
"Sial! Sial! Sial!" kesal bukan main si gadis. "Sebaiknya kuseret saja tikus ini, setelah dia sadar baru akan kubunuh!"
Memasukkan cundrik kembali ke warangkanya di pinggang, Lembayung Adiningrum kemudian mencekal pergelangan kaki Jaga Saksena dengan tangan kiri, lalu menyeretnya.
Srak! Srak!
Baru dua langkah, Lembayung Adiningrum sedikit mendongakkan kepala, memandang gelapnya sekitar akibat rindangnya pepohonan.
Tetiba,
'Kenapa bulu kudukku merinding?!'
Lembayung mengusap tengkuknya sendiri yang terasa seperti tertiup napas seseorang.
Set!
Gadis itu menengok dengan cepat. Namun tak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya pohon besar menjulang tinggi. Di bawah redupnya sinar bulan, pohon ini seperti makhluk raksasa yang menyeramkan!
'Pasti ini hanya perasaanku saja!'
Lembayung membatin lalu kembali melangkah menyeret tubuh Jaga Saksena. Namun, baru beberapa langkah, tangan kiri Lembayung yang mencengkeram pergelangan kaki si bocah merasakan ada gerakan.
'Akhirnya!'
Bugh!
Gadis itu membanting kaki Jaga Saksena lalu membalik badan. Dan benar, si bocah bergerak!
"Arhh ...! Byung ...!"
Suara rintihan lemah keluar dari mulut Jaga Saksena. Bagaimanapun, Jaga Saksena hanyalah seorang bocah yang baru berusia 10 tahun.
Dari sudut mulut Jaga meleleh cairan, darah. Demikian juga hidungnya. Benturan keras bisa jadi telah melukai organ dalam si bocah.
Tapi siapa yang peduli, Lembayung Adiningrum malah tersenyum lalu mengangkat kaki kanannya dan,
Hugh!
Lembayung menggejoh (menginjakkan kaki dengan kuat, lalu mengangkatnya dengan cepat_pen) perut Jaga Saksena hingga membuat bocah itu melengkung tubuh.
"Sadarlah cepat!" teriak Lembayung. "Atau kubunuh kau dalam pingsanmu!"
Tubuh Jaga Saksena tampak kembali bergerak. Bocah itu membuka mata. Rupanya injakan kaki Lembayung serta bentakannya membuat jaga tersadar sepenuhnya.
"Ahh ... kau lagi, rupanya aku belum mati!" Masih memegang perut, dengan suara lemah Jaga Saksena mendesah kecewa.
"Aku sengaja menunggumu sadar, agar aku bisa membunuhmu!"
Sret!
Lembayung kembali menghunus cundrik dari pinggang.
"Bunuh sajalah, aku sudah lelah untuk berlari darimu!"
"Kukabulkan keinginan—"
Ucapan Lembayung yang telah mengangkat tinggi cundrik dengan dua tangan harus terputus oleh cahaya merah kekuningan yang tiba-tiba muncul dari balik pohon besar.
"Ban-ban ... banaspati!" tergagap Lembayung Adiningrum, tersurut mundur sebelum membalik badan lalu ngacir kabur.
"Jangan kau kira aku akan berterimakasih padamu!" ketus Jaga Saksena, kali ini sembari mengusap dadanya yang memar akibat tertendang kuda kemudian menabrak pohon.
"Hahaha!"
Suara tawa terdengar jauh dari telinga Jaga. Tetapi tidak samar lagi, suara itu berasal dari sosok api merah kekuningan yang mengambang dua tombak di atas tubuh Jaga Saksena.
Meski berjarak dua tombak, Jaga Saksena merasakan hawa panas dari sosok api tersebut.
Usai tertawa Banaspati berkata,
"Aku bisa memberimu kesembuhan, Bocah!"
"Sudi!"
"Juga memberimu kekuatan!"
"Emoh!"
"Kesembuhan, kekuatan dan kekayaan! Aku bisa berikan semuanya padamu."
"Aku tidak butuh!"
"Jika begitu, membusuklah kau di sini! Hahahaha!" Banaspati tertawa terbahak-bahak meninggalkan bocah itu sendirian.
"Kau yang membusuk! Kakek kau yang membusuk! Ukhuk!" balas sengit Jaga Saksena hingga terbatuk darah.
Banaspati termasuk golongan jin tetapi sering disebut belis karena bersifat jahat. Sebagai mana manusia, jin memiliki pemikiran dan dugaan.
Banaspati itu menduga, Jaga Saksena dengan luka parah yang diderita akan segera mati. Maka, dia pergi berlalu begitu saja.
Lembayung Adiningrum memompa seluruh tenaga dalamnya untuk berlari. Belum pernah dia berlari sekencang ini sebelumnya.
"Hossh ...! Hossh ...!"
Lembayung tersengal napas. Meski begitu, gadis itu merasa lega sebab tak diikuti oleh sang banaspati.
Melihat kedatangan Lembayung yang ngos-ngosan dan beberapa kali menengok ke belakang, Rawal dan Pekok menghentikan makan mereka lalu bangkit menyambut. Berbeda dengan Ki Mertayuda yang tetap menikmati nasi kukus bumbu rempah. Rupanya, makanan yang dipesan oleh Rawal telah tersedia di meja.
