
Tengah malam.
Di kamar pribadinya, Kama Kumara masih berpesta pora. Di sisinya, Lembayung Adiningrum terkapar akibat dipaksa menenggak tuak olehnya.
"Dasar wanita lemah! Besok aku akan mulai mencari selir agar bisa menemaniku sepanjang malam!" Kama Kumara memaki Lembayung Adingrum sambil memandanginya penuh nafsu lalu mulai meraba dan ....
Di sisi lain, di bawah remangnya cahaya rembulan tiga sosok manusia berjalan cepat menuju kediaman Perwira Sadajiwa yang sementara waktu meminta cuti akibat masih belum bisa tenang oleh kejadian yang menimpanya.
Sadajiwa sendiri masih terjaga. Ia mondar-mandir di dalam rumahnya, terus memikirkan peristiwa pembunuhan raja dan menganalisa tempat kejadian perkara.
Nurani Sadajiwa mengatakan pembunuh Raja Basukamba adalah Kama Kumara. Karena sesuai fakta-fakta bahwa tidak ada bekas-bekas perlawanan di kamar sang raja.
Sadajiwa menyimpulkan, andai yang membunuh Raja Basukamba adalah pria garang yang diklaim sebagai tukang pijat, maka pembunuhan tanpa adanya perlawanan hanya bisa dilakukan di atas ranjang. Akan tetapi, melihat dari posisi mayat Raja Basukamba dan juga arah muncratan darah, menunjukkan sang raja dibunuh tidak di atas ranjang. Dan itu makin dikuatkan oleh keadaan permukaan ranjang yang tidak tumpahan darah.
'Pembunuhan bukan di atas ranjang dan tanpa ada perlawanan, maka satu yang bisa melakukan itu: Kama Kumara! Tapi ....'
Satu hal yang masih membuat tanda tanya besar dalam benak Sadajiwa adalah perut Raja Basukamba yang jebol dan jeroannya seperti ditarik keluar. Setahu Sadajiwa, Kama Kumara seorang pemuda yang tidak mungkin bisa melakukan itu.
'Kama Kumara hanya seorang pemuda lemah. Mana bisa dia melakukan itu!'
Sadajiwa memijit kepalanya yang mulai berdenyut sakit.
Sadajiwa memang bukan seorang pemikir ulung yang cerdas, ia hanya memiliki kemauan keras sehingga terus berusaha memecahkan misteri terbunuhnya Sang Raja Basukamba.
'Sepertinya aku harus minta bantuan Begawan Teja Surendra!' pikir Sadajiwa ketika tiba-tiba pintu depan diketuk pelan.
Thok! Thok! Thok!
"Siapa?!" Sadajiwa bertanya karena memang tidak memiliki prajurit penjaga pintu.
"Aswangga!" sahut suara di luar.
"Oh, tunggu sebentar!" Sadajiwa bergegas untuk membukakan pintu, tak ada kecurigaan apa pun dalam hatinya.
Krieett ...!
Stakk!Stakk!
Sadajiwa langsung dibuat kaku oleh dua totokan yang melayang tepat ketika daun pintu terbuka.
Aswangga segera menyambar tubuh Sadajiwa untuk dibawa masuk.
Di belakang Aswangga ternyata masih ada Anesha Sari dan Bentar Buana.
Anesha Sari menyusul masuk. Sementara Bentar Buana masuk paling belakang sembari menutup pintu rapat lalu mengamankannya dengan kayu pengunci.
Tiba di ruangan tengah, Aswangga mendudukkan Sadajiwa di sebuah bangku tunggal yang memiliki sandaran lalu berkelebat memeriksa seluruh ruangan.
"Benar Tuan Putri, Perwira Sadajiwa hanya tinggal seorang diri," lapor Aswangga setelah kembali dari memeriksa seluruh rumah dan memastikan semua pintu dan jendela telah terkunci.
Sebelumnya Anesha Sari telah mendapat informasi bahwa Sadajiwa hidup seorang diri karena kedua orang tuanya sudah meninggal dan belum mempunyai istri. Pelayan wanita pun tidak punya, mungkin karena Sadajiwa tidak ingin mendapat omongan tidak baik jika seorang lelaki memiliki pelayan wanita tapi tidak memiliki istri. Dan ternyata informasi itu benar adanya.
Sadajiwa tampak tenang, dirinya tidak merasa bersalah maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
"Bebaskan totokan urat bicaranya!" Anesha Sari memberi perintah.
Stakk!
Aswangga dengan cepat bebaskan satu totokan Sadajiwa agar bisa bicara.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi malam itu!" Anesha Sari bertanya dengan suara datar.
Semua diceritakan rinci oleh Sadajiwa. Hingga akhirnya Kama Kumara menyuruh Damodar masuk lalu dirinya pergi.
