Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 16. Apes



"Celaka! Dia benar-benar ingin membunuhnya!" kejut Rawal tetapi tidak bergerak.


Sama halnya, Balkhi Supekok malah hanya melotot. Sementara Ki Mertayuda alias Pendekar Lebur Guntur tetap diam, membeku seperti orang yang tengah menunggui sesuatu.


Mendapat serangan, naluri bertahan Jaga Saksena bangkit. Reflek bocah itu berkelit ke samping.


Wess!


Angin yang terbelah oleh tinju Lembayung Adiningrum terdengar di telinga Jaga Saksena.


'Cepat sekali gerakannya!' seru hati Jaga Saksena kala Putri Lembayung Adiningrum telah kembali menyerang, kali ini sebuah tendangan berputar.


Breg!


Rupanya Jaga Saksena menjatuhkan diri ke lantai rumah yang hanya dari tanah lempung yang dikeringkan, lalu dengan cepat bangkit berlari.


Mendarat di lantai setelah hanya menendang udara kosong, Lembayung Adiningrum memburu Jaga Saksena yang kini tengah berlari menuju pintu yang terbuka lebar.


"Anak cerdik!" puji Rawal.


Kekhawatiran yang sempat menelusupi hati Rawal bahwa Jaga Saksena akan dibantai dengan mudah oleh Lembayung Adiningrum telah sirna.


"Kita ikuti, Kakang Raw—"


"Hai kalian berdua!"


Ajakan Pekok pada Rawal untuk mengikuti Jaga Saksena dan Lembayung Adiningrum terputus oleh panggilan Ki Mertayuda.


"Duduklah di sini, temani aku minum!"


Saat yang sama, Ki Pandu keluar membawa nampan berisi kendil minuman beserta beberapa cangkir.


"Wedang uwuhe, silahkan Ki Mertayuda."


(Wedang uwuh, minuman dari berbagai dedaunan dan rempah yang disuguhkan seperti teh_pen).


"Kau memang belum pikun, Ki Pandu. Terimakasih. Taruh di sini, aku akan minum bersama mereka."


Ki Mertayuda memuji Ki Pandu yang sudah tua tetapi masih ingat minuman kesukaannya. Setiap mampir ke kedai ini, Ki Mertayuda memang selalu memesan minuman tersebut.


"Baik, Ki."


Berbarengan dengan itu, Rawal dan Pekok saling pandang sebelum mengangguk berbarengan sepakat untuk duduk bersama Ki Mertayuda.


"Silahkan ... silahkan." Ternyata Ki Mertayuda seorang yang termasuk ramah, ia mempersilahkan Rawal dan Pekok untuk duduk lalu berkata,


"Biarkan bocah-bocah itu bermain. Kita sebagai orang dewasa lebih baik menikmati minuman selagi masih panas."


*


Di luar kedai, bercahayakan rembulan yang mengintip malu di balik awan. Jaga Saksena yang lari terbirit-birit ternyata menunggu di tengah halaman.


"Punya nyali juga kau bocah zaman batu?!" sangat sinis Lembayung Adiningrum bertanya.


"Aku telah lari dari kejaran harimau, bagaimana aku akan takut padamu? Hanya seorang putri sebuah kerajaan, apa hebatnya?!"


"Biadab! Kubunuh kau! Mencucuk Nyawa Mencabut Jiwa!"


Benar-benar marah, Lembayung Adiningrum menggunakan jurus tingkat tingginya hanya untuk mempecundangi bocah 10 tahun.


Jaga Saksena, seorang bocah yang bahkan belum pernah berlatih jurus apalagi berlatih tanding harus menghadapi serangan maut.


Mengandalkan insting bertahan hidup, Jaga Saksena melompat bagai meloncatnya harimau, lalu menggelundung menjauh bagai trenggiling.


"Tidak semudah itu lolos dariku!" Berteriak Lembayung Adiningrum melakukan langkah sig-sag cepat.


"Heaa!"


Merendahkan tubuh, jari-jari Lembayung Adiningrum yang membentuk paruh burung menukik bermaksud menyambar kepala Jaga Saksena yang masih hendak berdiri.


Jaga Saksena yang baru saja akan bangkit merasa tak mungkin bisa menghindar. Spontan, tangan kanannya meraih kapak untuk di hantamkan menyongsong serangan.


Kendati hanya kapak batu, Lembayung Adiningrum tidak berencana untuk melakukan bentrokan. Ia menarik serangan dengan cara memelintir tubuh, sembari melayangkan tendangan tulang kering bagian luar.


Kaget akan perubahan serangan lawan, Jaga Saksena harus merelakan bahunya terhantam tendangan.


Buhgh!


"Aggh ...!"


Bagai dipukul dengan batu besar, tubuh Jaga Saksena terlontar dua tombak sebelum menghempas tanah dalam posisi tengkurap.


