Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 106. Petaka Kama Kumara



Matahari telah berwarna jingga kala Kama Kumara diikuti Damodar memasuki gerbang Kerajaan Saindara Gumilang.


Para penjaga serentak memberi penghormatan meski jelas wajah mereka menyiratkan seribu pertanyaan akibat penampilan buruk Kama Kumara.


Putra Mahkota Kama Kumara selama ini dikenal sebagai pribadi yang selalu menjaga penampilan, tetapi senja ini penampakannya sungguh dekil nan kacau.


Belum lagi pengawal yang mengikutinya, kelihatan bukan seorang perwira. Para penjaga gerbang kerajaan selalu berganti tiap hari sehingga yang berjaga hari ini bukan prajurit yang berjaga kala Kama Kumara pergi seorang diri. Mereka tidak tahu, seorang yang bersenjata clurit di pinggang itu seorang kepala perampok.


Tak hanya penjaga gerbang, orang-orang yang berpapasan dengan Kama Kumara di sepanjang jalan menuju komplek istana raja pun terheran-heran.


"Ada apa dengan putra mahkota?!" bisik mereka setelah Kama Kumara berlalu.


"Jangan keras-keras kau bisa mati esok hari!"


**


Kama Kumara tiba di gerbang komplek istana raja ketika hari sudah gelap. Obor-obor telah dinyalakan sebagai penerang. Dan kejadian berulang, para penjaga gerbang istana raja harus mengernyit dahi menghormat pada putra mahkota dengan keheranan. Dan sama, Kama Kumara tak peduli pada mereka. Ia terus berjalan dengan langkah jumawa menuju kediamannya.


Tiba di depan pintu utama, Kama Kumara menyuruh Damodar duduk seperti anjing.


"Tetaplah seperti itu sampai aku memanggilmu!" bisik Kama Kumara di dekat telinga Damodar lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, pertama kali yang Kama Kumara lakukan bukan membersihkan diri tetapi malah mencari istrinya, Lembayung Adiningrum, di kamarnya.


Dengan kasar, Kama Kumara membuka pintu kamar Lembayung Adiningrum.


"Kakangda Suamiku, kau sudah pulang?!"


Lembayung Adiningrum yang tengah duduk menyisir rambutnya menghadap sebuah cermin segera bangkit menyongsong. Ia hendak memeluk suaminya, tetapi sebuah bau tak sedap sekaligus penampilan Kama Kumara yang sangat dekil membuat langkahnya terhenti.


"Ya, aku sudah pulang istriku!" Kama Kumara merentangkan tangannya memberi isyarat ingin sebuah pelukan.


Lembayung Adiningrum sedikit terkejut oleh suara serak tak jelas yang keluar dari mulut suaminya. Di bawah pencahayaan empat damar di sudut kamar, Lembayung Adiningrum mengamati, apa benar lelaki plontos kumuh di hadapannya adalah benar-benar Kama Kumara sang putra mahkota.


Hingga akhirnya, dengan sangat terpaksa dan menahan napas, Lembayung Adiningrum memeluk pemuda plontos tersebut. Ini ia lakukan setelah melihat tahi lalat di kening atas lelaki di hadapannya. Sebuah tanda lahir yang dimiliki Kama Kumara.


"Kau dari mana saja, Suamiku? Yang Mulia Raja mencarimu dan berpesan jika kau pulang diminta segera menghadap."


"Aku pergi sebentar, dan karena rinduku padamu maka aku lekas kembali!" bisik Kama Kumara lirih sehingga bisa dimengerti oleh Lembayung Adiningrum.


Masih menahan napas, Lembayung Adiningrum menyahuti, "Tentu Suamiku, sekarang bersihkan dulu badanmu lalu aku temani menghadap Yang Mulia Raja."


"Menemui tua bangka bau tanah itu urusan belakangan, Istriku." balas Kama Kumara masih dengan bisikan lirih.


Bisikan lirih, tetapi nyatanya mampu membuat Lembayung Adiningrum kaget bagai disambar petir di siang bolong.


'Bagaimana bisa seorang anak menyebut ramandanya dengan tua bangka bau tanah?!' batin Lembayung Adiningrum.


Dan, kekagetan Lembayung Adiningrum harus semakin menjadi-jadi ketika tiba-tiba Kama Kumara mengencangkan dekapan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri melucuti pakaian Lembayung Adiningrum dengan paksa.


"Suamiku, bersihkan dulu tubuhmu. Masih ada banyak waktu untuk lakukan hal ini nanti!"


Ucapan Lembayung Adiningrum hanya tinggal ucapan, sebab Kama Kumara tak peduli dan terus menelanjanginya.


Lembayung Adiningrum berusaha meronta, tetapi sia-sia. Semakin ia meronta semakin kuat dekapan Kama Kumara.


Hingga akhirnya, dengan tangkas Kama Kumara membalik tubuh Lembayung lalu mencekal pinggulnya dengan dua tangan. Memaksa perempuan cantik itu menungging dan ....


Lembayung Adiningrum menetes air mata. Meski dirudapaksa oleh suaminya sendiri tetapi perlakuan seperti ini sungguh sangat memilukan hati.


'Sang Hyang Widi, sampai kapan aku harus menderita seperti ini ....'


***


Tengah Malam, setelah puas memuncratkan cairan kental panas dari lingganya, Kama Kumara meninggalkan Lembayung Adiningrum begitu saja dalam keadaan lemas tak berdaya akibat terlalu lama dipaksa melayani suaminya. Ya, keperkasaan Kama Kumara ternyata juga naik sepuluh kali lipat.


