
Bulan purnama penuh menyembul di langit tenggara. Kala benda bercahaya itu mulai meninggi, gelombang laut selatan pun membesar. Suara deburan ombak yang menghantam karang makin terdengar garang. Seolah ingin menggertak seorang pemuda matang yang tengah duduk kaku di atas sebuah batu yang menjorok ke laut selatan.
Tetapi anehnya ombak yang besar itu tidak mampu menyentuh si pemuda. Ombak besar terbelah begitu saja seakan ada yang mengendalikannya.
Tepat ketika tengah malam, sebuah cahaya merah sebesar kepala manusia dewasa mencuat muncul dari tengah lautan lalu terbang dengan kecepatan luar biasa hingga akhirnya mengambang diam di depan si pemuda.
"Ha ha ha ha! Kama Kumara, telah tujuh hari tujuh malam kau bersihkan diri. Maka sekarang waktunya kau mendapat kesaktian. Apakah kau siap?!"
"Kau selalu banyak bicara padahal aku sudah siap sejak tujuh hari yang lalu, tapi kau malah menyiksaku!"
"Ha ha ha ha! Tak ada kesaktian yang gampang dan gratis! Kau harus memberi pitukon! Dan ini pitukonmu, bersiaplah!"
"Cepat lakukan jangan banyak bicara lagi! Aku ingin segera pergi dari sini dan mencari makanan!" bentak Kama Kumara masih dalam posisi duduk bersila mata terpejam.
Cahaya merah tidak lagi menjawab perkataan Kama Kumara. Benda itu melayang ke atas kepala si pemuda sebelum amblas masuk melalui ubun-ubunnya.
"Huwaaaaaa ...!"
Kama Kumara berteriak sangat keras akibat merasakan hawa panas luar biasa memasuki kepalanya. Rasanya seperti terbakar api berkobar-kobar.
Hawa panas membakar terus menjalar melalui tenggorokan, dada hingga akhirnya berhenti di dalam pusar Kama Kumara. Rasanya, Kama Kumara seperti terbakar hidup-hidup.
Tenggorokan Kama Kumara _yang telah kering kerontang akibat tidak minum selama tujuh hari tujuh malam masih ditambah menghirup udara lembab asin_ terus berteriak kesakitan. Sampai pun suaranya sekarang telah hilang akibat teriakan yang berkepanjangan. Tetapi rasa panas itu belum hilang.
Pada akhirnya, Kama Kumara terkulai ke tanah, pingsan.
**
Pagi harinya, seorang lelaki separuh baya yang hendak menebar jala menangkap ikan kaget melihat seorang pemuda tergeletak di atas batu. Lelaki separuh baya ini segera mengguncang si pemuda yang tak lain adalah Kama Kumara.
"Anak Muda, kau sedang apa? Bangunlah!"
Tak ada jawaban, lelaki separuh baya menempelkan ujung jarinya ke hidung si pemuda.
"Dia masih hidup ... Sepertinya hanya pingsan!"
Lelaki separuh baya mengambil bumbung tuak yang selalu ia bawa kala menemani menjala ikan. Ia memang bukan seorang nelayan, mencari ikan hanya untuk menyalurkan kesenangan sambil menenggak tuak yang biasanya ia lakukan setiap pagi purnama.
Prat! Prat!
Lelaki separuh baya memercikkan air tuak ke wajah Kama Kumara.
Sekali dua kali tidak ada reaksi, hingga percikan yang ke tujuh, Kama Kumara barulah buka mata pelan.
"Akh ... Aroma apa ini segar sekali!"
Terdengar suara Kama Kumara serak dan tidak jelas.
"Akhirnya kau sadar Anak Muda!" senang lelaki separuh baya. "Jika kau haus, minumlah ini!"
Lelaki separuh baya itu mengangkat bumbung tuaknya.
Bukannya memyambut uluran bumbung, Kama Kumara yang segera bangkit duduk malah asyik mengamati tubuhnya sendiri.
"Tubuhku!"
Kama Kumara merasakan tubuhnya sangat ringan dan penuh kekuatan, tidak ada lagi hawa panas membakar kecuali hanya hangat di pusar. Maka,
"Ha ha ha ha!"
Mendongak ke langit, Kama Kumara tertawa dengan suara seraknya. Ini membuat lelaki tua di sampingnya keheranan dan segera tarik bumbung tuak yang semula ia sodorkan. 'Orang gila!' pikirnya mengamati wajah Kama Kumara yang menghitam dan rambutnya yang gosong.
