Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 128. Pemuda Berpakaian Aneh



Empat puluh hari telah berlalu sejak kematian Kama Kumara. Putri Anesha Sari sudah mulai membuka diri. Pagi ini ia tengah mendengarkan Patih Sepuh Labda Lawana yang melaporkan perbaikan bangunan rusak sepenuhnya telah selesai.


Patih Sepuh Labda Lawana juga mengharap Anesha Sari segera berkenan untuk dilantik menjadi ratu karena sehari yang lalu Pangeran Trengginas telah resmi menjadi murid Begawan Teja Surendra.


"Tiga hari dari sekarang, Patih Sepuh. Siapkan acaranya di alun-alun dan undang semua rakyat."


"Alhamdulillah ... Sendiko dawuh Putri." Wajah patih Labda Lawana tampak lega.


"Oh ya, Patih Sepuh! Ajarkan aku masuk islam. Aku ingin mengenang mendiang Jaga Saksena dan mendoakannya dalam tiap ritualku nantinya."


"Alhamdulillahirobbil 'alamin ... Dengan senang hati, Putri ...."


Dengan mata berkaca-kaca bahagia, Patih Sepuh Labda Lawana mulai menuntun Putri Anesha Sari untuk mengucapkan dua kalimat syahadat bersama artinya.


Anesha Sari mengikuti pengucapan dua kalimat syahadat dengan lancar karena memang telah beberapa kali mendengar kalimat tersebut selama bersama Jaga Saksena. Ingatan kebersamaan dengan Jaga Saksena pun tiba-tiba hadir, membuat mata sang putri terasa hangat sebelum akhirnya air matanya benar-benar berderai.


*


Begawan Teja Surendra bersama Pendekar Merah baru kembali dua hari yang lalu dan beristirahat di rumah tamu keraton. Mereka berdua berencana tinggal di sana sampai Jaga Saksena kembali. Karena keduanya yakin Jaga Saksena belum mati.


"Aku mempunyai ikatan batin dengan Jaga Saksena, mana mungkin dia mangkat tanpa memberitahu padaku terlebih dahulu! Dia pasti masih hidup! Aku akan menunggunya di sini sampai kapan pun!" seru Pendekar Merah kala diberitahu kabar kematian oleh Perwira Aswangga yang telah sembuh dan pulih dari lukanya.


Perwira Aswangga yang datang bersama Perwira Bentar Buana serta Perwira Sadajiwa hanya terdiam. Mereka bisa memahami ketidak percayaan pemuda berpakaian serba merah itu. Mereka yang belum lama mengenal Jaga Saksena saja merasa kehilangan, apalagi Pendekar Merah yang mengaku telah berteman dengan Jaga Saksena selama 7 tahun lamanya.


Pendekar Merah alias Sungsang Gumilang memang telah mengakui dan menceritakan kebenarannya pada Aswangga dan Bentar Buana bahwa dirinya bukan pengawal pribadi Pangeran Jaga Saksena. Dan Jaga juga bukan seorang putra raja. Meski begitu, kedua perwira itu tetap memanggil Jaga Saksena dengan gelar pangeran karena sudah terlanjur.


Namun, Aswangga, Bentar Buana dan Sadajiwa tidak bisa mengerti ketika Begawan Teja Surendra tiba-tiba nyeletuk membenarkan ucapan Pendekar Merah,


"Dia memang terlihat sedikit bodoh, tetapi apa yang dikatakannya betul."


"Seandainya apa yang kalian ucapkan benar ...." gumam lirih Aswangga.


**


Hari ke 41 sejak berakhirnya pertarungan Kama Kumara dan Jaga Saksena.


Matahari telah naik separuh menuju titik tertingginya ketika sesosok manusia berpakaian aneh melenting tinggi melompati tembok tinggi bagian timur kerajaan. Dari ringannya gerakan dan cepatnya laju, jelas dia bukan pendekar biasa. Apalagi sosok itu memanggul seekor rusa besar di pundaknya. Rusa yang telah tersembelih.


Tak butuh waktu lama, sosok itu kini telah berjalan di keramaian menuju pasar. Apa yang ia bawa dan pakaiannya yang terbuat dari kulit bagian dalam jenis pohon randu membuat orang-orang memperhatikannya. Ia seorang pemuda, wajahnya bersih dengan rambut sangat pendek yang tampaknya baru tumbuh beberapa puluh hari.


