
Omah Kajaliran Bulan Perak merupakan lokalisasi kedua yang didirikan di Kerajaan Saindara Gumilang.
Kendati baru berdiri beberapa tahun, Omah Kajaliran Bulan Perak tidak kalah dengan Omah Kajaliran Jiwa Husada.
Itu dikarenakan adanya para jalir (pelacur_pen) yang aduhai hai hai, memanggil mata keranjang untuk semakin jelalatan.
Tubuh para jalir di sana berdaging kencang dengan paras yang mempesona.
Dari sekian para jalir yang aduhai ada satu jalir yang kecantikannya disebut-sebut mengalahkan puteri, kecantikan tingkat bidadari. Dia bernama Lintang Asri Kemuning. Sesuai namanya yang berarti perempuan selayak bintang memiliki cahaya untuk kedamaian alam semesta, Kemuning (demikian biasanya ia dipanggil) selalu saja bisa meredam gejolak kelelakian menggantikannya dengan kepuasan tak terhingga.
Dan, bukan rahasia lagi jika pelecut (motivasi_pen) dari para penjudi untuk menang adalah agar bisa menghabiskan malam bersama Lintang Asri Kemuning.
Harga layanan Kemuning tidak dipatok pasti. Siapa pun yang berani bayar lebih mahal maka dialah yang akan mendapatkan pelayanannya. Kecuali jika Kemuning suka pada pelanggannya maka dia tak lagi melihat keping emas.
Malam ini, Sungging Petaka tertawa kencang. Berbekal keping dari menang taruhan ia berhasil memenangkan harga tertinggi untuk menghabiskan malam bersama Kemuning.
Seorang pelayan wanita setengah tua membawa Sungging Petaka ke sebuah kamar yang semerbak mewangi.
Ranjang luas beralas kasur kapuk dengan sprai dominasi warna putih bertaburan bunga mawar menyambut Sungging Petaka. Sebelum pergi, pelayan wanita setengah tua berkata,
"Lintang Asri Kemuning tengah membersihkan diri, sebentar lagi akan datang."
"Tak masalah, aku juga perlu sedikit waktu sendiri!" balas Sungging Petaka dengan senyuman penuh makna.
Sepeninggal pelayan wanita setengah baya.
"Selamat datang malamku yang panjang. Aku takkan menyia-nyiakan malam ini meski hanya sekejapan mata!"
Sungging tersungging senang mengeluarkan sebuah benda kecil dari balik ikat pinggangnya. Beberapa hari yang lalu ia mendatangi seorang dukun untuk mendapatkan ramuan keperkasaan pria.
"Memakai ini, burung cucak rowomu akan berdiri semalam suntuk, bahkan meski kau pingsan!" Demikian kata si dukun dengan meminta bayaran sekeping emas.
"Harga yang sangat mahal untuk sebuah benda kecil tetapi sangat murah untuk sebuah kepuasan!" gumam Sungging Petaka membuka tutup botol yang terbuat dari carang (bambu kecil_pen).
Sungging Petaka mengeluarkan ***********, lalu perlahan menuangkan isi botol sebelum mengusapkannya dengan disertai sedikit pijitan.
Ada bau wangi khas menyeruak.
"Benar-benar ramuan hebat! Baunya juga harum!" gumam Sungging Petaka melihat *********** berdiri mengacung ke depan bagai tombak prajurit gagah perkasa yang bersiap menghadapi peperangan.
Tengah mengagumi barangnya sendiri, Sungging Petaka mendengar langkah cepat mendekat.
"Ah ... kau datang di saat yang tepat, Kemuning. Sepertinya kau memang tercipta untuk memuaskan hasrat setiap pendamba ...."
Tanpa menoleh le arah pintu, Sungging Petaka berkata bak seorang pujangga.
"Dekaplah aku dari belakang sana.
Maka kau akan lihat benda menawan mata.
Dengannya, kau akan terbang ke swargaloka.
Oh tidak, tapi kita ... berdua ...
Kemuning ..., Kau tahu betapa aku—"
Crass!
Sorrr!
Blugh!
Sebuah pedang berkelebat cepat, melewati leher Sungging Petaka hingga lelaki itu tak bisa melanjutkan syairnya.
Darah memancar bersama suara kepala Sungging yang jatuh menggelinding. Disusul tubuhnya yang jatuh ke belakang dengan posisi telentang.
Dan, apa yang dikatakan si dukun benar adanya, ******** sungging tetap berdiri laksana tombak meski pemiliknya telah mati!
***
Gadis yang hanya mengenakan kemben (pakaian bawah dari kain jarit_pen) itu melenggak-lenggok melemparkan pantatnya ke kanan dan ke kiri. Pantat yang bulat padat. Seorang pemuda akan menelan air liur berkali-kali kala melihat gerak lemparannya.
