
Lima puluh wanita muda yang kini telah bebas merdeka dikelompokkan menjadi dua bagian. Mereka yang akan tetap tinggal di Kerajaan Saindara Gumilang di sebelah kanan. Mereka ada tiga puluh orang, dan sisanya akan dipulangkan berada di sebelah kiri.
Jaga Saksena dan Begawan Teja Surendra telah berbagi tugas.
Dua puluh wanita muda yang bakal dipulangkan akan mengikuti Begawan Teja Surendra ke sebuah rumah singgah sementara di istana kepatihan. Sedangkan tiga puluh wanita akan mengikuti Jaga Saksena dan Sungsang untuk dipekerjakan di sejumlah tempat.
Ketika Jaga Saksena telah melangkah keluar diikuti tiga puluh wanita muda,
"Jaga, kenapa kau tidak mengajakku?!"
Putri Anesha Sari mencegat, wajahnya jelas kemerahan meredam sesuatu. Mungkin cemburu atau kemarahan, Jaga Saksena tidak tahu sehingga enteng saja menjawab,
"Ikutlah denganku, aku akan perlu bantuanmu dan ada sesuatu yang ingin kusampaikan."
Merasa dibutuhkan, Anesha Sari langsung tersenyum senang. Putri cantik yang membuat para wanita di belakang Jaga Saksena merasa buruk rupa itu segera berbalik badan dan berjalan di samping Jaga.
"Kau sudah diberitahu oleh Ramandamu?" tanya Jaga Saksena sambil terus berjalan.
"Tentang apa?" Anesha Sari sudah diberitahu akan tetapi ingin diberitahu langsung oleh calon suaminya.
"Tiga purnama lagi kita akan menjadi suami istri, In sya Alloh."
Seketika hati Anesha Sari berbuncah bahagia, tetapi putri itu malah berhenti, sehingga membuat rombongan itu pun ikut berhenti.
"Tentang apa, Jaga?! Telingaku sedikit tertutup rambut sehingga kurang jelas, tolong katakan lebih keras lagi," pinta Anesha Sari.
Tanpa berpikir dua kali, Jaga mengulangi sama persis dengan suara lebih keras,
"Tiga purnama lagi, kita akan menjadi suami istri. Insya Alloh."
"Kalian dengar itu?!" Anesha Sari berkata menghadap pada para wanita muda. "Jadi jangan coba-coba kalian ya!"
"Kami takkan berani, Tuan Putri ...." jawab mereka kompak membuat Anesha Sari tersenyum puas.
"Coba-coba?" gumam Jaga Saksena tidak mengerti tetapi tidak pula ingin tahu. "Mari kita lanjutkan perjalanan!" ajak Jaga Saksena kembali melangkah.
Sambil berjalan Jaga Saksena menerangkan butuh bantuan Anesha Sari untuk menitipkan para wanita muda pada para pemilik kedai dan pengusaha.
Jaga berpikir, jika yang menitipkan para wanita muda ini adalah putri Yang Mulia Raja Basukamba langsung, para pemilik kedai dan pengusaha pasti akan lebih baik dalam memperlakukan mereka.
"Kau jangan khawatir, aku akan membantumu!" jawab riang Anesha Sari.
Sampai di jalan umum, iring-iringan rombongan Jaga Saksena menjadi pusat perhatian warga terutama cara berjalan putri Anesha Sari yang seperti tidak menyentuh tanah. Bergeser begitu saja, tidak sebagaimana biasanya orang berjalan.
Selain cara berjalan, yang menjadi pusat perhatian adalah kecantikan sang putri. Banyak lelaki yang tak bisa kedipkan mata saat melihat wajah Anesha Sari. Terlebih, bisa dikatakan ia tidak pernah keluar istana sehingga para warga tidak pernah melihatnya.
"Apakah itu Putri Andara Anesha Sari? Ternyata benar. Jalannya seperti angin!" seru seorang wanita separuh baya.
"Cantik sekali!" Seorang perempuan tua memuji tulus.
Mereka yang berkomentar adalah para wanita sebab para pria lupa untuk berkata-kata. Bahkan Jaga Saksena harus garuk kepala sebab ketika ia menyapa warga, tak satu pun yang menanggapinya.
***
Raden Bakintal _yang menghadiahkan lima ratus keping emas pada Ketua Padepokan Sanca Hitam dan mengatakan akan memberi sepuluh kali lipat lagi jika berhasil membunuh seorang pemuda bernama Jaga Saksena_ berhasil membuat Ketua Padepokan Sanca Hitam mengistimewakannya.