"Putri, apa yang terjadi? Mana Jaga Saksena?"
"Tikus kecil itu?!" Lembayung berkata cepat sebab napasnya belum pulih benar. "Dia," lanjut Lembayung. "Sudah mati!"
"A-apa?!" Rawal dan Pekok berseru serempak. "Tolong jangan bercanda dengan kami, Putri!"
"Apa telinga kalian tuli?! Tikus kecil itu sudah mampus!"
Mendengar jawaban yang lebih pas disebut sebagai bentakan keras dan menyakitkan itu, Rawal dan Pekok tertegun. Ada kesedihan di wajah keduanya.
Meski baru mengenal Jaga Saksena, keduanya merasa iba. Terbayang betapa Jaga dengan segala keluguannya telah membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Juga terlintas betapa wajah Jaga Saksena begitu senang kala tahu akan segera makan nasi.
"Ahh ... selamat jalan kawan kecil, semoga kau tenang di alam sana! Aku akan mengenangmu sebagai seorang anak paling pemberani yang pernah kutemui." Rawal memanjatkan harap dengan cukup keras, sementara Pekok memanjat harap dengan komat-kamit, lirih.
Saat Dua Pendekar Golok Buntung _Rawal dan Pekok_ tengah berduka, Lembayung tak sedikit pun peduli. Gadis itu lebih tertarik mendekati nasi kukus bumbu rempah yang melambaikan asap tipis mengundang selera makan. Belum lagi lauk yang menyertai, ikan gabus pepes yang menebarkan bau harum.
"Ki Mertayuda! Beraninya kau makan seorang diri tanpa menawariku, hah?!" bentak Lembayung sedikit menggebrak meja sebelum duduk.
"Makan tinggal makan, gitu aja kok repot!" acuh tak acuh Ki Mertayuda menjawab, bahkan matanya tidak beralih dari menatap makanan yang sedang ia santap.
'Keparat, lelaki tua ini selalu saja mengabaikanku! Andai kesaktiannya berada di bawahku, pasti sudah kukepret dia sampai mampus!' sambil memggerutu dalam hati, Lembayung Adiningrum menyambar wadah makanan sebelum mulai menciduk nasi kukus bumbu rempah.
'Gila! Enak sekali nasi ini!' kemarahan dan kekesalan hati Lembayung Adiningrum sirna kala sesuap nasi masuk ke dalam mulutnya. 'Rasanya pecah di mulut. Gurihnya nonjok! Pedasnya meledak dengan pas!'
Andai tidak ada orang lain di ruangan, sudah tentu Lembayung Adiningrum akan makan dengan rakus. Tetapi sebagai seorang putri, dirinya harus mencitrakan diri sedemikian rupa dalam etika makan.
Ketika Lembayung dan Ki Mertayuda tengah asik menikmati makanannya,
"Bagaimana, Kakang Rawal? Apa kita teruskan makan? Atau cari jasad Jaga?" bisik Pekok.
"Kita cari jasadnya, Adi. Kita kebumikan secara layak."
"Tapi Kakang ...."
"Tapi kenapa?!"
"Bagaimana kalau cerita Ki Pandu benar?!"
"Heleh! Mana ada begituan. Jika pun ada, kita berdua adalah Pendekar Golok Buntung!"
"Apa banaspati bisa tertebas golok, Ka—"
"Hwoii! Ada dua orang di sini! Kenapa kalian berbisik-bisik! Hah!!?"
Pekok tak selesaikan ucapannya akibat hampir terjingkat oleh bentakan Lembayung.
'Ada apa dengan kepala gadis ini, dia selalu membentak orang! Padahal aku jauh lebih tua darinya! Benar-benar manusia tak punya tata krama!!' gerutu hati Pekok.
"Ha-ha-ha-ha!"
"Beraninya kalian menertawaiku!" Kembali Lembayung membentak.
Kesal terus dibentak, Pekok menjawab dengan nada tinggi,
"Siapa yang menertawai Putri?! Sedari tadi kami selalu diam bahkan ketika Putri membentak kami!"
"Ha-ha-ha-ha!"
Putri Lembayung Adiningrum terdiam, 'Suara tawa itu begitu dekat, ss-siapa?'
Gadis cantik berkaki jenjang itu bangkit meninggalkan makanan yang belum ia habiskan. Lalu berjalan menuju pintu yang belum sempat ia tutup.
"Ban-ban ...!"
Jebret!!
Lembayung membanting pintu rapat-rapat lalu tergesa-gesa kembali ke tempat duduknya. Ia berkata dengan sopan,
"Ki ... Ki Mertayuda, bukankah kau ditugaskan oleh Ramanda Raja Prabaswara untuk memastikanku sampai di Kerajaan Saindara Gumilang dengan selamat?"
"Hemmm ...!" Ki Mertayuda masih asyik mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Ada yang mengikutiku, Ki!"
Saat yang sama, Rawal dan Pekok telah merapat di dinding dekat jendela. Dari celah jendela yang tertutup Dua Pendekar Golok Buntung itu mengintip.
"Hemmm! Hemmm!" Ki Mertayuda menanggapi dingin ucapan Lembayung.
"Di luar sana, Ki ... Bukan manusia tetapi banaspati!"