
Dingin dini hari di musim tanpa hujan ini membuat manusia makin lelap dalam tidurnya. Tidak dengan dua sosok pemuda di balik pohon besar, Jaga Saksena dan Sungsang Sang Pendekar Merah. Mereka berdua tengah mengintai bagian belakang bangunan besar markas Kelompok Pemburu Budak dari sejarak seratus tombak.
"Jaga, di atas pohon-pohon di luar pagar itu. Para pengintai berada di sana."
Suara binatang malam gandang terdengar menyamarkan bisikan Sungsang.
"Sepertinya tidak mungkin untuk tidak ketahuan. Kita langsung masuk saja!" putus Jaga Saksena.
"Siapa takut!"
Keduanya melesat menuju pagar bermaksud hendak melompatinya. Namun,
"Berhenti!"
Sebuah bentakan keras terdengar dibarengi kelebatan sosok lelaki berpakian serba hitam turun dari atas pohon.
Bukannya berhenti, Sungsang lepaskan bidikan pisau terbang.
Wuss!
Trang!
Sosok berpakaian serba hitam menangkis serangan dengan golok panjangnya, membuat Sungsang langsung menerjang.
"Hiaa!"
Saat yang sama lelaki berpakaian serba hitam berteriak,
"Penyusu—"
Stak!
Udara padat dari jentikan jari Jaga Saksena memutus teriakan si lelaki bergolok panjang, dan ....
Jleb!
Pisau Sungsang menusuk tepat jantung lelaki tersebut.
Ketika Sungsang menarik pisaunya,
Blugh!
Tubuh lelaki berpakaian serba hitam itu terjengkang bersama nyawanya yang melayang.
Saat itu pula, beberapa orang berkelebatan mengepung.
"Siapa kalian?! Berani-beraninya mengacau di Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung!" bentak salah satu dari sepuluh orang pengepung sembari acungkan senjata yang sama, golok panjang.
"Aku, Jaga Saksena. Orang yang akan membubarkan kelompok kalian!"
"Bacot!" bentak salah satu anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung, sebelum memberi komando, "Bunuuuh!"
Pertarungan dua lawan sepuluh pun berkecamuk di luar pagar.
Sungsang Gumilang Sang Pendekar Merah gunakan dua pisau di kedua tangan. Sedangkan Jaga Saksena gunakan tangan kosong.
Cleb!Cleb!
Tak butuh waktu lama, pisau di tangan Sungsang kembali merenggut korban.
Bagh!Bugh!
Wuttt!
Brakk!
Tak kalah cepat, Jaga Saksena juga berhasil menghantam dua lawan hingga terlontar menghempas pagar.
Melihat hanya dalam waktu singkat empat orang telah terkapar, salah satu anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung mundur dari medan pertarungan untuk melapor ke atasan. Namun, baru saja ia berlari, Sungsang lemparkan pisau di tangannya.
Sleb!
"Ergh!"
Brugh!
Lelaki itu tersungkur dengan pisau menancap di punggung.
"Demit Alas! Kau membokong!" Dalam gerakan menyerangnya, salah satu anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung itu masih sempat memaki.
"Mau bokong mau pantat peduli amat! Terima tendangan!"
Menghindar, Sungsang balas lepaskan serangan tendangan kaki kiri.
"Putus kakimu!" teriak anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung lainnya menghadang tendangan Sungsang dengan sebuah tebasan.
Sungsang tarik serangan kakinya dengan menggulingkan tubuh sembari lemparkan pisau terbang di tangan kanan.
Cleb!
Demikianlah, satu persatu anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung bertumbangan hingga akhirnya tak ada satu pun yang masih berdiri.
Saling tatap sesaat setelah mengalahkan seluruh lawannya, Jaga Saksena dan Sungsang melenting ke udara. Bersalto beberapa kali sebelum mendarat di dalam pagar.
Saat yang sama ketika terjadi pertarungan, beberapa anggota senior Kelompok Pemburu Budak Gunung sebenarnya mendengar adanya bentakan-bentakan pertarungan. Akan tetapi mata telah mengantuk akibat baru saja melalukan pertempuran mereka sendiri di dalam kamar masing-masing, atau bahkan masih bertempur menusuk-nusukkan tongkat tumpul.
Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung memang luas. Jika dilihat dari depan, setelah pendopo tempat menerima keluhan dari para pembeli budak, di bagian belakangnya terdapat bangunan besar nan luas. Di dalamnya terdapat banyak ruangan dan kamar.
Kamar-kamar ini diperuntukkan bagi para anggota terutama anggota sepuh (senior_pen).
Bukan rahasia lagi, para budak wanita tidak semua mereka jual. Sebagian dijadikan budak pemuas nafsu sendiri. Kapan pun mereka mau, para wanita ini harus siap melayani bahkan ketika sedang mengalami pendarahan bulanan.
