
Tiga tahun telah kembali berlalu, kini Jaga Saksena telah berusia 16 tahun.
Selama tiga tahun terakhir ini pula, sang guru bukan hanya telah membangkitkan tenaga dalam Jaga Saksena. Tetapi juga mengajarkan penyerapan energi ruhaniyah dan mengawasi jalannya penyerapan hingga Jaga telah benar-benar mahir melakukannya.
Selain itu, sang guru juga mengajarkan jurus-jurus serta ajian-ajian yang dilambari dengan tenaga dalam.
Maka tak heran, kependekaran Jaga maju pesat.
Di malam hari saat purnama penuh,
"Jaga muridku, enam tahun guru telah mendidikmu. Tinggal satu tahun lagi masa perpisahan itu."
"Guru ...."
Mata Jaga Saksena tetiba terasa pedas. Ia mengerjip-ngerjipkan kelopak matanya agar bola mata di dalamnya tidak menumpahkan air hangat.
"Ingatlah petuah malaikat Jibril 'alaihissalam yang disampaikan kepada Kanjeng Nabi, Jaga.
عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ،
Hiduplah semaumu karena sungguh kau akan mati.
Berbuatlah semaumu karena sungguh kau akan dimintai tanggung jawab (diyaumil hisab).
Cintailah sesuatu semaumu ,karena sungguh kau akan berpisah darinya (dari yg kamu cintai).
Perpisahan adalah keniscayaan, Muridku."
Berlinang air mata, Jaga Saksena mengangguk sembari berkata lirih, "Murid mendengar dan patuh, Guru."
"Setahun terakhir ini, guru akan gunakan untuk mengujimu sebagai penilaian terakhir sembari memperbaiki jika ada yang perlu diperbaiki."
Demikianlah, Jaga Saksena harus mengulang semua yang ia pelajari dari awal hingga akhir dalam setahun ini.
Tak terasa hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Maka, dua belas bulan pun terlewati.
*
Pagi yang cerah disambut kicauan riang burung-burung di atas pepohonan. Tetapi tidak dengan hati Jaga Saksena yang terasa mendung gelap nan hujan.
Ini adalah hari yang telah ditentukan.
Pemuda tampan berambut panjang itu duduk menunggui sang guru yang masih membaca wirid dzikir usai sholat dhuha.
Hampir satu jam Jaga telah menunggu ketika sang guru membalik badan,
"Jaga Saksena muridku, ingatlah. Ilmu laksana pedang. Meski kau memiliki seribu pedang tetapi tidak kau gunakan untuk mengusir harimau yang akan memangsamu, maka pedang-pedang itu akan sia-sia belaka. Maka amalkanlah ilmumu dan tebarkanlah dengan kedamaian dan kasih sayang ke seluruh alam!
Dan, yakinlah sepenuhnya akan sabda Kanjeng Nabi, bahwa seorang akan dikumpulkan bersama yang ia cintai. Bukan di dunia ini tapi kelak di alam akhirat. Pengetahuan tanpa keyakinan adalah bagai pedang tak pernah diasah.
Sebagai gurumu, aku tidak memberimu senjata pusaka. Karena kau harus menebarkan ajaran ini dengan damai, rahmatan lil 'alamin, kasih sayang kepada seluruh alam. Kecuali jika mereka telah melewati batas, maka gunakan apa yang telah dititipkan Gusti Alloh Ta'ala padamu, Muridku!"
Jaga terdiam dalam ketundukan dan kepatuhan, semua yang diucapkan sang guru ia dengarkan dengan seksama tanpa terlewat sepatah kata.
"Muridku, Jaga Saksena. Sudah waktunya kita berpisah. Jaga dirimu baik-baik. Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Wa'alakumussalam warahmatullahi wa barokatuh."
Jaga Saksena menjawab salam lalu mengangkat kepalanya hendak menyalami lalu mencium tangan sang guru. Namun,
"Guru ...?"
Mata Jaga Saksena tak mendapati seorang pun di hadapannya, bahkan ketika ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Jaga Saksena benar-benar seorang diri di dalam gua.
"Akan kujalankan semua dawuh Guru. Terimakasih Guru ...."
Mata Jaga Saksena kembali meneteskan air mata kepedihan perpisahan.
***
Esok harinya, Jaga Saksena memutuskan untuk meninggalkan gua yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Tak lupa, Jaga membawa sisa makanan daging kering dan madu serta mengisi kantong air dari sumber mata air bekas tangan mulia sang guru.
"Kau saksi atas pertemuan ini, Mata Air. Tahukah kau aku seakan baru bangun dari mimpi indah?"
Jaga Saksena berkata lirih seolah mata air itu bisa mendengarnya.
"Selamat tinggal Mata Air, tetaplah mengalir menyirami dahaga para makhlukNya."
Jaga Saksena menekan sedikit kakinya, dan ....
Wets!