Tak ketinggalan Sadajiwa menceritakan suara-suara mencurigakan dari kamar raja, kegalauan dan bimbang hati Sadajiwa sampai akhirnya menyuruh prajurit memanggil tumenggung. Semua perasaan Sadajiwa pun diceritakan dengan jelas tanpa ia tutupi.
Tak lupa Sadajiwa juga menceritakan posisi mayat Raja Basukamba yang menurutnya aneh karena tidak di atas ranjang. Yang di atas ranjang justru mayat permaisuri dengan leher patah.
Sadajiwa juga menyampaikan, hampir saja Damodar menyampaikan sesuatu tetapi tiba-tiba Kama Kumara muncul dan membunuhnya. Sebagai pamungkas, Sadajiwa menyampaikan analisanya selayak senopati pengusut perkara.
Putri Anesha Sari mendengarkan dengan seksama semua ucapan Sadajiwa meski harus dengan menahan gejolak rasa marah, rasa sedih, sampai rasa ingin menghajar Sadajiwa yang terlalu terjebak oleh bimbang hatinya sehingga terlambat menyelamatkan permaisuri.
"Jadi kau tidak percaya bahwa Damodar biadab itu yang membunuh Yang Mulia Raja?!" tanya Anesha Sari ketika Sadajiwa rampung bercerita.
"Benar, Tuan Putri. Hamba hanya percaya Damodar membunuh Yang Mulia Permaisuri tetapi tidak dengan Yang Mulia Raja."
"Artinya kau menuduh Kakangda Kama Kumara pelakunya?!"
"Am-ampun Tuan Putri. Hamba hanya perwira rendahan mana berani menuduh Pangeran Kama Kumara."
"Katakan dengan jujur! Atau—"
Tiba-tiba sebuah pisau melayang di depan mata Sadajiwa, begitu dekat hingga Sadajiwa merasakan ujung benda tajam itu menyentuh bulu matanya.
"Am-ampun Tuan Putri. Hamba akan jujur! Se-sebenarnya hati ini tidak bisa berbohong untuk mencurigai Pangeran Kama Kumara. Hanya saja ...."
"Cepat katakan! Hanya saja apa?!"
"Hanya saja, hamba ragu apakah Pangeran mampu membobol perut Yang Mulia Raja."
"Perwira Aswangga, Perwira Bentar, apakah kalian percaya ucapannya?!" tanya Anesha Sari meminta pendapat dua perwira di samping kanan dan kirinya.
"Tidak ada kebohongan di matanya, Tuan Putri," jawab Aswangga.
"Sependapat, raut wajah Perwira Sadajiwa juga meyakinkan Tuan Putri."
"Baiklah! Bungkam mulutnya kembali?" perintah Anesha Sari cukup membuat Aswangga kaget karena mengira sang putri akan melepaskan Sadajiwa.
Demikian juga Sadajiwa matanya membeliak tanda kaget, tetapi dia memutuskan untuk menerima perlakuan Putri Anesha Sari dengan berlapang dada.
Setelah kembali ditotok agar tidak bisa bicara, Anesha Sari memerintahkan Aswangga untuk membawa Sadajiwa dan menahannya di ruangan khusus di kediaman Anesha Sari.
***
Di kediaman Putri Anesha Sari.
Usai memasukkan Sadajiwa di kamar gelap lalu menguncinya, Aswangga menghadap Putri Anesha Sari yang menunggu di ruangan depan.
"Lalu apa lagi yang akan kita lakukan, Putri?!" tanya Aswangga.
"Kalian berdua istirahatlah. Aku akan menyelidiki Kakangda Kama Kumara. Jika dia terbukti memiliki kekuatan yang ia sembunyikan, maka sudah jelas siapa pelakunya. Dan meski ternyata pelakunya adalah Damodar, maka harus dicari tahu ada hubungan apa dia dengan Kakangda Kama Kumara."
Anesha Sari bisa berpikir jernih, bahwa satu-satunya orang yang diuntungkan oleh kematian Raja dan Permaisurinya adalah Kama Kumara, maka Kama Kumara adalah orang yang paling sesuai untuk dicurigai. Meski Kama Kumara adalah kakang kandung, Anesha Sari harus mengesampingkan itu demi sumpahnya.
"Baik Tuan Putri, Kami undur diri." serempak Aswangga dan Bentar Buana berjalan mundur sebelum membalik badan dan pergi.
Sepeninggal dua perwira, Anesha Sari memikirkan bagaimana cara menguji kekuatan Kama Kumara.
'Ashh ... Kemana Jaga Saksena, kenapa dia belum tiba? Jika ada dia, pasti dia bisa membantuku ...."