
Delapan anggota Kelompok Gobed Hitam hendak ayunkan senjata, demikian pula para pemuda peronda. Ketika tetiba,
"Hentikan!"
Terdengar bentakan berwibawa dengan pengerahan tenaga dalam tinggi, membahana, membuat mereka hentikan gerakan.
"Ki Lurah Danuranda, Ki Bekel Sepuh Tangguljati!" seru Bekel Anom Dwijaya bangkit tergopoh menghampiri dua orang yang datang membawa obor bersama Surata.
Sementara para pemuda peronda langsung mundur ke belakang.
"Kerja bagus Ki Bekel Anom!" puji Ki Lurah melirik ke arah mayat lelaki berambut keriting.
"Ada yang menolongku, Ki Lurah. Bukankah Ki Lurah yang membantuku barusan?" tanya Bekel Anom Dwijaya menyangka bahwa Ki Lurah Danuranda'lah yang menyerang lelaki berambut keriting sehingga ia bisa membunuhnya.
Ditanya orang, Ki Lurah _lelaki pengguna belangkon hitam sebagai penutup rambutnya yang putih semua_ itu mengerut dahi, "Aku baru saja tiba, bagaimana aku telah menolongmu, Bekel Anom? Menolong bocah-bocah itu agar tidak mati konyol, iya!"
Ki Lurah memaksud para pemuda yang hampir saja bertarung dengan para anggota Kelompok Gobed Hitam akan mati konyol jika tidak ia dihentikan.
Mau tak mau, Ki Lurah Danuranda melirik ke pemuda pembawa kapak batu yang memisah beberapa tombak di sebelah timur. Saat itu pula si pemuda membungkuk sedikit, memberi hormat sembari nyengir seolah tak tahu apa-apa.
Ki Lurah Danuranda hendak menyapa pemuda itu. Namun saat yang sama, Jalada kembali memekik keras memberi perintah,
"Seraaaang ...!"
"Hiaaa ...!"
Serentak, delapan anggota Kelompok Gobed Hitam hunjamkan obor di tangan lalu menerjang.
Tancapkan obor, Ki Lurah Danuranda hunus kerisnya demikian juga Ki Bekel Sepuh Tangguljati. Keduanya menyonsong musuh diikuti Bekel Anom Dwijaya dan para pemuda.
Trang! Trang!
Percikan-percikan kembang api dari benturan antar senjata menghiasi malam.
Berbarengan dengan berkecamuknya pertempuran, Ketua Kelompok Gobed Hitam _Jalada_ berkelebat ke arah Jaga Saksena.
"Tidak seharusnya kau ikut campur menyerang anak buahku, Bocah Bandel!" ucapan Jalada rendah saja, akan tetapi jelas ada ancaman di sana.
Rupanya Jalada tahu, penyerang Kriwil adalah si pemuda pembawa kapak batu usang.
"Namaku Jaga Saksena, Paman."
"Hahahaha! Bocah Nakal! Meragukan jika ada ada yang akan membuat batu nisan untukmu sehingga kau perlu menyebutkan namamu! Tetapi yang jelas, aku Jalada Kepala Kelompok Gobed Hitam adalah orang yang akan mencabut nyawamu!"
Belum hilang ucapan Jalada di telan malam, tubuhnya telah bergerak cepat melancarkan serangan tangan kosong.
Tak tinggal diam, Jaga Saksena meladeni serangan.
Pak!Pak!Pak!
Benturan tangan kosong dilambari tenaga dalam tinggi turut meramaikan teriakan dan pekik pertarungan di sisi utara desa Debogsari.
Pertarungan dua kubu berjalan sengit, satu jurus terselesaikan dan kini tampak jelas para pemuda peronda terdesak hebat. Padahal Ki Lurah Danuranda telah meramped melawan dua anggota Kelompok Gobed Hitam. Demikian juga Ki Bekel Sepuh dan Bekel Anom. Sehingga setiap dua pemuda peronda mengeroyok satu anggota Kelompok Gobed Hitam.
Surata kini mulai menyesal kenapa tidak menabuh kentongan tanda bahaya terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah Ki Bekel Sepuh dan Ki Lurah. Sebelumnya Surata hanya berpikir harus cepat menjemput mereka berdua. Sialnya, Ki Lurah malah menginginkan menghadapi kelompok penjahat tanpa melibatkan warga lebih banyak karena penyerang hanya sepuluh orang.
Penyesalan Surata makin menjadi kala,
"Arghh ...!"
Lolongan kesakitan terdengar dari mulut Glewah _salah satu kawan Surata_ akibat tersabet gobed musuh di paha kanan.
Glewah bergulingan menjauh. Karena jika tidak, bisa-bisa bukan hanya paha yang akan terbabat tetapi leher.
Saat itulah, Surata yang perhatiannya terpecah akibat Glewah terkena serangan gobed harus menerima tendangan tepat di dada.
Duoshhh!
Surata terhempas beberapa tombak ke belakang, paru-parunya kehilangan kemampuan untuk menarik napas, jantungnya berhenti berdetak.
Namun, serangan belum terhenti.
"Mampuslah kauuu ...!"
