Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 79. Jaga Saksena Masuki Medan Perang



Tanah di bawah kaki Sundara Watu membentuk sirip panjang akibat tubuh yang terdorong kuat. Meski begitu wajahnya tampak mengulas seringai sebelum mencelat ke depan atas.


Mendarat, Sundara Watu kembali hantamkan dua telapak tangan lurus ke depan, melepas ajian Gugur Watu Gunung.


Di sisi lain, Raja Basukamba pegangi dadanya yang sesak. Ada darah menetes di sudut bibirnya. Mendapat serangan susulan, raja itu kembali lepas jurus ajian keris Samber Nyawa.


DEMMMMM ...!


Ledakan kembali terjadi bahkan lebih dasyat dari yang pertama. Rupanya kedua belah pihak gunakan tenaga dalam lebih tinggi.


Terdorong makin jauh tidak membuat Sundara Watu kendor, lelaki bertubuh laiknya susunan batu itu makin bersemangat bahkan meski kini ada lelehan darah dari mulutnya.


Berbeda dengan Raja Basukamba, luka dalam yang ia derita makin parah. Dari kerutan wajah, tampak sang raja tengah menahan rasa sakit yang mendalam.


"Sepertinya kau sudah terlalu lemas untuk adu ajian, Raja Lemah!" berkata sinis, Sundara Watu melesat ke depan. "Tinju Penjebol Langit! Hiaaaaa ...!"


Tinju Penjebol Langit, sebuah ajian yang menitik beratkan pada kekuatan pukulan jarak dekat. Jangankan batu gunung, lempengan baja tebal akan jebol oleh ajian ini. Maka bisa dibayangkan jika menghantam kepala manusia.


Mendapat serangan, Raja Basukamba berusaha kerahkan kembali tenaga dalamnya sekuat tenaga untuk ringankan tubuh agar bisa berkelit. Ini ia lakukan sebab untuk adu kekuatan sangat beresiko mengingat luka dalam yang ia derita.


Wesss!


Raja Basukamba lontarkan tubuhnya ke belakang dalam posisi tubuh masih menghadap ke lawan. Langkah yang tidak cukup sangkil, sebab dengan mudah Sundara Watu kembali mengejar.


"Kau tak'kan bisa kabur dariku, Raja Lemah! Heyaas ....!"


Bagai burung menyambar, melesat di atas tanah beberapa jengkal, Sundara Watu hantamkan tinjunya. Sementara, sang raja melotot mata. Kali ini hanya satu jalan, dirinya harus ikut menyerang sebagai benteng bertahan.


Wuutts! Raja Basukamba sabetkan keris pusaka ke depan.


Tak ayal, tinju dan bilah keris pun bertemu.


Duarrt!


Raja Basukamba makin terdorong cepat tak terkendali hingga,


Brualk!


Punggung sang raja menghantam tumbang sebuah pohon sebesar tubuh manusia. Sedangkan Sundara Watu terdorong ke belakang beberapa tombak sebelum mendarat dengan kokoh di atas tanah.


Kembali menyeringai sebab telah jelas selangkah lagi mendapat kemenangan, Sundara Watu melesat memburu sang raja.


"Kali ini, mampuslah kau!"


Sundara Watu kembali persiapkan Tinju Penjebol Langit. Namun, baru setengah jalan.


"Rasaning Rasa!"


Jaga Saksena yang melihat Raja Basukamba akan celaka mencelat ke udara mencegat Sundara Watu sembari lepaskan serangan tapak jarak jauh beruntun.


Sedikit kaget, Sundara Watu silangkan dua tangan di depan kepala membentuk tabir energi.


Blartt!Blartt!Blarrt!


Sundara Watu terpundur tiga tombak. Saat yang sama, Jaga Saksena telah mendarat di atas tanah. Tersenyum tipis Jaga Saksena berkata,


"Seharusnya kau berjuang bersama kami, bukan malah sebaliknya, Kisanak!"


"Bukan urusanmu, Sudra?! Ini urusan kami para kesatria!"


"Semua terlahir sama. Tak ada sudra tak ada kesatria."


"Aku, Sundara Watu adalah pewaris yang sebenar kerajaan ini! Bukan manusia lemah itu! Jadi, minggirlah! Agar kusingkirkan manusia tak berguna itu!'


Membesar mata Jaga Saksena saat mendengar manusia bertubuh seperti batu menyebutkan namanya.


"Kau Sundara Watu? Hahahaha! Akhirnya, kumenemukanmu!"


"Sudra! Tak usah kau berlagak akrab denganku! Cuihh!" Sundara Watu meludah.


"Aku mencarimu bukan karena akrab, tetapi agar Kelompok Pemburu Budak Gunung bisa kutumpas hingga ke akar-akarnya!"


"Kau!?"


"Ya, akulah yang telah membunuhi anak buahmu di Balai Kelompok Pemburu Budak!"


