
"Seperti wejangan penuh kebijaksanaan tinggi dari Yang Mulia Raja, maka pantang bagi seorang Jaga Saksena untuk mundur, Yang Mulia Raja."
"Hahahaha!" Raja Basukamba tertawa puas, sangat puas hingga suara tawanya terdengar keluar ruangan membuat heran dua prajurit lingkar istana yang kebetulan lewat berpatroli.
"Raja Basukamba tumben sebahagia itu!" bisik seorang prajurit.
"Hustt ...! Jangan keras-keras, bisa kena gampar kita nanti!"
Kedua prajurit itu mempercepat langkah mereka takut sang raja mendengar bisikan mereka.
Di dalam ruangan pribadi raja, usai raja selesaikan tawanya, Jaga Saksena berkata dengan kalem,
"Tetapi dalem (saya_pen) minta para budak wanita tetap dibebaskan, Yang Mulia Raja. Maka kekurangan pitukon adalah enam puluh ribu keping emas!"
"Tidak masalah, tapi aku butuh jaminan bahwa kau pasti akan membayarnya!" tegas Raja Basukamba berkata dengan penuh penekanan, jelas saja ia tak ingin Jaga Saksena nantinya molor atau bahkan tidak mau membayar sisa pitukon.
"Dalem tidak akan menyentuh Putri Anesha Sari sebelum pitukon tersebut lunas, Yang Mulia Raja."
"Baiklah kita sepakat!" Raja Basukamba mengulurkan tangan kanannya mengajak berjabat tangan.
Jaga Saksena menyambut.
"Sepakat Yang Mulia Raja!"
Kesepakatan telah dibuat, Raja Basukamba lalu menetapkan hari untuk upacara mengikat jalinan suami istri yaitu tiga purnama lagi.
Jaga Saksena pun menyetujui, akan terapi dengan syarat upacara perkawinan tidak seperti biasanya tetapi mengikuti tatacara Jaga Saksena.
"Tidak masalah. Upacara itu bisa tertutup dan juga tidak berguna, yang penting adanya pesta besar-besaran mengundang seluruh rakyat untuk memberi tahu mereka bahwa kau telah memperistri putriku!"
Dalam hal ritual Raja Basukamba memang tidak terlalu peduli kecuali itu menguntungkan atau setidaknya berguna bagi kepentinganya sendiri atau kepentingan keluarganya.
"Terimakasih Yang Mulia Raja. Lalu kapan Yang Mulia akan bebas merdekakan para budak wanita itu?"
"Sekarang juga jika kau mau, tapi apa kau yakin? Lalu bagaimana mereka akan bisa menghidupi diri mereka sendiri setelah dimerdekakan? Atau bagaimana mereka akan pulang ke desa mereka masing-masing? Semua butuh biaya, Jaga!"
"Astaghfirullahal'adhiiim ...."
Jaga seperti tersambar petir, lalu menunduk berpikir.
"Kau renungkan itu baik-baik, Jaga Saksena. Aku sebagai raja yang mementingkan kesejahteraan rakyat tidak ingin mereka malah menjadi jalir, menjajakan tubuh mereka di luar sana. Atau mereka pulang menuju desa merek tetapi malah tewas di perjalanan."
"Baik Yang Mulia Raja. Mohon jangan perlakukan mereka sebagai budak, karena dalem tidak akan lama."
"Aku tidak bisa berjanji banyak padamu tentang hal itu, Jaga Saksena!"
Jawaban yang sengaja diberikan oleh Raja Basukamba untuk membuat pemuda itu makin tertekan. Ada kepuasan tersendiri dirasakan oleh Raka Basukamba ketika melihat Jaga Saksena kalah olehnya.
***
Jaga keluar dari ruangan pribadi Raja Basukamba dengan pikiran kalut. Ia menyalahkan diri sendiri karena tidak memikirkan jangka panjang dari pembebasan budak.
Meski banyak pikiran, Jaga Saksena tetap menyapa para abdi dalem maupun prajurit yang dipapasinya.
Ketika sampai di ruangan depan, Jaga Saksena telah ditunggu oleh Perwira Sadajiwa.
Ternyata Sadajiwa memutuskan untuk menunggu Jaga keluar sebab siang ini tidak ada tugas. Lagi, belum tentu besok pagi dirinya bisa berkunjung ke kediaman Jaga Saksena.
"Bagaimana Den Jaga? Sepertinya Den Jaga sedikit banyak beban?" sapa Sadajiwa bisa melihat senyuman Jaga Saksena yang sedikit dipaksakan.
