Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 69. Terjebak



Seramnya malam yang mulai turun di Gugusan Gunung Bumati tak membuat sesosok manusia yang berlari kencang itu mengurungkan niatnya untuk terus menembus pekatnya hutan. Hanya satu yang ada di pikirannya, lekas capai pemukiman masyarakat terbelakang di balik pegunungan lalu menghilang di sana.


Jauh di arah timur, dua orang pemuda tampak berkelebatan di antara pepohonan besar.


"Jaga, kita benar-benar kehilangan jejak!"


"Tidak apa kita lanjutkan saja, Sungsang!"


Sebelumnya, Jaga Saksena dan Sungsang mengikuti Gandara dari jauh. Namun, Jaga harus berhenti untuk menunaikan kewajiban sembahyang maghrib.


Saat Jaga melakukan ritual sembahyang, Sungsang hanya menunggui sambil melihat ke arah Gandara menghilang.


Kini, keduanya terus melaju, hingga tak sadar akhirnya menembus barisan pegunungan.


"Lihat! Ada titik api di lembah sana!" seru Jaga menghentikan larinya untuk mengamati lebih lanjut.


"Apa itu markas Kelompok Pemburu Budak Gunung yang sebenarnya?" tanya Sungsang pelan.


"Kita cari tahu!"


Jaga kembali melesat diikuti Sungsang. Tak butuh waktu lama, keduanya tiba di gerbang sebuah pemukiman luas yang tampak masih sangat terbelakang. Itu bisa dilihat dari kacaunya letak posisi rumah-rumah, tidak ada penataan sama sekali. Lagi rumah-rumah tersebut terbuat dari bahan baku lumpur.


Belum lagi gerbangnya yang lucu, setidaknya menurut Sungsang yang berhenti untuk mengamati.


"Gerbang kesepian!" komentar Sungsang jujur.


"Yah, tak ada pintu tak ada tembok di samping kanan kirinya," sahut Jaga Saksena.


Keduanya memang berhenti di depan gerbang, sebagai tata krama ketika akan memasuki sebuah tempat baru.


"Coro wedange, wedang kendel! (kalau disamakan, gerbang ini mirip dengan minuman pemberani yang datang sendirian tanpa teman suguhan!) Ha ha ha!" Usai berkata Sungsang tertawa terpingkal.


Saat itulah.


Wuts! Wuts!


"Awas!" seru Jaga melompat ke belakang diikuti Sungsang.


Cleb! Cleb!


Dua tombak menancab tanah di hadapan mereka berdua.


"Manusia tak punya sopan santun, tak punya penghormatan! Datang tanpa diundang, menertawakan kami punya gerbang!"


Bersamaan dengan suara bentakan itu, beberapa lelaki berpakaian selempang kulit hewan muncul dari remangnya pemukiman.


"Oh, kalian bisa berpantun juga ya?" Sungsang langsung berpikir untuk membalas rangkaian kata. "Benar kami datang tak diundang, tapi bukan agar nyawa melayang!"


"Tak peduli! Orang luar datang pasti mati!" geram lelaki berpakaian kulit harimau loreng. Sepertinya dialah pemimpin sekaligus orang yang telah melemparkan tombak.


"Eit! Eit! Tunggu dulu, janganlah terburu. Kami hanya ingin tahu—"


Wust! Wust!


Ucapan Sungsang harus terputus oleh desingan tombak yang melesat menyerang ke arah ulu hatinya. Bukan hanya Sungsang, tetapi Jaga Saksena juga turut diserang.


Jauh di arah timur, di atas sebuah pohon tinggi, Gandara terkekeh penuh kepuasan lalu berkata seorang diri,


"Hehehe! Tak kusangka rencanaku berhasil semudah ini! Tadinya kukira aku harus menjebak kalian hingga ke dalam pemukiman manusia terbelakang itu. Rupanya kalian berdua terlalu lamban hingga aku bisa bersembunyi. Ha ha ha! Mampuslah kalian!"


Usai berkata, Gandara melesat pergi untuk kembali ke kerajaan. Dari warta yang Gandara terima, manusia di balik Gunung Bumati tidak akan pernah melepaskan buruan mereka meski harus mengejarnya hingga sarang ular bumi. Sehingga Gandara tidak perlu buang-buang waktu menunggui pertarungan yang mungkin tidak akan selesai dalam satu malam.


Perhitungan Gandara sangat masuk akal. Meski Jaga Saksena dan Sungsang seorang pendekar yang sulit dicari tandingannya, akan tetapi untuk melawan ribuan manusia kuat di balik Gunung Bumati pasti akan membutuhkan waktu. Dan Gandara yakin, akhir dari pertarungan itu adalah kematian dua pemuda tersebut.


*


Berkali-kali menghindar, Jaga Saksena dan Sungsang akhirnya memutuskan untuk melumpuhkan beberapa dari para penyerang dengan tujuan memberi efek jera sehingga Jaga bisa mencari keterangan pemukiman atau markas apa yang ada di hadapan mereka berdua saat ini.