"Sudra Keparat! Darah dibalas Darah! Nyawa dibalas nyawa!" Kepalkan tinjunya, Sundara Watu bersiap melakukan serangan.


"Tinju Penjebol Langit! Hiyaaaatt!"


Melesat bagai camar menyambar, tinju Sundara Watu membeset udara.


Tak tinggal diam, Jaga Saksena turut menderu ke depan. "Rasaning Rasa!"


Dan ... dua tinju pun beradu,


JDART!


Sama kuat, keduanya sama-sama terjajar ke belakang.


"Punya kekuatan juga kau, Sudra!" Sundara Watu berkata dengan mimik sinis, meski begitu sebenarnya ia merasakan tangan kesemutan hingga siku.


"Tak ada kekuatan kecuali atas pertolongan Gusti Alloh semata!" timpal Jaga Saksena tak hiraukan orang.


"Suruh Gustimu itu untuk menolongmu lagi! Hiaaa!"


Sundara Watu kembali melesat, kali ini menyerang dengan jurus tingkat tinggi sekaligus melambari pukulan dengan ajian Tinju Penjebol Langit.


Pertarungan pun baru dimulai!


Di sisi lain, Raja Basukamba _yang menggunakan kesempatan datangnya Jaga Saksena untuk duduk bersila guna memulihkan diri_ tak menyadari seorang pelempar tombak jitu tengah mengintainya.


"Kurasa ini waktu yang tepat!" gumam lelaki berpakaian kulit kerbau mempersiapkan tombaknya.


Memperhitungkan jarak dan tiup angin, si lelaki berpakaian kulit kerbau tebal itu mulai membidik dan,


Wusss!


Tombak meluncur dengan kecepatan mengagumkan mengingat itu hanya dilempar dengan tangan.


Sinar matahari sore membuat ujung tombak tampak berkilat, selain tajam, ujung tombak telah diberi minyak pelicin khusus agar mudah menembus sasarannya.


Lelaki berpakaian kulit kerbau tersenyum, selama ini lemparannya tidak pernah meleset.


Tiga jengkal lagi ujung tombak menghunjam dada sang raja, si lelaki berpakaian kulit harus memicing mata.


'Kenapa lama sekali? Apakah sudah kena?! Tapi mengapa ...?' pikiran ragu membuat lelaki tersebut berjalan hati-hati untuk mendekat.


Dan, betapa kaget si lelaki berpakaian kulit kerbau ketika tiba-tiba,


Wuusst!


Tombak membalik terbang ke arahnya dengan kecepatan yang lebih.


Terkesiap, lelaki berpakaian kulit kerbau telat menghindar.


Slebb!


Tombak tepat menghunjam jantung pemiliknya sendiri.


"Tak'kan kubiarkan kalian mencelakakan ramandaku!"


Putri Anesha Sari muncul dari balik sebuah pohon. Rupanya sang putri yang telah membalik serangan dengan kekuatannya.


Sebelumnya, Anesha Sari yang melihat Jaga Saksena bergerak ke sayap utara merasakan anggai (firasat_pen) buruk. Maka ia pun turut bergeser ke utara.


Dan benar saja, Anesha Sari mendapati ramandanya tengah terdesak hebat. Karena Jaga Saksena telah terjun membantu, Anesha Sari lebih memilih menyerang para prajurit musuh dari jarak jauh sembari menjaga ramandanya.


Tak-tik yang dilakukan Anesha Sari berhasil gemilang, berhasil menjaga ramandanya, tetapi saat yang sama ia juga berhasil membunuhi tentara musuh satu persatu dari tempatnya berada.


Matahari terus bergerak hingga kini mulai turun di arah barat, bersama dengan itu korban dari kedua pihak semakin banyak.


Namun korban dari pasukan Suku Lembah Kenabala lebih banyak. Karena, meski dari segi tubuh mereka lebih kuat, akan tetapi mereka kalah dari segi jumlah maupun siasat tempur. Belum lagi para pendekar yang tinggal di dalam tembok kerajaan juga turut membantu.


Kehadiran para pendekar tidak bisa dipandang remeh. Apalagi seperti Sungsang Gumilang Sang Pendekar Merah, setiap gerakannya adalah kematian lawan.


Sampai pun persediaan pisau terbang Sungsang habis hingga harus kembali mencabuti pisau yang telah ia pakai.


Aksi Sungsang jelas menarik perhatian kawan maupun lawan. Hingga salah satu pemimpin pasukan perang Suku Lembah Kenabala _Gretala_ merasa perlu menghentikannya.


Gretala, Lelaki tinggi besar berpakaian kulit beruang madu rangkap itu lentingkan tubuh ke udara sembari ayunkan dua kapak besarnya mengarah kepala Sungsang yang baru saja memasukkan pisau-pisau terbang ke kantong kecil yang terdapat pada rompi.


Wuuutts!