
Di depan kamar, Kama Kumara yang mendengar teriakan menggelegar di angkasa segera berlari mencari tempat untuk bisa melihat sumber suara.
Betapa terkejut Kama Kumara kala samar-samar matanya mengenali orang yang berdiri di atap tertinggi joglo pendopo utama.
"Jaga Saksena?!"
Bergemeretak gigi geraham Kama Kumara, hatinya makin panas membara tidak suka melihat kedigdayaan orang lain yang ia anggap hina dina, dalit.
"Dan senyatanya kau sekarang seorang lemah, Kama Kumara! Sedangkan Jaga Saksena, lihatlah, petir saja tidak mampu membunuhnya!"
Suara tanpa rupa itu makin memanas-manasi Kama Kumara.
"Jadikan aku pendekar yang kuat! Jadikan aku seorang yang sakti tak tertandingi sekarang jugaaaa!" teriak Kama Kumara.
"Tak ada sesuatu yang gratis, Kama Kumara!"
"Aku akan membayarmu! Berapa pun kau pinta!!"
"Hahaha! Jika begitu, ikutlah denganku aku akan membimbingmu!"
Saat yang sama ketika Kama Kumara mulai berteriak meminta kekuatan, Lembayung Adiningrum yang melihat suaminya tersebut dari jauh bergumam,
"Suamiku sedang apa dia? Berbicara dengan siapa?!"
Lembayung Adiningrum perlahan mendekat untuk lebih mengamati. Dan sungguh di luar dugaan, Kama Kumara benar-benar berbicara sendiri bahkan teriak-teriak. Untung saja hujan badai petir menyamarkan suaranya sehingga tak terdengar para abdi dalem atau prajurit jaga.
Dan makin terkejut ketika Lembayung Adiningrum melihat suaminya tiba-tiba berlari menembus lebatnya hujan.
"Suamikuuuuu ...!" teriak Lembayung Adiningrum hendak mengejar, tetapi sambaran petir di udara membuat perempuan itu menyurutkan langkahnya.
"Hendak ke mana dia? Kenapa dia nekat menembus badai. Lalu dengan siapa dia barusan bicara?" Lembayung Adiningrum bergumam sendiri sembari melihat keadaan sekitar, berusaha mencari seseorang yang mungkin baru saja bicara dengan suaminya.
Tak menemukan siapa pun, Lembayung Adiningrum tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri.
*
Jaga Saksena masih berdiri di atap tertinggi joglo pendopo utama, terus menantang petir untuk menyambarnya lagi dan lagi. Hingga akhirnya petir itu loyo, tak lagi seganas awal mula.
Bukan hanya petir yang menurun kekuatannya, tetapi juga awan pekat di angkasa mulai menipis. Berbarengan dengan itu, hujan mulai mengecil demikian juga angin.
"Ayo sambar aku lagi!" teriak Jaga Saksena menantang petir agar ia bisa menyerap energinya.
Akan tetapi, tak lagi ada sambaran. Bersamaan dengan itu, awan hitam yang menggelayut di angkasa benar-benar menghilang, hujan pun berhenti total.
"Eh, kenapa awan hitam ikut menghilang?" Jaga Saksena celingukan mengedarkan pandangan ke angkasa yang telah berubah cerah. Jaga memang lebih fokus untuk menyerap energi petir sehingga kurang memperhatikan awan-awan hitam di angkasa.
'Seingatku aku belum berdoa untuk menghentikan hujan, aku terlalu asik menyerap kekuatan petir tapi mengapa hujan berhenti dengan cepat seperti ini?' Merasa ada anomali, Jaga Saksena bertanya dalam hati.
"Ah sudahlah, kenapa aku musti memikirkan hal ini. Lebih baik aku mensyukurinya. Alhamdulillah ... Alhamdulillah. Maturnuwun Gusti karuniaMu hari ini sungguh luar biasa."
Usai berkata sendiri, Jaga Saksena melesat ke rangka atap yang lebih rendah sebelum mendarat di atas tanah berair.
Sungsang yang telah lama mengintai sahabatnya itu segera menyambut dengan semburan pujian,
"Luar biasa Jaga. Aku sungguh ingin menjadi murid gurumu. Pertemukan aku dengan dia agar aku juga diberi ilmu kebal petir sepertimu!"
"Gampang!" enteng Kaga Saksena menjawab.
"Aku serius, Pangeran Jaga Saksena!!"
"Lha, aku malah duaratus rius! Tapi ada syaratnya!"
"Lekas katakan padaku!" sergah Sungsang Gumilang. Namun,
"Jaga kau tidak apa-apa?!"
Seruan suara merdu disertai aroma harum menyeruak hidung Jaga Saksena dan Sungsang. Siapa lagi kalau bukan Putri Anesha Sari yang datang menghambur ke arah Jaga Saksena.