"Apakah kau bisa menemaniku untuk melihat peluang usaha di kerajaan ini, Perwira Sadajiwa?"
"Maksud Den Jaga?"
Jaga Saksena menerangkan dengan singkat tentang lima puluh budak wanita muda yang berusaha ia bebaskan.
"Raja Basukamba sudah bersedia memerdekakan mereka semua, dengan syarat aku bisa mengurus mereka setelah dibebaskan," pungkas Jaga Saksena.
"Aku tidak bisa membantu banyak, Den Jaga. Tetapi jika hanya mengantar untuk melihat-lihat para pengusaha dan usaha mereka, Den Jaga telah mendapatkan orang yang tepat. Mari silahkan, Den Jaga."
Sadajiwa dan Jaga Saksena bergegas pergi keluar istana. Tujuan pertama Sadajiwa adalah usaha pembuatan batu bata di dekat tembok utara kerajaan.
Oleh Perwira Sadajiwa Jaga Saksena dikenalkan dengan pemilik usaha yang masih seorang raden. Raden tersebut sangat senang mendapat kunjungan seorang Pendekar Peniup Bledeg. Sehingga menjawab dengan terbuka lika liku usahanya.
Berbincang lama, Jaga Saksena akhirnya menyimpulkan usaha pembuatan bata merah selain lesu penjualan juga terlalu berat untuk wanita.
Jaga Saksena dan Perwira Sadajiwa pamit lalu menuju tempat usaha lain, penumbukan padi menjadi beras.
Seperti ketika ke usaha batu bata, pengusaha penumbukan padi sangat senang menerima kedatangan Jaga Saksena. Dengan gembira hati ia menjawab semua pertanyaan Jaga Saksena tanpa menutupi sedikit pun.
Pada akhirnya, Jaga Saksena menarik kesimpulan, usaha penumbukan padi juga tidak cocok karena upah jasa tumbuk padi yang sedikit.
Jaga dan Sadajiwa pamit. Mereka berdua menuju ke pasar tetapi pasar cukup sepi tidak seperti biasanya akibat hujan badai kemarin.
"Lihat, para wanita berjualan, Den Jaga."
Mendengar Sadajiwa memanggil pemuda di sampingnya dengan Den Jaga, orang-orang di pasar langsung heboh.
Ketika Jaga Saksena tersenyum ramah dan menyapa, mereka segera mengerumuninya termasuk para pemilik lapak.
Tak banyak yang dilakukan mereka, dari sekedar ingin melihat Pendekar Peniup Bledeg dari dekat hingga menawarkan diri atau menawarkan anak gadis mereka.
"Ternyata Pendekar Peniup Bledeg tampan sekali!" seru seorang wanita separuh baya.
"Pendekar, aku punya anak gadis cantik nan ayu. Bagaimana kalau kau menjadi menantuku?!" Seorang lelaki berpakaian masih baru berkata dengan suara sedikit keras akibat berisiknya kerumunan.
Belum pun Jaga Saksena menanggapi, seorang perempuan berusia tiga puluhan bertubuh tambun menyeruak dan berkata dengan manja,
"Pendekar Peniup Bledeg, perkenalkan aku Lasmini. Pendekar sudah punya calon istri belum? Aku janda lho, Pendekar. Maukah kau menjadikanku istri meski yang kedua?"
Dan banyak lagi perkataan dari orang-orang berbeda, Jaga Saksena mulai merasa pening. Pada puncaknya, Jaga Saksena dengan halus berpamitan. Mengajak Perwira Sadajiwa pergi dari pasar.
"Pendekar, jangan lupa tawaranku ya ...!"
Sudah pergi pun Jaga Saksena masih diteriaki.
*
"Bagaimana Den Jaga? Apakah ada peluang di pasar?!" tanya Perwira Sadajiwa ketika mereka telah cukup jauh dari pasar.
Tersenyum kecut Jaga Saksena menjawab,
"Belum Perwira Sadajiwa. Aku belum tahu harus menjual atau berjualan apa jika membuka usaha di pasar. Sebaiknya kau antar aku ke tempat usaha lain."
"Baik Den, jangan khawatir masih banyak tempat. Mari kita ke pengrajin gerabah dan alat-alat dapur lainnya dulu, Den."
Keduanya pun berkelebat menuju tempat yang dimaksud Sadajiwa.
Tak disangka oleh Jaga Saksena, ternyata membebaskan budak tidak semudah yang ia pikirkan.
'Akankah aku menemukan lapangan pekerjaan atau usaha buat mereka semua? Duh Gusti ... Tolonglah hambaMu ini ....'
***
Bersambung ....