Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 21. Tiba Di Gerbang Kerajaan



"Segaaaarr ...! Ternyata air sumur lebih enak di tubuh daripada air sungai!" gumam Jaga Saksena yang baru sekali ini mandi menggunakan air sumur.


'Memar bekas tertendang kuda di dadaku sudah hilang!' batin Jaga kala menggosok bekas lumuran ramuan yang menempel di dada perut dan jidat.


Sakit di tubuh Jaga juga telah hilang, hanya di bagian jidat saja yang masih sedikit nyeri.


Usai mandi, Jaga Saksena segera mengenakan pakaian yang diberi oleh Ki Pandu.


"Bagus!"


Jaga Saksena mengamati pakaian yang baru ia kenakan dan memujinya. Meski warnanya pudar dan pakaian tersebut kebesaran tetapi hatinya benar-benar merasa senang.


Tak lupa Jaga juga menyelipkan kapak batu di pinggang lalu masuk ke dapur.


"Kakek, Nenek, terimakasih. Pakaian ini bagus sekali!"


Ki Pandu dan istrinya saling berpandangan sebelum tersenyum senang.


"Jika kau mau, tinggallah beberapa hari lagi, Jaga. Agar tubuhmu benar-benar pulih." Ki Pandu menawarkan.


Jaga Saksena terdiam. Merasa tidak enak jika harus terus merepotkan Ki Pandu, Jaga Saksena akhirnya berkata,


"Jaga sangat berterimakasih pada Kakek dan Nenek. Tapi aku harus melanjutkan perjalanan, Kek."


"Kau mau menyusul Pekok dan Rawal?"


"Benar, Kek."


"Jika itu maumu, kami tidak bisa mencegahmu, Jaga. Tetapi jika kau ingin kembali, pintu rumah kami selalu terbuka untukmu, Jaga."


"Terimakasih, Kek." Jaga mendekat. "Tapi bukankah kedai Kakek tidak ada pintunya?" lanjut Jaga lirih.


"Hahaha!" Ki Pandu mengusap kepala Jaga Saksena. "Perjalanmu masih panjang, Jaga. Meski kakek ingin kau tinggal, akan tetapi ketentuan untukmu telah dipersiapkan di depan sana. Pergilah, tetaplah jaga nuranimu dan turutilah dia, maka kau akan selamat."


***


Matahari sudah tinggi di arah timur kala Jaga Saksena telah di atas kudanya.


"Selamat tinggal Kek! Nek? Terimakasih atas semuanya! Heaa!"


Jaga menggebrak kudanya. Rupanya Rawal setuju untuk membantu menyertai dan mengawal Putri Lembayung Adiningrum dengan syarat bayaran yang cukup serta memberikan kuda untuk Jaga Saksena.


Selain kuda, Rawal juga meninggalkan bayaran pada Ki Pandu untuk memberikan bekal perjalanan pada Jaga. Sehingga kuda yang dinaiki Jaga dibekali dua kantong tempat menyimpan perbekalan.


Sesuai arah yang ditunjukkan oleh Ki Pandu, Jaga terus berkuda ke arah matahari tenggelam, arah barat.


Mengendarai kuda, Jaga Saksena bisa menembus jalan-jalan setapak yang sepi. Jalan yang tidak bisa dilalui oleh kereta kuda.


Perjalanan Jaga Saksena kali ini sangat lancar. Jaga Saksena sempat menyadari itu akan tetapi tidak mau pusing memikirkannya dengan bergumam dalam hati,


'Yang Maha Pencipta mengasihiku.'


Saking lancarnya, ketika Jaga Saksena membelah hutan sepi yang terkenal akan perampok sadis nan bengis. Tak ada satu pun batang hidung perampok yang menghadang.


Sebenarnya bukan perampok-perampok itu libur atau jenuh. Bahkan mereka telah bersiap di atas pohon untuk menghadang siapa pun yang lewat termasuk Jaga Saksena. Tetapi ketika mereka hendak beraksi, pemimpin perampok melihat sebuah tanda di kain penutup kepala kuda bagian depan, sehingga pemimpin perampok tersebut memberi isyarat pada anak buahnya agar membiarkan Jaga lewat.


Jaga Saksena hanya seorang bocah, ia tidak memperhatikan kain penutup kepala kuda _bagian depan_ yang telah berganti warna. Bukan lagi tanda Kerajaan Langkumitir.


Melakukan perjalanan kuda selama tiga hari, setelah melewati banyak desa dan perkampungan. Sore ini Jaga Saksena harus menghentikan kudanya, sepuluh tombak dari sebuah gerbang.


