berjumlah seratus dua belas.
Anesha Sari berjalan pelan menuruni satu demi satu anak tangga. Hingga akhirnya ketika sampai di tangga ke enam dari bawah --di mana ada sebuah bangunan di sisi kanan dan kiri seperti gapura tanpa pintu-- Anesha Sari hentikan langkahnya, membuat byungmban yang berada di belakang ikut berhenti.
Tak berkata, tak bersuara, Anesha Sari terdiam. Mata gadis itu menatap tajam ke depan bawah di mana ada sosok yang tengah duduk di anak tangga pertama. Sosok itu duduk membelakangi, rambutnya sangat pendek seperti baru tumbuh beberapa puluh hari, sementara pakaian biru gelapnya terlihat masih baru.
Melihat Anesha Sari tak juga beranjak turun, byungmban menggesar tubuhnya ke kanan untuk melihat ada apa gerangan.
Postur tubuh byungmban memang lebih pendek dari Anesha Sari sehingga terhalang meski dirinya berada di anak tangga lebih tinggi.
Dan betapa kaget byungmban kala tatapan matanya membentur satu sosok yang duduk membelakangi di anak tangga paling bawah.
'S-siapa itu? A-apakah itu memedi Raja Kama Kumara?!' Byungmban tergagap dalam hati, kakinya mulai sedikit gemetaran.
Wajar byungmban mengira sosok di anak tangga terbawah itu sebagai Kama Kumara. Sebab jika Kama Kumara masih hidup maka panjang rambutnya akan sama dengan rambut sosok tersebut. Postur tubuhnya juga tidak jauh beda.
Memberanikan diri, byungmban berkata,
"T-tuan Putri, T-tak perlu takut, ada byungmban di sini."
Tak ada reaksi dari Putri Anesha Sari kecuali perlahan kembali turun dan berhenti di anak tangga ke dua.
Sungguh perbuatan Putri Anesha Sari membuat Byungmban ingin ngacir pergi. Hanya saja, untuk lakukan itu tentu ia tak berani. Maka, sekuat tenaga byungmban menekan rasa takutnya dengan berkata dalam hati,
'Aku berani! Aku bukan penakut! Aku seorang perempuan perkasa! Perempuan pemberani!'
"Assalamualaikum wa rohmatullahi wa barokatuh ...."
Tiba-tiba Putri Anesha Sari mengucapkan kalimat yang cukup asing di telinga byungmban. 'Oh ini pasti mantra pengusir memedi! Putri Anesha Sari memang serba bisa!' pikirnya.
Namun, betapa kaget sang byungmban kala mantra itu mendapat jawaban dari sosok yang ia kira memedi Kama Kumara,
"Wa'alakumussalam wa rohmatullohi wabarokatuh."
'M-medi itu?! Dia mampu menjawab mantra pengusir!' seru hati byungban semakin ketakutan, napasnya memburu cepat dengan dada berdebar, sedang kakinya semakin keras bergetar.
*
Sosok berambut sangat pendek itu bangkit berdiri dengan tenang lalu berpaling.
Kini tampaklah wajah muda yang bersih tampan berhias senyuman membuat setiap hati wanita tertawan. Sebuah kapak hitam menggelantung di pinggang si pemuda.
"Serasa telah 40 tahun menanti, tetapi sungguh hati ini tidak menyesal karena kutahu kau pasti kembali!" ucap lirih Anesha Sari hampir saja menghamburkan diri, tetapi ia tahu itu hanya akan membuat malu sendiri, sebab pemuda di hadapannya akan menolak dipeluk secara pasti.
"D-Den Jaga!!" seru byungmban gembira, bukan hanya karena rasa takutnya hilang seketika tetapi merasa senang bahagia karena apa yang diyakini putri asuhnya benar, Jaga Saksena masih hidup!
"Maafkan jika menunggu 40 hari, Putri. Tetapi itu harus kulakukan sebab—"
"Ceritakan nanti, Jaga. Apa pun alasanmu, aku percaya. Untuk sekarang mari kita pulang!"
Sebelum meninggalkan tempat itu, Putri Anesha Sari menyuruh byungmban untuk memanggil Patih Sepuh Labda Lawana ke rumah.
Tiba di kaputren, kedatangan Putri Anesha Sari bersama Jaga Saksena segera disambut meriah oleh para abdi dalem.
Jaga Saksena menyapa mereka semua dengan ramah serta mengucapkan terimakasih telah menyambutnya.
"Siapkan makanan besar dan enak, Bibi. Kita akan kedatangan banyak tamu hari ini." Anesha Sari memberi perintah pada kepala juru masak.
"Sendiko Dawuh, Tuan Putri ...."
Anesha Sari mengajak Jaga Saksena duduk di ruangan depan yang luas lalu bercerita bahwa dirinya dan para perwira mencari Jaga Saksena tiga hari berturut-turut tetapi tidak menemukan apa pun. Hingga akhirnya atas saran patih sepuh dan tumenggung serta para senopati, pencarian dihentikan.
"Tetapi aku percaya kau akan kembali, Jaga. Meski aku tahu mereka mungkin menganggapku gila. Dan lihatlah, apa yang kuyakini menjadi benar adanya!" pungkas Anesha Sari berapi-api.
"Alhamdulillah!" ucap Jaga Saksena menanggapi, "Apa kau tidak ingin aku bercerita kenapa begitu lama aku kembali?"
"Aku sangat penasaran, akan tetapi lebih baik itu disimpan sebagai hadiah pernikahan kita."
Jawaban Anesha Sari cukup membuat Jaga Saksena mengernyit dahi tak mengerti. Ketika ia hendak bertanya, terdengar ucapan salam dari luar. Dari suaranya itu adalah Patih Sepuh Labda Lawana.
"Wa'alakumussalam wa rohmatullohi wa barokatuh!" jawab serentak Jaga Saksena dan Putri Anesha Sari.
Patih Sepuh Labda Lawana masuk, memberi hormat dan dipersilahkan duduk. Bukannya duduk, Patih Sepuh Labda Lawana mendekat dan memeluk Jaga Saksena erat.
Jaga Saksena pun menanggapi dengan menepuk punggung patih sepuh pelan.
"Alhamdulillah ... Senang sekali rasanya, Den. Alhamdulillah ...."
Patih Sepuh Labda Lawana terus mengucap hamdalah hingga akhirnya melepas pelukannya. Tampak mata tuanya berkaca-kaca bahagia.
"Ada kabar yang membuat kita gembira, Den." ucap Patih Sepuh Labda Lawana sembari duduk di kursi samping Jaga Saksena.
"Bertemu denganmu sudah membahagiakan hati ini, Patih Sepuh." Jaga Saksena berkata jujur.
"Ini lebih dari sekedar itu. Putri Anesha Sari sudah masuk islam!"
"Alhamdulillah. Aku sudah menduganya ketika ia mengucap salam padaku, Patih Sepuh."
"Bagaimana kalau pernikahan kalian dipercepat saja?!" tiba-tiba Labda Lawana memberi usul.
"Itulah mengapa aku memanggilmu datang, Patih Sepuh." Anesha Sari menjawab dengan berbinar mata karena apa yang ia pikirkan ternyata malah diusulkan oleh sang patih sepuh.
"Bagaimana jika pernikahan diadakan sesaat sebelum pelantikan?" lanjut Anesha Sari.
"Tidak masalah, Putri. Itu lebih baik. Sekali mendayung dua pulau tercapai!"