
"Kuterima sembah sujud kalian, bangkitlah dan katakan ada perlu apa kalian meminta menghadapku!"
Nyai Sadudasa Arimbi diikuti Raden Bakintal bangkit, lalu duduk bersimpuh.
Menyembah dengan dua telapak tangan diangkat ke depan hidung, Nyai Sadudasa Arimbi berkata,
"Ampun Yang Mulia Ratu, hamba membawa anak manusia yang jiwanya dipenuhi dendam kesumat."
Usai berkata demikian, Nyai Sadudasa Arimbi berbisik pada Raden Bakintal,
"Sekarang kau boleh bicara, cepat katakan keinginannmu pada Yang Mulia Ratu!"
Sebagaimana yang diperbuat Nyai Sadudasa Arimbi, Raden Bakintal meletakkan dua telapak tangan di depan hidung sebelum berucap,
"Ampun Yang Mulia Ratu. Hamba ingin diberikan kekuatan untuk membalas dendam atas pembunuhan putraku satu-satunya. Mohon Yang Mulia Ratu menjadikanku seorang yang sakti mahamboro tak terkalahkan oleh siapa pun!"
"Hi hi hi hi!" Pecah tawa Yang Mulia Ratu. "Apa kau berani menanggung apa pun risikonya, Bakintal?!"
Raden Bakintal terkesiap, sang ratu tahu namanya padahal dirinya tidak menyebutkan nama sebelumnya.
"Hamba siap menanggung segala akibatnya, Yang Mulia Ratu."
"Hi hi hi hi!" Lengkingan tawa sang ratu kembali menenuhi ruangan. "Sadudasa! Kau kembalilah, ini untukmu!"
Gerakkan tangannya, ratu luar biasa cantik dan bertubuh menawan yang dikenal dengan nama Ratu Dewi Lancarwati itu mengeluarkan sebuah tongkat berkepala ular sanca berwarna emas.
Perlahan tongkat itu melayang ke arah Nyai Sadudasa Arimbi yang segera ia terima dengan penuh khidmat.
Nyai Sadudasa Arimbi kembali menyembah mengucapkan terimakasih berkali-kali kemudian ngesod, mundur meninggalkan ruangan.
"Bakintal, kau ikutlah denganku."
Ratu Dewi Lancarwati bangkit meninggalkan singgasana. Saat yang sama Bakintal seperti kerbau yang dicocok hidungnya, membuntuti sang ratu dari belakang sambil berkali-kali menelan air liur.
Rupanya Ratu Dewi Lancarwati membawa Bakintal ke sebuah kamar yang dipenuhi taburan bunga beraroma wangi yang khas. Menghirup aroma ini, Bakintal serasa muda kembali. Nafsu menyetubuhi wanitanya bangkit berlipat kali. Apalagi ketika melihat Ratu Dewi Lancarwati merebahkan diri di pembaringan besar nan empuk beralas sutra halus berwarna putih.
Dag!Dug! Dag!Dug!
Berdebar keras jantung Bakintal memompa darah ke seluruh anggota badan terutama ke batang lingganya yang keras menegang.
Kendati nafsu birahinya telah naik sampai ke ubun-ubun hingga ingin menerkam tubuh aduhai sang ratu, tetapi Bakintal hanya bisa terdiam berdiri mematung.
Hingga akhirnya, pucuk dicinta ulam pun tiba, Ratu Dewi Lancarwati memanggil,
"Bakintal, kemarilah puaskan hasratku maka aku akan memberimu kesaktian yang tak kan terkalahkan oleh manusia mana pun!"
Dengan napas memburu Bakintal segera naik ke atas ranjang. Menciumi seluruh tubuh indah sang ratu hingga pun bagian-bagian yang paling tersembunyi.
Raden Bakintal tidak tahu, yang sebenarnya ia cumbu ternyata adalah ular sanca hitam yang sangat besar!
*
Waktu berlalu hari berganti, tak terasa telah tiga hari tiga malam lamanya Bakintal dijadikan budak nafsu birahi Ratu Dewi Lancarwati.
Tetapi bagi Bakintal, ia merasa tidak dijadikan budak. Justru dirinya serasa muda kembali dan bisa melampiaskan segala hasrat libidonya. Apalagi tubuhnya kini tidaklah segendut dulu ia lebih langsing akibat kurang makan sejak kematian Takil putranya.
Masih di atas ranjang,
"Bakintal, aku telah menyalurkan hawa sakti ke tubuhmu selama tiga hari. Sekarang saatnya aku akan mengajarimu cara menggunakannya."
"Hamba sangat berterimakasih, Yang Mulia Ratu."
"Duduklah!"
Bakintal segera duduk bersila di atas ranjang. Beberapa saat kemudian, Ratu Dewi Lancarwati menyentuhkan ujung jarinya ke kening Bakintal.
