Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 122. Dia Kembali!



"Gila! Kekuatan apa yang bisa lakukan itu?!"


"Luar biasa! Raja hilang di angkasa!"


"I-ini tidak pernah terjadi meski di alam dongeng!"


Para prajurit mendongak kepala sembari terus berkomentar bagai dengungan tawon malam.


Bahkan para perwira, mereka ikut menengadah kepala termasuk Aswangga, Bentar Buana dan Sadajiwa.


"Sepertinya ini sudah berakhir. Kemenangan diraih Sang Putri!" Sadajiwa bersemangat sembari mengepal tangan ke atas lalu ia tarik ke bawah, "Yeaahhhh!"


"Tidak, jangan rayakan kemenangan terlalu dini!" Aswangga terus memicing mata ke angkasa.


Di sisi lain, Tumenggung Wiryateja yang telah membawa keris pusaka menarik napas lega. "Puji pada Sang Hyang Maha Kuasa, keajaiban terjadi. Tak kusangka Putri Anesha Sari ternyata tak perlu bantuanku!"


Di atap bagian belakang kaputren, Patih Sepuh Labda menghembus napas lega, 'Sepertinya sudah berakhir, aku mendengar tak akan ada yang bisa hidup di luar angkasa sana karena tidak ada udara!'


Namun, dugaan semua orang salah.


Tiba-tiba ....


"Apa itu?!" teriak seseorang membuat semua orang kembali menajamkan pandangan mata.


"Lintang jatuh!!" teriak yang lain memicu kehebohan.


Di angkasa tinggi sana, sebuah benda sangat mirip dengan lintang jatuh. Menyala terang dan memiliki ekor panjang. Dengan kecepatan luar biasa, benda berkobar itu meluncur menuju kerumunan para prajurit di sisi timur.


"Semuanyaaaa! Selamatkan diri kaliaaan ...!"


Yang berteriak adalah Tumenggung Wiryateja.


Seketika para prajurit berhamburan lari menjauh secepat yang mereka bisa. Dan, benda langit itu pun menghantam bumi.


BUMMMMMMMMMM ...!


Untuk sesaat suasana menjadi terang benderang oleh cahaya ledakan. Lingkungan kaputren bergetar hebat. Kepulan tanah dan debu menjulang tinggi membentuk dandang penanak nasi raksasa.


Semua orang masih berlarian, ketika merasa sudah aman, mereka pun berbalik badan untuk menyaksikan dasyatnya ledakan.


"Luar biasa, apa sebenarnya itu?!" tanya salah satu prajurit meski tidak berharap akan mendapat jawaban.


"Kita akan tahu setelah kepulan angin dan debu mengendap ke bumi!" jawab prajurit lain yang tak jauh dari prajurit penanya.


Mereka pun mulai mendekat tak sabar ingin melihat, ketika tiba-tiba ....


"Awaaaas ada lagiiiiii ...!"


Sebuah teriakan dari kejauhan mengagetkan mereka. Dan ketika mereka melihat ke langit, tampak sebuah lintang jatuh tengah menukik dari angkasa. Ukurannya lima kali lebih besar dan panjang dari yang pertama.


"Lariiiiii ...!"


Mereka yang sempat mendekat kembali lari tunggang langgang bahkan di antara mereka saling bersenggolan hingga terjatuh. Tak patah arang mereka kembali bangkit dan berlari. Hingga akhirnya tubuh mereka harus terhempas oleh daya kejut ledakan,


"BUMMMMMMMMMMMMMM ...!


Ledakan lima kali lebih besar dari ledakan pertama terdengar. Dan sungguh aneh, lintang jatuh kedua tepat di tempat jatuhnya lintang pertama.


Kepulan tanah dan debu makin membesar nan menjulang. Daya kejut ledakan memporak porandakan apa pun bahkan merobohkan pepohonan dan bangunan sejarak dua ratus tombak.


Tak pelak, bangunan kaputren bagian depan ikut ambruk demikian juga bangunan sekitar.


Teriakan dan jeritan ketakutan terdengar panjang seiring bumi yang tergetar.


Bersama ambruknya kaputren bagian depan, Anesha Sari ikut terjatuh lunglai tak sadarkan diri. Andai saja Patih Sepuh Labda Lawana tidak bertindak cepat dengan menyambar tubuhnya, niscaya gadis itu akan terperosok dan tertimbun runtuhan bangunan.


Patih Sepuh Labda Lawana mendarat di halaman belakang kaputren lalu berteriak,


Tak ada yang menyahuti apalagi keluar, kecuali tiga perwira yang mendarat dari atap. Mereka adalah Aswangga, Bentar Buana dan Sadajiwa.


