Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 42. Hatif, Suara Tanpa Rupa



Tidak tinggal diam, mayat hidup itu menghantamkan tangan kanannya,


Pyarr!


Sumbu obor berapi ambyar muncrat ke segala arah.


Panik sebab serangannya tak berhasil, Ki Saptajati cabut keris di pinggang. Mulut komat-kamit membaca mantra dengan cepat sembari melangkah mundur. Lalu,


Byuhh!


Disemburlah bilah keris oleh Saptajati. Kemudian,


"Hiaaa ...!"


Jleb!


Bughh!


Ki Saptajati berhasil menikamkan keris ke perut mayat hidup akan tetapi perutnya juga terhajar telak oleh pukulan tangan medi tersebut.


Tubuh Ki Saptajati terlontar ke belakang menghempas para warga yang tengah gemetaran sehingga mereka roboh.


Celakanya sang mayat hidup masih tetap bergerak melangkah maju. Keris yang menancap diperut tak membuat medi kepala tengleng itu tumbang.


"K-kab—"


Dengan perut sakit, Ki Saptajati ingin mengatakan pada para warga agar kabur tetapi perutnya terasa diremas-remas dari dalam sehingga suara yang keluar malah mirip lenguhan sapi kesakitan.


Mayat hidup makin dekat, Ki Saptajati hanya bisa melotot.


Sama halnya para warga, ketakutan telah membuat mereka tidak bisa berteriak maupun bergerak.


Saat genting itulah,


"Heaaa!"


Jaga Saksena yang tadi menggunakan waktu untuk beristirahat sebentar kembali melakukan serangan, ayunkan kapak. Dan,


Crakk!


Kapak batu menghantam lutut mayat hidup. Namun,


Wuut!


Mayat hidup itu ikut menyerang balik dengan sapukan tangan kanan.


Menghindar dengan berguling di tanah, kembali Jaga Saksena membacok kaki si mayat.


Crakk!


Jaga berpikir, meski tidak mampu membunuh si medi kepala tengleng, yang penting harus bisa melumpuhkannya.


Di sela-sela serangannya, Jaga Saksena berteriak pada para warga,


"Semuanya! Menjauhlah! Cepaaat!!"


Keajaiban terjadi. Para warga yang tadinya merasakan kaku tak bisa bergerak tetiba mampu mundur meski masih belum bisa bangkit berdiri.


Ketika Jaga Saksena masih memusatkan diri untuk mematahkan kedua kaki mayat hidup, tetiba terdengar suara tanpa rupa,


"Jaga, gunakan kekuatan ruhmu!"


Terkesiap sesaat akibat suara tersebut, Jaga Saksena hampir saja terkena serangan sambaran cakar si medi kepala tengleng. Untung saja, Jaga mampu membuang diri ke samping dan bergulingan di atas tanah.


'Suara itu?! Terimakasih telah mengingatkanku!'


Jaga Saksena bangkit berdiri, hatinya kini hidup. Membaca ayat yang ia hapal, ayat yang tentang kebesaran Gusti Alloh.


'Wa ilahukum ilahuwwahid. Laa ilaha illa huwarrohmanurrohim. Allohu laailaha illa huwalhayyulqoyyum ....'


Saat yang sama, mayat hidup berusaha merangsek maju. Akan tetapi tiba-tiba pergerakannya tertahan seperti ada dinding hebat yang mencegahnya.


"Bismillahi Allohu Akbar!"


Menggembor keras, Jaga Saksena melompat ke depan atas mengayunkan kapak batu. Dan,


Brasss!


Semua pasang mata para warga termasuk Ki Saptajati membelalak lebar. Bagaimana tidak! Kapak batu di tangan anak kecil itu berubah laksana pedang api raksasa yang memotong lurus dari atas, membelah tubuh mayat hidup.


Tak hanya terbelah, sekejap kemudian tubuh mayat hidup berubah menjadi abu gosong.


"Tak kusangka, kalimah untuk menyembelih hewan bisa berakibat dasyat seperti ini," gumam Jaga Saksena sambil tersenyum lalu mengucap rasa syukur ke hadhirat Gusti Alloh ta'ala.


Melihat hantu kepala tengleng musnah jadi abu, sang dukun desa, Ki Saptajati, mengucek matanya tidak percaya.


'Kerisku saja tidak mampu membinasakan mayat hidup itu, bagaimana bisa bocah cilik ini ... oh kerisku!'