Pemuda itu terus berjalan cepat, sampai di pasar ia menuju kedai makan besar lalu menawarkan daging rusa yang ia bawa.


"Berapa harus aku beli, Anak Muda?" tanya lelaki separuh baya pemilik kedai makan setelah memeriksa daging rusa yang ternyata masih segar.


"Belum cukup, Anak Muda. Pakaian di sini bagus-bagus, kecuali pakaian kasar yang kulit halusmu itu bisa gatal-gatal ketika memakainya."


"Tidak mengapa, Paman. Itu sudah cukup bagiku."


"Baiklah, bawa rusa itu ke dapur lewat samping Anak Muda."


Usai meletakkan rusa di dapur, pemuda itu menunggu di luar pintu dapur dengan berdiri tenang.


Tak berapa lama lelaki pemilik kedai telah keluar membawa baju berwarna biru gelap sekaligus celana dan sabuk kain tebal yang segera ia ulurkan ke si pemuda.


"Alhamdulillah. Terimakasih, Paman. Tapi bukankah tadi Paman akan membeli rusa yang kubawa dengan pakaian kasar? Bukankah ini terlalu bagus, Paman?"


"Wajahmu bersih dan tampan, kau mengingatkanku pada putraku yang telah tiada dua tahun lalu akibat direnggut oleh penyakit, Anak Muda. Jika dia masih hidup, mungkin dia seumuran denganmu. Menimbang itu, aku berubah pikiran. Maka terimalah pakaian ini sebagai pembayaran daging rusamu," jawab lelaki separuh baya, ada sedikit kesedihan di wajahnya.


"Maafkan aku yang telah mengingatkanmu pada mendiang putramu, Paman. Tetapi aku tidak mau berhutang budi padamu, Paman. Berikanlah pakaian kasar sesuai harga rusa itu, Paman." Pemuda itu menolak halus.


"Tidak ada hutang budi, rusamu kuhargai dengan pakaian ini! Kita impas, aku mendapat daging dan kau mendapat pakaian. Lagi aku tidak ingin kau hadir dalam penobatan ratu dengan pakaian kasar. Pakaian yang biasa dipakai untuk ke sawah ladang. Kau bisa dianggap sebagai seorang dalit jika memakai pakaian kasar ke acara pesta rakyat!"


"Penobatan ratu, Paman?"


"Iya, dua hari lagi di alun-alun. Semua warga diminta hadir untuk pesta rakyat. Tuan putri ingin semua rakyat ikut bergembira. Dan," Lelaki separuh baya pemilik kedai makan mendekat serta melirihkan suaranya, "Aku sangat tidak setuju dengan adanya sebutan dalit. Jika aku jadi seorang penguasa, pembagian swarna seperti itu akan kuhapuskan! Semua orang sama, bukankah kita tak pernah bisa memesan untuk lahir dari gua garba si anu atau si anu?!"


"Kau benar, Paman. Baiklah akan kuterima pakaian ini sebagai pembayaran rusa. Terimakasih, Paman." Pemuda itu sedikit membungkuk tanda hormat sebelum membalik badan. Namun,


"Tunggu, Anak Muda. Jika kau jadi penguasa, kuharap kau tetap sepemikiran denganku dalam hal ini."


"Tentu, Paman!" sahut si pemuda yang menoleh lalu kembali membungkuk sedikit sembari tersenyum lebar.


"Anak muda masa kini, jika diwejang jawabnya enteng saja. Tenta tentu!" gerutu lelaki separuh baya pemilik kedai lalu membalik badan masuk ke dalam dapur untuk memerintahkan rewang (pembantu_pen) menguliti rusa yang akan diambil dagingnya.


Sementara itu, pemuda berpakain aneh berjalan cepat menuju pemandian umum.


Setiba di pemandian umum,


'Alhamdulillah sedang sepi!' bisik hati si pemuda lalu membuka pakaian atasnya. Tampak sebuah kapak hitam angker bergagang penyak-penyok terselip di sabuk celananya yang juga terbuat dari serat kulit kayu.


Orang-orang kerajaan Saindara Gumilang memang rajin, pagi-pagi mereka telah selesai mandi dan mencuci. Maka ini sudah terlalu siang untuk ke pemandian umum.


Usai mandi, pemuda itu cepat memakai pakaian baru hasil barter dengan pemilik kedai lalu berkelebat pergi.


***⁰0⁰***