"Silahkan, Patih Sepuh." Aswangga membukakan pintu belakang. "Sepertinya para pelayan mau pun abdi dalem telah mengungsi!" lanjut Aswangga lebih dulu masuk bermaksud hendak mempersiapkan tempat.


"Kita dudukkan di situ saja!" ujar Patih Sepuh membawa tubuh Putri Anesha Sari pada sebuah dipan di ruang belakang lalu mendudukkannya, "Aku akan membantu menyalurkan tenaga dalam!"


"Silahkan Patih Sepuh." Aswangga mempersilahkan sembari melihat Putri Anesha Sari dengan pandangan khawatir lalu berpaling pada Sadajiwa dan Bentar Buana untuk berkata,


"Perwira Bentar, Perwira Sadajiwa, entah mengapa perasaanku belum bisa tenang. Kalian tetap di sini untuk berjaga-jaga, aku akan melihat tempat ledakan dua benda itu."


"Baik Perwira!" sahut Sadajiwa dan Bentar Buana kompak.


Aswangga berkelebat lewat pintu belakang lalu melompat ke atap sebelum melesat ke halaman depan melewati puing reruntuhan.


Kepulan asap masih terlihat keluar dari kawah kering di timur sana. Tampak orang-orang tengah berada di bibir kawah. Mereka tengah melihat dan memperhatikan ke pusat cekungan kawah.


'Untung benda langit itu jatuh cukup jauh dari kaputren!' batin Aswangga melesat mendekat dan ikut berdiri di bibir kawah sisi barat.


'Masih terlalu pekat, aku tidak bisa melihat ke bawah sana. Mengapa perasaanku buruk seperti ini?' masih memperhatikan ke bawah Aswangga terus membatin ketika lamat-lamat matanya melihat sosok seperti manusia berjalan dari bawah kawah sana menuju ke arahnya.


"S-siapa itu?!"


Tergagap, Aswangga memutar tenaga dalam ke seluruh tubuh, bersiap menghadapi segala kemungkinan.


Dag!Dug!Dag!Dug!


Sosok itu makin dekat, menaiki sisi melengkung tanah tanpa kesulitan sedikit pun.


Dan, ketika sosok itu makin dekat ....


"K-kama Kumara?!" Aswangga terpundur demi melihat melihat sosok telanjang yang ia kenali. "T-tidak mungkin!"


"Ha ha ha ha ha!"


Sosok itu tertawa panjang bergelak hingga membuat semua orang kaget dan segera mendekat untuk melihat siapa gerangan.


Tetapi langkah mereka harus terhenti di jarak dua puluh tombak, sebab sosok yang tertawa itu ternyata Kama Kumara yang kini berpenampilan mengerikan.


"Kalian kagum kepadaku karena aku masih hidup?!" tanggap Kama Kumara ketika melihat mereka semua tak berani mendekat bahkan kini mulai mundur teratur.


Di bawah sinar rembulan separuh dan cahaya obor yang telah dinyalakan kembali, penampakan Kama Kumara sungguh mengerikan. Bukan karena raja itu telanjang, tetapi karena tubuhnya telah berubah bagai permukaan tanah yang retak-retak di musim kemarau. Dari retakan-retakan itu terlihat bara merah membara.


"Kalian pikir, hanya karena jatuh dan dihantam oleh batu langit aku akan mati?! Aku bukanlah Kama Kumara yang lemah! Aku sekarang adalah Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara penguasa duniaa! Dan kau!" Kama Kumara menunjuk Aswangga yang berada tiga tombak di depannya, "Beraninya kau tadi memanggil namaku tanpa gelar kebesaran! Mampuslah kauuu!"


Wuuts!


Kama Kumara hantamkan tinjunya ke arah Aswangga yang masih tampak tidak percaya pada apa yang dilihat oleh mata.


Pukulan yang tampak biasa saja dilakukan oleh Kama Kumara, tetapi mampu menembakkan sebuah bola api berkobar sebesar kepala manusia dewasa.


Meski masih setengah terbengong, spontan Aswangga mencelat ke samping untuk menghindar.


Blarrss!


Bola api terus bablas melabrak kaputren yang roboh. Segera nyala api berkobar-kobar membakar runtuhan bangunan yang terbuat dari kayu.


"Bedebah!" memaki Kama Kumara melotot pada Aswangga karena mampu menghindari serangannya, "Bukankah kau kacung Anesha Sari? Katakan di mana dia, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk membunuhmu dengan cepat!"


'Sial! Dia benar-benar Kama Kumara. Aku akan menahannya untuk sementara.'


Membatin demikian Aswangga menjawab demi mengulur waktu,


"Apakah kau benar-benar Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara?!"


***