Lelaki berambut gondrong dengan perawakan tinggi kurus _salah satu anggota Kelompok Gobed Hitam_ itu melenting tinggi mengayunkan gobed ke arah Surata yang kini terkapar di tanah. Jelas ia ingin segera mengakhiri lawan dalam kematian.
Surata pasrah pejamkan mata, selintas muncul bayangan Sulastri kekasihnya yang akan ia pinang dalam satu purnama lagi.
'Selamat tinggal, Duhai Kekasih ....'
Namun,
Thakk!
Brughhh!
Surata yang telah pasrah kepalanya dibelah oleh gobed lawan malah merasakan tubuhnya tertimpa benda sangat berat.
'Inikah kematian?! Tapi kenapa berat begini?!'
Spontan Surata buka mata, betapa kaget dirinya ketika mendapati badan telah tertimpa tubuh lawan.
Menarik napas dalam-dalam Surata merasa lega, kemampuan bernapasnya telah kembali meski masih ada sesak di dada.
"Hia ...!"
Surata dorong tubuh ceking itu dari atas tubuhnya. 'Untung saja tubuhnya kurus!'
Kembali menarik napas dalam-dalam, Surata bangkit. Saat ia memeriksa si kurus, rupanya lawannya itu hanya pingsan.
'Siapa yang melakukan ...? I-itu?!'
Mata Surata membentur kapak batu usang yang tergeletak di tanah.
'Pemuda itu?!'
Surata memicing mata ke arah Jaga Saksena yang tengah bertarung untuk memastikan apakah benda di pinggangnya masih ada. Belum pun jelas pandangannya sebab gerak pertarungan yang sangat cepat, tiba-tiba,
"Kau yang mampus!"
Crakk!
Sorrr!!
"Glewah, kau!!"
Surata berteriak memangil kawannya yang telah membacok si kurus dengan golok tepat di jidat.
"Bromocorah perusak harus dibunuh, Surata!" bentak Glewah berdiri terpincang-pincang sebab paha kanannya terluka akibat tersabet gobed.
Rupanya, usai Glewah menjauh dengan cara bergulingan, cepat mencopot bajunya lalu mengikatkan pada paha untuk kemudian bangkit hendak kembali bertarung membantu Surata.
Tak di duga oleh Glewah, musuh malah telah tergelatak di samping Surata. Maka tak banyak pikir, Glewah hantamkan bilah tajam golok untuk menghabisi nyawanya.
"Cepat kita bantu mereka, Surata!"
Kembali Glewah berteriak. Telah membunuh satu orang membuat semangat Glewah berkobar-kobar!
*
Di sisi timur medan pertarungan, Jalada telah benar-benar marah, memainkan jurus tingkat tinggi dengan kecepatan penuh. Bagaimana tidak! Sebelumnya saat pertarungan tangan kosong, Jaga mencabut kapak, ternyata bukan untuk menyerang lawan tetapi untuk ia lemparkan ke arah lain.
Namun, Jalada harus menelan kenyataan pahit. Secepat apa pun ia bergerak, nyatanya si pemuda mampu mengimbanginya.
Pertarungan terus berlanjut hingga tatkala posisi Jaga berada di sebelah timur,
Tassh! Tassh!
Jaga Saksena melesatkan totokan jarak jauh dengan menyentilkan kedua jari kanan kirinya.
Dua udara padat mendesing membelah malam.
"Permainan anak kecil! Kau takkan bisa pecundangiku dengan cara itu!" cibir Jalada sembari menghindar ke samping lalu kembali menyerang ke depan.
Dua udara padat bablas dan,
Thakk! Thakk!
Satu totokan mengenai dan membuat kaku tubuh salah satu anggota Kelompok Gobed Hitam yang tengah dikeroyok para pemuda peronda. Sehingga tak ayal anggota perampok itu menjadi sasaran empuk beberapa golok.
Cragk! Cragk! Cragk!
Sedangkan satu totokan lagi mengenai salah satu lawan Bekel Anom Dwijaya.
'Dua kali orang menolongku! Siapa dia!' batin Bekel Anom Dwijaya yang kembali terselamatkan dari kematian.
Dalam pertarungan kedua ini, Bekel Anom Dwijaya melawan dua orang anggota Kelompok Gobed Hitam sekaligus. Tentu saja dirinya harus mati-matian bertahan. Luka di sana-sini pun harus ia terima. Dan kala Bekel Anom Dwijaya benar-benar terdesak, tiba-tiba satu lawan kaku. Maka kesempatan ini tak ia sia-siakan untuk menjauh.
"Siall!" satu lawan Bekel Anom yang tersisa mengumpat sembari mengejar Bekel Anom dengan ayunan gobednya.
Para pemuda peronda yang telah menghabisi lawannya kini bergerak mendekati satu anggota Kelompok Gobed Hitam yang kaku. Tanpa ampun, kembali mereka membacokkan golok masing-masing.
Crak!Crak!Crak!
Berhasil menghabisi satu musuh lagi, empat pemuda peronda yang masih bugar _tidak terluka parah_ segera membantu Bekel Anom.
Di keroyok banyak orang dan sadar bahwa tiga kawannya telah menyusul Kriwil, membuat anggota Kelompok Gobed Hitam itu tak percaya diri. Apalagi dirinya adalah yang terlemah dari semua anggota. Maka yang ada di dalam pikirannya adalah kabur!