Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 33. Tak Lagi Bisa Kabur!



Sudah cukup lama Jaga Saksena berdiam diri hanya menyembulkan kepala. Memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan suara sekitar. Apakah masih ada orang-orang yang mencarinya atau mereka semua telah benar-benar pergi untuk menyaksikan jalannya sayembara di alun-alun.


'Sepi, hanya desau angin dan kicau burung!'


Menilai keadaan telah aman, perlahan Jaga Saksena keluar dari tempat persembunyiannya. Lalu dengan hati-hati berenang mengikuti arus sungai.


Jaga Saksena berpikir, sungai ini pastinya panjang dan akan menuju keluar kerajaan. Maka dengan mengikuti arus sungai, Jaga Saksena akan dengan sendirinya bisa keluar dari kerajaan Saindara Gumilang.


Bocah itu terus berenang menggunakan teknik renang bangkai. Hanya mengambang kepala mengikuti laju arus sungai. Sebuah teknik yang akan membuat seorang perenang tidak kelelahan.


Jaga Saksena tidak tahu, di selatan sana seorang pendekar sedang nangkring di atas pohon yang condong ke sungai, mengintai dan mengamati keadaan sekitar.


Pendekar yang terus menajamkan pandangannya itu, seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan. Berbadan bagus dengan pakaian hitam tanpa lengan. Di pinggangnya terselip sebuah tombak besi pendek yang ujungnya runcing.


'Apa itu?!'


Mata sang pendekar melihat benda hitam menyebar seperti rambut mengambang di di air mengikuti arus sungai.


'Mayatkah?!' batin sang pendekar sembari memicing mata mengamati dengan seksama benda yang semakin dekat.


'Itu mayat anak kecil!'


Mengira benda yang kampul-kampul (mengambang mengikuti arus sungai_pen) sebagai mayat seorang anak kecil, sang pendekar bersenjata tombak pendek berteriak nyaring,


"Ada mayat di sini!"


Sontak saja, teriakan tersebut membuat Jaga Saksena yang dikira mayat kaget bukan alang-kepalang.


Krupyak!


Bocah itu membalik tubuh lalu berenang cepat ke tepi barat sungai, kemudian naik ke darat.


Saat yang sama, sang pendekar yang berteriak juga kaget hingga hampir terjengkang ke belakang. Karena yang ia kira mayat ternyata seorang bocah lelaki.


"Di-dia!" untuk sesaat sang pendekar tergagap sebelum berseru senang sebab melihat kapak di pinggang si bocah.


"Yeaah! Akhirnya kutemukan kau bocah dalit!"


Sang pendekar dengan cepat meloncat dari satu dahan ke dahan lain dan mendarat di barat sungai lalu berteriak,


"Dua ribu keping emasku! Jangan lari kau!"


Jaga Saksena tak pedulikan teriakan orang.


Krasak-krasak! Semak belukar diterjang begitu saja oleh Jaga Saksena.


'Gila larinya kencang sekali! Pantas orang-orang tak mampu menangkapnya!' seru hati sang pendekar mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.


Jaga Saksena terus berlari ke arah barat tanpa menoleh lagi. Yang ia tahu hanyalah lari! Lari! Lari! Dan lari!


Seiring pelarian Jaga, kini yang mengejarnya bukan hanya satu pendekar, tetapi sepuluh. Meski jarak pengejaran berbeda-beda. Ada yang jauh dan dekat. Tetapi semuanya sudah menangkap arah pergerakan si bocah.


'Aku harus cepat! Aku harus cepat!' Jaga Saksena berseru dalam hati, memompa semangatnya sendiri. Tak lupa Jaga juga memanjatkan harap pada Yang Maha Pencipta dalam hati,


'Yang Maha Pencipta ... Kuserahkan nasibku kepadaMu! Tapi jika berkenan, mohon selamatkan diri lemah ini ....'


Tubuh Jaga Saksena bagai seorang pendekar yang telah menguasai ilmu meringankan tubuh, berlari lebih cepat dari kuda balap.


Namun,


'Apa itu?!' pekik hati si bocah.


Jaga Saksena lupa bahwa Kerajaan Saindara Gumilang dikelilingi tembok tinggi menjulang.


Mau tak mau Jaga Saksena memelankan laju larinya sebelum benar-benar berhenti.


Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun.


