
"Paman, sepertinya orang-orang bertopeng itu penjahatnya! Apakah kita akan diam saja?!" Jaga Saksena bisa menduga sebentar lagi semua pengawal kereta akan berguguran bagai daun di musim kemarau panjang.
"Ingat kata-kataku, Jaga." Rawal menjawab. "Kita tidak boleh campur tangan. Kita tidak tahu siapa mereka. Bisa jadi yang kita nilai jahat adalah yang benar. Dan sebaliknya yang kita nilai benar adalah penjahatnya!"
"Betul apa yang dikatakan Kakang Rawal! Aku juga akan berkata seperti itu tadi padamu, Jaga!" timpal Pekok dengan nada meyakinkan.
"Begitukah, Paman?!"
"Iya begitu, masa begini?!" Pekok sedikit membungkuk menghadapkan wajahnya di depan muka Jaga Saksena sembari nyengir lebar nan tinggi menunjukkan gigi-gigi besarnya bagai keledai.
"Kau tidak perlu menakutinya, Adi Pekok!"
Ditegur oleh Rawal, Pekok langsung menutup cengirannya dan kembali berdiri tegak melihat jalannya pertarungan.
Di medan pertarungan, semua pengawal telah tumbang. Tak ada satu pun yang berdiri kecuali kuda-kuda tunggangan mereka.
"Hiaa ...!" Salah satu manusia bertopeng melenting ke udara, melewati dua kuda penarik kereta, golok panjang di tangannya terayun kuat mengarah kepala sang kusir.
Masih tak bergerak dari tempat duduknya, sang kusir gerakkan tangan kanan sebelum meninju ke depan,
"Lebur Guntur!"
"Arghhhh ...!"
Penyerang bertopeng terpental beberapa tombak, menghempas bumi dan mati.
"Pe-pendekar Lebur Guntur?!" seru salah satu manusia bertopeng terkejut.
Masih di tempatnya, lelaki separuh baya berkumis tipis dengan ikat yang melingkar di kepala itu tersenyum tipis sebelum berkata penuh wibawa,
"Kalian sudah tahu siapa aku tetapi mengapa masih tidak enyah dari hadapanku?!"
Bertanya demikian, Pendekar Lebur Guntur kembali menggerakkan tangan. Kali ini dua tangan sekaligus.
Seketika semua manusia bertopeng balik badan tunggang langgang kabur menyelamatkan diri ke segala arah. Bahkan ada di antara mereka yang melewati Jaga Saksena tanpa peduli.
Larinya orang-orang bertopeng tidak membuat Pendekar Lebur Guntur berhenti,
"Lebur Guntur!"
Dua energi bening berbentuk tinju berkiblat ke depan, mengarah dua orang yang kabur searah dengan kereta kuda menghadap.
"Arghhhh ...!"
"Argghhh ...!"
Dua orang di sana berteriak keras sebelum terjungkal kala tinju bening menghantam tubuh.
"Manusia-manusia lemah mencoba menggagalkan tugasku? Tidak akan pernah meski hanya dalam mimpi kalian!" Pendekar Lebur Guntur menyungging senyum sebelum menggebrak tali kekang dua kuda penarik kereta.
"Heaa!!"
Gludak! Gludak!
"Bisakah kau pilih jalan yang benar, Ki Mertayuda!"
Terdengar teriakan seorang gadis dari dalam kereta kuda, kala roda kereta menelindas mayat-mayat yang berserakan di jalan.
Tak ada jawaban, yang dipanggil Ki Mertayuda terus saja menggebrak kereta seperti tak pernah ada yang meneriakinya.
Melihat kejadian tersebut, Jaga Saksena menggeleng kepala. Membatin,
'Tingkah manusia pemakan nasi sungguh aneh. Coba dari awal dia gunakan kekuatannya, maka tak akan semua orang mati.'
"Kenapa kau geleng kepala, Jaga?!" Pekok mendapati gelengan kepala si bocah langsung bertanya.
"Lelaki tua itu—"
"Dia bergelar Pendekar Lebur Guntur. Pukulan jarak jauhnya sangat hebat. Jika dia mau, semua berandalan bertopeng itu pasti telah tewas di tangannya." Rawal menimpali, padahal ucapan Jaga Saksena belumlah usai.
"Benar, Paman. Dia membunuh tanpa menyentuh."
"Hahahaha! Selamat datang di dunia persilatan, Jaga Saksena. Bahkan yang jauh lebih hebat darinya ada banyak."
"A-apa?!" Jaga Saksena menganga sembari melirik kapak batu di pinggang. 'Sepertinya hanya berbekal senjata tidak akan banyak menolong di dunia persilatan ini. Benar apa yang dikatakan Paman Rawal, tidak seharusnya aku ikut campur.'
"Cepat kita ambil kuda-kuda yang tertinggal sebelum kelompok bertopeng kembali!" Rawal berlari sebelum melompat ke atas kuda terbaik di matanya.