"Mampus kau tikus kecil!"


Plek! Plek!


Lembayung Adiningrum berdiri tegak tersenyum puas, lalu melangkah pelan sembari membentur-benturkan dua telapak tangan seolah menghilangkan kotoran darinya.


Membunuh langsung bukanlah sesuatu yang memuaskan. Kau harus lakukannya pelan-pelan, memberinya tekanan dan teror agar korban merasakan ketakutan!


Ketika langkah Lembayung makin dekat, tubuh diam Jaga Saksena tetiba bergerak.


"Aghh ...!"


Bukan untuk bangkit berdiri, tetapi hanya membalik tubuh agar bisa telentang.


"Kau menyerah, Tikus Kecil?!" Bukan pertanyaan yang keluar dari bibir tipis Lembayung Adiningrum tetapi cemoohan.


"Tendangan yang sungguh menyakiti badanku. Tetapi, tendanganmu tidak lebih baik dari tendangan kuda milikmu itu! Hehehe!"


Entah apa yang ada di benak si kecil Jaga Saksena. Dalam posisinya yang sudah tidak menguntungkan, juga badan terasa sakit akibat tendangan, dia masih berani menyulut amarah sang putri.


Bagai minyak tersentuh api, Lembayung Adiningrum langsung terbakar emosi!


Kulit wajah cerah kuning langsatnya berubah mengelam.


"Baru kali ini ada orang yang berani menghinaku!"


Sret!


Lembayung Adiningrum menghunus sebuah cundrik dari pinggangnya.


Cundrik berulir kelam pada bilah pertanda bukan cundrik biasa.


"Darah harus tertumpah?" gembor Lembayung Adiningrum sembari melakukan gerakan hendak menghunjamkan cundrik ke dada Jaga Saksena. Dan,


Jleb!


Cundrik yang menghunjam lurus nyatanya hanya menancap dalam pada tanah kering halaman.


Sementara Jaga Saksena yang masih memegang kapak berguling ke kiri, bangkit lalu lari secepat yang ia bisa.


"Hiaaaa ...! Kau takkan kubiarkan lolos tikus biadab!"


Set!


Mencabut cundrik yang panjang bilahnya tidak ada sejengkal sangat mudah dilakukan oleh Lembayung Adiningrum. Gadis cantik itu berteriak keras kemudian mengejar Jaga Saksena dengan ilmu meringankan tubuhnya.


Sadar bahwa lawan langsung mengejar, Jaga Saksena hanya bisa melakukan usaha lari semampu kekuatannya. Selebihnya, hati bocah itu telah pasrah,


'Sepertinya aku akan benar-benar mati malam ini! Perempuan itu terlalu kuat dan ganas! Byung, aku menyusulmu!"


Tanpa menoleh sedikit pun, Jaga Saksena terus berlari membelah kegelapan malam mengikuti jalan lurus yang lengang.


Di belakang, Lembayung Adiningrum yang kesulitan mengejar kembali berteriak, "Tikus Kecil! Berhentilah akan kuberikan kematian termudah untukmu!"


Ya, Lembayung Adiningrum meski telah menggunakan ilmu meringankan tubuh ternyata belum mampu menyentuh Jaga Saksena.


Saat manusia terdesak, kekuatan alam bawah sadar bisa saja muncul sebagai usaha terakhir. Itulah yang dialami Jaga Saksena. Tanpa sadar ia berlari begitu kencang.


Tetapi kecepatan tanpa diimbangi kekuatan untuk mengendalikannya, kadang berakibat tidak baik.


"Minggirrr!"


Jaga Saksena berteriak menyuruh minggir. Padahal itu adalah sebuah pohon besar.


Maka tak ayal,


Brughh!


Jaga Saksena menabrak pohon besar tersebut. Sebuah pohon yang berada di ujung jalan. Sebab jalan yang diikuti Jaga ternyata mentok, bercabang ke kanan dan kiri.


"Ukhuk!"


Jaga terbatuk sebelum ndlosor ambruk tak sadarkan diri.


Sesaat kemudian,


"Hahahahaha! Hikshikshikshiks!"


Terdengar tawa keras Lembayung yang baru tiba.


"Huffft ...!" Puas tertawa, Lembayung menghembus napas keras. "Akhirnya kena juga kau tikus kecil! Tapi sungguh tak asyik membunuh orang yang sedang pingsan!"


Lembayung Adiningrum menjulurkan ujung kaki jenjangnya untuk menggerak-gerakkan tubuh Jaga Saksena.


"Whoi bangun, Whoi!"


Tak ada reaksi, Jaga Saksena tak bergerak sama sekali bak mayat.


"Whoi! Bangun!"


Makin keras kaki Lembayung Adiningrum mengguncang tubuh kecil Jaga Saksena, tetapi hasilnya tetap sama.