"Kesinikan bumbungmu!"
Kama Kumara membentak. Akan tetapi suaranya yang kasar, serak serta tidak jelas membuat lelaki separuh baya malah ketakutan sehingga reflek bangkit lalu mundur menjauh.
"Bedebah! Kau ingin main-main denganku?!"
Dari posisi duduknya, Kama Kumara langsung melesat, menyambar bumbung tuak di tangan lelaki separuh baya.
Sangat cepat, bahkan lelaki separuh baya tidak sadar benda miliknya telah dirampas oleh si pemuda.
Glek! Glek! Glek!
Rakus, Kama Kumara menenggak isi bumbung hingga tuak tumbah membasahi leher serta dadanya.
Bukan hanya meminum, Kama Kumara jadikan tuak untuk menyiram kepalanya yang terasa kotor dan lengket.
Rambut gosong Kama Kumara luntur, menyisakan kepala yang gundul.
"Rambutku!" desis Kama Kumara saat menyadari rambut panjang yang ia gelung rapi sudah hilang.
"Peduli memedi! Yang penting sekarang aku sakti! Ha ha ha ha!"
Tingkah aneh Kama Kumara ini membuat lelaki separuh baya semakin menjauh sebelum akhirnya lari tunggang-langgang.
"Hwoi kau!" bentak Kama Kumara. "Kau kira aku budakmu! Terima kembali bumbung bututmu ini!"
Wuuuust!
Kama Kumara tidak terima jika dirinya harus membuang bumbung yang telah kosong. Itu sama saja dirinya adalah suruhan si pemilik bumbung. Maka pemuda itu melemparkan bumbung bambu dengan kekuatan barunya.
Bumbung meluncur lurus dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya menabrak tepat kepala lelaki separuh baya yang melarikan diri,
Trakk!
Terdengar suara benda yang pecah bersamaan tubuh lelaki separuh baya yang terjungkal ke depan dengan kepala rekah.
"He he he! Tidak terlalu buruk!" Kama Kumara terkekeh menikmati hasil lemparannya yang tepat mengenai sasaran, ia lalu melompat mendekat.
Wuuss!
"Waww!"
Kama Kumara terlontar ringan bagai terbang dan,
Tep!
Hanya sekali lompat pemuda itu mendarat di samping mayat lelaki separuh baya.
"Luar biasa! Hanya sekali lompat!" Kama Kumara menghitung jarak lompatannya dengan memperkirakan dari tempatnya kini berdiri. "Apa? Lima belas tombak! Aku saktiiii ...!"
Kama Kumara girang bukan main lalu menendang mayat di hadapannya.
Bugh!
Wusss!
Mayat terlempar hingga sangat jauh dan hilang di rimbunnya pepohonan yang tumbuh di pinggir pantai.
"Aku akan menjadi raja! Aku akan membunuh semua orang yang menentangku! Terutama kau Dalit Jaga Saksena! Tunggulah kedatangankuuu! Ha ha ha ha ha!"
Kruuukk!
"Oh perutku ... lapar ...! Aku harus mencari makanan!"
Wusss!
Bagai burung yang terbang di atas bumi, Kama Kumara pergi meninggalkan tempatnya berdiri menuju perkampungan yang cukup jauh di utara.
Dengan kecepatan yang dimiliki Kama Kumara sekarang, tidak butuh lama baginya untuk tiba di desa dan segera bertanya pada orang-orang yang sedang berada di pinggir jalan
"Hwoi kalian! Di mana ada kedai makan!"
Orang-orang yang ditanya kebingungan, sementara anak-anak yang kebetulan bermain di sekitar tempat tersebut serentak ketakutan dan menangis.
Kama Kumara yang kini sadar suaranya masih serak mempraktekkan orang makan dengan tangannya.
"Di-di sana Tuan." Salah satu warga yang paham lelas menjawab.
Wuts!
Kama Kumara berkelebat pergi, meninggalkan sejuta tanda tanya bagi para warga.
Tiba di kedai, Kama Kumara melangkah lebar lalu memilih tempat duduk di tengah.
"Sediakan aku makanan terenak!"
Brakk!
Maksud hati hanya menggebrak meja agar menjadi perhatian, ternyata hantaman tangan Kama Kumara menghancurkan meja kedai menjadi serpihan berkeping-keping.
Sontak, semua pengunjung _yang kebanyakan adalah warga sekitar_ berlarian tunggang-langgang. Entah benar-benar takut atau sengaja agar tidak bayar.