Pemuda berambut panjang itu berpindah ke atas puncak daun-daum pohon asem besar di ujung halaman gua sebelum melesat bagai anak panah menuruni lereng gunung.
Tak butuh lama, Jaga sampai di hutan di mana dulu seekor harimau hendak memangsanya.
Jaga sengaja berdiri menunggu berpikir mungkin saja harimau itu masih ada. Atau mungkin harimau lain.
Tak berapa lama, dari balik sebuah pohon besar, muncul seekor harimau besar.
"Grrrrrhhh ...!"
Harimau itu menunduk, seakan ada tangan besar menekan kepalanya.
"Ahh ..! Sungguh tidak asyik."
Jaga Saksena maju mendekati sang raja rimba. Sejarak setengah tombak, Jaga berhenti, menunggu tanggapan sang harimau.
"Apakah kau sudah tak lagi jadi pemangsa?"
Jaga ulurkan tangan kanannya. Dan sungguh di luar dugaan, sang harimau malah mengeluskan kepalanya ke tangan si pemuda.
"Hahahaha! Kau sudah jinak rupanya. Baiklah, ini hadiah untukmu!"
Jaga Saksena memberikan dua potong daging kering yang segera dilahap oleh harimau tersebut.
Pemuda itu tidak tahu, bukan harimau yang telah jinak akan tetapi pancaran energi dan kebeningan hatinya yang membuat harimau tunduk padanya.
*⁰0⁰*
Tujuh tahun berlalu tidak membuat pasar Beringkiwa banyak berubah. Hanya jalan besar yang membelah pasar kini tampak lebih bagus dengan batu-batu yang ditata apik.
Jaga Saksena memasuki pasar dan langsung menuju tempat pelelangan budak.
Pemuda itu masih ingat betul di mana letak panggung lelang.
Tiba di tempat pelelangan budak, Jaga mendapati panggung di ujung sana yang terbuat dari galih (inti kayu) nangka itu kosong melompong. Meski begitu, pelataran panggung begitu sesak padat oleh orang-orang yang berteriak-teriak mengerubungi arena kecil di tengah-tengah.
"Gebuk Loreng!"
"Merah! Jangan kalah!"
"Hajar kepalanya! Hajar!"
"Jalu!"
"Yaah ...! Guoblokg!"
Mendengar teriakan-teriakan itu tak ayal membuat Jaga Saksena merasa penasaran, 'Sedang apa mereka?!'
Mendekat dan menelusup masuk ke keramaian, Jaga Saksena mengelus dada berucap pelan,
"Astaghfirullah, jago diadu? Sungguh perbuatan keji!"
Nahas alias apes, seseorang lelaki bertelanjang dada, di pinggangnya terselip keris yang berdiri di samping Jaga mendengar ucapan Jaga Saksena.
"Whoi Bujang Tanggung! Ngomong kauu?!"
Mendelik lelaki bertelanjang dada membentak Jaga Saksena hingga muncratlah jigongnya.
"Apakah kau tak pernah merawat mulutmu? Pakai ini bersihkan gigimu!" Jaga ulurkan sebuah akar pepohonan kering sebesar kelingking.
Alih-alih menerima pemberian orang,
"Anjing Kurap!"
Wuutt!
Bughh!
Lelaki bertelanjang dada memaki sembari hantamkan tinjunya dari luar ke dalam menghajar dada Jaga Saksena.
Dihantam di bagian dada sedemikian rupa, tak membuat Jaga Saksena terpundur apalagi kesakitan. Pemuda berambut panjang itu malah nyengir.
"Ke-kebal?!" desis lelaki bertelanjang dada lalu mundur teratur sebelum hilang di kerumunan.
"Hiyaaaa hampir menang! Hajar merah! Hajar!" teriakan terus berlanjut, mereka tak hiraukan kejadian antara Jaga Saksena dan lelaki bertelanjang dada yang berlangsung cepat.
Namun, teriakan-teriakan itu terhenti dan berubah menjadi caci maki.
"Whoi gobloog anjiing! Apa yang kau lakukan!"
"Dalit sialan! Cepat keluar dari gelanggang!"
"Babii bangsat keluar whooiii!!"
"Bocah hasil selingkuh, keluaaar ngapa kau masuuuk?!"
Rupanya teriakan caci maki itu disebabkan oleh Jaga Saksena yang dengan santainya memasuki gelanggang arena pertarungan jago.
Tak hiraukan teriakan orang-orang, Jaga Saksena membungkuk dan,
Krep!
Jaga Saksena memegang dua jago sekaligus lalu meluruskan tubuh. Maka, terhentilah pertarungan jago yang seru tersebut.
"Lepaskan jago itu atau kau kubunuh!" ancam pemilik jago mengacungkan cundrik (keris kecil) pada Jaga Saksena. Ini memicu teriakan orang-orang di sekitarnya,
"Pengganggu! Bunuh!"
"Cincang!"
"Bakar!"
*