
Kabur dalam situasi buruk bukan perkara mudah. Tetapi akhirnya, kesempatan itu datang. Maka anggota kelompok Gobed Hitam itu pun melompat lalu berlari secepat yang ia bisa.
Satu hal yang tidak anggota itu sadari, bahwa kabur membutuhkan kemampuan. Bukan asal ada kesempatan lalu lari menyelamatkan diri. Sebab,
"Larilah ke alam kematian!"
Wuuut!
Mengerahkan seluruh tenaga dalam yang tersisa Bekel Anom Dwijaya melemparkan keris di tangan.
Keris meluncur bagai anak panah lepas dari busur.
Clebb!
Bilah keris menancap persis di punggung musuh hingga tembus ke depan dada!
Saat yang sama, Ki Lurah Danuranda yang melawan dua anggota Kelompok Gobed Hitam telah bisa menguasai pertarungan. Bahkan ki lurah mampu melukai salah satu lengan lawan dengan sabetan keris, dan itu telah cukup untuk membunuhnya di beberapa waktu ke depan. Sebab bilah keris ki lurah mengandung upas (racun_pen) kodok ganas.
Ki Lurah Danuranda kini memusatkan diri menyerang lawan satunya, karena ia harus bergegas membantu Ki Bekel Sepuh Tangguljati yang mulai direpotkan oleh permainan dua gobed lawannya.
Tidak butuh waktu lama, keris berupas Ki Lurah Danuranda kembali menggores kulit lawan.
Srett!
Berbarengan dengan itu, lawan yang tergores lebih dulu tiba-tiba berhenti menyerang sebelum terguling. Racun telah mencapai organ dalamnya.
"Keparat! Kau menggunakan senjata beracun!" teriak anggota Kelompok Gobed Hitam yang masih bertarung melawan ki lurah.
"Apa pedulimu! Pencucuk Langit! Heaa!" Alih-alih mengendorkan serangan setelah berhasil menggores luka, Ki Lurah Danuranda percepat gerakan untuk melakukan serangan bertubi-tubi.
"Banteng Mengamuk!"
Menyadari racun akan segera beraksi pada tubuhnya, lelaki sedikit botak itu memutar gobed di tangan dengan sebat, mengeluarkan jurus pamungkas.
Pada dasarnya, Kelompok Gobed Hitam direkrut dari berbagai pendekar berbeda aliran sehingga mereka memiliki kemampuan masing-masing. Gobed hanya sebagai penanda mereka satu kelompok.
Tang! Ting! Trang!
Percikan kembang api makin intens terlihat hingga,
"Heghh!"
Keris di tangan Ki Lurah Danuranda menghunjam perut lelaki sedikit botak sampai tembus ke belakang.
Di sisi lain, Bekel Sepuh Tangguljati yang melawan dua anggota Kelompok Gobed Hitam telah dibantu Bekel Anom Dwijaya juga empat pemuda peronda. Jelas saja, keadaan berbalik. Kini dua anggota Kelompok Gobed Hitam harus berada di posisi bertahan.
Apalagi beberapa saat kemudian, ketika Ki Lurah Danuranda ikut membantu, tak butuh lama dua anggota Kelompok Gobed Hitam itu terluka di sana sini sebelum benar-benar meregang nyawa.
Berbarengan dengan tumbangnya seluruh anak buah Jalada, kentongan dipukul bertalu-talu. Orang-orang mulai berdatangan dengan membawa obor di tangan.
"Ki Lurah! Kita bantu pemuda itu!" Bekel Anom Dwijaya yang merasa pernah ditolong orang tentu saja bersemangat untuk menolong orang pula.
"Tidak perlu! Aku percaya, pemuda itulah yang telah membantumu. Lagi, apakah matamu tidak melihat kecepatan gerak keduanya?"
Saat ini pertarungan antara Jaga Saksena melawan Jalada memang telah memasuki kecepatan yang tak mudah diikuti oleh mata biasa. Di bawah cahaya obor, mereka bagai dua bayangan yang berkelabatan saling serang.
"Betul, Ki Lurah. Pasti pemuda itu yang diam-diam membantu kita. Lihat!" Surata membenarkan dengan menunjukkan kapak batu usang. "Benda ini yang menghantam pingsan musuh yang hendak membunuhku!"