Saptajati segera bangkit lalu berlari menghampiri onggokan abu gosong.


"Akh ... kerisku memang sakti!" seru Ki Saptajati mengambil kerisnya yang masih utuh tergeletak di antara abu.


Berhasil memusnahkan hantu kepala tengleng, Jaga Saksena dielu-elukan sebagai dukun sakti. Bahkan anak kecil itu kini dipanggul dan diarak beramai-ramai oleh warga menuju kediaman Ki Lurah Badrapala.


Di sepanjang jalan, pujian tak henti-hentinya tercurah dari mulut para warga desa.


Meski Jaga Saksena telah berkali-kali berkata dirinya bukan dukun sakti, mereka tidak peduli.


"Den Jaga luar biasa!"


"Dukun tersakti yang pernah kutemui!"


"Den Jaga dukun paling sakti sejagat raya!"


Jaga Saksena tersenyum, tak menyangka hanya berguru sebentar kemuliaan menghampirinya. Tetiba ada rasa bangga menelusupi, membisikkan pada hatinya, 'Kau memang yang terbaik Jaga!'


Saat itulah tiba-tiba Jaga Saksena kembali mendengar suara. "Perhatikan hatimu dan sadarilah bahwa hanya kehendak Gusti Alloh semata yang akan terlaksana!"


"Astaghfirullah!" seru Jaga Saksena kaget dan segera berteriak minta diturunkan, "Turunkan! Turunkan aku!"


Seketika orang-orang berhenti memuji lalu lekas menurunkan Jaga Saksena.


Tanpa berkata apapun, ketika kaki menginjak tanah, Jaga Saksena langsung berlari kencang meninggalkan semua orang.


Para warga itu pun hanya bisa melongo, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada sang dukun sakti sehingga tiba-tiba berlari begitu saja.


Jaga terus berlari dan berlari. Seakan ingin berlari dari kehidupan. Gelapnya malam tidak membuat anak kecil itu kesulitan memilah jalan.


Keluar dari desa, Jaga Saksena masih terus berlari hingga memasuki lahan antar desa. Lahan luas ini kosong, karena biasanya akan ditanami jika musim hujan tiba.


Lama berlari, Jaga Saksena akhirnya berhenti lalu segera membersihkan tubuhnya dengan permukaan tanah.


Berpatokan pada bintang utara, Jaga dengan mudah menentukan arah kiblat.


Berdiri tegap tanpa menggelar alas atau oun sajadah, Jaga Saksena menunaikan sembahyang.


*⁰0⁰*


Pagi harinya desa Kumalungkung geger. Setiap pembicaraan yang ada adalah cerita tentang kisah kepahlawanan Jaga Saksena tadi malam.


Kisah Jaga Saksena sang dukun cilik sakti.


Mereka terlalu bersemangat dalam bercerita hingga bumbu-bumbu yang ditaburkan melebihi takaran. Maka, nama Jaga Saksena _di desa Kumalungkung_ beralih seperti sebuah dongeng.


Berbeda dengan Ki Lurah Badrapala. Di pendopo kediamannya, Lelaki bertubuh kekar itu tidak terlihat senang ketika mendengar kisah kepahlawanan Jaga Saksena dalam menumpas mayat hidup semalam.


"Jaga Saksena!" gumam Ki Lurah Badrapala meremas tangannya sendiri.


Sesaat kemudian,


"Barek!"


"Kulo Ki Lurah!"


"Siapkan kudaku!"


"Laksakan Ki Lurah!"


Lelaki yang baru saja melaporkan kisah Jaga Saksena pada ki lurah meninggalkan ruangan pendopo untuk menyiapkan kuda.


Ketika telah siap.


Tep!


Ki Lurah Badrapala melompat ringan ke atas punggung kuda kehitaman yang tampak besar nan gagah.


"Barek! Jika istriku kembali katakan padanya aku ada urusan penting!"


"Siap Ki!"


"Haaaa!"


Badrapala menggebrak kudanya.


'Kuharap bocah itu belum jauh, atau mungkin saja dia menuju pasar Beringkiwa!'


**⁰**


Matahari hampir tepat di atas kepala ketika Jaga Saksena memasuki sebuah pasar yang sangat ramai. Setidaknya menurut Jaga Saksena.


"Waaah ... ramai sekali ...?" heran Jaga Saksena sebelum masuk ke dalam pasar.


Anak lelaki itu segera bertanya pada salah seorang pengunjung pasar di mana ia dapat membeli daging kering dan madu.