Tak mau kalah, Pekok juga melakukan hal yang sama.
"Jaga! Kenapa kau bengong! Ayo cepat sebelum mereka kembali!"
Meski belum pernah naik kuda, jaga Saksena mengikuti gaya dua paman yang barusan berlari lalu melompat ke atas kuda.
'Aku pasti bisa!' teriak hati Jaga Saksena meyakinkan diri sembari berlari dan ....
Bughh!
"Hegh!"
Jaga Saksena berhasil melompat tetapi bukan mendarat tepat di tengah punggung kuda. Akibatnya bocah kecil itu terguling jatuh dengan kepala tersungkur terlebih dahulu mengenai genangan darah.
"Hahahaha!" Rawal dan Pekok terbahak-bahak. Apalagi ketika melihat Jaga Saksena bangkit dengan wajah celemongan darah.
Diketawai sedemikian rupa, Jaga Saksena nyengir lalu mengusap wajahnya.
"Maaf Paman, aku belum pernah naik kuda. Hehehe!"
"Adi Pekok! Cepat kau ajari dia caranya!"
"Serahkan padaku, Kakang!"
Pekok melompat turun dari kudanya, mendekat ke kuda yang dipilih oleh Jaga Saksena.
"Kau harus tempatkan pantatmu di tempatnya, di sini!" Pekok menepuk pelan punggung kuda di mana terdapat pelana dari kulit kerbau. "Lalu tempatkan kakimu di sini, lalu ...."
Pekok dengan cepat mengajarkan cara menaiki kuda pada Jaga Saksena yang memperhatikan dengan seksama.
Melihat itu, Rawal tersenyum lalu bergumam pelan, "Sepertinya dia benar-benar seorang bocah yang ingin belajar. Dan pantang menyerah."
"Ingat! pertahankan keseimbanganmu, jangan sampai jatuh. Sekarang, kau gebrak tali pengekang kuda ini! Semakin keras kau menggebraknya, maka semakin kencang laju kuda." Pekok memberi petunjuk terakhir ketika Jaga Saksena telah berada di atas kuda.
Brat! Jaga Saksena menggebrak tali kekang kuda.
"Waooo! Bagaimana inii?!"
Kuda berlari kencang melontarkan Jaga Saksena ke atas. Untung saja bocah itu mengapitkan kuat kedua kakinya sehingga tidak sampai terjatuh meski sempat miring.
"Hahaha!" Pekok tertawa terbahak-bahak, ia sengaja tidak memberi tahu cara menghentikan kuda.
"Ayo kita susul bocah itu! Heyaa!" Rawal menggebrak kudanya.
Di depan, Jaga Saksena tak menyerah meski tubuhnya terus terlontar-lontar dari punggung kuda dan berkali-kali hampir jatuh. Ia terus berusaha menyeimbangkan diri dan menyesuaikan tubuh dengan daya hentak kuda.
"Lihat! Bocah itu sangat gigih! Hahaha!" Rawal tertawa, mengingat masa-masa di mana ketika dulu ia belajar naik kuda harus terjatuh beberapa kali.
"Sungguh mengagumkan, Kakang!" timpal Pekok sebab dirinya _kala berusia sama dengan Jaga_ belum berani mencoba naik kuda.
Tak terasa, perjalanan yang ditempuh makin jauh. Jaga Saksena sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan hentakan-hentakan punggung kuda.
"Hahaha! Lihat, Paman! Aku bisa mengendarai kuda ini!" seru Jaga Saksena senang sementara kudanya terus melaju kencang.
"Ya dengan begini akan menyingkat perjalana! Di desa depan kita berhenti untuk beristirahat!"
"Siap, Paman!"
Jaga Saksena kembali menggebrak kudanya, ingin tahu sekencang apa kuda bisa berlari.
"Yehhaaaa ...!"
"Gila tu bocah! Ngajak balapan dia, kejaaar!"
Pekok dan Rawal tak mau kalah, mereka berdua menggebrak kuda masing-masing sekencang mungkin. Bagai tengah mengejar juara, siapa yang tercepat mencapai desa terdekat. Jalanan cukup lebar, muat kereta kuda, bisa digunakan untuk saling mendahului.
Tak bisa dipungkiri, Rawal-lah yang paling jago memilih kuda. Teknik berkuda yang sudah mumpuni dipadu dengan kuda terbaik. Rawal melaju paling depan.
Namun,
"Pelankan kuda! Ada kereta Pendekar Lebur Guntur di depan!" tetiba Rawal berseru sembari memelankan laju kudanya.
"Apa!?"
Bisingnya laju tiga kuda membuat pendengaran Jaga Saksena kurang jelas.
"Pelankan kuda!" Mengerahkan tenaga dalam, Rawal berseru.
"Pelankan?!"
Jaga bingung, tidak tahu cara memelankan laju kuda sehingga kuda yang ditungganginya terus melaju meninggalkan Rawal dan Pekok. Padahal kereta Pendekar Lebur Guntur telah dekat, hampir tersusul.