Para Anggota Kelompok Pemburu Budak tidak peduli. Jika lubang depan banjir oleh darah bulanan maka mereka akan meminta dipuaskan dengan lubang atas alias mulut, bahkan lubang belakang.
***
"Hanya sebelas penjaga'kah? Ke mana yang lain?" ucap Jaga Saksena lirih kala telah berada di halaman belakang Balai Kelompok Pemburu Budak.
Keadaan memang sepi, tidak ada yang berjaga di sana.
"Entahlah, aku bukan anggota Kelompok Pemburu Budak Gunung jadi tidak tahu." Sungsang menjawab sekenanya. "Kita masuk saja," lanjutnya melesat menuju pintu.
Di depan pintu, Sungsang mengeluarkan pisau cukuo besar. Mengerahkan tenaga dalam lalu memasukkan bilah pisau untuk memotong pengunci pintu.
Pengunci pintu terbuat dari kayu yang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk penahan yang hanya bisa dibuka dari dalam.
Sungsang terlihat cukup ahli dalam hal bobol membobol.
Greg!
Krieettt ...!
Daun pintu didorong perlahan oleh Sungsang, lalu ia melangkah masuk diikuti Jaga Saksena.
Baru beberapa tindak melangkahkan kaki dengan senyap, sebuah suara menggelitik kuping Jaga dan Sungsang.
"Arghh ... ahhhh ...!"
"Huahh! Ahhh ...!"
Teplok!
"Suara apa itu, Sungsang?" tanya Jaga Saksena lirih.
"Sepertinya rintihan wanita dan lenguhan pria, serta suara tamparan," jawab Sungsang tak kalah lirih.
"Lenguhan?!"
"Semacam suara kenikmatan. Tapi sebaiknya kita lihat."
Di bawah temaram lampu teplak yang dicantolkan di dinding-dinding ruangan, keduanya melangkah senyap menuju sumber suara.
Tetapi, makin masuk dan mendekati sumber suara, justru suara yang tak jauh beda terdengar dari kamar lain.
Sungsang menempelkan tubuhnya di sisi kanan sebuah pintu sembari memberi isyarat tangan, "Suara itu dari dalam sini!"
Menunjuk daun pintu lalu menunjuk dadanya sendiri, Jaga memberi tahu, "Biar aku saja!"
Kerahkan tenaga dalamnya, Jaga Saksena hentak daun pintu.
Jder!
Seketika, daun pintu menghempas dinding. Dan betapa terkejut Jaga Saksena melihat apa yang terpampang di hadapannya.
Seorang lelaki berewok tak mengenakan pakaian meski sehelai benang pun, hanya akar bahar yang melilit kedua lengannya. Lelaki berewok itu tengah mensetubuhi seorang wanita telanjang yang terikat kaki dan tangan. Si wanita diposisikan menungging di atas ranjang, sedangkan lelaki berewok berdiri di atas lantai tepat di belakang si wanita.
Sembari maju mundurkan tubuhnya, lelaki brewok sesekali tampar pantat korbannya.
Jaga yang sempat memandang dari samping bisa melihat jelas sebab penerangan damar teplak cukup memadai. Dan suara yang terdengar dari luar berasal dari sini, si lelaki melenguh kenikmatan sedangkan si wanita merintih kesakitan. Kesakitan itu terjadi sebab tongkat tumpul yang tumbuh di bawah pusar lelaki berewok menghajar lubang buang air besar si wanita. Ditambah tamparan pada pantatnya.
Memaling muka, wajah Jaga Saksena memerah merasa malu sendiri.
Saat yang sama, Sungsang yang berdiri menempel dinding melongok ke dalam.
"Halah Biyuuung ...!" ucap Sungsang melengos, tetapi tetap saja dia sudah melihat apa yang terlihat. "Sepertinya aku pernah melihat beruk kisut itu!" lanjut Sungsang mencoba mengorek tumpukan ingatan dalam benaknya.
Ketika itulah, dari dalam kamar terdengar suara si berewok,
"Whoii! Kalian berdua! Jika ingin tak perlu main kasar mendobrak pintu! Awhhh ... aku hampir selesai nih! Kalian bisa ... Awhh ...!"
Entah karena lelaki berewok itu telah putus urat malunya ataukah sebab dalam keadaan mabuk berat. Bukannya menyudahi kegiatan sebab pintu didobrak orang, ia malah makin memperkencang gerakan tubuhnya. Dan rintihan kesakitan dari si wanita kini diiringi suara tangis memilukan.
"Laknat!" seru Jaga Saksena mengelam wajah.
Dengan gerakan cepat, pemuda itu putar kedua tangan sebelum hantamkan tinju kanan melepas pukulan jarak jauh, "Rasaning Rasa!"
Blartt!