Rambut panjangnya yang hitam tebal tergerai, mengikuti alur langkah menebarkan semerbak wangi hingga sejauh dua tombak.
Parasnya tak diragukan lagi, seorang purata (normal) pasti akan tergila-gila padanya dalam pandangan pertama.
"Aku akan membuat lelaki itu cepat tidur, sungguh membosankan jika aku melayaninya semalaman. Lelaki buruk rupa!" maki si gadis pelan, hanya telinganya sendiri yang mendengar.
Di depan sebuak pintu kamar, gadis aduhai itu berhenti lalu mengetuk daun pintu tiga kali.
Thok!Thok!Thok!
Tak ada jawaban, kembali si gadis mengetuk pintu.
Thok!Thok!Thok!
Hening.
"Hihihihi!" Si Gadis tertawa renyah, "Apakah dia sudah tidur? Baguslah aku tak kan susah-susah melayaninya!"
Gadis cantik tak bercela itu mengalihkan tangannya ke bawah untuk mengecek apakah pintu tidak terkunci.
Tak dikunci, si gadis aduhai mendorong daun pintu perlahan. Tak berniat membuat suara.
Namun, kala daun pintu terbuka. Betapa terkejut si gadis rupawan. Sebuah mayat terpisah kepala menggeletak dengan ******** berdiri seperti menantang langit.
Darah menggenang di sekitar mayat, menggeser harumnya bunga mawar menjadi bau anyir menyengak hidung.
"Mayaaaaaaaaaaaaaat ...!"
Seketika si gadis cantik berteriak keras, berharap para pegawai pengelola omah kajaliran mendengar dan segera datang. Akan tetapi tak diduga, teriakan-teriakan lain pun terdengar. Bahkan lebih panjang!
"Mayaaaaaaaaaaaaaaaaat ...!"
"Pembunuhaaaaaaaaaaaaan ...!"
"Toloooooooooong ...!"
Malam itu, susana syahdu Omah Kajaliran Bulan Perak berubah menjadi kegemparan! Para pegawai dan pelayan berlarian. Kentongan ditabuh bertalu-talu.
Kepala omah kajaliran Bulan Perak, Candrawati segera keluar dari kediamannya. Kediaman yang terpisah di sebelah barat omah kajaliran.
Tahu telah terjadi beberapa pembunuhan, Candrawati segera memerintahkan salah satu anak buahnya untuk melapor ke kesenopatian bagian pengayom masyarakat, Senopati Sundul Mega.
Cukup lama, anak buah tersebut akhirnya kembali bersama sang senopati dan beberapa bawahannya.
Candrawati, perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik dengan tubuh sintal terawat itu tergopoh menyambut.
"Senopati Sundul Mega, senang senopati cepat datang. Silahkan ...!"
Candrawati menunjukkan kamar di mana mayat Sungging Petaka berada.
"Harap tunggu di luar, biar hanya petugas yang masuk!" perintah Senopati Sundul Mega mencegah Candrawati dan anak buahnya.
Memasuki kamar, sang senopati langsung bergumam,
"Aishhhh ... kenapa tombaknya masih berdiri?!"
Jengah melihat keadaan mayat, Senopati Sundul Mega memerintahkan bawahannya untuk menutupi bagian ******** mayat sebelum melakukan olah tempat kejadian perkara.
'Hemmm ... tidak ada tanda-tanda pertarungan. Korban dibunuh dalam sekali tebas. Melihat posisi jatuhnya korban yang telentang, pelaku menebaskan senjata dari arah depan. Artinya, pelaku datang dari belakang dan korban tidak menoleh sehingga pelaku bisa menebas dari samping dengan tanpa perlawanan!'
Merasa tidak menemukan petunjuk lain, Senopati Sundul Mega meminta pada Candrawati untuk melihat mayat yang lain.
Di tempat kejadian perkara kedua, dengan ketelitiannya, Senopati Sundul Mega menemukan kesamaan korban.
'Keduanya pendekar pengguna pisau! Dan di sini terjadi perlawanan tidak berarti. Ini menunjukkan kemampuan hebat pelaku. Dia bukan pendekar biasa!'
Di tempat kejadian perkara ketiga dan keempat, Senopati Sundul Mega kembali mendapatkan kesamaan. Mereka semua adalah pendekar pengguna pisau!
Tak mau gegabah menyimpulkan, Senopati Sundul Mega memeriksa semua pengunjung. Dan benar saja, tidak lagi ada pengunjung dari golongan pendekar pengguna pisau.
Segera pikiran Sundul Mega mengaitkan pembunuhan ini dengan peristiwa pembunuhan kemarin malam.
'Apakah ini aksi balas dendam membabi buta? Tetapi bukankah semua anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung yang ada telah tewas?'
Ingin rasanya Senopati Sundul Mega menggaruk kepala, tetapi itu bukan perbuatan wibawa yang boleh dilakukan oleh seorang senopati.