Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 37. Guru



Jaga Saksena merasakan dinginnya pisau menempel di lehernya. Ketika pisau itu berjalan perlahan, ada rasa perih di sana.


Namun ... Baru saja pisau itu berjalan,


'Kenapa berhenti?'


Bertanya-tanya hati Jaga Saksena kala merasakan pisau diam tak bergerak lagi.


Penasaran, Jaga Saksena buka matanya perlahan.


"Ss-siapa kau?!"


Jaga tergagap ketika melihat seorang lelaki berpakaian serba putih tersenyum padanya. Tak hanya pakaian, kumis serta jenggotnya juga sedikit memutih. Sementara Raden Bakintal dan Jakala berdiri kaku tak bergerak.


"Kau bisa memanggilku Guru," jawab lelaki tersebut sembari menjauhkan tangan Raden Bakintal dari leher Jaga Saksena.


"G-guru?!" terbata Jaga Saksena tetapi matanya berbinar, sedikit berkaca-kaca. Ada campur aduk rasa dalam hatinya; rasa senang, rasa bahagia, juga haru tetapi juga tidak percaya.


"Kau sedang tidak mencandaiku?!" tanya Jaga Saksena masih tidak percaya ada orang yang mau mengangkatnya sebagai murid.


Yang Jaga tahu, guru adalah orang tua yang akan melindungi dirinya sekaligus mengajarkan banyak hal.


Mendapat pertanyaan orang, lelaki berpakaian serba putih hanya tersenyum, lalu melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Jaga Saksena.


Lepas dari ikatan, Jaga Saksena menubruk memeluk lelaki berpakaian serba putih.


"Terimakasih Guru! Terimakasih Guru! Terimakasih Guru!"


"Kau sudah siap ikut denganku pergi jauh dari sini, dari kerajaan ini?!" tanya lelaki berjubah putih lembut sembari mengusap kepala Jaga.


"Siap Guru. Itu tujuanku, pergi dari kerajaan ini. Tetapi tunggu sebentar, Guru."


Jaga Saksena melepas pelukannya lalu menghadapkan wajah pada Raden Bakintal.


"Raden Bakintal!" Jaga tahu nama lelaki gendut tersebut sebab ia mendengar namanya disebut ketika dirinya tertotok. "Aku tahu kau bisa mendengarku. Yang sebenarnya terjadi adalah ...."


Jaga menceritakan kejadian yang menewaskan Takil apa adanya, tanpa melebihi maupun mengurangi.


"Aku harap, setelah ini kau tidak lagi menghambur-hamburkan keping emas untuk memburuku, karena aku tidak bersalah dan juga kami akan pergi jauuuuh," tutup Jaga Saksena.


"Kau sudah selesai?" tanya Lelaki berpakaian serba putih.


"Sudah, Guru."


"Jika begitu, tutup matamu."


Jaga mematuhi, ia menutup mata rapat.


Wusss ...!


"Guruu? Kau membawaku terbang?" tanya Jaga Saksena masih memejam mata.


Tak ada jawaban.


"Apakah aku boleh membuka mata, Guruu?"


"Tetap pejamkan matamu!"


Jaga terdiam, ia ingin membuka mata tetapi hatinya berkata jangan. Karena hanya dengan kepatuhan, itulah yang bisa ia lakukan untuk membalas pertolongan sang guru pada dirinya.


Sepeninggal lelaki berpakaian serba putih yang membawa pergi Jaga Saksena, Raden Bakintal dan Jakala berangsur-angsur pulih dan akhirnya benar-benar bisa bergerak.


Dan, hal pertama yang dilakukan Raden Bakintal adalah berteriak keras-keras.


"Hiaaaaaaaa ....!"


Sembari membanting kaki ke bumi, Raden Bakintal memaki,


"Dalit keparaaat! Kau pikir bisa membohongiku!? Jalakaaaa ...!"


"Jakala, Ndoroo!"


Bugh! Satu bogem mentah Raden Bakintal mendarat di perut Jakala. Membuat pria kekar itu menekuk badan, mulutnya meringis kesakitan.


"Dasar tak berguna! Kenapa kau tadi diam saja, Guobloooook!!"


"Am-ampun, Ndoro. Tubuh ini kaku ketika tetiba melihat lelaki berjubah putih itu!"


"Penyihir Biadab! Penyihir seperti dia harus dibumi hanguskan!" maki Raden Bakintal lalu memerintah,


"Cepat kau cari lima pendekar tadi, berapapun keping emas yang mereka pinta asal bisa membunuh dua orang itu!"


"Baik, Ndoro!"