'Memedi ini datang di waktu kurang tepat, kenapa dia selalu saja nempel pada Jaga?! Padahal dari ketampanan tak beda denganku!' gerutu Sungsang Gumilang.
Anesha Sari yang hendak memegang tangan Jaga Saksena harus memegang udara kosong sebab pemuda itu lebih dulu mundur dua langkah.
"Menikah?! Apa itu?!"
"Menikah mudahnya adalah sebuah ikatan yang menjadikan kita pasangan suami istri."
"Hanya sentuhan tangan harus jadi suami istri dulu?"
"Iya itulah peraturan dalam islam. Kecuali kalau kita mahrom."
"Mahrom apa itu?" Anesha Sari mengeritkan kening beningnya.
"Mahrom adalah semua orang yang terlarang untuk dinikahi karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan." Jaga menjawab singkat secara umum, tanpa menerangkan mahrom abadi (mahrom muabbad) dan sementara (mahrom muaqqot).
"Jadi ...?" Anesha Sari makin bingung.
"Begini ...."
Ketika Jaga Saksena mulai menerangkan, Sungsang Gumilang pun bertingkah aneh.
Plok! Plok!
"Akulah sang pengusir nyamuuuuuk ...!"
***
Berhentinya hujan badai membuat rakyat Kerajaan Saindara Gumilang keluar rumah ramai-ramai. Mereka mengalirkan air yang tersumbat. Melebarkan pembuangan air keluar tembok kerajaan juga menyingkirkan pohon-pohon yang tumbang hangus oleh petir.
Rumah-rumah yang rusak mulai diperbaiki secara gotong-royong. Guyub rukun bekerja bersama.
Dengan bekerja sama, gotong-royong, pekerjaan berat menjadi ringan.
Sembari bekerja, masyarakat membicarakan kejadian barusan. Maka kisah tentang Jaga Saksena yang telah meneriaki petir hingga kabur pun segera menjalar dari mulut ke mulut. Bukan hanya petir yang kabur, tetapi hujan dan badai angin pun berhenti.
Dari banyak gelar yang diberikan kepada Jaga Saksena, akhirnya rakyat Kerajaan Saindara Gumilang lebih menyukai jika Jaga Saksena digelari Pendekar Peniup Bledeg.
Gelar ini dihembuskan, dituturkan dari satu pencerita ke pencerita lain sehingga merambat dengan cepat. Sangat cepat bagai api membakar kayu kering.
Ketika matahari tenggelam di ufuk barat, hampir semua orang telah mendengar gelar kependekaran Jaga Saksena, Pendekar Peniup Bledeg!
****
Raja Basukamba ingin menggaruk kepalanya yang tak gatal, andai ia bukan raja maka sudah ia lakukan sejak tadi. Bagaimana tidak, ia hendak bergembira karena bencana sudah berlalu, tetapi ia juga keberatan dan sedih jika harus membayar Jaga Saksena sebanyak 40.000 keping emas. Sebuah angka yang sangat banyak bagi sebuah kerajaan yang belum pernah menaklukkan kerajaan lain. Apalagi menaklukkan kerajaan lain, Saindara Gumilang menaklukkan desa di luar tembok kerajaan saja belum pernah.
Inilah yang membuat Raja Basukamba hingga petang belum memanggil atau menemui Jaga Saksena.
Ketika badai hujan petir dan angin sirna, alih-alih memanggil Jaga Saksena, Raja Basukamba mengajak Patih Sepuh Labda Lawana untuk berkeluh kesah di ruangan pribadinya.
Dan tak diduga, meski telah mendengar berbagai alasan keberatan sang raja untuk membayar empat puluh ribu keping emas pada Jaga Saksena, Patih Sepuh Labda Lawana tetap menyarankan pada raja untuk membayarnya.
Sontak saja, ingin rasanya Raja Basukamba mengusir sang patih dengan kasar. Tetapi patih itu telah mengabdi sejak lama dengan tulus bahkan sejak raja terdahulu, mala Raja Basukamba hanya bisa mengusir dengan halus,
"Kau pasti lelah, Patih Sepuh. Pulanglah temui keluargamu, mereka pasti mencemaskanmu."
Sepeninggal sang patih, Raja Basukamba terus memikirkan bagaimana caranya agar dirinya tidak kehilangan keping emas. Tidak mengapa jika kehilangan lima puluh budak wanita, toh ia merasa belum memiliki seutuhnya sebab baru ia pindahkan. Tetapi keping emas,
'Oh sungguh tak bisa jika sebanyak itu!' jerit napsu keduniawian Sang Raja.
Entah sudah berapa kali Sang Raja bolak balik berjalan di ruang pribadinya, hingga ketika malam mulai merayap tiba-tiba Raja Basukamba menemukan ide yang sangat luar biasa.
"Hahahaha! Aku memang seorang raja yang cerdik pandai!"
Raja Basukamba tertawa kencang sebab bisa memastikan rencananya pasti berhasil!
***
To be continued