Sesuatu yang sangat menakjubkan terjadi, Bakintal merasakan sebuah ingatan masuk ke dalam benaknya. Ingatan jurus dan cara mengeluarkan ajian!
***
Diiringi oleh Jakala dan dua pendekar bayaran _Tirta dan Umbara_ serta satu jagoan wanita Padepokan Sanca Hitam, Raden Bakintal menggebrak kudanya. Ia sudah tak sabar lagi untuk menunjukkan pada orang-orang di Kerajaan Saindara Gumilang akan kekuatan barunya.
Sore hari bersama matahari tenggelam, Bakintal dan rombongan kecilnya tiba. Belum pun masuk ke dalam rumah, Bakintal langsung memberi perintah pada Jakala,
"Jakala, kau cari keberadaan dalit itu lalu laporkan padaku!"
"Baik, Ndoro!"
"Tirta, Umbara, ini imbalan untuk kalian." Bakintal lemparkan dua kantong keping emas.
Kedua pendekar bayaran itu menangkap kantong dengan sigap lalu pergi dengan terlebih dahulu berkata,
"Jika ada perlu bantuan lagi, hubungi kami, Raden!"
Tak menjawab, Raden Bakintal berkata pada jagoan Padepokan Sanca Hitam, seorang wanita yang tampak berusia empat puluhan tahun, berpakaian serba hitam bahkan bibirnya juga berwarna hitam mengkilat.
"Nyai Kinasih, kau istirahatlah! Pelayanku akan mengantarmu!"
Raden Bakintal memanggil pelayannya yang segera keluar bersama sang istri.
"Bi, bawa tamu kehormatanku ini ke bangsal tamu. Layani dia dengan istimewa!"
"Sendiko dawuh, Ndoro!"
Sepeninggal Nyai Kinasih dan pelayan, istri Raden Bakintal merangkul tangan suaminya mengajak masuk sembari bertanya,
"Dari mana saja Suamiku, aku sungguh mencemaskanmu!"
"Kau lihat perempuan tadi? Itu perempuan sakti dari Padepokan Sanca Hitam yang akan membalaskan dendam anak kita!"
Sontak istri Raden Bakintal berhenti lalu menatap wajah suaminya untuk bertanya,
"Maksudmu, kau sudah menemukan keberadaan pembunuh anak kita?!"
"Ya, dia ada di kerajaan ini!"
"Akhirnya dendam ini akan terbalaskan!" ada kegeraman sekaligus suka cita dalam nada ucapan istri Raden Bakintal. "Tapi Suamiku, kenapa kau lama sekali?"
"Aku bukan hanya mencari orang untuk membunuh biadab itu, tetapi juga melakukan sesuatu."
"Melakukan sesuatu?" Istri Raden Bakintal penasaran sekaligus curiga.
"Sesuatu yang mengembalikan kelelakianku!"
"Benarkah?" Istri Raden Bakintal tersenyum manja.
"Mari kutunjukkan padamu!"
Raden Bakintal menyambar tubuh istrinya, lalu membopong menuju kamar, meletakkan di ranjang kemudian dengan buas menerkamnya.
Tubuh indah aduhai Ratu Dewi Lancarwati melekat kuat di benak Raden Bakintal. Ia hanya perlu pelampiasan. Sesuatu yang mempunyai lubang agar bisa menghayalkan bersetubuh dengan sang ratu.
Kriat! Kriet!
Ranjang di kamar Raden Bakintal berderit akibat goyangan ganas dua manusia tanpa busana di atasnya. Gilanya lagi, pintu kamar dibiarkan terbuka hingga seorang pelayan wanita yang kebetulan lewat harus menutupi matanya sendiri lalu berlari. Raden Bakintal memang memiliki beberapa pelayan wanita dari yang muda hingga tua.
Malam telah larut ketika Raden Bakintal meninggalkan istrinya dalam keadaan lemas terkulai tanpa daya di atas ranjang. Sebelumnya si istri sudah beberapa kali menyerah dan minta disudahi, tetapi Raden Bakintal terus menggoyangnya hingga wanita berusia sekitar tiga puluh tujuh tahun itu hampir pingsan.
"Sepertinya aku harus mencari istri lagi! Istriku sudah tidak lagi mampu melayaniku!" gumam Raden Bakintal saat sudah di luar kamar.
Hanya memakai celana komprang, Bakintal berjalan menuju ruangan penyimpanan tuak yang terletak di bagian rumah belakang, bersebelahan dengan kamar pelayan wanita.
Tak Bakintal duga, ketika dirinya lewat depan kamar pelayan, daun pintu kamar itu sedikit terbuka.
"Ah, Yang Mulia Ratu!"
Raden Bakintal mendesah memanggil Ratu Dewi Lancarwati lalu masuk ke dalam kamar pelayan. Membekap mulut pelayan wanita yang sedang tidur, Raden Bakintal kembali mengguncang ranjang.