Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 61. Pengemis Itu



Kendati para prajurit itu tahu bahwa pemuda yang baru masuk ke dalam kerajaan barusan adalah bocah dalit yang dulu diburu, mereka tidaklah berhasrat untuk menangkapnya. Sebab semua telah tahu, hadiah telah didapat oleh lima pendekar yang telah menangkap dan menyerahkan bocah dalit ke Raden Bakintal.


Demikian juga orang-orang yang ada di kedai tatkala Jaga Saksena masuk. Di antara mereka ada yang masih mengingat ciri-ciri kapak batu di pinggang Jaga akan tetapi mereka tak lagi peduli. Apalagi jika benar itu bocah dalit yang dahulu diburu, maka pasti dia telah menjelma menjadi seorang pemuda yang tidak bisa diremehkan. Sebab, masih hidup setelah diburu oleh sekian banyak orang dan bisa lolos dari seorang Raden Bakintal sudah merupakan kemampuan luar biasa.


Tidak seperti dulu yang sangat penasaran akan nasi, Jaga Saksena datang ke kedai lebih untuk mendapatkan warta seputar Kelompok Pemburu Bu dak Gunung. Karena kedai adalah tempat di mana seseorang akan mendapat informasi dengan mudah.


Mengambil tempat duduk di meja pojok ruangan, Jaga Saksena memesan makanan dan minuman lalu mulai memasang telinga dengan seksama.


"Lelang bu dak kemarin hari sungguh aku sial, Darja! Aku sudah berani membayar dua ratus keping emas! Tetapi ada yang berani bayar dua ratus lima keping emas. Hanya bertaut lima keping emas!! Bukankah sangat mengesalkan?!" cerocos seorang lelaki yang berusia sekitar 50 an di meja sebelah kanan. Kemarin ia mengikuti lelang dan hampir berhasil mendapatkan seorang bu dak wanita muda, hanya saja ia kalah sehingga bu dak tersebut jatuh ke tangan orang lain.


"Sial apa, Wungkel? 5 keping emas itu banyak. Kau jangan terlalu sering mengeluh. Dan jika kau hanya ingin melampiaskan kicauan burung kecilmu itu, kau bisa menyewa wanita di Omah Kajaliran dengan harga murah! Paling sekali makcrit burungmu sudah lemas ...."


"Hahaha!" Kawan-kawan satu meja yang sedari tadi diam tertawa oleh perkataan Darja. Entah mereka menertawakan burung kecil makcrit ataukah kebodohan Wungkel.


Mendengar pembicaraan itu Jaga Saksena sedikit mengerut dahi, 'Omah Kajaliran? Menilik runtutan ucapan paman itu, omah kajaliran sepertinya sebuah tempat pela curan! Apakah di kerajaan ini tempat semacam itu diperbolehkan?' batin Jaga Saksena masih terus mendengarkan percakapan.


"Melampiaskan sesaat dengan membeli untuk selamanya jelas berbeda, Darja. Dan kau tahu aku sudah terlalu tua untuk mendapatkan seorang istri!"


"Siapa bilang, Wungkel? Kau lihat Kakek Prawira dia sudah bau tanah tapi kawin lagi!"


"Sudah jangan ngelantur, Darja. Apa kau tahu kapan Kelompok Pemburu Bu dak Gunung akan kembali mengadakan lelang?!"


"Mereka punya regu-regu pemburu, kukira tidak akan lama lagi. Kau siapkan saja kepingmu. Tapi, jika kau tak tahan dan ingin segera tahu, kau bisa pergi ke Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung!"


"Eh, kudengar semalam ada penyusup di Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung!" timpal kawan satu meja yang sejak tadi hanya ikut nimbrung ketawa.


"Kau becanda Plumpang! Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung dijaga sangat ketat. Paling bakal penyusup, bukan penyusup!" Darja menolak penyebutan penyusup.


"Aku setuju denganmu, Darja!" sahut yang lain.


"Oh ya, kudengar pula bahwa calon penyusup itu ...."


Pembicaraan terus berlanjut, mereka mulai menyebut ciri-ciri calon penyusup yang mengenakan pakaian serba merah, dan hilangnya calon penyusup yang meninggalkan kabut merah.


Jaga Saksena membesarkan bola matanya demi mendengar ciri-ciri tersebut.


'Sungsang Gumilang si pendekar merah! Rupanya dia juga di kerajaan ini. Apa saja yang ia lakukan selama tujuh tahun? Hingga Kelompok Pemburu Bu dak Gunung malah makin besar.' Membatin Jaga Saksena sekaligus bertanya dalam hati.


Pesanan datang, Jaga masih terus mendengarkan percakapan orang-orang sembari menikmati makanan yang baru dihidangkan.


Hingga ketika tiba-tiba di bagian pintu masuk kedai terdengar keributan.


"Pergi dari sini! Kami tak menerima pengemis! Hanya mengotori kedai kami dan mengotori mata pengunjung!"


Terdengar seorang tukang pukul yang berjaga di depan kedai menghardik.


Tukang pukul memang sangat berguna, selain untuk menghalau para pengemis juga untuk menghajar orang-orang yang makan tanpa mau membayar atau mengatasi pengunjung yang membuat ulah seperti karena mabuk berlebihan.