Berbekal jawaban dari orang orang tersebut, Jaga Saksena menelusup di antara keramaian.


Membeli seratus dua puluh enam potong daging kering dan juga dua kantong madu, Jaga Saksena segera membayar dengan sekeping emas.


Membawa buntalan di punggung, sekarang Jaga berjalan melihat-lihat benda-benda yang diperjual belikan.


Ada yang saling menukar barang, banyak pula yang membayar dengan keping.


Jaga tidak menyadari, dua orang telah mengikutinya sejak ia membayar dengan keping emas pada penjual daging kering.


'Guru memberiku keping lebih, pastinya ini agar aku bisa membeli sesuatu,' ucap Jaga Saksena dalam hati. 'Ahmmm ... bagaimana jika aku mencicipi nasi daerah ini, apakah akan seenak nasi buatan Ki Pandu? Hiks Hiks Hiks!'


"Paman, numpang tanya. Di mana ada penjual nasi di pasar ini?" Jaga Saksena bertanya pada seseorang.


"Penjual nasi? Kedai maksudmu?"


"Ya kedai atau apa saja yang menjual nasi enak nan gurih!"


"Biar aku saja yang menunjukkan!" Tetiba salah satu dari dua orang yang sedari tadi mengikuti Jaga Saksena mendekat. "Kau lanjutkan jual belimu!"


"Ba-baik!" tampak takut, lelaki yang ditanya oleh Jaga Saksena berlalu.


"Anak Kecil, mari kutunjukkan penjual nasi terenak. Kau tidak akan pernah melupakan rasanya, selamanya!"


"Terimakasih, Paman. Kau sangat baik."


Dengan senang hati, Jaga Saksena mengikuti dua lelaki berpakain serba hitam tanpa lengan baju dengan dada terbuka tersebut.


"Lha kenapa kita ke luar pasar, Paman? Apakah di dalam pasar tidak ada?" tanya Jaga Saksena karena kini mereka telah berada di luar pasar bagian utara.


"Ada, tetapi tidak seenak yang di sana!" Salah satu lelaki menjawab sambil menunjuk searah jalan yang cukup lebar.


"Jika begitu mari kita cepat ke sana, Paman!" ajak Jaga sembari melirik ke arah matahari yang telah bergeser dari titik tertingginya.


"Mari!"


Ketiganya pun bergegas.


Namun, setelah cukup jauh mereka berjalan, penjual nasi yang dijanjikan belum juga tampak.


Akhirnya, Jaga berhenti lalu bertanya,


"Paman, apakah penjual nasi paling enak tersebut masih jauh?"


Dua lelaki itu pun turut berhenti satu tombak di hadapan Jaga. Kemudian,


"Hahahaha!" Keduanya tertawa terbahak-bahak bersama.


"Wah kalian ini, sudah tua tetapi mempermainkan anak kecil! Ditanya malah ketawa pula."


"Bocah Cilik ...! Hahaha! Sebenarnya kami tidak hendak membawamu ke penjual nasi. Tetapi ke alam kematian!"


"Hahahaha!" Keduanya kembali bergelak kompak.


"Hahahaha!" Jaga Saksena ikut tertawa meski jelas suara tawanya dibuat-buat.


"Werkadal! Sepertinya dia tidak tahu maksud ucapanku barusan. Kau jelaskan padanya cepat!"


"Siap Kakang Gumbala!" jawab lelaki yang lebih pendek lalu maju satu langkah mendekat ke Jaga Saksena. "Hwoi Bocah! Kau akan kami bunuh. Lalu, semua hartamu akan kami rampas! Apa kau mengerti sekarang?!"


"Kau, Werkadal! Dan kau, Gumbala! Bertaubatlah jangan pernah lagi melakukan kejahatan seperti ini!"


"Apa! Tomat?!"


Werkadal dan Gumbala saling pandang lalu,


"Hahahaha!"


Ditertawakan dan diplesetkan ucapannya, Jaga Saksena menggaruk kepala. 'Taubat padanan katanya apa ya?' tanya Jaga dalam hati.


"Gini, Paman. Maksudku jangan pernah ulangi perbuatan kalian. Berbuat baiklah kepada sesama jangan pernah membuat sesama menderita!"


"Bocah cilik ini cerewet sekali!" gerutu Gumbala lalu memberi perintah pada kawan yang sudah seperti anak buah,


"Werkadal! Sebelum mulutnya membuat telingaku budeg, cepat kau bunuh dia!"