'Jika ini akhir pelarianku, maka aku akan mati dengan penuh kehormatan!' tekad hati Jaga Saksena.


Bocah itu menarik napas dalam-dalam sembari mendongak ke langit dengan mata terpejam lalu membalik badan menunggu kedatangan pengejarnya.


"Bocah Dalit! Aku sudah tahu kau akan terhenti di sini. Ha ha ha ha!" Sang pendekar bersenjata tombak pendek tertawa, puas rasanya sebab perkiraannya benar; buruan terhenti akibat terhalang tembok menjulang.


"Tempat yang tepat untuk membunuhmu! Ha ha ha ha!" Sang pendekar kembali tertawa sebab daerah ini cukup terbuka dengan rumput liar setinggi mata kaki orang dewasa.


"Serahkan dirimu, Bocah Dalit! Maka akan kuberikan kematian teringan dan tercepat yang pernah kulakukan!"


Pendekar itu masih bicara, sementara Jaga Saksena terdiam seribu bahasa. Memegang erat kapak batunya sembari mengatur napas.


"Pendekar Tombak Angin Dua Musim! Kenapa kau masih bicara padanya?!" Seorang yang baru tiba berkata memanggil gelar pendekar bersenjata tombak pendek.


"Aku bisa saja membunuhnya dari tadi, tetapi bukankah hasilnya akan kita bagi bersama, Lurd Kipala Sanga?!" ketus Pendekar Tombak Angin Dua Musim.


"Kau memang setia kawan, Lurd Wilantaka. Baiklah kita tunggu kawan-kawan datang."


"Kalian berdua dengarkanlah!" tetiba Jaga Saksena berteriak lantang, tak ada rasa takut pada suaranya. "Aku Jaga Saksena bukan seorang pembunuh! Aku tidak membunuh anak lelaki itu!"


"Dengarkanlah juga olehmu, Bocah Dalit!" sahut Pendekar Tombak Angin Dua Musim alias Wilantaka.


"Ini bukan perkara kau telah membunuh atau tidak membunuh. Tetapi semua ini karena nyawamu dihargai dengan dua ribu keping emas!" lanjutnya.


"Ya! Itu lebih baik! Lebih baik aku dibunuh karena kalian menginginkan imbalan dua ribu keping emas, daripada dibunuh karena aku membunuh. Baiklah ayo kalian berdua maju sekaligus!" tantang Jaga Saksena.


Tentu saja ini membuat Wilantaka dan Kipala Sanga saling pandang sebelum tertawa bergelak bersama.


"Hahahaha!"


"Nyalimu besar juga Bocah Dalit!"


"Jika tujuan kalian hanya membunuhku, kenapa aku musti takut?!" timpal Jaga Saksena sembari menyeringai.


"Gila juga dia!" ujar Kipala Sanga. "Bagaimana masih kita tunggu kawan-kawan datang?!"


"Iya, baiknya begitu. Biarkan bocah dalit ini menghirup udara segar beberapa saat lagi. Dia tidak akan bisa ke mana-mana lagi."


Baru selesai Wilantaka bicara, dua orang lain tiba.


"Belum dimulai?" tanya yang baru datang mengambil posisi mengepung buruan.


"Kami sengaja menunggu kalian semua datang."


"Benar, pesta hampa jika tidak beramai-ramai!"


"Lagi, bukankah hadiah akan kita bagi rata?"


"Betul! Hai Bocah Dalit, manfaatkan hidupmu yang tinggal sebentar lagi ini untuk bernapas sebaik mungkin!"


"Ha ha ha ha!"


Mereka pun tertawa bersama, karena jelas sudah pasti di depan mata hadiah akan mereka terima. Sebab bocah buruan sudah tidak lagi bisa ke mana-mana.


Saat mereka terus bicara dan tertawa, Jaga Saksena semakin mempererat cengkeraman tangannya pada gagang kapak batu.


'Byung ... untuk kali ini, kemungkinan aku menyusulmu adalah sembilan dari sepuluh. Kita akan bersama lagi seperti dulu! Menikmati hari-hari bahagia, hanya berdua!"


Jaga Saksena telah benar-benar siap menjemput kematian, bahkan air wajahnya tidaklah tampak menyiratkan ketakutan sama sekali.


Akan tetapi bukan kematian begitu saja tanpa ada perlawanan! Ya, Jaga Saksena akan melawan hingga tetes darah penghabisan.