Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 19. Sang Penolong



Pertarungan jarak jauh antara Pendekar Lebur Guntur melawan banaspati masih berlangsung imbang.


Tidak setelah banaspati menggandakan diri dan mulai ganas menyerang balik. Tidak hanya dari jarak jauh dengan menembakkan bola api kecil tetapi juga menyerang langsung dari jarak dekat.


Perhatian Ki Mertayuda terpecah. Inilah yang membuat dirinya kewalahan.


Hingga, dalam satu kesempatan, banaspati berseru,


"Mampuslah kau manusia!"


Banaspati menembakkan tiga bola api sebesar kepala mnausia secara bersamaan. Dari dua tangan, dua bola api mengarah ke samping kanan dan kiri Mertayuda. Sedangkan satu bola api _yang meluncur dari mulut_ mengarah langsung ke tubuh.


Berbarengan dengan itu, sosok api hasil penggandaan banaspati menukik dengan sangat cepat, merentangkan kedua tangan apinya lebar-lebar bermaksud menabrakkan diri dari arah belakang.


Sebenarnya, andai dari depan serangan tersebut akan mudah diatasi oleh Mertayuda tetapi ini dari belakang.


Mertayuda menggenjot tubuh, melenting ke udara sembari melepas dua pukulan Lebur Guntur yang ternyata bisa dihindari oleh banaspati.


Namun, saat yang sama ketika Mertayuda melenting ke udara, sosok hasil penggandaan banaspati membelok mengejar ke atas. Dan ....


Desss! Srenggg! Gedebugh!


Sosok hasil penggandaan banaspati memeluk erat tubuh Ki Mertayuda hingga terdengar suara terbakar diikuti suara benda yang jatuh menghempas bumi.


Itu adalah suara gedebam badan Ki Mertayuda yang tak mampu mengendalikan tubuhnya agar tidak jatuh menghantam tanah akibat terselubungi api.


Untung saja, Ki Mertayuda melindungi diri dengan tenaga dalam sehingga tidak ada efek buruk dari benturan dengan tanah.


Ketika punggung menghantam bumi, Ki Mertayuda lekas bergulingan. Berharap api akan padam. Ternyata tidak semudah itu, api penggandaan banaspati bukanlah api biasa.


Saat itulah,


Byuurrrr!


Siraman bagai air bah mengguyur tubuh Ki Mertayuda.


Serta merta, api yang menyelubungi lelaki separuh baya itu padam. Mengepulkan asap hitam ke angkasa.


"Hahahaha! Mampus kau banaspati jelek!"


Rupanya Rawal dan Pekok datang di saat yang tepat.


Banaspati asli yang tengah melayang di udara terkejut, tak menduga akan ada bantuan datang dan mampu memadamkan nyala api sosok hasil penggandaan dirinya.


"Sial, kenapa kalian ikut campur urusan! Terima serangan!"


Wuusss!


Banaspati melepas tembakan bola api sebesar kepala manusia. Namun,


Chresss ...!


Dengan cerdik Rawal menerima serangan menggunakan mulut gentong besar yang masih tersisa seperempat air di dalamnya.


"Hahaha!" Rawal tertawa puas.


"Bedebah!" maki banaspati kesal sembari kembali menembakkan bola api.


Kejadian berulang, bola api padam kala masuk ke dalam gentong besar. Ini membuat banaspati panik.


Di saat yang sama, Rawal berteriak keras,


"Mari kita tangkap dan masukkan makhluk terbakar itu ke dalam gentong, Adi Pekok!"


"Siap Kakang! Biar padam dan mampus dia!"


Siasat yang diterapkan Rawal dan Pekok terbukti jitu. Banaspati yang panik dan takut sekonyong-konyong terbang kabur ke arah timur!


"Dasar pecundang!"


Pekok meneriaki banaspati yang kabur, sedang Rawal menurunkan gentong besar lalu menghampiri Ki Mertayuda yang tergeletak di tanah.


Badan Ki Mertayuda tampak gosong dan mengepulkan asap.


"Pendekar Lebur Guntur! Kau tidak apa-apa?!" tanya Rawal memeriksa keadaan Mertayuda.


"Tidak apa-apa bagaimana? Jelas tubuhku gosong seperti ini!" jawab lemah Ki Mertayuda sembari menahan rasa panas yang menyelubungi.


Tak berpikir dua kali, Rawal segera membopong tubuh Ki Mertayuda.


"Adi Pekok, cepat minta Ki Pandu untuk siapkan pembaringan!"


"Siap Kakang!"


Di dalam kedai bagian dalam, mau tak mau Putri Lembayung Adiningrum harus terdiam tatkala Pekok memasuki ruangan kemudian disusul Rawal yang membopong tubuh Ki Mertayuda.


*o*


Kicaun burung berlomba menyambut pagi yang datang.