Stak!Stak!


Jaga dan Sungsang terus melakukan totokan. Di sela pertarungan itulah Sungsang berteriak,


"Jaga! Sepertinya ini bukan Kelompok Pemburu Budak Gunung! Mereka suku pedalaman yang masih terbelakang!"


"Keparat! Kau menghina kami!"


Maka makin murkalah para manusia berpakaian selempang kulit karena sebenarnya mereka tidaklah terbelakang, dibuktikan dengan bahasa yang bisa dipahami oleh Sungsang dan Jaga. Artinya manusia berselempang kulit telah berhubungan dengan manusia luar.


"Kita pergi saja dari sini!" balas Jaga Saksena pada Sungsang tak ingin lebih jauh meneruskan permasalahan.


"Kabur dari sini? Tak akan! Wu!Wu!Wu!"


Tiba-tiba salah satu dari manusia berpakaian selempang kulit memperdengarkan suara aneh. Saat itulah pagar betis dibentuk dengan senjata tombak menghadap ke dalam. Selain itu, ratusan manusia lain juga berdatangan dan ikut mengepung.


"Mereka makin banyak! Gunakan kabut merahmu!" teriak Jaga Saksena.


"Petak Halimun Abang!"


Bushh.


Seketika serbuk bagai kabut berwarna merah menyebar luas menutupi pemandangan semua orang. Kesempatan ini digunakan oleh Jaga Saksena dan Sungsang untuk melenting tinggi melompati pagar betis.


Ketika telah berada di luar kepungan,


"Menyemaikan Rintik Hujan!"


Jaga Saksena jentikkan sepuluh jari ke belakang, melesatkan ratusan titik-titik udara padat bagai rintik hujan yang mendesing sangat cepat.


Tak lagi memandang ke belakang apakah serangannya berhasil melumpuhkan para manusia berpakaian selempang kulit, Jaga Saksena melajukan tubuh cepat ke arah timur. Demikian juga Sungsang yang melesat di sampingnya.


"Kejaaaar!! Mereka kabur ke sanaaa!"


Lelaki berpakaian selempang kulit harimau berteriak keras sembari menunjuk ke arah timur.


Ratusan manusia berpakaian selempang kulit itu pun berlari cepat berusaha mengejar. Gerakan mereka lincah, lari mereka bagai kijang. Tetapi itu belum cukup untuk menyusul Jaga dan Sungsang.


Tak perlu lama, mereka kehilangan buruan yang raib ditelan pekatnya bayangan pepohonan hutan sehingga mereka pun menghentikan pengejaran.


"Sial! Dua orang itu pasti dari kerajaan Saindara Gumilang!" Lelaki berpakaian kulit harimau loreng memaki.


"Bagaimana, Sakriwa? Apakah kita serang saja kerajaan itu?" tanya lelaki berpakaian kulit beruang madu. "Kita jarah harta mereka dan bumi hanguskan tanah mereka!"


"Tidak semudah itu, Gretala. Saindara Gumilang merupakan kerajaan besar, bukan sebuah desa! Sebaiknya kita menghadap Yang Mulia Raja Draleka."


Sakriwa dan Gretala adalah dua dari empat pemimpin perang suku yang berada di lembah Kenabala.


Meski terlihat primitif mereka telah mengenal kepangkatan bahkan menobatkan kepala suku sebagai Yang Mulia Raja. Bukan sesuatu yang berlebihan, sebab tanpa diketahui pihak Kerajaan Saindara Gumilang, di bawah kepemimpinan Yang Mulia Raja Draleka, suku ini telah mengirimkan pasukan untuk menjarah desa-desa di bagian barat. Bahkan juga mempelajari bahasa yang paling banyak digunakan manusia luar.


Untuk kekuatan, manusia dari suku ini juga sangat kuat. Bagi mereka tidak butuh waktu lama untuk membebaskan diri dari totokan Jaga dan Sungsang.


"Jika begitu mari kita menghadap Yang Mulia Raja Draleka sekarang juga!"


Keduanya segera berlari kencang.


Sampai di sebuah rumah paling besar di tengah pemukiman luas, keduanya meminta ijin untuk masuk guna melaporkan hal penting.


"Apa?! Berani-beraninya mereka menghina kita sedemikian rupa!" bentak lelaki tinggi besar, wajahnya bercambang juga berewokan. Di kepalanya bertengger penutup kepala dengan dua tanduk melengkung. Dialah Yang Mulia Raja Draleka yang sangat marah ketika mendapatkan laporan dari Sakriwa dan Gretala.


"Sepertinya ini adalah pertanda bagi kita untuk menyerang mereka!" lanjut Draleka menengadah seolah mendapatkan pencerahan dari atas sana.


"Betul Yang Mulia Raja!"


***⁰00***