Sang ketua merangkap maha guru, Nyai Sadudasa Arimbi menawarkan Raden Bakintal untuk menjadi anggota padepokan. Dengan begitu, Raden Bakintal bukan hanya akan dibantu untuk membalas dendam, tetapi juga akan digembleng menjadi pendekar sakti hanya dalam tiga hari!
Andai yang berkata adalah pendekar biasa pasti Raden Bakintal tidak akan percaya, tetapi yang berkata kali ini seorang maha guru. Sehingga demi membalaskan dendam anaknya, Raden Bakintal menerima tawaran tersebut.
Malam harinya, Raden Bakintal dibawa oleh Nyai Sadudasa Arimbi menjalankan ritual di pesisir utara.
Tepat tengah malam, di bawah penerangan obor berjumlah sebelas, Raden Bakintal dimandikan air laut yang ditaburi kembang sembilan rupa. Setelah itu Nyai Sadudasa Arimbi memimpin membaca mantra yang harus diikuti oleh Raden Bakintal.
Lama membaca mantra, tiba-tiba air laut yang semula tampak tenang bergejolak. Pelan tapi pasti air laut di depan Nyai Sadudasa Arimbi membelah membentuk jalan selebar tiga tombak.
Mata Raden Bakintal membelalak takjub, meski begitu ia tetap mengikuti membaca mantra. Hingga, sebuah kereta kuda berwarna emas muncul dari jalan tersebut untuk menjemput mereka berdua. Kusirnya, seorang gadis berpakaian minimalis berwarna hijau. Sungguh ciamik!
Nyai Sadudasa dan Raden Bakintal dipersilahkan naik ke dalam kereta lalu dibawa pergi masuk menyusuri jalan yang membelah laut.
Cukup lama melaju sangat cepat _lima kali kecepatan kereta kuda biasa_ kereta kuda berwarna emas tiba di sebuah gerbang kerajaan yang semuanya juga berwarna emas. Empat prajurit lelaki yang berjaga di sana terlihat garang. Badan mereka kekar dengan hanya memakai celana bersabuk kulit tebal.
Meski menurut Raden Bakintal ini adalah malam hari, nyatanya suasana gerbang terang sedikit redup demikian juga jalan yang tadi mereka lewati.
Kereta itu terus masuk menyusuri jalanan yang di samping kanan-kiri terdapat bangunan sangat megah dan indah yang semuanya berwarna emas.
Raden Bakintal terpana ingin bertanya, tetapi sudah diberitahu oleh Nyai Sadudasa Arimbi untuk tidak bicara apa pun ketika ritual dimulai sampai saatnya nanti akan disuruh bicara.
Kereta tiba di depan bangunan paling tinggi nan megah yang semuanya juga berwarna emas.
Nyai Sadudasa Arimbi dan Raden Bakintal dipersilahkan turun. Sudah ada dua gadis luar biasa cantik menunggu mereka.
Pakaian yang kurang bahan dari dua gadis penjemput memanjakan mata Raden Bakintal. Tetapi ia tidak berani macam-macam sebab tahu ini bukan kerajaan manusia.
Dua gadis penjemput membawa Nyai Sadudasa Arimbi memasuki sebuah ruang pertemuan yang sangat luas dan mewah tetapi sepi. Hanya ada seorang wanita yang duduk di atas singgasana mewah dengan anggun. Wanita muda bermahkota emas bertabur mustika yang membuat Raden Bakintal menelan air liurnya.
Betapa tidak! Selain luar biasa cantik dan bening, pakaian warna hijau wanita muda itu tidak mampu menutupi apa yang harus ditutupi dari seorang wanita.
Diikuti Raden Bakintal, Nyai Sadudasa Arimbi meletakkan kedua telapak tangan di lantai pualam lalu menunduk hingga hidung dan kening menyentuh lantai.
Cukup lama keduanya dalam posisi tersebut sampai akhirnya wanita di atas singgsana menyuruh keduanya bangkit.
"Kuterima sembah sujud kalian, bangkitlah dan katakan ada perlu apa kalian meminta menghadapku!"
**⁰**
Tolong dibantu promo ya teman-teman, Jaga Saksena payah banget ini, terbit 2 bulan di sini baru mendapat penghasilan 363 rupiah. Betul, 363 rupiah. Bukan dolar.