Kedai Ki Pandu ramai oleh para warga yang datang. Bukan hanya di dalam kedai tetapi juga di halaman.


Dari semalam mereka telah mendengar ledakan-ledakan di udara tetapi tidak berani keluar.


Bahkan di antara mereka _yang rumahnya tidak terlalu jauh dari kedai_ ada yang berusaha mencari tahu apa yang tengah terjadi dengan mengintip dari balik dinding.


Namun apa yang mereka lihat hanyalah menambah ketakutan.


Hingga ketika gelap hilang tergeser oleh terang, mereka berbondong-bondong menuju kedai untuk bertanya apa sebenarnya yang terjadi semalam.


Bagai menonton pagelaran wayang, para warga itu duduk diam mendengarkan Pekok yang berkisah dengan nada suara meledak-ledak. Bahkan juga Ki Bayan selaku kepala desa turut duduk mendengarkan dengan seksama.


Panjang lebar bercerita dengan bumbu luar biasa epik, akhirnya Pekok memberikan kalimat penutup,


"Begitulah, jika tidak ada kami, Dua Pendekar Golok Buntung, maka bisa dipastikan keselamatan Putri Lembayung Adiningrum terancam!"


Suara keras Pekok terdengar hingga ke dalam. Ini membuat Rawal yang menunggui Ki Mertayuda di dalam kamar bergeleng-geleng pelan. Lalu dengan sopan Rawal meminta maaf pada Ki Mertayuda.


"Ki Mertayuda, mohon perkataan saudaraku itu jangan kau ambil hati. Dia memang sedikit bodoh nan dungu."


Ki Mertayuda yang seluruh tubuhnya dibaluri ramuan dedaunan hijau bercampur enjet putih itu tersenyum, lalu berkata pelan,


"Apa yang dia katakan benar. Tanpa kalian berdua mungkin aku sudah tinggal nama. Terimakasih Sedulur Rawal, sampaikan juga terimakasihku pada sedulur Pekok. Aku berhutang budi pada kalian berdua. Satu saat nanti, pasti aku akan membalasnya."


"Ah, Ki Mertayuda, tidak perlu membalas budi. Sudah menjadi tugas kami untuk membantu yang memerlukan pertolongan," sahut Rawal berbasa-basi padahal dalam hati jelas dirinya mengharap balas budi satu saat kelak jika membutuhkan.


Baru saja Rawal selasai bicara, Putri Lembayung Adiningrum yang berada di kamar sebelah, tetiba muncul dari balik pintu dan langsung menyambar perkataan,


"Yang harus dipegang dari dan oleh seorang lelaki adalah ucapannya."


"Oh tentu saja, Putri!"


"Jika begitu, kau harus menolongku ...."


*


Ketika Putri Lembayung Adiningrum bicara serius pada Rawal di luar Balkhi Supekok yang menjadi pusat perhatian seluruh warga tengah dielu-elukan sebagai pahlawan. Membuat lelaki itu tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya yang besar.


Berbarengan dengan itu, Ki Pandu menawarkan minuman dan sarapan pagi berupa singkong rebus yang ia ambil pagi-pagi benar dari kebunnya.


"Ini cuma-cuma sebagai ungkapan rasa bahagia kita, karena telah mampu mengusir banaspati!" terang Ki Pandu kala beberapa orang terlihat sungkan.


"Atas nama pribadi dan warga, aku mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya, Ki Pandu," ucap Ki Bayan selaku kepala desa.


"Tak perlu sungkan, Ki Bayan. Silahkan ... silahkan!"


Segera suasana bahagia dalam kebersamaan membuncah. Sambil makan mereka terus saja memuji Dua Pendekar Golok Buntung.


"Dua Pendekar Golok Buntung memang hebat!"


"Pendekar Balkhi Supekok memang luar biasa pintar! Bisa menemukan kelemahan banaspati. Mulai sekarang kita tidak perlu takut lagi!"


Demikianlah, pujian terus mengalir membuat kepala Pekok terasa ditiup membesar. Hingga sebuah teriakan terdengar dari arah jalan.


"Ramaaaa!"


Seorang anak kecil memasuki halaman kedai sambil berlari memanggil ramandanya.


"Ada apa, Barla?!" Seorang lelaki masih cukup muda bangkit menyambut si anak yang terengah-engah.


"Hosst ...! Hosst ...!"


"Berikan dia minum!" seru Ki Bayan.


Seorang wanita menghampiri si bocah bernama Barla untuk memberi minum.


Setelah cukup minum dan sedikit bernapas dengan teratur, Barla berkata cepat,


"Di sana, di bawah pohon asem ada mayat!"


Sontak semua orang terkejut termasuk Balkhi Supekok. Lelaki bergigi besar-besar itu mendekat,


"Apakah mayat seorang anak seusiamu?!"


"Betul, Paman!"


"Cepat kita ke sana!"


**⁰0⁰**