Jakala menghormat dalam-dalam padahal masih merasakan perut yang sakit, kemudian mundur cukup jauh ke belakang dan akhirnya balik badan pergi meninggalkan Raden Bakintal untuk mencari lima pendekar yang sebelumnya telah berhasil menangkap Jaga Saksena.


***


Langit puncak Gunung Lanang pagi ini diselimuti awan. Pun kabut turun sedemikan pekat, seakan masih ingin mempertahankan malam yang hendak beranjak pergi setelah terbit matahari.


"Di mana ini? Bagaimana bisa aku ketiduran?!"


Anak lelaki yang tak lain adalah Jaga Saksena itu bangkit.


"Guruu ...!" Jaga Saksena berteriak memanggil lelaki berpakaian serba putih yang menolongnya semalam.


Tak ada jawaban, Jaga Saksena keluar dari dalam gua.


'Kabut? Ke mana Guru?'


Kruerrkkk ...!


'Oh perutku!'


Melihat keadaan di luar berkabut, Jaga Saksena masuk kembali sembari memegangi perutnya yang berasa lapar.


"Sebaiknya aku menunggu di dalam saja, hawa di sini lumayan dingin. Semoga guru sedang mencari makanan."


Jaga Saksena berkata seorang diri lalu mulai duduk terpekur. Bayangan kejadian semalam terlintas kembali di benak membuat Jaga tak sadar berkata,


"Aku sudah menceritakan semua kepada Raden Bakintal. Semoga dia tidak lagi menaruh dendam kepadaku."


Lama Jaga duduk berdiam diri, hingga ia akhirnya merasa bosan dan memutuskan keluar kembali untuk melihat keadaan.


Kabut telah hilang, tak lagi menutupi pemandangan mata. Jaga Saksena sekarang bisa melihat bahwa gua di mana dirinya berada memiliki halaman datar cukup luas.


'Kabut sudah pergi.'


Jaga melangkah menuju ujung halaman di mana ada pohon asem besar berdiri kokoh.


"I-ini! Indah sekali."


Sepanjang mata Jaga memandang, warna hijau menghampar memanjakan mata.


Jaga Saksena melihat ke atas, ke samping dan ke bawah.


"Aku di lereng gunung?! Berarti tempat ini benar-benar jauh dari kerajaan manusia pemakan nasi itu?!"


"Benar!"


Terdengar jawaban yang segera membuat Jaga Saksena menoleh ke sumber suara.


"Guru?! Dari mana guru datang?!" seru Jaga Saksena cukup kaget oleh sosok sang guru yang telah berada di belakangnya, dengan tangan kanan menjinjing buntalan lumayan besar.


"Di bawah sana," sang guru menunjuk arah utara serong ke timur. "ada pasar. Guru membeli beberapa persediaan makanan. Mari kita makan."


Jaga Saksena mengangguk, berpikir pasar yang dimaksud sang guru tidak terlalu jauh. Lagi yang ada di kepalanya sekarang adalah makan, makan dan makan.


Keduanya masuk ke dalam gua, naik ke atas batu lebar yang cukup datar lalu duduk berhadapan.


Sang guru membuka buntalan besar yang ternyata di dalamnya masih ada buntalan-buntalan lain.


"Ini daging kering. Dan ini madu," terang sang guru membuka dua buntalan.


"Pasti enak!" seru Jaga Saksena menyambar daging lalu menuangkan madu ke atasnya.


Ketika daging kering itu hendak Jaga masukkan ke mulut, sang guru berkata,


"Berdu'alah dahulu."


"Berdoa?" tanya Jaga Saksena heran.


"Ikuti apa yang guru ucapkan."


"Baik, Guru."


Kendati Jaga Saksena tidak tahu apa yang sang guru ucapkan, ia tetap mengikuti, meski lidah berasa kaku sebab Jaga belum pernah mengucapkan kata-kata tersebut sebelumnya.


Usai makan, Jaga Saksena memuji betapa nikmat rasa daging kering dimakan bersama madu.


"Tetapi Guru, kenapa Guru hanya makan dagingnya saja?" tanya Jaga heran.


"Sebenarnya, madu ini untuk diminum. Tetapi jika kau suka memakan bersama daging itu, sama saja."


"Oo ...."


Tak ada kata yang terucap dari mulut anak kecil tersebut. Dirinya memang diberitahu oleh Byung tentang madu tetapi tidak terlalu ingat, sebab tidak pernah ia ditemui sarang lebah di pulau kecilnya.


***⁰0⁰***


Dukung author dengan klik tombol Hebat di bawah, lalu klik juga Favorit, Hadiah dan Vote.


Hadiah bisa melihat iklan gratis (modal kuota).


Bantuan pembaca sangat berarti bagi author.


Terimakasih ...