Kama Kumara melangkah menuju pintu utama, diiringi tatapan mata para abdi dalem yang masih terjaga. Para abdi dalem itu sengaja tidak tidur sebab beberapa waktu lalu mereka mendengar rintihan sakit dari kamar Lembayung Adiningrum. Salah satu abdi dalem wanita paling sepuh memberanikan diri mengintip dari celah daun pintu yang tidak tertutup rapat. Dan betapa kaget dia karena yang di dalam kamar bersama Lembayung Adiningrum adalah Putra Mahkota Kama Kumara.


Sepeninggal Kama Kumara, abdi dalem wanita paling sepuh segera masuk kamar Lembayung Adiningrum dan segera melakukan pertolongan pertama.


Di emper rumahnya, Kama Kumara memerintahkan Damodar bangkit lalu membisikkan sesuatu.


"Siap! Apapun perintah Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!"


Tanpa membersihkan dirinya, ternyata Kama Kumara bergegas menuju bangunan utama di komplek istana raja, kediaman Raja Basukamba. Sementara Damador mengiring di belakang selatak seorang pengawal pribadi.


Kemunculan Kama Kumara di kediaman raja tengah malam seperti ini membuat heran para prajurit lingkar istana yang tengah berjaga. Tetapi mereka tak berani mencegah mengingat memang Kama Kumara telah cukup lama tidak terlihat menghadap.


Ketika telah tiba di depan kamar pribadi raja, Kama Kumara berbisik pada penjaga yang kebetulan malam ini adalah tugas Perwira Sadajiwa,


Meski merasa aneh karena Kama Kumara berkata dengan berbisik pelan juga menyebut ramandanya dengan "Rajamu" Perwira Sadajiwa tetap menjawab sopan,


"Mohon maaf, Putra Mahkota. Yang Mulia Raja telah beristirahat, hamba tak berani membangunkannya."


"Jika begitu, minggirlah!" Kembali Kama Kumara berbisik.


Sadajiwa mengangguk lalu minggir dari depan pintu.


Thok! Thok! Thok!


Pintu diketuk tiga kali dengan cukup keras.


"Siapa malam-malam begini berani menggangguku!"


Terdengar suara bentakan dari dalam kamar.


Kama Kumara mengacungkan jarinya pada Damodar sehingga ia langsung berteriak,


"Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!"


Tak berapa lama, terdengar langkah kaki tergopoh dari dalam kamar.


"Putraku?!"


Seorang perempuan berambut acak-acakan keluar, dialah Permaisuri Mahiswari. Tak pedulikan bau tubuh putranya, Mahiswari memeluk Kama Kumara erat seraya berkata,


"Kemana saja kau, Putraku? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Bahkan Ramandamu telah mengirim dua perwira untuk menelusuri kepergianmu."


"Lepaskan pelukanmu, aku ke sini karena disuruh menghadap segera!" lirih Kama Kumara berkata di telingan Byungdanya.


Akibat terbawa rasa suka cita, Permaisuri Mahiswari tidak merasakan keganjilan ucapan Kama Kumara.


"Silahkan masuk Putraku, Ramandamu telah menunggu."


Mahiswari mempersilahkan putranya dengan mendahului melangkah ke dalam kamar.


Kama Kumara pun masuk lalu menutup pintu rapat.


Di dalam ruangan, Kama Kumara yang biasanya melakukan sembah sungkem pada ramandanya kali ini hanya berdiri tegak di hadapan Raja Basukamba yang duduk di tepi pembaringan.


"Kemana saja kau, Putraku? Seharusnya jika hendak pergi lama, minta ijinlah padaku, ramandamu sekaligus rajamu!" Ada nada marah dalam ucapan Raja Basukamba.


"Aku sudah dewasa! Tak sepatutnya kau mengurusiku!" balas Kama Kumara dengan masih berdiri.


Suara Kama Kumara yang serak tidak jelas membuat Raja Basukamba tidak paham.


"Suaramu hilang sebagaimana rambutmu! Pergilah membersihkan diri dan temui tabib istana untuk mengobati tenggorokanmu!" titah Raja Basukamba.


"Sungguh tua bangka cerewet!"


"Apa?!" bentak sang raja bangkit dari duduknya.


Raja Basukamba tidak paham ucapan Kama Kumara, tetapi nada bicara putranya yang ikut membentak membuat sang raja tidak suka.


Kama Kumara maju dua langkah, mendekatkan mulut ke kuping ramandanya lalu berbisik,


"Kau tua bangka cerewet! Sudah saatnya aku yang menjadi raja! Bukan manusia bau tanah sepertimu!"


Seketika merah padam kulit muka Raja Basukamba. Ia tak mengira putra mahkota akan berkata sekasar itu, menyakiti perasaan orang yang telah membesarkannya sejak kecil.


"Anak durha-"


Blessh!


"Aghh ...!"


Bentakan Raja Basukamba berganti lenguhan ketika telapak tangan kanan Kama Kumara masuk ke dalam perutnya, dan.


Brall!


Kama Kumara menarik isi perut ramandanya tersebut sembari melangkah lebar ke belakang.


Permaisuri Maheswari yang berdiri tak jauh dari Raja Basukamba dengan jelas melihat lambung dan usus suaminya tersebut keluar berserakan akibat ditarik paksa oleh Kama Kumara.


Saking kaget dan ngeri secara bersamaan, perempuan itu tidak bisa berteriak sama sekali. Matanya melotot lebar, mulutnya menganga. Tetapi itu hanya sekejapan saja, karena detik selanjutnya, Permaisuri Mahiswari ndlosor jatuh tak sadarkan diri.


***