"Tolong, Tuan ... Anakku sudah tiga hari belum makan, Tuan ...."


Lelaki bertelanjang dada dengan celana dan ikat perut kumal itu terus berusaha meminta. Wajahnya yang celemongan hitam bagai kena arang terlihat memelas.


"Itu urusanmu! Sudah tahu melarat malah beranak! Kalau melarat itu bekerja! Bukan beranak!"


"Hahaha!" Para pengunjung kedai tertawa.


"Bisa saja Si Tukang Pukul Kartaya!" ujar mereka mengomentari bentakan tukang pukul kedai.


"Pergi sekarang juga atau kupukul kau!" Kartaya kembali membentak, tangannya telah mengepal.


"Tuan, tolonglah. Sekali ini saja Tuan ...!" memelas pengemis itu menunduk sembari tetap memohon.


"Keparat! Dikasih kesempatan malah ngelunjak! Hiaa—"


"Tunggu, Paman Kartaya!"


Bogem mentah yang sedianya dihantamkan oleh Kartaya terhenti di tengah jalan oleh sebuah seruan dari sudut ruangan yang memanggil namanya.


Pemanggil itu adalah Jaga Saksena, pemuda itu tahu nama sang tukang pukul dari mendengar namanya disebut oleh pengunjung kedai. Dan memanggil nama cukup ampuh untuk menarik perhatian sang pemilik nama.


"Ki Sanak," Menghampiri si pengemis Jaga mengulurkan makanan dan minuman, "bawalah ini untuk anakmu. Dan ini untuk membeli kebutuhanmu."


Jaga Saksena mengulurkan satu keping emas.


"Tidak, Anak Muda. Ini sudah cukup."


Lelaki pengemis hanya menerima makanan dan menampik halus keping emas.


"Tidak apa-apa, Ki Sanak. Aku rela ini untukmu. Terimalah!"


Jaga kembali mengulurkan keping emas yang akhirnya diterima oleh si lelaki.


"Terimakasih, Anak Muda. Semoga kau diberi panjang usia dan keberuntungan."


"Sama-sama, Ki Sanak."


Lelaki pengemis berlalu pergi dengan diantar oleh pandangan Jaga Saksena juga Kartaya. Sementara para pengunjung dalam kedai tak peduli, mereka tetap asyik berbincang ria sembari menikmati hidangan di atas meja.


"Siapa namamu, Ki Sanak Muda?" tanya Kartaya.


"Jaga Saksena, Paman."


"Kau terlalu banyak memberikan keping padanya. Dalam peraturan Raja, dilarang memberi pengemis lebih dari dua ketip."


"Oh maaf, Paman aku tidak tahu aturan itu. Aku orang baru di kerajaan ini."


"Ya, tidak apa-apa, tidak ada prajurit yang berlanglang (berpatroli_pen) di sini."


"Baik, Paman. Aku akan kembali ke tempat dudukku."


"Silahkan."


Karena makanan dan minumannya diberikan kepada lelaki pengemis, Jaga kembali memesan makanan. Tetapi kali ini hanya makanan ringan.


Saat yang sama, si pengemis berjalan cepat tanpa menoleh menuju tempat yang sepertinya ia telah sangat hapal.


Lama berjalan, lelaki pengemis itu tiba di sebuah pintu gerbang yang dijaga oleh dua orang prajurit.


Ketika dua prajurit penjaga menghentikannya, lelaki pengemis menunjukkan sebuah lencana.


Sontak, dua prajurit penjaga memberi hormat lalu meminta maaf.


Tak menggubris permohonan maaf dua penjaga, lelaki pengemis berlalu cepat masuk ke dalam yang ternyata adalah sebuah taman.


Di dalam taman terdapat sebuah danau kecil yang airnya cukup jernih.


Di atas danau, seorang gadis berambut panjang hitam lebat tergerai, berpakaian sutera halus tengah berdiri di atas rakit. Wajahnya sangat cantik dengan kulit bening. Alisnya yang panjang bagai bulan sabit menambah kecantikannya yang sudah luar biasa.


Tap!Tap!Tap!


Lelaki pengemis berlari di atas permukaan air lalu mendarat di atas rakit tanpa mengguncangnya sedikit pun.


Membungkuk hormat, lelaki pengemis berkata lirih tetapi terdengar jelas,


"Tuan Putri, ini makanan yang Tuan Putri inginkan."


"Terimakasih, Paman Aswangga. Kau memang selalu bisa menjalankan tugas dengan sangat baik," puji gadis cantik tersebut sembari menerima makanan lalu bertanya,


"Dari siapa kali ini kau mendapatkannya, Paman Aswangga?"


"Seorang pemuda, yang menurut pengamatanku dia orang baru di kerajaan ini, Tuan Putri."


"Ceritakan ciri-cirinya padaku, Paman Aswangga."


Yang dipanggil Paman Aswangga menceritakan ciri-ciri pemberi makanan, ia juga menceritakan telah diberi keping emas yang sempat ia tolak.


Mendengar jawaban Aswangga, sang gadis membalik tubuh lalu menatap langit biru. Ada senyuman di bibir indahnya yang merekah.