"Bukankah ini milik pemuda itu?" tanya Ki Lurah.
"Tepat sekali, Ki Lurah!"
"Siapa dia? Masih begitu muda tetapi memiliki kemampuan luar biasa." Ki Lurah bergumam lirih sebab tidak berharap pertanyaannya mendapat jawaban dari orang-orang yang ada di dekatnya.
Sama halnya, Ki Bekel Sepuh, Bekel Anom dan semua orang-orang yang ada, mereka hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Meski tak dipungkiri, ada sedikit kekhawatiran jangan-jangan sang pemuda juga membawa maksud jahat.
Beberapa saat kemudian, Ki Lurah Danuranda baru teringat pada warganya yang telah ikut bertarung mempertahankan desa. Lurah berbelangkon itu menghampiri para pemuda,
"Baik, Ki!"
Di medan pertarungan Jaga Saksena melawan Jalada, rumput dan semak telah berhamburan. Mosak-masek! Lubang-lubang menganga tampak di tanah. Andai di sekitar banyak pohon niscaya sudah hancur bertumbangan.
Jalada masih berusaha keras memasukkan serangan ke jantung pertahanan lawan dengan menaikkan tingkat jurusnya.
Namun, semakin tinggi tingkat jurus yang Jalada mainkan dan semakin cepat gerakan yang ia tunjukkan, tetap saja lawan bisa mengimbanginya.
Ini membuat Jalada sadar telah melakukan kesalahan dengan meremehkan sang pemuda. Apalagi setelah tahu hanya tinggal dirinya seorang yang masih bertarung dan menjadi pusat perhatian para warga yang menyaksikan dari kejauhan.
Tak lagi anggap lawan seorang bocah yang bisa diremehkan, Jalada cabut senjata.
"Pusaka Gobed Hitam! Mencacah Buih Lautan!"
Wuud! Wuud!
Gobed hitam di tangan Jalada bukanlah gobed biasa sebagaimana gobed milik anak buahnya, melainkan gobed pusaka.
Suara gobed pusaka di tangan Jalada menderu-deru bagai sesuatu yang hendak mencaplok dan memangsa.
Sekarang, keadaan berbalik. Jaga Saksena mulai didesak serta dipaksa untuk bertahan akibat jurus dasyat lawan. Masih ditambah Jaga tak berani gegabah untuk beradu tangan kosong dengan senjata pusaka.
Bertahan hingga seratus serangan senjata lawan, Jaga akhirnya mengambil keputusan untuk menggunakan energi ruhnya.
Slap!
"Menghilang?!" pekik para warga biasa yang menonton dari kejauhan, mata mereka tak mampu lagi melihat gerakan Jaga Saksena.
Laju pusaka gobed di tangan Jalada yang saat ini tengah membabat ke arah perut, bagi Jaga, berubah menjadi gerakan pelan.
Maka dengan mudah, Jaga menghindar dengan cara melenting ke udara sekaligus memasukkan serangan tamparan ke kepala bagian belakang lawan.
Pangg!
Akibat tamparan tersebut, tubuh pemimpin Kelompok Gobed Hitam itu terluncur ke depan bagai terbang.
Belum berhenti, Jaga yang bergerak sangat cepat telah berada di atas tubuh Jalada untuk hunjamkan kaki kanan.
Bughh!
Wughs!
Tubuh Jalada menukik kencang sebelum menghempas tanah hingga amblas.
"Argghhh ...!"
Jalada merasa tubuhnya remuk redam, bahkan ketika ia hendak bangkit,
Stakk!
Tubuh Jalada tidak lagi dalam kendali pikirannya. Sekeras apa pun Jalada hendak bergerak, tubuhnya kaku bagai batu. Rupanya Jaga Saksena telah menotoknya dari jarak jauh.
Saat itulah ...,
"Huuuhhhaaaa ...!"
Para warga yang telah kembali melihat wujud Jaga Saksena yang kini tengah berdiri seorang diri di medan pertarungan bersorak gembira. Mereka segera berlarian membawa obor untuk melihat lebih jelas siapa gerangan pemuda yang begitu hebat itu.
***
Dukung juga author di kary*karsa dot com, buka di web atau apk lalu search kangjey.
Terimakasih semuanya semoga terhibur