Gerbang yang sangat besar juga megah.


Jaga terdiam memandang gerbang besar nan megah tersebut.


Gerbang itu menjulang tinggi, bersambung dengan tembok yang juga tinggi dan panjang mengular. Bahkan Jaga Saksena harus memicingkan mata untuk melihat ujungnya.


'Luar biasa! Apakah ini bangunan manusia? Tinggi sekali ... panjang sekali ... berapa orang? Berapa lama ...?"


Kekaguman Jaga Saksena membuat dirinya tidak memperhatikan ada beberapa penjaga di bawah gapura yang tengah menatapnya dengan tatapan aneh.


"Hai bocah! Kau sedang apa di situ!? Itu jalan bukan tempat nongkrong! Minggir atau kau akan tertabrak gerobak lewat!"


Namun, entah apa yang tengah dipikirkan si bocah hingga teriakan penjaga tidak ia dengar.


"Whoii!"


"Aiyakkk ...!"


Jaga Saksena terkaget oleh tepukan yang menghajar pahanya. Ketika Jaga melihat siapa pelakunya yang ternyata seorang prajurit penjaga membawa senjata tombak, bocah itu segera meminta maaf,


"Maaf, Paman! Kau mengagetkanku!"


"Kau siapa Bocah? Dari mana? Mau kemana? Mau melakukan apa? Kenapa bengong di sini? Kau ingin mampus ditabrak gerobak atau pedati? Kau bosan hidup?!"


Pertanyaan cepat dan bertubi-tubi itu membuat Jaga Saksena nyengir harus jawab yang mana dulu.


"Whoi! Ditanya malah nyengir, kau manusia apa keledai?!"


"Keledai! Eh manusia Paman!" Jaga Saksena turun dari kudanya.


"Ditanya jawab!" bentak penjaga lain yang ikut mendekat.


"Baik, Paman. Namaku Jaga Saksena."


"Kau dari mana?"


"Eh dari mana ya?" Jaga Saksena menggaruk kepala. "Anu, Paman ...." Jaga berpikir sebutan apa yang tepat buat pulau kecil tempat asalnya.


"Ona anu, anumu kenapa? Mencelek?!"


"Anumu mencelek?!" Jaga bingung dengan ungkapan: anumu mencelek. "Apa itu, Paman?!"


"Woi!! Kau ditanya asalmu malah banyak nanya!!"


"Maaf, Paman!" Jaga sedikit membungkuk tanda meminta maaf lalu berkata, "Aku dari jauuuh di sana! Dari sebuah pulau kecil." Jaga menunjuk arah.


"Ha ha ha ha!" Dua penjaga tertawa bersama membuat kawan-kawan penjaga lain ikut mendekat.


"Apa dia bilang?!" tanya para penjaga lain yang baru mendekat ingin memastikan pendengaran mereka.


"Dia mengaku dari sebuah pulau kecil."


"Ha ha ha ha ha!"


"Bocil ... bocil ...! Mana ada pulau di sana!" leceh penjaga yang tadi bertanya memastikan.


"Sungguh, Paman. Aku tidak berbohong!"


"Ah sudahlah! Apa yang kau bawa itu?!"


Belum dijawab, penjaga yang bertanya langsung memeriksa isi kantong sebelah kiri dengan kasar. Sementara penjaga lain memeriksa kantong sebelah kanan.


"Hanya dua pepes ikan! Miskin sekali kau, Bocah Kecil!"


"Bagian sini malah kosong!" seru yang memeriksa sebelah kanan.


"Aku memang miskin, Paman. Juga sebatang kara ...." sahut Jaga Saksena sopan tapi tidak ada kesedihan di wajahnya.


"Jika begitu, pergilah. Pulanglah ke pulau kecilmu! Kau hanya akan menjadi sampah jika tetap memaksa masuk!" hardik penjaga tanpa bas kasihan.


"Tapi, Paman. Aku ingin masuk ke sana. Bukankah ini Kerajaan Saindara Gumilang?"


"Ya kau benar, ini Kerajaan Saindara Gumilang. Dan kau tidak boleh masuk, kecuali ...." Penjaga menggerakkan ujung jempol dan ujung jari tangan kanannya.


"Oh, syarat agar bisa masuk ke sana." Jaga tersenyum membuat sang penjaga dan kawan-kawannya ikut tersenyum. "Gini, Paman?!"


Jaga Saksena bertanya sambil menirukan gerakan tangan sang penjaga barusan.


Sontak, wajah sang penjaga berubah mengelam. Berbeda dengan kawan-kawannya yang pecah tawa.


"Hahahahahaha!"


***⁰0⁰***